Jakarta | Studi Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 1.007 siswa kelas 4, 5, dan 6 di empat sekolah dasar negeri di Jakarta menemukan bahwa banyak responden menghadapi tantangan dalam fungsi kognitif sehari-hari. Sebanyak 68,5 persen siswa memperoleh penilaian kurang baik pada aspek tersebut. Temuan ini menggambarkan kondisi kelompok anak yang diteliti, bukan gambaran menyeluruh tentang semua siswa sekolah dasar di Jakarta ataupun Indonesia. Karena penelitian dilakukan pada sejumlah sekolah tertentu, hasilnya perlu dibaca sesuai cakupan dan karakteristik sampelnya.
Studi tersebut juga menilai harapan dan imajinasi anak mengenai masa depan. Hasilnya, 49,3 persen responden mencatat skor rendah dalam aspek ini. Angka tersebut menunjukkan adanya bagian dari peserta penelitian yang mungkin memerlukan perhatian lebih dalam memahami kemampuan mereka membayangkan tujuan, peluang, atau arah kehidupan di masa mendatang. Namun, skor rendah bukan berarti anak-anak tersebut tidak memiliki cita-cita atau tidak dapat berkembang. Penilaian penelitian merekam kondisi pada saat pengumpulan data, sehingga tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebabnya maupun perubahan yang mungkin terjadi seiring waktu.
Penelitian menggunakan metode potong lintang, atau cross-sectional, yang mengumpulkan informasi untuk memotret kondisi responden pada suatu periode. Pendekatan ini dapat menunjukkan pola pada kelompok yang diperiksa, tetapi tidak dirancang untuk memastikan hubungan sebab-akibat atau mengikuti perkembangan setiap anak dalam jangka panjang. Dengan demikian, temuan IHDC memberi gambaran awal mengenai fungsi kognitif harian serta pandangan masa depan pada siswa peserta studi di lingkungan perkotaan. Hasil tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pembahasan dan penelitian lanjutan, dengan tetap memperhatikan batas sampel: 1.007 siswa kelas 4 sampai 6 dari empat sekolah dasar negeri di Jakarta. Untuk menyimpulkan apakah pola serupa ditemukan di wilayah lain, diperlukan kajian dengan cakupan sekolah dan daerah yang lebih luas, serta metode yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Sampai ada bukti tambahan, persentase yang dilaporkan sebaiknya dipahami sebagai hasil pada responden yang diteliti, bukan sebagai ukuran pasti keadaan seluruh anak usia sekolah.Dalam studi tentang siswa sekolah dasar di Jakarta, fungsi kognitif sehari-hari dipahami lebih luas daripada angka pada rapor atau hasil tes IQ. Kemampuan anak tidak hanya tercermin dari capaian akademik yang dapat diukur, tetapi juga dari cara mereka menjalani kegiatan belajar dan berhubungan dengan lingkungan. Karena itu, pembahasan mencakup proses-proses yang hadir dalam rutinitas sekolah, baik ketika anak menerima pelajaran maupun saat mereka berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Sudut pandang ini membantu menggambarkan pengalaman anak secara lebih utuh, tanpa menyamakan kecerdasan dengan satu nilai atau satu jenis pengukuran semata.
Di kelas, fungsi tersebut terlihat ketika anak mampu memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah materi pelajaran. Konsentrasi membantu mereka mengikuti penjelasan, sedangkan ingatan dan pengolahan informasi mendukung pemahaman terhadap hal yang dipelajari. Kemampuan ini juga berperan di luar kegiatan akademik. Anak perlu berinteraksi dengan teman sebaya, memahami situasi sosial, dan menyesuaikan diri saat mengikuti kegiatan bersama. Partisipasi dalam ekstrakurikuler pun menjadi bagian dari keseharian yang melibatkan kemampuan berpikir dan belajar. Dengan demikian, fungsi kognitif berkaitan dengan cara anak menjalankan beragam aktivitas, bukan hanya dengan hasil ujian atau prestasi di kelas.
Studi ini turut menempatkan imajinasi dan harapan mengenai masa depan sebagai modal penting dalam pembentukan karakter inovatif. Anak yang dapat membayangkan berbagai kemungkinan dan memiliki harapan dapat memandang masa depan sebagai sesuatu yang layak diupayakan. Perhatian terhadap kemampuan dan aspirasi tersebut relevan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045, yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan bangsa. Dalam konteks ini, Prof. Nila F. Moeloek, Ketua Dewan Pembina IHDC dan Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, menyatakan bahwa anak-anak yang bersekolah saat ini perlu dapat melihat dengan jelas, belajar dengan tenang, dan memiliki keyakinan untuk meraih masa depan. Pernyataan itu menekankan kondisi yang dibutuhkan anak dalam menjalani pendidikan dan memandang masa depan mereka.
Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Direktur Eksekutif IHDC sekaligus ketua tim peneliti, menjelaskan bahwa studi terhadap siswa sekolah dasar di Jakarta mengidentifikasi empat beban kesehatan yang patut diperhatikan dalam memahami tantangan konsentrasi dan belajar. Temuan tersebut mencakup gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, kurangnya asupan protein dan energi, serta gangguan kesehatan jiwa. Keempat hal ini menjadi bagian dari gambaran kondisi siswa yang diteliti, bukan sekadar penilaian terhadap perilaku atau kemampuan mereka di kelas.
Identifikasi beban tersebut didukung oleh hasil pemeriksaan medis dan pengukuran klinis yang dilakukan dalam studi. Dengan demikian, pembahasan mengenai kesulitan belajar tidak hanya bertumpu pada pengamatan bahwa seorang anak tampak kurang memperhatikan. Pemeriksaan kesehatan membantu memberikan konteks yang lebih menyeluruh mengenai kondisi yang mungkin berkaitan dengan pengalaman belajar sehari-hari. Hasilnya juga mengingatkan bahwa kebutuhan tiap siswa dapat berbeda dan perlu dipahami berdasarkan temuan yang relevan.
Dr. Ray menekankan bahwa anak yang sulit fokus sebaiknya tidak langsung dianggap malas. Kesulitan berkonsentrasi perlu ditanggapi dengan pemeriksaan kesehatan agar kemungkinan faktor yang mendasarinya dapat dinilai secara tepat. Misalnya, siswa yang mengalami kesulitan melihat papan tulis dapat menghadapi hambatan dalam mengikuti materi. Demikian pula, kecemasan yang tidak tertangani disebut berhubungan dengan kesulitan belajar dalam keseharian. Penekanan ini mengajak orang tua dan pihak sekolah untuk melihat perilaku anak dengan lebih cermat, tanpa terburu-buru memberi label.
Gangguan penglihatan, kekurangan zat besi, asupan protein dan energi yang tidak memadai, maupun masalah kesehatan jiwa perlu dipahami sebagai beban yang teridentifikasi dalam penelitian. Temuan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu kondisi tertentu menjadi penyebab langsung kesulitan belajar pada setiap anak. Namun, informasi ini dapat menjadi dasar untuk mendorong perhatian dan pemeriksaan yang sesuai ketika siswa menunjukkan tantangan konsentrasi. Pendekatan yang mempertimbangkan kesehatan memungkinkan kebutuhan anak dikenali, sehingga kesulitan belajar tidak semata-mata disalahartikan sebagai kurangnya kemauan atau kedisiplinan.
Temuan studi siswa sekolah dasar di Jakarta mendorong IHDC untuk mengusulkan dukungan yang lebih terarah di lingkungan sekolah. Usulan pertama adalah skrining mata secara berkala bagi siswa. Pemeriksaan rutin dapat membantu mengenali lebih awal gangguan penglihatan yang mungkin menghambat anak mengikuti pelajaran, membaca tulisan di papan, atau menyelesaikan tugas. Jika kebutuhan penglihatan teridentifikasi, siswa yang memerlukan koreksi dapat memperoleh kacamata secara gratis. Dengan demikian, pemeriksaan tidak berhenti pada penemuan masalah, tetapi terhubung dengan bantuan yang memungkinkan anak belajar dengan lebih nyaman.
Pelaksanaan skrining secara berkala di sekolah juga berpotensi membuat akses pemeriksaan lebih mudah bagi siswa dan keluarga. Sekolah dapat menjadi tempat untuk mengenali kebutuhan tersebut, sementara tindak lanjut berupa kacamata membantu mengurangi hambatan yang berkaitan dengan penglihatan. Dukungan ini ditujukan kepada siswa yang membutuhkan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan atau layanan kesehatan profesional. Pendekatan yang menghubungkan deteksi dengan bantuan nyata dapat menjaga agar persoalan penglihatan tidak luput dari perhatian dan agar kebutuhan belajar anak dipertimbangkan secara lebih menyeluruh.
Usulan kedua adalah menyediakan jalur rujukan psikologis serta pendampingan emosional di sekolah.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT Ke-81 TNI Tahun 2026, Kodim 1714/Puncak Jaya Bersama Rakyat Menanam Pohon Demi Masa Depan Baik | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta
