Banjir Rendam Enam Kecamatan di Aceh Tamiang, Sebanyak 365 Warga Mengungsi

oleh -51 Dilihat
oleh
Banjir Rendam Enam Kecamatan di Aceh Tamiang, Sebanyak 365 Warga Mengungsi

Kabupaten Aceh Tamiang | Hujan berintensitas tinggi mengguyur Kabupaten Aceh Tamiang sejak Minggu, 11 Oktober. Curah hujan tersebut membuat sejumlah sungai meluap sehingga air menggenangi permukiman warga di beberapa wilayah. Banjir kemudian berdampak pada enam kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang, dengan kondisi genangan yang berbeda-beda di setiap lokasi.

Informasi mengenai kondisi banjir itu diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang pada Senin, 12 Oktober, pukul 10.00 WIB. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, air masih merendam sejumlah kawasan permukiman setelah hujan turun dengan intensitas tinggi sejak sehari sebelumnya. Luapan sungai menjadi salah satu kondisi yang terlihat dalam peristiwa tersebut.

Ketinggian air di wilayah terdampak bervariasi, mulai dari genangan dengan kedalaman yang lebih rendah hingga mencapai lebih dari 1 meter. Perbedaan tinggi muka air itu menunjukkan bahwa dampak banjir tidak berlangsung seragam di seluruh area yang terdampak. BPBD Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan informasi tersebut sebagai gambaran awal mengenai situasi banjir pada Senin pagi. Perkembangan kondisi di lapangan tetap menjadi perhatian, terutama pada kawasan yang berada di sekitar aliran sungai dan permukiman yang tergenang. Hujan yang masih berpotensi memengaruhi kenaikan debit sungai membuat pemantauan kondisi air perlu dilakukan secara berkala. Dengan demikian, informasi mengenai ketinggian genangan dan wilayah terdampak dapat diperbarui sesuai hasil pengamatan petugas di lapangan.

Banjir dilaporkan telah merendam wilayah di enam kecamatan dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Bendahara, Kejuruan Muda, Tamiang Hulu, Karang Baru, Tenggulun, dan Seruway.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa genangan tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi telah meluas ke sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang. Enam kecamatan yang tercatat dalam laporan sementara BPBD menjadi bagian dari wilayah terdampak banjir yang saat ini mendapat perhatian dalam penanganan bencana daerah.

Kecamatan Bendahara termasuk dalam wilayah yang disebut terdampak. Selain itu, laporan yang sama mencatat Kecamatan Kejuruan Muda dan Kecamatan Tamiang Hulu sebagai bagian dari area yang terendam. Dengan demikian, data sementara tersebut mencakup wilayah yang berada di beberapa bagian Kabupaten Aceh Tamiang.

Wilayah terdampak lainnya adalah Kecamatan Karang Baru, Tenggulun, dan Seruway. Ketiganya melengkapi daftar enam kecamatan yang tercatat dalam pendataan BPBD. Penyebutan seluruh wilayah ini penting untuk memberikan gambaran mengenai cakupan banjir di Kabupaten Aceh Tamiang berdasarkan informasi yang tersedia.

BPBD masih menjadi sumber data sementara mengenai wilayah yang terendam banjir tersebut. Karena sifatnya sementara, daftar enam kecamatan itu menjadi gambaran awal mengenai persebaran genangan dan dapat digunakan sebagai dasar pemantauan penanganan bencana di Aceh Tamiang.

Sebanyak 365 orang dilaporkan telah mengungsi ke lokasi yang aman berdasarkan data sementara penanganan banjir di Aceh Tamiang. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa warga terdampak mulai meninggalkan tempat tinggalnya seiring genangan yang masih melanda sejumlah wilayah. Data mengenai warga yang mengungsi itu masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi banjir di lapangan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery, membenarkan bahwa warga memang mulai mengungsi. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjelaskan perkembangan terbaru penanganan banjir dan perpindahan warga menuju tempat yang lebih aman. BPBD terus memantau situasi sambil memperbarui informasi mengenai jumlah warga yang telah mengungsi.

Pendataan masih dilakukan oleh BPBD karena air di sejumlah kecamatan belum surut. Kondisi tersebut membuat proses pencatatan warga terdampak dan pengungsi belum selesai sepenuhnya. Dengan demikian, angka 365 orang merupakan jumlah sementara yang masih dapat diperbarui apabila terdapat perubahan kondisi atau tambahan data dari wilayah yang terdampak banjir.

Iman Suhery juga mengimbau warga agar tetap . Imbauan itu disampaikan karena curah hujan masih tinggi, sehingga situasi banjir dapat terus berubah. Warga diminta memperhatikan perkembangan kondisi di sekitar mereka, sementara BPBD melanjutkan pendataan dan pemantauan terhadap wilayah yang airnya belum surut. Informasi terbaru mengenai jumlah warga yang mengungsi akan mengikuti hasil pendataan yang masih berlangsung.

Genangan akibat banjir tidak hanya tercatat di Aceh Tamiang. Berdasarkan data yang dihimpun, air juga mulai menggenangi sejumlah wilayah lain di Aceh, yaitu Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, hingga Aceh Tenggara. Informasi tersebut menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi turut berdampak pada beberapa daerah, meskipun rincian mengenai ketinggian air, jumlah warga terdampak, dan kondisi terkini di setiap wilayah belum seluruhnya tersedia.

Perkembangan ini berlangsung bersamaan dengan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 10–12 Oktober 2026. Dalam peringatan tersebut, Provinsi Aceh dan Sumatera Utara berada pada level siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Status itu menjadi perhatian karena kondisi cuaca tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi di wilayah yang terdampak.

Masa berlaku status siaga berbeda kedua provinsi. Untuk Aceh, status siaga berlaku pada 10 dan 12 Oktober 2026. Sementara itu, Sumatera Utara berada pada status siaga pada 10, 11, dan 12 Oktober 2026. Rincian waktu tersebut menjadi bagian penting dari informasi BMKG, terutama bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mencermati kondisi lingkungan selama periode peringatan.

Sesuai penjelasan sumber, level siaga menandakan adanya potensi bencana berupa banjir hingga longsor di Aceh dan Sumatera Utara. Karena itu, informasi mengenai wilayah yang mulai tergenang perlu dibaca bersamaan dengan peringatan cuaca tersebut, tanpa mengabaikan pemantauan resmi dari BMKG serta pembaruan kondisi yang disampaikan oleh pihak berwenang.

Baca juga: TNI Intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi, Kalbar