Kemarau Panjang Menyusutkan Telaga Merdada, Petani Berebut Sisa Air

oleh -372 Dilihat
oleh
Kemarau Panjang Menyusutkan Telaga Merdada, Petani Berebut Sisa Air

Kabupaten Banjarnegara | Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mengalami kekeringan ekstrem akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut terlihat dari permukaan air telaga yang menyusut secara drastis. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, sebagian besar dasar telaga telah terlihat karena air tidak lagi menutupi kawasan yang sebelumnya berada di bawah permukaan.

Perubahan itu memperlihatkan betapa kuat tekanan kemarau yang sedang berlangsung di kawasan tersebut. Telaga yang biasanya memiliki hamparan air luas kini tampak menyisakan bagian permukaan yang jauh lebih kecil. Penyusutan ini menjadi gambaran nyata mengenai dampak kemarau panjang terhadap salah satu sumber air penting di dataran tinggi Dieng.

Telaga Merdada merupakan salah satu telaga terluas di kawasan dataran tinggi Dieng. Karena ukurannya yang luas, perubahan pada permukaan airnya terlihat dengan jelas. Ketika sebagian besar dasar telaga mulai terbuka, kondisi tersebut menandai tingkat kekeringan yang sangat serius. Pengamatan pada Rabu, 7 Oktober 2026, menunjukkan bahwa kemarau panjang telah mengubah tampilan telaga secara drastis, dari hamparan air yang luas menjadi kawasan yang sebagian besar dasarnya terlihat. Keadaan Telaga Merdada menjadi cerminan langsung dari tekanan kemarau yang tengah berlangsung di dataran tinggi Dieng.

Pemandangan di sekitar Telaga Merdada berubah seiring menyusutnya volume air akibat kemarau panjang. Di sepanjang tepian telaga, ratusan sambungan pipa paralon tampak terpasang dan mengikuti kontur lahan. Sebagian pipa berada dekat dengan permukaan air yang tersisa, sementara bagian lainnya membentang keluar dari kawasan telaga menuju area pertanian. Jaringan tersebut menjadi elemen yang mudah terlihat di tengah hamparan lahan kering dan permukaan telaga yang semakin menyempit.

Pipa-pipa itu berfungsi mengalirkan sisa air Telaga Merdada menuju lahan pertanian serta kebun kentang milik warga. Bentangannya mencapai beberapa kilometer, menghubungkan tepian telaga dengan lokasi-lokasi yang membutuhkan pasokan air. Dari kejauhan, deretan pipa terlihat memanjang melintasi lahan dan mengikuti jalur menuju kebun. Kehadirannya menunjukkan bahwa air yang masih tersedia dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan tanaman, terutama ketika curah hujan belum mencukupi.

Jaringan pipa tersebut juga menggambarkan upaya petani menjaga keberlangsungan lahan pertanian di tengah kondisi sumber air yang terbatas. Setiap sambungan menjadi bagian dari saluran yang membawa air dari telaga ke area budidaya, sehingga sisa air dapat digunakan secara lebih luas. Pemandangan ratusan pipa di tepian Telaga Merdada memperlihatkan eratnya hubungan telaga dan aktivitas pertanian di sekitarnya. Saat kemarau berlangsung, sumber air yang tersisa menjadi pendukung penting bagi kebun kentang dan lahan warga, dengan jaringan pipa sebagai sarana penyalurannya.

Selain memasang pipa untuk menyalurkan air, para petani mengoperasikan sekitar 100 mesin pompa diesel di Telaga Merdada. Mesin-mesin tersebut digunakan untuk menyedot sisa air yang masih tersedia di telaga, kemudian mengalirkannya ke lahan pertanian dan kebun kentang milik warga. Upaya ini dilakukan karena persediaan air terus menyusut selama kemarau panjang, sementara tanaman tetap membutuhkan pasokan agar dapat bertahan dan tumbuh.

Penggunaan pompa menjadi salah satu cara yang diandalkan petani untuk menjaga tanaman tetap hidup di tengah kondisi yang kering. Air yang berhasil disedot tidak hanya menjadi sumber pengairan, tetapi juga menjadi penentu keberlangsungan perawatan lahan. Petani harus mengatur pemanfaatannya dengan cermat agar sisa air dapat menjangkau bagian lahan yang membutuhkan. Setiap aliran yang tersedia diarahkan untuk membantu mempertahankan pertumbuhan tanaman, terutama di kebun kentang warga yang bergantung pada pasokan air dari telaga.

Menipisnya air membuat para petani menghadapi persaingan dalam memanfaatkan sisa pasokan yang ada. Mereka sama-sama berusaha memperoleh air untuk menyelamatkan tanaman, sehingga pengoperasian pompa berlangsung sebagai bagian dari upaya mempertahankan lahan pertanian. Mesin diesel terus digunakan selama masih terdapat air yang dapat disedot, sedangkan pipa membantu menyalurkannya menuju area yang memerlukan. Kondisi tersebut menggambarkan betapa pentingnya setiap sisa air bagi warga yang mengandalkan Telaga Merdada untuk menjaga tanaman di tengah kemarau berkepanjangan.

Menyusutnya volume air Telaga Merdada tidak hanya dirasakan oleh petani yang bergantung pada sumber tersebut untuk mengairi lahan. Aktivitas wisata di kawasan telaga juga ikut melandai. Selama ini, keberadaan air menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung yang datang untuk menikmati pemandangan alam, mengabadikan suasana, atau sekadar beristirahat di kawasan Dieng. Namun, ketika permukaan telaga terus menurun dan airnya nyaris tidak terlihat, daya tarik tersebut ikut berkurang. Lanskap yang biasanya menghadirkan hamparan air kini tampak berbeda, sehingga pengalaman wisatawan tidak lagi sama seperti ketika telaga berada dalam kondisi normal.

Penurunan kunjungan dan kegiatan wisata dapat berdampak pada masyarakat yang memperoleh penghasilan dari keberadaan pengunjung. Pedagang, pengelola jasa, maupun warga yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan menghadapi berkurangnya aktivitas ekonomi di sekitar telaga. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan tekanan yang dialami petani, terutama ketika mereka harus berebut sisa air untuk mempertahankan tanaman. Dengan demikian, menyusutnya telaga memengaruhi dua ruang kehidupan sekaligus, yaitu kegiatan produksi pertanian dan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan wisata.

Bagi masyarakat Dieng, telaga bukan sekadar bagian dari pemandangan, melainkan sumber daya yang mendukung kehidupan sehari-hari. Ketika air semakin menipis selama kemarau panjang, perubahan kondisi telaga turut mengubah ritme berbagai kegiatan warga. Lahan pertanian membutuhkan pasokan air, sementara kawasan wisata kehilangan unsur utama yang selama ini menarik kedatangan pengunjung. Kekeringan ekstrem tersebut menggambarkan tekanan yang dihadapi masyarakat Dieng saat sumber air semakin terbatas. Warga harus menjalankan aktivitas dengan ketersediaan air yang terus menyusut, sementara fungsi telaga bagi pertanian, wisata, dan kehidupan sekitar tetap sangat penting.