Penanganan Karhutla di Kalsel dan Kalteng Ditargetkan Tuntas dalam Beberapa Pekan

oleh -61 Dilihat
oleh
Penanganan Karhutla di Kalsel dan Kalteng Ditargetkan Tuntas dalam Beberapa Pekan

Jakarta | Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyampaikan harapan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat dituntaskan dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah menilai perkembangan di lapangan mulai menunjukkan arah positif, meskipun upaya pemadaman dan pengendalian masih terus dilakukan secara intensif.

Untuk menangani kebakaran di dua provinsi tersebut, pemerintah masih mengerahkan puluhan ribu personel. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemadaman langsung di wilayah terdampak, pemantauan titik api, hingga pencegahan agar api tidak meluas ke kawasan lain. Pengendalian juga memerlukan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, dan unsur masyarakat.

Menurut Jumhur, intensitas api mulai menurun dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam memperkirakan bahwa proses pemadaman dapat diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Namun, kondisi di lapangan tetap dipantau karena perubahan cuaca, terutama suhu tinggi dan minimnya hujan, dapat memengaruhi pergerakan api.

Target penyelesaian dalam beberapa pekan mendatang diharapkan mendorong seluruh unsur penanganan untuk mempertahankan kerja sama dan kesiapsiagaan. Personel tetap perlu memastikan titik-titik api benar-benar padam serta mencegah munculnya kembali bara di area yang telah ditangani. Langkah tersebut penting untuk mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas warga di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah.

Jumhur menyampaikan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih memerlukan waktu. Perkiraan tersebut ia sampaikan setelah menghadiri acara prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026. Menurutnya, proses penanganan belum dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena kondisi di lapangan masih membutuhkan pengawasan dan upaya berkelanjutan.

Ia memperkirakan penanganan karhutla di kedua provinsi tersebut dapat tuntas dalam beberapa pekan ke depan. Perkiraan itu disampaikan setelah Jumhur melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Koordinasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam melihat perkembangan situasi, kebutuhan penanganan, serta langkah yang masih harus dilakukan oleh seluruh pihak terkait.

Jumhur menegaskan bahwa penyelesaian penanganan sangat bergantung pada kerja bersama dan konsistensi personel yang berada di lapangan. Upaya pemadaman, penanganan titik api, pemantauan wilayah, serta pencegahan meluasnya dampak karhutla perlu terus dijalankan secara terpadu. Dengan demikian, perkembangan kondisi dapat ditangani sesuai dengan tingkat urgensi dan karakter wilayah masing-masing.

Selain kerja keras personel di lapangan, Jumhur berharap dukungan doa dari masyarakat turut membantu proses penyelesaian karhutla. Ia menyampaikan harapan agar seluruh ikhtiar yang dilakukan bersama dapat mempercepat berakhirnya penanganan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa target penyelesaian dalam beberapa minggu tetap membutuhkan dukungan operasional, koordinasi antarlembaga, serta ketekunan seluruh petugas hingga situasi benar-benar terkendali.

Keterbatasan ketersediaan air masih menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sejumlah titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau, sementara sumber air alami maupun buatan tidak selalu tersedia dalam jarak yang dekat. Kondisi ini membuat petugas perlu menempuh perjalanan lebih jauh untuk mengisi ulang tangki dan peralatan pemadam.

Jarak menuju sumber air berpengaruh langsung terhadap kecepatan respons di lapangan. Ketika pasokan air terbatas, pemadaman tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan intensitas yang sama. Petugas harus mengatur penggunaan air secara cermat, memprioritaskan titik api yang berpotensi meluas, serta melakukan pembasahan ulang pada area yang masih menyimpan bara. Proses tersebut membutuhkan waktu dan koordinasi tim darat, unsur pemerintah daerah, serta pihak pendukung lainnya.

Situasi kebakaran memang mulai menunjukkan perbaikan seiring menurunnya intensitas api di sejumlah lokasi. Asap dan kobaran tidak lagi terlihat dengan kekuatan yang sama seperti pada periode sebelumnya, sehingga operasi dapat berlangsung lebih terarah. Namun, penurunan intensitas belum berarti seluruh ancaman telah berakhir. Api yang berada di lapisan gambut atau di bawah permukaan tanah dapat kembali muncul apabila area tersebut belum benar-benar basah dan kondisi cuaca kembali kering.

Karena itu, keterbatasan air tetap menjadi hambatan operasional yang perlu segera diatasi. Penambahan titik penampungan, penguatan distribusi air, dan pemetaan sumber air terdekat dapat membantu mempercepat mobilisasi tim pemadam. Dukungan sarana pengangkutan air juga diperlukan agar petugas dapat mempertahankan pembasahan di lokasi rawan. Dengan pengelolaan sumber daya yang lebih efektif, penanganan karhutla di kedua provinsi tersebut diharapkan dapat terus dipercepat hingga titik api padam dan risiko kemunculan kembali berkurang.

Operasi pemadaman melalui udara atau water bombing turut menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan serta Kalimantan Tengah. Namun, pelaksanaannya tidak terlepas dari berbagai kendala di lapangan. Kondisi cuaca, jarak pandang, arah angin, lokasi titik api, serta ketersediaan sumber air dapat memengaruhi ketepatan dan efektivitas penjatuhan air. Asap tebal juga menyulitkan pemantauan dari udara dan meningkatkan risiko bagi keselamatan awak maupun peralatan yang digunakan.

Pemerintah tetap menghargai setiap pihak yang menyampaikan keinginan untuk memberikan bantuan, baik dalam bentuk dukungan personel, peralatan, maupun armada udara. Meski demikian, bantuan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan dan mekanisme koordinasi yang telah ditetapkan. Penyesuaian diperlukan agar dukungan tambahan tidak tumpang tindih dengan operasi yang sedang berjalan, sekaligus dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan penanganan. Dengan cara ini, setiap sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara terukur dan bertanggung jawab.

Efektivitas bantuan tambahan, termasuk dukungan untuk operasi pemadaman dari udara, akan dinilai berdasarkan kemampuan riilnya dalam mempercepat pengendalian karhutla. Pemerintah akan mempertimbangkan kondisi titik api, akses menuju lokasi, kesiapan tim darat, kapasitas armada, serta hasil pemantauan sebelum menentukan bentuk dukungan yang paling tepat. Penilaian tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi bantuan, melainkan memastikan bahwa bantuan yang diterima benar-benar memberikan dampak terhadap upaya pemadaman dan tidak menghambat koordinasi antarlembaga.

Hingga saat ini, proses pemadaman masih berlangsung melalui kombinasi operasi darat dan udara. Tim terus memantau perkembangan titik api, melakukan pendinginan, serta mencegah meluasnya kebakaran ke area lain. Pemerintah menargetkan penanganan karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat dituntaskan dalam rentang beberapa pekan, dengan tetap memperhatikan dinamika cuaca dan kondisi lapangan.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah