Bio-CNG dari Limbah Sawit Mulai Diuji di PLTGU Belawan

oleh -82 Dilihat
oleh
Bio-CNG dari Limbah Sawit Mulai Diuji di PLTGU Belawan

Medan | PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai menguji pemanfaatan compressed biomethane gas (bio-CNG) sebagai bahan bakar campuran di PLTGU Belawan, Medan, Sumatra Utara. Pengiriman pertama secara kontraktual dimulai pada 8 Oktober 2026, setelah rangkaian pengujian teknis, uji operasional, dan studi kelayakan dilakukan. Tahapan tersebut diperlukan untuk menilai kesesuaian gas dengan sistem pembangkit sekaligus memastikan proses pasokan dan penggunaannya dapat berjalan sesuai kebutuhan operasi.

Untuk tahap awal, bio-CNG dipasok melalui fasilitas mitra, PT Kis Biofuels Indonesia. Gas ini merupakan biometana yang dikompresi dan berasal dari pengolahan bahan organik, termasuk limbah dari kegiatan industri sawit. Pemanfaatan bahan baku tersebut memberi nilai guna pada residu organik yang sebelumnya perlu dikelola, sekaligus membuka peluang pengembangan rantai pasok energi berbasis sumber daya lokal. Pasokan dari mitra memungkinkan PLN EPI memulai pengujian tanpa harus menunggu seluruh fasilitas produksi dan distribusi dibangun secara mandiri.

Porsi bio-CNG yang diuji direncanakan sebesar 2 persen dari kebutuhan bahan bakar pembangkit. Dengan komposisi awal tersebut, kontribusi daya dari bahan bakar ini diperkirakan masih di bawah 1–2 megawatt, sehingga uji coba dapat dilakukan secara bertahap dan terukur. Angka tersebut menggambarkan skala awal pengujian, bukan kapasitas penuh yang dapat dicapai apabila pemanfaatannya dikembangkan lebih lanjut. Performa pembangkit, kestabilan pasokan, serta konsistensi mutu gas menjadi bagian penting dalam evaluasi.

Langkah ini diarahkan untuk mendiversifikasi energi primer PLTGU Belawan dengan bahan bakar yang bersumber dari limbah organik, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menguji keandalan biometana dalam operasi pembangkit. Hasil uji akan membantu menilai bagaimana bio-CNG berperilaku ketika digunakan bersama bahan bakar utama, termasuk dampaknya terhadap kestabilan operasi dan kebutuhan penyesuaian teknis. Karena itu, tahap awal ini menjadi dasar bagi keputusan mengenai kelanjutan pasokan dan kemungkinan peningkatan porsi campuran. Pengalaman di Belawan juga dapat memberikan masukan praktis bagi penerapan bahan bakar rendah emisi di fasilitas pembangkit lain, bergantung pada hasil evaluasi serta kesiapan pasokan.

Bio-CNG merupakan gas terbarukan yang dapat dihasilkan dari bahan organik, termasuk limbah dari kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan ialah palm oil mill effluent (POME), yaitu limbah cair yang dihasilkan pabrik kelapa sawit. Selama ini, limbah organik tersebut dapat menghasilkan gas metana. Dengan pengolahan yang tepat, gas ini tidak hanya dipandang sebagai sisa proses produksi, tetapi juga sebagai sumber energi yang berpotensi digunakan kembali.

Pengubahan limbah menjadi bahan bakar dimulai dengan memanfaatkan gas metana yang berasal dari limbah. Gas tersebut kemudian diolah dan dimurnikan hingga menjadi biometana. Tahap pemurnian ini menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, sebelum selanjutnya dikompresi menjadi bio-CNG. Dalam bentuk terkompresi tersebut, bahan bakar dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik. Rangkaian ini memungkinkan energi yang berasal dari POME dimanfaatkan untuk tujuan produktif, alih-alih membiarkan potensi gasnya terlepas tanpa pemanfaatan.

Penggunaan bio-CNG dari limbah sawit juga memiliki manfaat lingkungan. Pemanfaatan gas metana dapat membantu menangkap emisi yang terbentuk dari limbah organik. Metana yang tertangkap kemudian diproses menjadi sumber energi, sehingga limbah dapat memberi nilai guna sekaligus mendukung upaya pengelolaan emisi. Manfaat ini relevan karena limbah cair pabrik kelapa sawit merupakan bagian dari kegiatan industri yang perlu dikelola, sementara gas yang dihasilkannya dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan.

Selain membantu mengelola emisi, bio-CNG dapat menjadi alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan gas fosil sebagai bahan bakar pembangkit. Artinya, pemanfaatan POME berpotensi mendukung pasokan energi dengan sumber yang berasal dari limbah, bukan seluruhnya dari bahan bakar fosil. Bio-CNG tidak serta-merta menghapus kebutuhan gas fosil, tetapi dapat berperan sebagai pengganti sebagian dalam bauran bahan bakar. Dengan demikian, pengolahan metana menjadi biometana, lalu dikompresi untuk digunakan di pembangkit, menghubungkan pengelolaan limbah dengan pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan.

PLN EPI menargetkan peningkatan bauran bio-CNG hingga 10 persen pada 2030 sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor pembangkitan. Sasaran ini menunjukkan bahwa gas yang berasal dari limbah tidak hanya diposisikan sebagai bahan bakar uji coba, tetapi juga sebagai opsi pasokan energi yang dapat dikembangkan lebih luas. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan perlu meningkatkan kapasitas produksi, menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, serta menyiapkan pengolahan dan distribusi yang andal. Pertumbuhan pemakaian juga harus sejalan dengan mutu gas, keandalan operasi pembangkit, dan pertimbangan biaya agar bio-CNG dapat dipadukan secara konsisten dengan gas konvensional.

Penguatan rantai pasok menjadi salah satu prasyarat penting. Bahan baku, termasuk limbah dari pabrik kelapa sawit, perlu tersedia dalam jumlah dan mutu yang sesuai, sementara pengumpulan serta pengangkutannya harus dikelola secara teratur. Karena itu, PLN EPI menjajaki kerja sama dengan pemilik pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi biogas, dan investor. Kemitraan tersebut dibutuhkan untuk menghubungkan sumber limbah dengan fasilitas produksi, menyediakan teknologi yang sesuai bagi proses pengolahan, serta mendukung pendanaan pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Kolaborasi lintas pelaku industri juga dapat membantu mengurangi hambatan dalam penyediaan bahan baku dan mempercepat pembentukan pasokan bio-CNG yang dapat diandalkan.

Kebutuhan mitra mencakup tiga bidang utama: bahan baku, teknologi, dan investasi. Pemilik pabrik kelapa sawit berpotensi memasok limbah, penyedia teknologi dapat mengolahnya menjadi gas terbarukan dengan spesifikasi yang dibutuhkan, sedangkan investor dapat mendukung peningkatan kapasitas produksi dan fasilitas pendukung. Porsi campuran 2 persen yang mulai diuji di PLTGU Belawan menjadi tahap awal untuk menguji kesiapan pasokan, proses pencampuran, dan kinerja operasional. Pengalaman dari uji tersebut dapat menjadi pijakan bagi PLN EPI dan mitra untuk mengevaluasi kebutuhan teknis serta memperbaiki skema pasokan. Dengan pengembangan bertahap dan kemitraan yang kuat, penggunaan gas terbarukan berpeluang diperluas menuju sasaran bauran 10 persen pada 2030.

Potensi bio-CNG di Indonesia ditopang oleh ketersediaan bahan baku organik yang tersebar di berbagai daerah, terutama limbah perkebunan kelapa sawit dan peternakan. Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit, yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar dan dapat diolah menjadi biogas, lalu dimurnikan menjadi bio-CNG. Jika sekitar 300 pabrik dapat terhubung dengan rantai pasok bio-CNG, ketersediaan bahan bakar alternatif ini berpeluang meningkat dan pemanfaatannya di pembangkit listrik PLN dapat diperluas. Pengembangan tersebut tetap memerlukan pemetaan pasokan yang cermat, sebab lokasi bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan pembangkit tidak selalu berada di tempat yang sama.

Pemetaan awal mencakup sejumlah wilayah dengan karakteristik sumber bahan baku berbeda. Sumatra Utara menjadi lokasi uji coba pemanfaatan bio-CNG di PLTGU Belawan. Lampung dinilai memiliki potensi dari limbah peternakan, sementara Riau dan Kalimantan memiliki peluang pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau POME. Perbedaan jenis dan jumlah limbah di tiap wilayah akan memengaruhi teknologi pengolahan serta pola pengangkutan yang dibutuhkan. Karena itu, potensi di atas kertas perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi volume pasokan, mutu bahan baku, keberlanjutan ketersediaan, dan jarak menuju pembangkit.

Secara nasional, energi yang berpotensi dihasilkan dari limbah organik dan POME diperkirakan setara dengan 27 kargo LNG, atau sekitar 3 juta MMBTU per tahun.