Jakarta | Survei nasional Voxpol Center mencatat sektor sosial dan budaya memperoleh tingkat kepuasan tertinggi dalam penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah, yakni 75,4 persen. Angka tersebut menempatkan bidang sosial budaya di posisi teratas dibandingkan sektor lain yang turut dinilai dalam survei. Hasil ini disampaikan Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi, melalui kanal YouTube Voxpol Center pada Kamis, 22 Oktober 2026. Survei tersebut dilaksanakan pada 3–12 Oktober 2026.
Selain sosial budaya, responden memberikan penilaian positif terhadap sektor pertahanan dan keamanan, dengan tingkat kepuasan sebesar 71,8 persen. Sementara itu, sektor kesehatan memperoleh angka 70,7 persen. Ketiga bidang tersebut mencatat tingkat kepuasan di atas 70 persen, meskipun hasil survei menunjukkan adanya perbedaan angka di masing-masing sektor. Dalam pemaparan Voxpol Center, sosial budaya berada di urutan tertinggi, disusul pertahanan dan keamanan, lalu kesehatan.
Angka-angka ini menggambarkan penilaian responden terhadap sektor-sektor yang ditanyakan dalam survei nasional tersebut. Namun, persentase kepuasan saja tidak menjelaskan alasan masyarakat memberikan penilaian tertentu, sehingga hasil itu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan faktor yang mendorong apresiasi pada bidang sosial budaya maupun sektor lainnya. Penjelasan mengenai temuan survei perlu merujuk pada informasi yang disampaikan oleh Voxpol Center, termasuk periode pelaksanaan dan konteks pertanyaan yang tersedia. Dengan demikian, hasil yang dipaparkan Pangi Syarwi memberikan gambaran terukur mengenai tingkat kepuasan di tiga sektor tersebut pada waktu survei berlangsung, tanpa menyatakan penyebab di balik jawaban responden. Perbandingan ini juga menunjukkan urutan penilaian, bukan dengan sendirinya menjelaskan seluruh pandangan publik tentang kinerja pemerintah secara menyeluruh.
Evaluasi terhadap sembilan sektor prioritas pemerintah memperlihatkan bahwa tingkat kepuasan publik tidak merata. Setelah tiga sektor dengan apresiasi tertinggi, hasil survei Voxpol mencatat penilaian yang lebih beragam pada bidang pendidikan, infrastruktur dan layanan dasar, politik dan stabilitas nasional, tata kelola pemerintahan, serta ekonomi dan kesejahteraan. Perbedaan angka ini memberi gambaran tentang sektor yang dinilai relatif baik maupun bidang yang masih menjadi perhatian responden.
Pada sektor pendidikan, tingkat kepuasan tercatat sebesar 68,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden memberikan penilaian positif terhadap kinerja di bidang ini. Meski demikian, hasil survei tetap perlu dibaca sebagai ukuran persepsi masyarakat pada saat pengumpulan data, bukan sebagai penilaian menyeluruh atas semua aspek layanan pendidikan di setiap daerah.
Infrastruktur dan layanan dasar memperoleh kepuasan sebesar 59,6 persen. Sementara itu, kepuasan terhadap politik dan stabilitas nasional mencapai 56,6 persen. Untuk tata kelola pemerintahan, tingkat kepuasan tercatat 55,8 persen. Ketiga angka tersebut berada di atas separuh responden, tetapi selisihnya terhadap sektor pendidikan menunjukkan adanya variasi dalam penilaian publik. Perbandingan ini membantu menempatkan hasil tiap sektor secara proporsional tanpa menganggap seluruh bidang memiliki penerimaan yang sama.
Catatan yang paling menonjol terlihat pada sektor ekonomi dan kesejahteraan. Kepuasan di bidang tersebut berada pada angka 47,7 persen, sedangkan ketidakpuasan mencapai 51,6 persen. Kedua angka itu menggambarkan kelompok penilaian yang berbeda: 47,7 persen responden menyatakan puas, sementara 51,6 persen menyatakan tidak puas. Karena itu, tingkat kepuasan tidak dapat disamakan atau dipertukarkan dengan tingkat ketidakpuasan. Selisih tersebut menandakan bahwa respon negatif lebih besar daripada penilaian positif pada sektor ini, tanpa berarti seluruh responden memiliki pandangan yang sama.
Secara keseluruhan, temuan pada sembilan sektor prioritas memperlihatkan pola evaluasi yang berlapis. Pendidikan mencatat kepuasan lebih tinggi di sektor-sektor yang disebutkan, sedangkan ekonomi dan kesejahteraan menghadapi tantangan paling jelas berdasarkan perbandingan kepuasan dan ketidakpuasan. Data ini dapat menjadi bahan bagi pemerintah untuk meninjau respons masyarakat dan menentukan perhatian kebijakan berikutnya.
Dalam survei Voxpol, sejumlah aspek ekonomi menjadi bidang yang mencatat ketidakpuasan responden cukup tinggi. Penilaian paling banyak menunjukkan ketidakpuasan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, dengan angka 56,4 persen. Berikutnya, 55 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kondisi ekonomi nasional. Kedua hasil ini menggambarkan bagaimana responden menilai kinerja pemerintah pada isu ekonomi yang dinilai penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pengelolaan perekonomian secara lebih luas.
Ketidakpuasan juga tampak pada urusan harga serta kesejahteraan. Sebanyak 54,4 persen responden menyatakan tidak puas terhadap pengendalian harga kebutuhan pokok, sementara 54,2 persen menyampaikan penilaian serupa atas upaya mengatasi kemiskinan. Pada aspek penciptaan dan penyediaan lapangan kerja baru, ketidakpuasan tercatat sebesar 54,1 persen. Angka-angka tersebut menempatkan berbagai persoalan ekonomi rumah tangga dan kesempatan kerja sebagai bagian yang mendapat perhatian besar dalam hasil survei.
Selain itu, 49,1 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak. Meski persentasenya berada di bawah angka ketidakpuasan pada lima aspek sebelumnya, temuan ini tetap menunjukkan bahwa penilaian terhadap harga energi turut menjadi sorotan. Secara keseluruhan, data survei memperlihatkan bahwa responden memberikan evaluasi yang kritis pada beberapa bidang ekonomi, mulai dari nilai tukar dan kondisi nasional hingga harga kebutuhan pokok, kemiskinan, lapangan kerja, serta stabilitas harga BBM.
Persentase tersebut perlu dibaca sebagai hasil penilaian responden terhadap kinerja pemerintah pada masing-masing isu. Angka-angka itu menyampaikan tingkat ketidakpuasan yang tercatat dalam survei, bukan uraian mengenai faktor yang menyebabkan kondisi ekonomi, perubahan harga, atau situasi ketenagakerjaan. Dengan membedakan hasil penilaian dari penjelasan sebab-akibat, pembaca dapat memahami temuan secara proporsional dan tidak menarik kesimpulan kausal yang tidak disampaikan oleh data survei tersebut.
Hasil survei Voxpol Center perlu dibaca dengan memahami terlebih dahulu siapa yang menjadi responden dan bagaimana data dikumpulkan. Survei ini melibatkan 1.200 orang yang berasal dari populasi warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih atau telah menikah pada saat survei dilakukan. Dengan demikian, cakupan responden ditentukan berdasarkan kriteria tersebut, bukan semata-mata oleh status pemilih yang sudah terdaftar. Informasi mengenai populasi sasaran ini membantu pembaca menempatkan temuan survei dalam konteks yang tepat.
Sampel tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Pembagian jumlah responden pada tiap wilayah dilakukan secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk, sehingga provinsi dengan populasi lebih besar memperoleh porsi sampel yang sejalan dengan besaran penduduknya. Komposisi responden juga ditetapkan seimbang, yakni 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan. Susunan ini memberi gambaran tentang rancangan sampel yang digunakan, meski tidak dengan sendirinya menjamin bahwa setiap kelompok atau karakteristik masyarakat terwakili secara sama rinci.
Dalam pemilihan sampel, Voxpol Center menggunakan metode multistage random sampling atau pengambilan sampel acak bertahap. Metode ini melibatkan tahapan pemilihan unit sampel, mulai dari cakupan wilayah hingga responden, dengan prinsip acak pada proses yang diterapkan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka. Pewawancara mencatat jawaban menggunakan aplikasi berbasis Android, sehingga proses pencatatan dilakukan secara digital ketika wawancara berlangsung. Pendekatan ini menjadi bagian dari tata cara pengumpulan informasi yang menjadi dasar analisis survei.
Survei mencantumkan margin of error sebesar ±2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Angka tersebut merupakan ukuran ketidakpastian statistik yang berkaitan dengan rancangan sampel, bukan jaminan bahwa setiap temuan pasti berada dalam rentang tertentu.
Baca juga: Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni | Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik yang berlangsung cepat, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi penonton | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko
