Jakarta | Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto, yang dikenal dengan nama Widodo AS, meninggal dunia di kediamannya di Jakarta pada Minggu, 25 Oktober 2026, pukul 21.30 WIB. Ia wafat dalam usia 82 tahun. Berita duka ini menjadi kabar kehilangan bagi keluarga, lingkungan TNI, serta masyarakat yang mengenal kiprahnya dalam pengabdian kepada negara. Kabar wafatnya dikonfirmasi melalui pernyataan belasungkawa Komando Armada II. Dalam pernyataan tersebut, Koarmada II menyampaikan rasa duka cita atas berpulangnya almarhum, sekaligus menyebutkan waktu dan tempat kejadian berdasarkan informasi yang diterima. Informasi itu disampaikan sebagai penghormatan kepada sosok yang pernah mengemban tanggung jawab penting di lingkungan pertahanan.
Pernyataan belasungkawa itu disampaikan oleh Panglima Komando Armada II, Laksda TNI I G.P. Alit Jaya, bersama Ketua Gabungan II Gabungan Jalasenastri Koarmada RI, Ny. Yully Alit Jaya, serta prajurit Jalasena Koarmada II. Penyampaian duka tersebut mencerminkan rasa kehilangan dari jajaran Koarmada II atas wafatnya seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Laut. Ucapan itu juga menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum dan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana berduka, keluarga besar Koarmada II menyampaikan simpati serta doa bagi Widodo AS. Kabar ini turut mengingatkan publik pada perjalanan pengabdian almarhum, yang kemudian dikenal sebagai Panglima TNI dari matra laut.
Dalam ungkapan belasungkawa tersebut, disampaikan doa agar seluruh amal ibadah almarhum diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dan segala dosa serta kekhilafannya diampuni. Doa juga dipanjatkan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi masa duka. Pesan itu mengiringi kabar wafat Widodo AS pada malam Minggu tersebut, sekaligus menyampaikan penghormatan terakhir dari pihak yang menyatakan belasungkawa. Bagi keluarga, kerabat, dan rekan sejawat, kepergian seorang tokoh yang pernah memimpin TNI tentu meninggalkan rasa kehilangan. Pernyataan Koarmada II menutup kabar duka itu dengan doa dan dukungan bagi keluarga, seraya mengenang pengabdian almarhum kepada bangsa dan negara selama menjalani karier militernya.
Kiprah Widodo dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) menandai perubahan penting dalam pola kepemimpinan militer Indonesia. Ia menjadi Panglima TNI pertama yang berasal dari matra Angkatan Laut pada era Reformasi. Penunjukan tersebut juga menjadikannya perwira pertama dari luar Angkatan Darat yang menduduki jabatan itu sejak 1962. Dengan demikian, masa kepemimpinannya tidak hanya tercatat sebagai bagian dari perjalanan karier seorang perwira, tetapi juga sebagai tonggak dalam representasi antarmatra di pucuk pimpinan TNI.
Widodo menjabat Panglima TNI sejak 26 Oktober 1999 hingga 7 Juni 2002. Ia ditunjuk pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur. Kala itu, Indonesia berada dalam periode awal Reformasi, ketika berbagai institusi negara menghadapi tuntutan perubahan dan penataan kembali. Di tengah konteks tersebut, penempatan seorang perwira Angkatan Laut sebagai panglima memperlihatkan bahwa jabatan tertinggi di tubuh militer dapat dipercayakan kepada tokoh dari matra selain Angkatan Darat.
Sebelum penunjukan Widodo, kepemimpinan TNI lebih banyak diisi oleh perwira tinggi Angkatan Darat. Karena itu, kehadirannya membawa makna kelembagaan yang melampaui pergantian pejabat. Keputusan tersebut memberi pengakuan terhadap pengalaman dan kapasitas kepemimpinan dari matra laut, sekaligus menunjukkan ruang yang lebih luas bagi perwira dari matra lain untuk memimpin organisasi gabungan. Meski tidak dengan sendirinya menghapus seluruh pola lama, perubahan itu menjadi penanda bahwa susunan kepemimpinan militer Indonesia mulai bergerak menuju representasi yang lebih beragam.
Catatan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti turut menegaskan arti penting peristiwa tersebut. Museum itu mencatat penunjukan Widodo pada 1999 sebagai yang pertama bagi perwira di luar TNI Angkatan Darat. Catatan ini menempatkan masa jabatannya dalam konteks sejarah institusi, bukan sekadar kronologi personal. Jejak Widodo sebagai Panglima TNI dari Angkatan Laut karena itu berkaitan erat dengan perubahan pada era Reformasi: terbukanya kemungkinan baru dalam kepemimpinan militer dan pengakuan terhadap kontribusi berbagai matra dalam menjaga pertahanan negara.
Perjalanan karier Widodo sebelum memimpin Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperlihatkan rangkaian penugasan di lingkungan Angkatan Laut dan kemudian pada tingkat kepemimpinan militer nasional. Sebelum dipercaya menjadi Panglima TNI, ia menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), posisi tertinggi dalam organisasi TNI AL. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari rekam jejaknya sebagai perwira yang berasal dari matra laut. Setelah menjalankan tugas sebagai KSAL, Widodo selanjutnya mendapat amanah sebagai Wakil Panglima TNI, sebelum akhirnya diangkat menjadi Panglima TNI.
Widodo menjabat KSAL sejak 26 Juni 1998 hingga 17 Juli 1999. Masa tugas tersebut berlangsung pada periode perubahan politik dan kelembagaan di Indonesia. Sebagai kepala staf, ia berada di pucuk pimpinan Angkatan Laut dan bertanggung jawab dalam mengarahkan organisasi serta pelaksanaan tugas matra tersebut. Penugasan ini mendahului perannya di tingkat komando TNI secara keseluruhan. Urutan waktunya menempatkan jabatan KSAL sebagai tahap sebelum ia dipercaya mengemban posisi Wakil Panglima TNI.
Setelah masa jabatannya sebagai KSAL berakhir pada 17 Juli 1999, Widodo kemudian dipercaya menjadi Wakil Panglima TNI. Jabatan wakil tersebut merupakan bagian dari tahapan kariernya sebelum memimpin institusi TNI. Dalam posisi itu, ia berada dalam struktur pimpinan nasional militer, dengan cakupan tugas yang tidak terbatas pada satu matra. Peralihan dari KSAL menuju Wakil Panglima TNI menandai perpindahan tanggung jawab dari kepemimpinan Angkatan Laut ke lingkup organisasi TNI yang lebih luas. Keterangan mengenai perjalanan jabatan ini penting untuk memahami bagaimana ia sampai pada posisi tertinggi tersebut.
Pada Oktober 1999, Widodo diangkat menjadi Panglima TNI. Pengangkatan itu berlangsung setelah ia menjabat KSAL dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Panglima TNI. Dengan demikian, urutan jabatan yang tercatat ialah KSAL pada 26 Juni 1998 sampai 17 Juli 1999, Wakil Panglima TNI, lalu Panglima TNI pada Oktober 1999. Perjalanan tersebut menjadi jejak penting dalam kariernya, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu perwira berlatar belakang Angkatan Laut yang memimpin TNI. Rangkaian penugasan itu menjelaskan tahapan tanggung jawab yang ia emban sebelum memimpin seluruh angkatan.
Widodo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 1 Agustus 1944. Perjalanan pengabdiannya di lingkungan militer berawal melalui pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL), tempat ia menempuh pendidikan hingga lulus pada 1968. Pendidikan tersebut membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menjalankan tugas sebagai perwira TNI Angkatan Laut. Pada masa itu, jalur pendidikan dan penugasan di laut menjadi landasan penting bagi para perwira yang kelak memimpin satuan maupun kapal perang. Bagi Widodo, kelulusan dari AAL menandai awal karier panjang yang sebagian besar dijalani dalam lingkungan kemaritiman dan organisasi Angkatan Laut.
Penugasan awalnya adalah sebagai perwira senjata di KRI Irian, kapal perang yang menjadi bagian dari armada Indonesia. Dalam posisi tersebut, ia bertugas di bidang persenjataan kapal, sebuah tanggung jawab yang menuntut pemahaman teknis serta koordinasi dengan personel lain. Pengalaman di kapal memberi bekal langsung mengenai kehidupan operasional di laut dan tata kerja satuan. Setelah menjalani tugas awal itu, Widodo mengemban beragam penugasan di TNI AL. Ia kemudian dipercaya memimpin sejumlah kapal perang, sehingga memperoleh pengalaman komando dalam mengelola awak dan menjalankan tugas operasional. Rangkaian penugasan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembentukan kepemimpinannya.
Karier Widodo selanjutnya berkembang melalui penugasan di jajaran Komando Armada dan berbagai unsur organisasi Angkatan Laut.
Baca juga: Panglima TNI Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2 dan Panglima Besar Jenderal Soedirman | Jelang HUT Ke-81 TNI, Pasahli Panglima TNI Anjangsana kepada Mantan Panglima TNI | Panglima TNI Resmi Tutup Lomba Tembak Piala Panglima TNI 2026
