Pasokan Pertalite Bali Diperkuat, Pemerintah Targetkan Cadangan 15 Hari

oleh -683 Dilihat
oleh
Pasokan Pertalite Bali Diperkuat, Pemerintah Targetkan Cadangan 15 Hari

Kota Denpasar | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan kuota Pertalite untuk Bali ditambah guna mengurangi risiko antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Penambahan pasokan tersebut menjadi langkah pemerintah untuk memastikan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar bersubsidi tetap terpenuhi. Pemerintah juga ingin menjaga agar pelayanan di SPBU berjalan lancar, terutama ketika aktivitas masyarakat berlangsung normal dan kebutuhan bahan bakar terus berjalan.

Keterangan itu disampaikan Bahlil setelah mengikuti rapat koordinasi bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan jajaran terkait di Terminal BBM Pesanggaran, Denpasar, pada Senin, 19 Oktober. Pertemuan tersebut membahas kondisi pasokan dan penyaluran Pertalite di Bali, termasuk upaya menjaga ketersediaannya di berbagai wilayah. Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kepolisian, dan Pertamina dinilai penting agar penyaluran dapat dipantau serta persoalan di lapangan dapat segera ditangani.

Berdasarkan laporan Gubernur Bali, Kapolda Bali, dan General Manager Pertamina di Bali, SPBU di wilayah tersebut telah beroperasi normal. Ketiganya juga melaporkan tidak terdapat antrean panjang yang signifikan. Kondisi itu menjadi gambaran bahwa distribusi berjalan baik saat laporan disampaikan, meskipun pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan atau kendala penyaluran. Penambahan kuota diarahkan untuk mengurangi risiko gangguan dan menjaga ketersediaan bagi warga maupun pengguna jalan.

Bahlil menegaskan pemerintah akan menjaga kelancaran pasokan agar situasi normal di SPBU dapat bertahan. Pemantauan bersama akan membantu memastikan stok tersedia dan distribusi berlangsung sesuai kebutuhan di Bali. Jika muncul hambatan, koordinasi dengan pihak terkait diharapkan mempercepat tindak lanjut sebelum berdampak pada pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, tambahan kuota bukan hanya ditujukan untuk merespons kondisi saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya antisipasi agar masyarakat tidak menghadapi antrean berkepanjangan saat membeli Pertalite.

Dalam beberapa hari sebelum rapat membahas penguatan pasokan Pertalite di Bali, distribusi bahan bakar minyak dari Jawa ke pulau tersebut sempat menghadapi kendala. Kapal pengangkut BBM mengalami keterlambatan, sehingga pasokan yang tiba tidak sesuai dengan jadwal yang diharapkan. Dampaknya, menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, ketersediaan pasokan di Bali mengalami penurunan selama sekitar tiga sampai empat hari. Gangguan itu terjadi pada jalur pengiriman antarpulau yang menjadi salah satu bagian penting dari pemenuhan kebutuhan energi masyarakat dan kegiatan ekonomi di Bali.

Bahlil menjelaskan bahwa keterlambatan kapal tersebut berkaitan dengan manajemen internal arus logistik Pertamina. Karena itu, persoalan pasokan tidak semata-mata menyangkut jumlah BBM yang tersedia, tetapi juga ketepatan pengaturan transportasi dan distribusinya. Ia menyampaikan bahwa penanganan kondisi tersebut merupakan tanggung jawab bersama dan perlu dilakukan melalui koordinasi yang lebih baik. Evaluasi terhadap alur logistik dibutuhkan agar hambatan serupa dapat diidentifikasi lebih cepat serta tidak berlarut-larut memengaruhi ketersediaan BBM di wilayah tujuan.

Upaya antisipasi, kata Bahlil, telah dimulai sebelum rapat berlangsung. Sejak Kamis, 15 Oktober, ia meminta Direktur Utama Pertamina untuk menambah transportasi BBM dari Jawa ke Bali. Penambahan sarana angkut tersebut diharapkan membantu mempercepat pengiriman dan memulihkan pasokan setelah jadwal kapal mengalami keterlambatan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memastikan distribusi berjalan lebih lancar, terutama ketika kebutuhan di Bali harus dipenuhi melalui pengiriman dari luar pulau.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pasokan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok, tetapi juga oleh kelancaran rantai distribusi. Ketika pengiriman terlambat, cadangan di daerah dapat berkurang meskipun pasokan telah disiapkan di titik asal. Oleh sebab itu, pemantauan jadwal kapal, kesiapan transportasi, dan koordinasi antarpihak menjadi unsur penting dalam menjaga distribusi Pertalite dan BBM lainnya. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan langkah perbaikan logistik dijalankan secara konsisten, sembari memperhatikan kebutuhan pasokan Bali agar gangguan pengiriman tidak kembali menimbulkan penurunan ketersediaan selama beberapa hari.

Setelah berkoordinasi dengan Pertamina, pemerintah menggambarkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali berada pada kisaran rata-rata 11–12 hari. Angka tersebut merupakan gambaran agregat, sehingga kondisi di setiap terminal penampungan tidak sama. Perbedaan lokasi, volume penyimpanan, dan pola penyaluran membuat jumlah hari cadangan yang tercatat di masing-masing fasilitas bervariasi.

Bali memiliki dua terminal utama untuk menampung BBM, yaitu Terminal BBM Pesanggaran di Denpasar dan Terminal BBM Manggis di Kabupaten Karangasem. Cadangan di Pesanggaran disebut mencukupi sekitar empat sampai lima hari, sedangkan persediaan di Manggis berada di atas 11 hari. Karena itu, angka rata-rata untuk seluruh wilayah tidak dapat dibaca sebagai jumlah stok yang tersedia di setiap terminal secara merata.

Dalam koordinasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta Pertamina meningkatkan target cadangan BBM Bali dari 11 hari menjadi 15 hari. Permintaan ini mencakup penguatan kesiapan pasokan di wilayah kepulauan yang kebutuhan energinya perlu dilayani secara berkelanjutan. Target yang lebih tinggi diharapkan memberi ruang antisipasi apabila terjadi gangguan distribusi atau peningkatan kebutuhan, tanpa mengabaikan pasokan rutin bagi masyarakat dan sektor usaha.

Target 15 hari perlu dipahami sebagai kapasitas tampung atau tingkat ketahanan stok yang dijaga melalui pengisian ulang terus-menerus. BBM tetap disalurkan ke stasiun pengisian dan konsumen, sementara pasokan baru masuk untuk menggantikan volume yang keluar. Dengan mekanisme tersebut, cadangan bukan persediaan yang dibiarkan terkuras lalu habis tepat setelah 15 hari. Pengelolaan stok berlangsung dinamis, mengikuti jadwal kedatangan, kapasitas terminal, serta laju penyaluran.

Pemenuhan target itu dengan demikian bergantung pada kelancaran rantai pasok dan pengaturan distribusi Pesanggaran dan Manggis. Informasi rata-rata 11–12 hari menjadi titik awal untuk menilai kebutuhan penguatan, sementara perbedaan stok antarterminal menunjukkan pentingnya pemantauan yang terperinci. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan target baru diterjemahkan ke dalam perencanaan pasokan yang terukur, agar cadangan lebih andal tanpa mengganggu penyaluran harian.

Percepatan pengiriman bahan bakar minyak dari Jawa ke Bali menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pasokan Pertalite di Pulau Dewata. Jumlah kapal pengangkut BBM yang melayani rute tersebut disebut meningkat dari tiga menjadi tujuh kapal. Penambahan armada ini dimaksudkan untuk memperlancar distribusi dan menjaga agar pengisian pasokan dapat berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan pengiriman dalam jumlah besar pada waktu tertentu.

Dengan kapasitas angkut dan frekuensi pengiriman yang lebih besar, pasokan di Bali diharapkan dapat terus diperbarui seiring kebutuhan masyarakat. Upaya ini terkait dengan target pemerintah untuk menyediakan cadangan Pertalite hingga 15 hari. Ketersediaan armada menjadi bagian penting dari rantai pasok, sebab bahan bakar perlu diangkut dari sumber pasokan di Jawa menuju terminal atau titik distribusi di Bali sebelum disalurkan ke lembaga penyalur. Pemerintah menyatakan distribusi diperkuat agar target cadangan tersebut dapat dicapai dan pasokan lebih terjaga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menyampaikan gambaran stok BBM nasional. Cadangan Pertalite atau bensin RON 90 berada pada kisaran 16 hingga 18 hari. Sementara itu, jenis BBM lain secara umum memiliki cadangan di atas rata-rata 20 hari, sesuai standar minimum nasional. Angka tersebut memberikan konteks mengenai kondisi stok secara nasional, tetapi kebutuhan dan ketersediaan di tiap wilayah tetap memerlukan pengelolaan distribusi tersendiri.

Untuk Bali, Bahlil menyebut cadangan solar C48 tersedia lebih dari enam hari. Ia juga menyatakan bahwa solar tidak lagi diimpor, sedangkan sebagian Pertalite masih didatangkan dari luar negeri.

Baca juga: Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat