Kabupaten Mempawah | Strategi hilirisasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) semakin dipandang sebagai pendorong baru bagi kinerja perusahaan dan saham ANTM. Perusahaan tidak hanya berfokus pada penjualan komoditas tambang, tetapi juga berupaya mengolah mineral menjadi produk bernilai tambah. Analis Phintraco Sekuritas Indra Setyadi menilai pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dan industri aluminium menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Langkah ini berpotensi memperluas sumber pendapatan sekaligus memperkuat posisi Antam dalam rantai pasok industri masa depan. Namun, hasilnya akan bergantung pada kemajuan proyek, kebutuhan investasi, dan realisasi operasional sesuai tahapan yang telah ditetapkan.
Dalam ekosistem baterai, sejumlah proyek berada pada fase pengembangan yang berbeda. Proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) telah memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC), yang mencakup pekerjaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi. Sementara itu, proyek high pressure acid leach (HPAL) masih berada pada tahap persetujuan investasi. Perbedaan tahapan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan rantai nilai memerlukan proses bertahap sebelum seluruh fasilitas dapat beroperasi. Antam menargetkan keterhubungan pengolahan bahan baku mineral, produksi material, dan manufaktur baterai, dengan dukungan mitra strategis. Kemitraan diharapkan membantu mengembangkan kapabilitas, teknologi, dan skala produksi yang dibutuhkan.
Visi perusahaan adalah membangun rantai nilai baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, dari sumber daya mineral hingga produk yang dapat digunakan dalam industri kendaraan listrik. Pengembangan sektor aluminium juga menjadi bagian dari upaya memperbesar nilai tambah komoditas dan memperluas portofolio hilir Antam. Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir Antam, I Dewa Bagus Sugata Wirantaya, menyampaikan bahwa fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang mulai beroperasi pada 2026. Jadwal tersebut menjadi salah satu penanda penting bagi realisasi ekosistem baterai nasional. Bagi investor, kemajuan proyek hilirisasi dapat menjadi katalis jangka panjang, tetapi perkembangan setiap tahap dan kepastian investasi tetap perlu dicermati untuk menilai dampaknya terhadap kinerja dan saham ANTM.
Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase I di Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, telah beroperasi dan mulai memperlihatkan kontribusinya terhadap kinerja hilirisasi Antam. Fasilitas ini dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Kehadiran refinery tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengolah bauksit di dalam negeri menjadi alumina, bahan baku yang dibutuhkan untuk proses peleburan aluminium. Dengan rantai pengolahan yang semakin terintegrasi, produksi mineral dapat memberikan nilai tambah lebih besar sebelum dipasarkan atau digunakan oleh industri domestik.
Pada semester I-2026, BAI mencatat penjualan alumina sebanyak 350 ribu ton. Perusahaan menargetkan penjualan mencapai 700 ribu ton hingga akhir tahun, sejalan dengan pengoperasian fasilitas dan peningkatan produksi. SGAR fase I memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum di dalam negeri, sedangkan sekitar 450 ribu ton ditujukan bagi pasar ekspor. Pembagian ini menghubungkan pasokan bahan baku bagi industri aluminium nasional dengan peluang penjualan ke pasar global.
Operasi SGAR juga mulai tercermin pada laporan keuangan Antam melalui kontribusi laba dari BAI. Pada semester I-2026, setoran laba BAI kepada Antam tercatat sebesar Rp257,6 miliar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa proyek hilirisasi tidak hanya menambah kapasitas pengolahan, tetapi juga mulai memberikan hasil finansial kepada salah satu pemegang sahamnya. Kinerja berikutnya akan dipengaruhi oleh kemampuan fasilitas menjaga operasional, meningkatkan volume produksi, serta merealisasikan rencana penjualan sesuai target.
Indra menilai kontribusi laba tersebut berpotensi meningkat apabila produksi terus bertambah. Dengan demikian, kenaikan output SGAR dapat memperkuat penjualan alumina sekaligus memperbesar peluang setoran laba kepada Antam. Namun, perkembangan itu tetap bergantung pada realisasi produksi dan penyerapan produk, baik oleh Inalum maupun pembeli ekspor. Performa fase I menjadi pijakan bagi pengembangan hilirisasi bauksit, sekaligus memperlihatkan bagaimana sinergi Antam dan Inalum dapat mendukung pasokan bahan baku aluminium domestik dan menghasilkan pendapatan dari pasar luar negeri.
Operasional Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) menjadi bagian penting dalam perkembangan rantai pengolahan bauksit Antam. Kegiatan fasilitas tersebut turut mendorong kebutuhan bijih bauksit yang dipasok dari tambang perusahaan. Sejalan dengan dinamika itu, penjualan bauksit Antam pada semester I-2026 mencapai sekitar 1,3 juta wet metric ton (WMT), naik 24,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan volume ini memperlihatkan berkembangnya penjualan komoditas tersebut di tengah operasional pengolahan yang membutuhkan pasokan bahan baku. Angka penjualan juga menunjukkan bahwa bauksit tetap menjadi salah satu bagian dari portofolio mineral Antam yang berkaitan dengan agenda hilirisasi.
Selain bauksit, Antam mencatat pertumbuhan penjualan pada sejumlah produk mineral lain. Penjualan feronikel pada semester pertama 2026 meningkat 32% menjadi sekitar 7,6 ribu ton nikel (Ni). Sementara itu, penjualan chemical grade alumina (CGA) naik 10,2% menjadi sekitar 100,4 ribu ton. Perkembangan tersebut memberi gambaran mengenai kinerja beberapa segmen mineral perusahaan dalam periode pelaporan. Feronikel dan alumina melengkapi produk emas serta komoditas lain yang dipasarkan Antam. Data penjualan ini dapat dibaca sebagai indikator aktivitas komersial masing-masing produk, tanpa mengabaikan perbedaan karakter pasar, kapasitas produksi, maupun faktor operasional pada setiap segmen. Dengan demikian, kenaikan volume penjualan bauksit, feronikel, dan CGA memberi konteks bagi pembacaan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Dalam laporan semester I-2026, Antam membukukan pendapatan sebesar Rp62,71 triliun, tumbuh sekitar 6,3% dibandingkan semester I-2025. Kontribusi terbesar terhadap pendapatan berasal dari emas, disusul nikel serta bauksit dan alumina. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa capaian perusahaan ditopang oleh beragam komoditas, dengan emas tetap menjadi penyumbang utama dan mineral lain turut membentuk portofolio pendapatan. Pada periode yang sama, laba bersih tercatat Rp6,91 triliun, meningkat 34% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan mineral berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba, namun angka-angka itu tidak dengan sendirinya menguraikan kontribusi sebab-akibat setiap produk terhadap hasil keuangan. Secara keseluruhan, data semester pertama memperlihatkan perkembangan penjualan pada beberapa segmen sekaligus capaian finansial Antam yang lebih tinggi daripada periode pembanding.
Phintraco Sekuritas menilai prospek Antam didukung oleh pertumbuhan EBITDA dan meningkatnya kontribusi laba dari entitas asosiasi, terutama PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Perkembangan tersebut diperkirakan memperkuat kemampuan perusahaan menghasilkan laba seiring berjalannya proyek hilirisasi dan meningkatnya aktivitas pengolahan mineral. Berdasarkan proyeksi analis, laba bersih Antam pada 2026 dapat mencapai sekitar Rp11,6 triliun, atau tumbuh 61,6% dibandingkan perkiraan tahun sebelumnya. Proyeksi ini mencerminkan harapan bahwa investasi dan operasi pada rantai pengolahan mulai memberikan dampak yang lebih nyata terhadap kinerja keuangan. Kontribusi BAI menjadi perhatian karena dapat memperluas sumber pendapatan Antam di luar kegiatan penambangan dan mendukung pengembangan ekosistem pengolahan bauksit serta alumina.
Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham ANTM dan menetapkan target harga Rp4.840. Target itu menyiratkan potensi kenaikan sekitar 56% dari harga acuan yang digunakan analis. Dari sisi valuasi, saham diperkirakan diperdagangkan pada rasio sekitar 10 kali untuk 2026 dan 9,6 kali untuk 2027. Penilaian ini mengacu pada perkiraan kinerja mendatang, sehingga realisasi pertumbuhan laba, kemajuan proyek, serta kontribusi perusahaan asosiasi akan menjadi faktor penting untuk dicermati.

