Jakarta | Komite disiplin Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menjatuhkan sanksi larangan bermain selama empat pertandingan domestik kepada Vinicius Junior. Keputusan tersebut langsung berdampak pada agenda Real Madrid, karena penyerang asal Brasil itu dipastikan tidak dapat tampil saat timnya menghadapi Barcelona pada 26 Oktober.
Absennya Vinicius menjadi salah satu konsekuensi paling menonjol dari hukuman tersebut. Pertemuan Madrid dan Barcelona, yang dikenal sebagai El Clasico, merupakan laga penting dalam kalender sepak bola Spanyol. Namun, berdasarkan sanksi RFEF, Vinicius tidak tersedia untuk dipilih dalam pertandingan itu. Madrid harus menjalani laga tersebut tanpa salah satu pemainnya, sementara Barcelona tetap menjadi lawan yang akan dihadapi sesuai jadwal pada tanggal tersebut.
Larangan empat pertandingan itu berlaku untuk kompetisi domestik. Dengan demikian, sanksi ini menentukan ketersediaan Vinicius bagi Madrid di ajang domestik selama masa hukuman, termasuk ketika klub bersiap menghadapi Barcelona. Tidak ada perubahan pada kepastian absennya sang pemain di El Clasico: ia tidak bisa memperkuat tim pada 26 Oktober.
Vinicius baru dapat kembali membela Real Madrid di kompetisi domestik setelah jeda internasional November. Artinya, ia harus menunggu hingga jeda tersebut selesai sebelum kembali tersedia bagi klub dalam pertandingan domestik. Informasi itu memberi batas waktu yang jelas mengenai dampak sanksi: larangan empat laga berlaku sebelum ia dapat kembali masuk ke pilihan Madrid di kompetisi tersebut.
Keputusan RFEF itu pun membuat perhatian tertuju pada bagaimana Madrid menjalani periode tanpa Vinicius, terutama menjelang pertemuan dengan Barcelona. Meski demikian, kepastian yang dapat disampaikan saat ini berpusat pada masa larangan bermain dan tanggal kembalinya. Vinicius akan melewatkan El Clasico pada 26 Oktober dan belum bisa tampil dalam kompetisi domestik hingga setelah jeda internasional November. Sanksi tersebut menutup peluangnya untuk ambil bagian dalam pertandingan itu, sekaligus menetapkan kapan ia dapat kembali membela Madrid di level domestik.
Sanksi empat pertandingan terhadap Vinicius Junior berawal dari dua insiden berbeda dalam laga LaLiga musim 2026/27 melawan Villarreal. Keputusan hukuman tersebut memisahkan perbuatan yang terjadi selama pertandingan menjadi dua pelanggaran: tindakan terhadap gelandang Nathan Saliba dan reaksi Vinicius setelah menerima kartu merah. Pemisahan ini menjadi dasar bagi otoritas disipliner untuk menjatuhkan dua skorsing, masing-masing selama dua pertandingan. Dengan demikian, total larangan bermain yang harus dijalani pemain Real Madrid itu mencapai empat laga.
Dua pertandingan pertama diberikan karena Vinicius dinyatakan melakukan tindakan kekerasan terhadap Saliba. Dalam insiden tersebut, ia menjambak rambut gelandang Villarreal itu. Peristiwa tersebut berlangsung pada akhir pekan sebelumnya, sehingga menjadi salah satu pokok pemeriksaan setelah laga. Otoritas disipliner menilai tindakan itu sebagai pelanggaran yang patut dikenai hukuman, bukan sekadar kontak biasa dalam perebutan bola. Putusan tersebut secara khusus mengaitkan durasi skorsing dua laga dengan tindakan terhadap Saliba.
Dua pertandingan tambahan dijatuhkan atas perilaku Vinicius ketika memprotes keputusan wasit yang memberinya kartu merah. Reaksinya disebut berlangsung dengan sikap agresif dan berkembang menjadi konfrontasi di lapangan. Rekan-rekannya harus menahan Vinicius dalam situasi tersebut, sebuah detail yang menjadi bagian dari gambaran perilakunya setelah keputusan wasit. Hukuman tambahan itu tidak berasal dari insiden jambakan rambut, melainkan dari protes dan konfrontasi yang menyusul kartu merah. Karena kedua tindakan dikenai konsekuensi secara terpisah, jumlah sanksinya bertambah menjadi empat pertandingan. Rangkaian keputusan ini menjelaskan mengapa Vinicius tidak dapat tampil pada sejumlah laga berikutnya, termasuk pertandingan menghadapi Barcelona. Dasar sanksi tersebut, dengan demikian, mencakup tindakan fisik terhadap pemain lawan serta perilaku setelah pengusiran. Uraian itu juga membedakan penyebab tiap bagian hukuman: dua laga berkaitan dengan Saliba, sedangkan dua laga lain berkaitan dengan reaksinya terhadap wasit. Kedua insiden dalam satu pertandingan berujung pada larangan bermain yang lebih panjang daripada jika hanya satu pelanggaran yang dihukum.
Vinicius Junior menyatakan tidak menerima hukuman empat laga yang dijatuhkan kepadanya. Ia juga mempertanyakan kejelasan aturan yang menjadi dasar sanksi, khususnya ketentuan mengenai tarikan rambut di lapangan. Menurutnya, aturan tersebut tidak pernah disosialisasikan kepadanya secara spesifik. Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana tindakan tersebut dinilai dan mengapa keputusan itu berujung pada hukuman baginya. Pernyataannya berfokus pada pemahaman tentang aturan serta penerapannya dalam pertandingan, tanpa mengubah pokok keberatannya terhadap sanksi yang diberikan.
Dalam tanggapannya, Vinicius menegaskan bahwa ia tidak merasa pernah melakukan kekerasan terhadap pemain lain. Ia juga menyebut bahwa dirinya kerap menjadi sasaran pukulan, tetapi kartu justru berakhir diberikan kepadanya. “Saya tidak pernah melakukan kekerasan terhadap pemain lain. Saya sering dipukul, tetapi kartu-kartu justru berakhir pada saya,” demikian inti pernyataannya. Kalimat tersebut menggambarkan alasan ia menilai keputusan disipliner itu tidak dapat diterima, sekaligus menyuarakan keberatannya atas apa yang ia anggap sebagai ketimpangan dalam perlakuan di lapangan.
Vinicius turut mengaitkan keberatannya dengan pertanyaan mengenai aturan tarikan rambut. Ia mengklaim tidak pernah menerima penjelasan atau sosialisasi khusus tentang ketentuan tersebut, sehingga merasa tidak memahami secara jelas bagaimana tindakan itu dapat dikenai hukuman. Ia meminta kejelasan mengenai aturan yang dipakai dalam kasusnya, sembari mempertahankan pandangannya bahwa ia tidak melakukan kekerasan terhadap lawan. Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan terhadap keputusan yang membuatnya dijatuhi larangan bermain empat laga. Pokok pesannya adalah bahwa ia menolak hukuman tersebut dan mempertanyakan dasar aturan serta penerapannya, tanpa menarik kembali klaimnya bahwa dirinya sering dipukul dan kartu justru berakhir padanya.
Jose Mourinho mempertanyakan keputusan komite disiplin yang mengumumkan sanksi empat laga untuk Vinicius Junior hanya sekitar dua jam sebelum Real Madrid menghadapi AS Roma di Liga Champions. Pertandingan itu dijadwalkan berlangsung pada Kamis (15/10/2026) dini hari WIB. Menurut pelatih Madrid tersebut, jarak waktu yang sangat singkat pengumuman dan sepak mula membuat keputusan itu menjadi perhatian besar di tengah persiapan tim.
Mourinho menilai, pengumuman hukuman pada saat seperti itu berpotensi mengganggu konsentrasi para pemainnya. Madrid sedang bersiap menjalani laga penting di kompetisi Eropa, sehingga perhatian tim semestinya tertuju pada strategi, kesiapan fisik, dan lawan yang akan dihadapi. Namun, kabar mengenai sanksi Vinicius muncul ketika persiapan pertandingan telah memasuki tahap akhir.
Pelatih asal Portugal itu tidak hanya menyoroti isi keputusan, tetapi juga waktu penyampaiannya. Sanksi empat pertandingan tersebut berarti Vinicius akan melewatkan sejumlah laga Madrid, termasuk pertandingan menghadapi Barcelona. Dampaknya terhadap susunan tim dan rencana pelatih tentu menjadi bahan pembicaraan, tetapi Mourinho memilih menekankan bagaimana pengumuman mendadak itu dapat memengaruhi suasana tim menjelang pertandingan melawan Roma.
Ia mempertanyakan mengapa komite tidak menyampaikan keputusan tersebut lebih awal, sehingga klub dan pemain memiliki waktu lebih panjang untuk mengetahui serta menanggapi konsekuensinya. Mourinho menyampaikan kritik itu dengan nada menyindir, sembari meminta agar pertanyaan mengenai jadwal pengumuman diarahkan langsung kepada pihak yang menetapkan sanksi. Pernyataannya berfokus pada waktu keluarnya keputusan, bukan pada penjelasan mengenai alasan komite memilih jadwal tersebut.

