Jakarta | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membagi tanggung jawab dua wakil menteri berdasarkan fokus kerja masing-masing. Muhammad Saleh Mustafa, yang menjabat Wakil Menteri Pertanian I, mendapat tugas utama mengawal pelaksanaan program pemerintah. Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian II Alim Setiawan Slamet diarahkan untuk menangani agenda peningkatan produktivitas serta pengembangan sejumlah komoditas strategis. Pembagian ini dimaksudkan agar pelaksanaan kebijakan dan upaya peningkatan hasil pertanian dapat berjalan dengan perhatian yang lebih terarah.
Dalam penugasan kepada Saleh Mustafa, Amran menekankan eksekusi program, terutama pompanisasi dan pencetakan sawah baru. Pompanisasi menjadi bagian dari upaya mendukung ketersediaan air untuk kegiatan pertanian, sedangkan pencetakan sawah baru berkaitan dengan perluasan lahan produksi. Saleh diharapkan mengawal kedua program tersebut agar pelaksanaannya di lapangan sesuai dengan arahan pemerintah. Penekanan pada eksekusi menunjukkan bahwa tanggung jawabnya mencakup penerjemahan program menjadi pekerjaan yang dapat dijalankan, bukan hanya pembahasan kebijakan.
Adapun Alim Setiawan Slamet berfokus pada peningkatan produktivitas pertanian, termasuk pengembangan kedelai dan bawang putih. Ia juga mendapat tanggung jawab terkait Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Fokus tersebut menempatkan penguatan hasil produksi dan pengembangan komoditas sebagai bagian penting dari lingkup kerjanya. Pembagian ini disampaikan Amran setelah menerima Alim di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan. Pertemuan itu berlangsung menyusul pelantikan Alim oleh Presiden Prabowo Subianto pada 15 Oktober. Dengan demikian, penugasan kedua wakil menteri mencakup jalur yang berbeda tetapi saling berkaitan: Saleh mengawal pelaksanaan program pemerintah, sementara Alim menangani produktivitas, komoditas tertentu, dan sistem pertanian modern. Perincian tugas tersebut memberi gambaran mengenai prioritas kerja yang diharapkan dari masing-masing pejabat dalam mendukung agenda Kementerian Pertanian.
Agenda Alim dalam mendukung sektor pertanian berangkat dari upaya meningkatkan produktivitas melalui inovasi, riset, dan pemanfaatan teknologi. Pendekatan ini menempatkan pengembangan cara kerja yang lebih efektif sebagai bagian penting dari peningkatan hasil produksi. Teknologi tidak hanya diperkenalkan sebagai perangkat baru, tetapi perlu diuji kesesuaiannya dengan kebutuhan petani, kondisi lahan, serta tantangan budidaya di berbagai wilayah. Dengan dasar tersebut, kebijakan pertanian diharapkan dapat bertumpu pada bukti dan pengalaman lapangan, bukan semata pada asumsi atau penerapan yang seragam.
Untuk memperkuat proses itu, Alim berencana mendorong kolaborasi Kementerian Pertanian dengan perguruan tinggi. Kemitraan tersebut dapat membuka ruang bagi peneliti dan akademisi untuk menguji teknologi, varietas, maupun metode budidaya yang berpotensi meningkatkan hasil. Pengujian perlu dilakukan secara terukur, termasuk menilai efektivitas, biaya, kebutuhan sarana, dan kemungkinan penerapannya oleh petani. Hasil riset yang relevan kemudian dapat menjadi masukan bagi penyusunan program dan pendampingan. Kolaborasi juga memungkinkan pengetahuan dari kampus dipertemukan dengan praktik di lapangan, sehingga rekomendasi yang dihasilkan lebih sesuai dengan kondisi produksi setempat.
Salah satu program yang akan dikembangkan dalam agenda tersebut adalah PM-AAS. Program ini dipandang sebagai salah satu jalur untuk mendorong penerapan inovasi dan teknologi pertanian secara lebih terarah. Alim menyatakan bahwa pendekatan yang didukung riset dan penerapan teknologi itu berpotensi mendorong produktivitas padi hingga di atas 10 ton per hektare. Angka tersebut merupakan potensi yang disampaikan Alim, bukan hasil produksi yang telah dicapai secara umum. Pencapaiannya tetap bergantung pada pengujian, kesesuaian teknologi, kualitas benih, kondisi lahan, pengelolaan budidaya, serta dukungan kepada petani. Karena itu, pengembangan PM-AAS dan kemitraan riset perlu disertai evaluasi berkala untuk memastikan manfaatnya dapat dibuktikan dan diterapkan secara berkelanjutan.
Selain menangani sejumlah komoditas pangan, Alim juga menerima tanggung jawab untuk mendorong pengembangan kedelai dan bawang putih. Kedua komoditas tersebut mendapat perhatian karena Indonesia belum mencapai swasembada, sehingga pemenuhan kebutuhan nasional masih menghadapi tantangan. Penguatan produksi dalam negeri dipandang penting untuk memperbaiki ketersediaan pasokan dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Dalam pembagian tugas di Kementerian Pertanian, pengembangan komoditas ini memerlukan langkah yang terencana, mulai dari peningkatan kemampuan produksi hingga dukungan teknologi yang sesuai dengan kondisi budidaya di berbagai daerah.
Untuk kedelai, arah kebijakan yang disampaikan Alim adalah meningkatkan produksi dalam negeri secara bertahap. Upaya tersebut dimaksudkan agar pasokan nasional semakin kuat dan ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi. Salah satu langkah yang disebut ialah mengembangkan varietas unggul yang mampu mendukung hasil panen dan sesuai dengan kebutuhan petani. Pengembangan varietas perlu ditopang riset, pengujian, serta penyesuaian terhadap kondisi lahan dan iklim. Dengan demikian, pilihan benih yang tersedia dapat menjadi lebih relevan bagi sentra produksi dan mendorong petani menanam kedelai secara lebih produktif.
Alim juga menyebut perlunya menyusun standar operasional prosedur sebagai acuan budidaya. Pedoman tersebut dapat membantu menyelaraskan tahapan produksi, termasuk praktik penanaman dan pemeliharaan, sehingga hasilnya lebih konsisten. Riset menjadi bagian penting untuk menemukan solusi atas kendala produksi, sementara perluasan produksi diperlukan agar peningkatan tidak hanya bertumpu pada wilayah atau pelaku tertentu. Langkah-langkah itu perlu berjalan beriringan, bukan sebagai kegiatan yang terpisah, agar pengembangan kedelai dapat berlangsung lebih terarah dan memberi dampak pada pasokan nasional.
Dalam pengembangan teknologi pertanian, rencana Alim mencakup pelibatan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut dapat mempertemukan kapasitas penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari pengembangan benih hingga metode budidaya. Hasil riset diharapkan dapat diterapkan dan dievaluasi bersama petani serta pemangku kepentingan terkait. Tanggung jawab untuk bawang putih juga berada dalam agenda pengembangan komoditas yang belum swasembada. Secara keseluruhan, fokus pada produksi, riset, standar, dan kerja sama teknologi menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan secara bertahap.
Alim Setiawan Slamet berencana menemui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto untuk membicarakan peluang mempererat kerja sama pemerintah dan perguruan tinggi. Rencana pertemuan tersebut berkaitan dengan upaya membuka ruang kolaborasi yang lebih erat, khususnya dalam hubungan pemerintah dan lingkungan akademik. Alim menyampaikan bahwa ia ingin meminta izin kepada Brian agar kolaborasi tersebut dapat diperkuat. Pernyataan itu menunjukkan agenda yang hendak dibahasnya setelah mulai menjalankan tugas sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Pembicaraan yang direncanakan itu menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dalam kerja sama. Alim ingin terlebih dahulu mengomunikasikan gagasan tersebut kepada Brian, yang memimpin kementerian dengan lingkup pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Ia menyatakan ingin meminta izin agar kolaborasi pemerintah dengan perguruan tinggi dapat diperkuat. Rencana tersebut menjadi bagian dari agenda Alim sebagai wakil menteri, sementara pertemuan dengan Brian dimaksudkan untuk membahas peluang kerja sama itu secara langsung.
Alim dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 15 Oktober. Sebelum masuk ke pemerintahan, ia menjabat sebagai rektor IPB University. Latar belakang tersebut menjadi konteks bagi rencana Alim untuk membicarakan hubungan pemerintah dan perguruan tinggi dengan Brian. Informasi mengenai rencana pertemuan dan keinginannya meminta izin untuk memperkuat kolaborasi disampaikan setelah pelantikan. Alim menyebut pembahasan itu sebagai agenda yang ingin ia lakukan bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pelantikan Alim berlangsung dalam susunan kepemimpinan Kementerian Pertanian di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Setelah pelantikan tersebut, Amran didampingi oleh dua wakil menteri, yakni Saleh Mustafa dan Alim Setiawan Slamet.
Baca juga: Sinergi Babinsa dan PPL Pertanian dalam Pengubinan Menjelang Panen Padi | Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri Keuangan RI
