Erick Thohir Kecam Penyerangan Rombongan Persib U-18 di Batang

oleh -51 Dilihat
oleh
Erick Thohir Kecam Penyerangan Rombongan Persib U-18 di Batang

Bandung | Ketua Umum PSSI Erick Thohir menanggapi penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18 yang terjadi di rest area Batang KM 360 pada Minggu malam, 11 Oktober. Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena melibatkan rombongan tim usia muda yang sedang menjalani perjalanan, sekaligus kembali menegaskan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban dalam lingkungan sepak bola.

Erick Thohir mengecam tindakan penyerangan itu. Sikap tersebut menunjukkan bahwa PSSI memandang segala bentuk kekerasan sebagai hal yang tidak dapat dibenarkan, terlebih ketika menyasar rombongan klub yang membawa nama sepak bola Indonesia. Penyerangan tidak semestinya menjadi bagian dari rivalitas maupun dukungan terhadap klub.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, dugaan penyerangan tersebut melibatkan oknum suporter berinisial BPA. Informasi mengenai keterlibatan itu menjadi bagian dari perhatian terhadap insiden yang berlangsung di rest area Batang KM 360. Namun, penyebutan dugaan tersebut tidak mengubah prinsip bahwa setiap tindakan kekerasan harus ditanggapi secara serius dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

Respons Erick Thohir juga menempatkan insiden ini dalam konteks upaya membangun sepak bola yang lebih aman. Keberadaan pemain muda dalam rombongan Persib Bandung U-18 semestinya mendapat perlindungan, bukan menghadapi ancaman atau serangan. Karena itu, penyerangan terhadap rombongan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk menjaga sikap, terutama ketika berhadapan dengan tim atau suporter dari klub lain.

Peristiwa di Batang tersebut kini menjadi perhatian PSSI setelah tanggapan Erick Thohir disampaikan. Kecaman itu menegaskan bahwa dukungan terhadap sepak bola harus ditunjukkan melalui perilaku yang tertib dan bertanggung jawab. Rivalitas dapat tetap berlangsung dalam batas sportivitas, tetapi kekerasan tidak memiliki tempat dalam pertandingan maupun perjalanan rombongan klub.

Erick Thohir menilai penyerangan terhadap rombongan Persib U-18 di Batang tidak dapat dipandang sebagai bagian biasa dari rivalitas suporter. Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap rombongan tim, terlebih yang melibatkan pemain muda, telah melewati batas kewajaran dalam olahraga. Persaingan di lapangan maupun dukungan terhadap klub semestinya berlangsung secara sportif, bukan berubah menjadi ancaman yang membahayakan keselamatan orang lain.

Penilaian tersebut menempatkan kejadian di Batang sebagai dugaan tindakan kriminal, bukan sekadar insiden kelompok pendukung. Kekerasan, intimidasi, atau perusakan tidak dapat dibenarkan dengan alasan fanatisme terhadap klub. Erick menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti terlibat perlu diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Sikap ini penting agar penanganan perkara tidak berhenti pada kecaman, tetapi juga memberikan kepastian bahwa pelanggaran akan dipertanggungjawabkan.

Bagi Erick, peristiwa itu turut mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Kompetisi dan pembinaan pemain seharusnya menjadi ruang untuk mengembangkan prestasi, karakter, serta persatuan, terutama bagi pesepak bola usia muda. Ketika rombongan tim menjadi sasaran kekerasan, citra kompetisi ikut terdampak dan rasa aman dalam perjalanan maupun penyelenggaraan pertandingan dapat dipertanyakan. Karena itu, seluruh pihak perlu memastikan sepak bola tidak dikaitkan dengan perilaku anarkistis.

Meski menyampaikan kecaman tegas, penilaian tersebut tidak semestinya diarahkan kepada seluruh kelompok suporter. Tanggung jawab harus ditujukan kepada individu atau pihak yang terbukti melakukan pelanggaran, berdasarkan hasil penyelidikan dan fakta hukum. Suporter yang mendukung klub secara tertib tetap merupakan bagian penting dari ekosistem sepak bola. Penegakan aturan yang adil, peningkatan pengamanan, dan edukasi tentang dukungan sportif diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Rombongan Persib U-18 disebut mengalami sejumlah tindakan kekerasan dalam perjalanan mereka di Batang. Bentuk tindakan yang disampaikan dalam sumber mencakup perampasan, perusakan bus, serta pemukulan terhadap ofisial muda Persib. Ketiga perbuatan tersebut menggambarkan adanya gangguan serius terhadap rombongan tim muda yang semestinya dapat menjalankan kegiatan olahraga dalam suasana aman dan tertib.

Perampasan merupakan tindakan mengambil sesuatu secara paksa atau melawan hukum. Sementara itu, perusakan bus menunjukkan adanya tindakan yang menyasar sarana transportasi rombongan. Pemukulan terhadap ofisial muda Persib juga menjadi bagian dari kekerasan yang mendapat sorotan. Ketiga bentuk tindakan itu disebut secara terpisah untuk menjelaskan jenis pelanggaran yang dialami rombongan, tanpa perlu menambahkan rincian lain yang tidak tersedia dalam sumber.

Erick Thohir mengecam keras tindakan tersebut dan menilainya sebagai perbuatan kriminal. Penilaian itu menegaskan bahwa perampasan, perusakan, dan pemukulan bukan sekadar insiden dalam kegiatan olahraga atau perselisihan biasa. Tindakan tersebut memiliki konsekuensi hukum karena menyangkut keamanan, keselamatan, dan hak orang lain. Sikap Erick juga menunjukkan pentingnya penanganan yang tegas terhadap kekerasan yang melibatkan rombongan tim muda.

Pernyataan tersebut menempatkan keamanan pemain, ofisial, dan seluruh rombongan sebagai hal yang tidak dapat diabaikan. Lingkungan sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi yang menjunjung sportivitas, bukan tempat berlangsungnya tindakan kriminal. Karena itu, penyebutan perampasan, perusakan bus, dan pemukulan menjadi dasar penting dalam memahami kecaman Erick terhadap kejadian yang menimpa rombongan Persib U-18 di Batang.

Erick Thohir menegaskan bahwa penyerangan terhadap rombongan Persib U-18 di Batang tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun. Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, sportivitas, dan kebanggaan bersama, bukan tempat melampiaskan emosi melalui tindakan kekerasan. Karena itu, ia mendorong seluruh pihak terkait, termasuk operator liga dan klub, untuk menunjukkan sikap tegas terhadap para pelaku.

Menurut Erick, liga dan klub memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan setiap tindakan yang mencederai keamanan pertandingan mendapat penanganan serius. Ia meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai ketentuan yang berlaku. Sikap tersebut diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada pemain, ofisial, serta rombongan tim yang menjalankan aktivitas sepak bola. Penegakan aturan secara tegas juga menjadi pesan bahwa kekerasan tidak boleh memperoleh ruang dalam kompetisi sepak bola nasional.

Erick turut mengingatkan bahwa perilaku sejumlah pihak tidak boleh menjadi gambaran bagi seluruh suporter Indonesia. Mayoritas suporter tetap memiliki kecintaan terhadap klub dan tim nasional dengan cara yang positif, tertib, serta menjunjung sportivitas. Oleh sebab itu, insiden tersebut harus dipandang sebagai tindakan individu atau kelompok yang bertentangan dengan nilai-nilai dukungan terhadap sepak bola. Dorongan agar pelaku menerima hukuman seberat-beratnya sekaligus menjadi upaya menjaga wibawa liga dan memastikan lingkungan pertandingan tetap aman bagi semua pihak. Klub, liga, dan komunitas suporter diharapkan terus memperkuat komitmen untuk menolak kekerasan, sehingga sepak bola Indonesia dapat berkembang dalam suasana yang lebih bermartabat.

Baca juga: Rombongan Bapang Diserang OTK, Negara Didesak Pastikan Petugas Aman Bertugas