BI Paparkan Kondisi Inflasi dan Rupiah kepada Presiden Prabowo

oleh -31 Dilihat
oleh
BI Paparkan Kondisi Inflasi dan Rupiah kepada Presiden Prabowo

Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai kondisi inflasi dan nilai tukar rupiah. Penyampaian laporan tersebut berlangsung dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin (19/10/2026). Dalam pertemuan itu, kedua hal tersebut menjadi pokok yang disampaikan kepada Presiden oleh Gubernur BI. Laporan tersebut memuat kondisi inflasi serta perkembangan nilai tukar rupiah, sebagaimana menjadi perhatian dalam paparan Bank Indonesia kepada kepala negara.

Bank Indonesia menegaskan bahwa menjaga stabilitas tetap menjadi fokus, baik dalam kaitannya dengan inflasi maupun nilai tukar rupiah. Dengan demikian, laporan Destry kepada Presiden mencakup dua aspek yang saling menjadi perhatian dalam paparan tersebut: kestabilan harga dan kondisi mata uang. Penyampaian ini dilakukan dalam rapat terbatas, bukan dalam forum terbuka, di Istana Merdeka. Lokasi pertemuan berada di Jakarta Pusat, sementara waktunya tercatat pada Senin, 19 Oktober 2026.

Pokok laporan itu memperlihatkan perhatian BI terhadap stabilitas inflasi dan rupiah, yang disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Keterangan mengenai pertemuan tersebut menempatkan laporan Gubernur BI sebagai inti agenda yang berkaitan dengan kondisi ekonomi tersebut. Tidak ada rincian angka atau ukuran tertentu yang disampaikan dalam keterangan ini; karena itu, laporan dapat dijelaskan sebatas pembahasan kondisi inflasi dan nilai tukar rupiah serta fokus BI untuk menjaga stabilitas keduanya. Rapat terbatas di Istana Merdeka menjadi tempat penyampaian laporan pada tanggal tersebut.

Bank Indonesia melaporkan bahwa inflasi inti pada September tercatat sebesar 2,8%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan harga secara umum masih berada dalam kondisi yang cukup terkendali. Inflasi inti mencerminkan perubahan harga barang dan jasa yang cenderung lebih stabil, sehingga dapat membantu menggambarkan perkembangan permintaan dan kondisi ekonomi secara lebih mendasar. Dengan capaian tersebut, BI menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan, meskipun sejumlah komponen harga tetap perlu dipantau.

Namun, kondisi inflasi secara keseluruhan tidak sepenuhnya seragam. Inflasi bahan pangan bergejolak, atau volatile food inflation, mencapai 5% pada September. Tingkat ini lebih tinggi dibandingkan inflasi inti dan menunjukkan adanya tekanan yang lebih nyata pada harga pangan. Pergerakan harga bahan pangan dapat dipengaruhi oleh pasokan, distribusi, kondisi produksi, serta perubahan permintaan. Karena itu, kenaikan pada kelompok ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan membutuhkan perhatian tersendiri, meski inflasi inti masih terkendali.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa koordinasi dengan Kementerian Pertanian akan dilakukan untuk menjaga inflasi pangan. Langkah ini diarahkan agar kenaikan harga bahan pangan dapat dikelola dan inflasi pangan kembali berada dalam koridor sasaran BI, yaitu 2,5% dengan toleransi plus atau minus 1%. Sasaran tersebut menjadi acuan bagi upaya menjaga stabilitas harga, sekaligus mempertimbangkan dinamika pasokan dan kebutuhan masyarakat. Kerja sama lintas lembaga diperlukan agar kebijakan pengendalian tidak hanya merespons kenaikan harga, tetapi juga memperkuat ketersediaan komoditas di berbagai daerah.

Perbedaan inflasi inti sebesar 2,8% dan inflasi pangan sebesar 5% menegaskan bahwa tekanan harga terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Dengan demikian, gambaran inflasi September memuat dua kondisi yang perlu dibaca secara bersamaan: stabilitas harga inti yang relatif terjaga dan tantangan pengendalian harga pangan. BI dan pemerintah akan memantau perkembangan kedua komponen tersebut, dengan perhatian khusus pada upaya mengendalikan gejolak pangan agar tidak mengganggu daya beli maupun sasaran stabilitas ekonomi.

Destry menilai volatilitas di pasar global masih tinggi dan menjadi tantangan bagi pergerakan rupiah. Ketidakpastian yang bersumber dari perkembangan ekonomi dan kebijakan negara-negara utama dapat memicu perubahan sentimen investor dengan cepat. Dalam situasi seperti ini, arus modal berpotensi bergerak lebih dinamis, sementara mata uang negara berkembang dapat menghadapi tekanan ketika pelaku pasar memilih aset yang dianggap lebih aman. Karena itu, kondisi eksternal tetap perlu dicermati dalam menilai arah nilai tukar domestik. Pemerintah dan otoritas terkait juga terus memantau perkembangan tersebut, sebab perubahan sentimen global dapat memengaruhi pasar keuangan Indonesia meskipun fundamental dalam negeri tetap menjadi pertimbangan penting bagi investor.

Salah satu latar yang disampaikan Destry adalah situasi di Amerika Serikat. Perekonomian negara tersebut menghadapi kondisi higher for longer, yaitu suku bunga yang berpotensi bertahan pada tingkat tinggi lebih lama. Selain itu, inflasi AS masih jauh di atas sasaran yang ditetapkan. Perkembangan inflasi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pertimbangan bank sentral AS, Federal Reserve, dalam menentukan kebijakan moneternya. Apabila tekanan harga belum mereda sesuai harapan, ruang untuk melonggarkan kebijakan dapat menjadi terbatas. Hal itu turut membentuk ekspektasi pasar terhadap suku bunga dan memengaruhi pergerakan mata uang di berbagai negara, termasuk rupiah. Namun, berdasarkan perkiraan yang disampaikan Destry, kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober dinilai lebih kecil. Perkiraan tersebut tetap berada dalam konteks ketidakpastian global yang masih tinggi, sehingga pelaku pasar akan terus memperhatikan data ekonomi dan sinyal kebijakan yang muncul.

Di tengah tantangan eksternal tersebut, Destry menyebut rupiah mampu dijaga stabil selama dua hari terakhir. Stabilitas ini berlangsung meskipun terdapat sedikit perlambatan pada pergerakannya. Kondisi serupa, menurutnya, juga dialami sejumlah negara di kelompok emerging market, sehingga perlambatan itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa mata uang negara berkembang sama-sama menghadapi pengaruh sentimen global. Dengan demikian, penilaian terhadap rupiah perlu melihat konteks pasar yang lebih luas, bukan hanya perubahan harian di dalam negeri. Pemantauan volatilitas, perkembangan inflasi AS, serta arah kebijakan Federal Reserve tetap menjadi bagian penting dalam membaca tantangan nilai tukar. Pernyataan Destry menempatkan kestabilan rupiah dalam situasi pasar internasional yang bergerak dinamis dan penuh kehati-hatian bagi para pelaku pasar.

Presiden Prabowo meminta Bank Indonesia (BI) terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan mengupayakan kebijakan yang dimiliki bank sentral untuk menjaga mata uang tersebut di pasar. Pesan itu disampaikan dalam pembahasan mengenai kondisi ekonomi, termasuk inflasi dan pergerakan rupiah. BI, melalui kebijakan yang berada dalam kewenangannya, diminta tetap memperhatikan dinamika pasar dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa upaya menjaga rupiah dilakukan melalui sejumlah instrumen. Salah satunya adalah intervensi di pasar spot, yakni pasar tempat transaksi valuta asing dilakukan secara langsung. Selain itu, BI juga menggunakan instrumen non-deliverable forward (NDF) dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Kedua instrumen tersebut menjadi bagian dari langkah bank sentral dalam mengelola transaksi valuta asing di pasar.

Penggunaan beragam instrumen itu memungkinkan BI hadir pada beberapa segmen pasar, baik di dalam maupun di luar negeri. Destry menyebut intervensi dilakukan sesuai kebutuhan dan dengan mencermati kondisi yang berkembang. Dalam penjelasannya, ia juga menyoroti kebijakan insentif biaya hedging atau lindung nilai. Insentif tersebut telah diberikan sejak akhir Juli sebagai salah satu upaya untuk mendukung transaksi lindung nilai di pasar domestik.

Insentif biaya hedging menjadi bagian dari rangkaian kebijakan yang dijalankan bersama penggunaan instrumen pasar valuta asing. Dengan demikian, langkah BI tidak hanya mencakup transaksi di pasar spot, tetapi juga penggunaan NDF dan DNDF serta pemberian insentif untuk aktivitas lindung nilai. Destry menyampaikan bahwa kombinasi langkah tersebut telah mendatangkan arus masuk valuta asing melalui transaksi FX swap maupun DNDF.

Baca juga: DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber | Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa penampilan seseorang tidak selalu menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam dirinya | Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik