Korban Jiwa Karhutla di Bromo Bertambah, Munawi Meninggal Setelah Dirawat

oleh -31 Dilihat
oleh
Korban Jiwa Karhutla di Bromo Bertambah, Munawi Meninggal Setelah Dirawat

Surabaya | Jumlah petugas gabungan yang meninggal dunia saat menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bertambah menjadi lima orang. Korban terbaru adalah Munawi, 44 tahun, anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP), yang meninggal pada Senin (19/10) di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Ia sebelumnya sempat berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif akibat luka bakar yang dideritanya.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan bahwa Munawi wafat setelah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Keterangan tersebut memastikan bahwa anggota MMP itu tidak dapat diselamatkan setelah kondisinya kritis dan menjalani perawatan intensif. Kepergian Munawi menambah jumlah korban meninggal dari petugas gabungan yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan taman nasional tersebut.

Munawi merupakan bagian dari MMP, kelompok yang membantu Polisi Kehutanan dalam mendukung kegiatan di kawasan konservasi. Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan, petugas gabungan menghadapi situasi yang berisiko, sementara upaya pemadaman dan penanganan dampak kebakaran terus dilakukan. Luka bakar yang dialami Munawi membuatnya harus dirawat secara intensif sebelum akhirnya meninggal dunia.

Dengan wafatnya Munawi, jumlah petugas yang meninggal saat bertugas menangani kebakaran di TNBTS kini mencapai lima orang. Kabar ini menjadi kehilangan bagi keluarga korban serta pihak-pihak yang terlibat dalam upaya penanganan kebakaran. Informasi mengenai kondisi kritis, perawatan intensif, dan waktu wafatnya disampaikan dalam keterangan terkait perkembangan korban. Munawi meninggal di RSUD Dr Soetomo pada Senin (19/10), setelah tim medis memberikan perawatan atas luka bakarnya. Peristiwa tersebut menambah perhatian terhadap risiko yang dihadapi petugas gabungan dalam menjalankan tugas di kawasan terdampak kebakaran.

Munawi merupakan salah satu dari 12 petugas dan relawan yang berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo sejak Kamis (15/10). Upaya pemadaman itu berlangsung di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Mereka berusaha menangani api di tengah kondisi lapangan yang dipenuhi asap dan kobaran yang masih menyebar. Berdasarkan informasi yang tersedia, Munawi ikut dalam kelompok tersebut saat menjalankan upaya pemadaman. Keterlibatannya menempatkan dirinya bersama petugas dan relawan lain yang menghadapi risiko langsung ketika berusaha mengendalikan kebakaran.

Dalam rangkaian kejadian yang dilaporkan, Munawi kemudian ditemukan dalam keadaan tak berdaya di tengah kepungan asap dan api. Kondisi lokasi saat itu membuat upaya pemadaman menjadi berbahaya, sementara asap dan kobaran menghalangi pergerakan di sekitar area terdampak. Informasi mengenai kejadian tersebut menyebutkan bahwa ia ditemukan setelah menghadapi situasi tersebut, tetapi tidak merinci waktu maupun cara persis ia terpisah atau terjebak. Karena itu, urutan peristiwa yang dapat dipastikan terbatas pada keterangan bahwa Munawi ikut dalam upaya pemadaman, lalu ditemukan tak berdaya di tengah asap dan api. Rincian lain mengenai keadaan sebelum ia ditemukan tidak dapat disimpulkan dari informasi yang ada.

Setelah ditemukan, Munawi dibawa ke RSUD Dr Soetomo untuk memperoleh perawatan atas luka bakar yang dialaminya. Ia menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sebelum kemudian meninggal dunia, sebagaimana diberitakan dalam informasi mengenai bertambahnya korban jiwa karhutla di Bromo. Keterangan yang tersedia tidak menyebutkan rincian tentang tingkat luka bakar, tindakan medis yang diberikan, ataupun lama perawatannya. Oleh sebab itu, urutan kejadian dalam uraian ini mengikuti informasi sumber saja: Munawi terlibat dalam upaya pemadaman bersama 11 petugas dan relawan lainnya sejak Kamis (15/10), ditemukan tak berdaya dalam kepungan asap dan api di kawasan Cemorolawang, lalu dibawa ke RSUD Dr Soetomo untuk dirawat atas luka bakarnya. Ia meninggal setelah menjalani perawatan.

Sebelum Munawi meninggal setelah menjalani perawatan, empat orang telah lebih dahulu kehilangan nyawa dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Peristiwa tersebut terjadi di titik Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10). Para korban berada di lokasi ketika api berusaha dikendalikan. Insiden ini menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi petugas maupun pekerja di sekitar kawasan terdampak saat melakukan pemadaman. Informasi mengenai korban menjadi bagian penting dari catatan kejadian, sekaligus mengingatkan bahwa penanganan kebakaran di medan terbuka dapat membahayakan keselamatan orang-orang yang terlibat secara langsung.

Dua korban yang meninggal merupakan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yakni Sukaris, 55 tahun, dan Hendra Rony Wagiyanata. Dua korban lainnya adalah Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, serta Sefriel Ardiansyah, 19 tahun. Keduanya bekerja sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi. Keempatnya tercatat meninggal dalam kejadian saat upaya pemadaman berlangsung. Mereka berasal dari dua kelompok yang berbeda, yaitu petugas pengelola kawasan konservasi dan pekerja sektor perhotelan setempat. Kehadiran para pekerja di sekitar lokasi membuat dampak kebakaran tidak hanya dirasakan oleh pihak yang bertugas menangani kawasan, tetapi juga oleh masyarakat yang menjalankan kegiatan di sekitarnya.

Selain empat orang yang lebih dahulu meninggal, dua personel dilaporkan mengalami luka-luka. Salah satunya adalah Munawi, yang kemudian meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan. Korban lainnya, Suraji, bekerja sebagai sekuriti hotel di sekitar lokasi dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo akibat luka bakar. Dengan demikian, kondisi kedua korban luka tersebut berbeda: Munawi tidak dapat diselamatkan, sedangkan Suraji tetap memperoleh penanganan medis. Peristiwa di Pusung Lingker mencatat korban jiwa dari kalangan petugas dan pekerja hotel, serta seorang korban luka yang masih dirawat. Rincian identitas dan kondisi para korban membantu menjelaskan besarnya dampak insiden kebakaran tersebut terhadap orang-orang yang berada di sekitar titik pemadaman.

Rudijanta menyampaikan bahwa meninggalnya Munawi setelah menjalani perawatan merupakan kehilangan besar bagi keluarga, rekan-rekan kerja, jajaran Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dan masyarakat Jawa Timur. Kepergian almarhum menambah duka di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta berharap mereka diberi kekuatan untuk menghadapi masa sulit ini. Munawi dikenang sebagai bagian dari mereka yang terlibat dalam pengabdian di kawasan tersebut.

Rudijanta juga memberikan penghargaan kepada seluruh orang yang berhadapan langsung dengan risiko ketika berupaya memadamkan api. Penanganan kebakaran menuntut keberanian, kerja sama, dan kesiapsiagaan, terutama bagi petugas dan pihak lain yang bertugas di lapangan. Menurutnya, pengorbanan serta dedikasi mereka patut dihormati. Apresiasi itu ditujukan kepada mereka yang terus berupaya menangani kebakaran sekaligus menjaga kawasan dan keselamatan warga, meskipun harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya.

Jajaran Balai Besar TNBTS memberikan penghormatan terakhir kepada Munawi, sekaligus mengenang para korban yang lebih dahulu gugur dalam rangkaian peristiwa tersebut. Penghormatan itu menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas lembaga kepada almarhum serta keluarga yang kehilangan. Doa dipanjatkan bagi Munawi dan korban lainnya, sementara ucapan terima kasih disampaikan atas pengabdian mereka. Bagi keluarga, rekan kerja, dan lingkungan TNBTS, penghormatan tersebut menegaskan bahwa jasa serta dedikasi para korban tidak dilupakan.

Di samping ungkapan duka dan penghormatan, perhatian juga diarahkan pada dukungan bagi keluarga korban meninggal. Pemerintah Provinsi Jawa Timur disebut menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta untuk keluarga masing-masing korban. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk perhatian pemerintah kepada keluarga yang sedang berduka, meski tidak dapat menggantikan kehilangan yang mereka alami.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla