Bahasa Sasak Berawal dari Rumah: Peran Keluarga dalam Menjaga Warisan Budaya

oleh -41 Dilihat
oleh
Bahasa Sasak Berawal dari Rumah: Peran Keluarga dalam Menjaga Warisan Budaya

Mataram | Dalam Kongres Internasional I Bahasa Sasak yang berlangsung di Mataram pada Rabu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Indah Dhamayanti Putri menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mewariskan bahasa Sasak kepada generasi muda. Menurutnya, keberlanjutan bahasa daerah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau kegiatan pendidikan, tetapi juga oleh praktik sehari-hari di lingkungan terdekat anak. Rumah menjadi ruang awal bagi anak untuk mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa yang hidup dalam masyarakatnya. Ketika orang tua dan anggota keluarga membiasakan percakapan dalam bahasa Sasak, anak memperoleh pengalaman langsung yang membantu bahasa itu tetap akrab. Ajakan tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan warisan budaya.

Pembelajaran bahasa Sasak melalui muatan lokal telah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Kehadiran materi tersebut memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal bahasa daerah secara terarah, termasuk melalui kegiatan belajar di sekolah. Namun, Indah berpandangan bahwa pembelajaran di kelas perlu ditopang oleh kebiasaan menggunakan bahasa Sasak di rumah. Jika bahasa hanya ditemui dalam pelajaran, ruang penggunaannya dapat terasa terbatas. Sebaliknya, percakapan keluarga dapat menjadikan bahasa Sasak bagian alami dari keseharian. Dukungan di rumah juga memberi konteks nyata bagi pengetahuan yang diperoleh di sekolah, sehingga anak dapat lebih terbiasa mendengar dan mempraktikkannya. Dengan demikian, pendidikan formal dan pembiasaan keluarga dapat saling melengkapi dalam proses pewarisan bahasa.

Pesan Wagub NTB itu juga mengaitkan pemeliharaan bahasa Sasak dengan tanggung jawab merawat kekayaan budaya. Bahasa membawa cara masyarakat menyampaikan pengalaman dan menjalin hubungan antargenerasi; karena itu, keberlangsungannya memerlukan keterlibatan bersama. Keluarga dapat memulainya melalui percakapan sederhana, tanpa menjadikan penggunaan bahasa daerah sebagai beban atau kegiatan khusus. Kebiasaan yang konsisten memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenal bahasa Sasak sebagai bagian dari kehidupan mereka. Upaya tersebut berjalan berdampingan dengan muatan lokal di sekolah dan dukungan masyarakat yang lebih luas. Dengan membiasakan bahasa Sasak di rumah, keluarga turut menjaga agar bahasa ini tetap digunakan serta diwariskan, sekaligus merawat salah satu unsur penting kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat.

Bagi Indah, bahasa Sasak tidak semata-mata berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan sehari-hari. Di dalamnya tersimpan cara masyarakat memahami kehidupan, menjalin hubungan, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya. Pilihan kata, ungkapan, serta tuturan yang digunakan dalam keluarga dapat membawa pesan tentang rasa hormat, kebersamaan, tanggung jawab, dan tata krama. Karena itu, ketika anak-anak mengenal bahasa Sasak sejak rumah, mereka tidak hanya mempelajari kosakata, tetapi juga berkenalan dengan nilai yang membentuk kehidupan masyarakatnya.

Bahasa juga menjadi jembatan bagi adat istiadat dan pengetahuan lokal. Cerita keluarga, petuah orang tua, istilah yang berkaitan dengan lingkungan, serta penjelasan mengenai kebiasaan setempat lebih mudah dipahami ketika disampaikan dalam bahasa yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Jika bahasa tersebut jarang digunakan, sebagian makna dan konteks yang menyertainya berisiko semakin sulit diteruskan. Menjaga bahasa Sasak, dengan demikian, turut menjaga kekayaan budaya yang hidup di dalamnya, bukan sekadar mempertahankan bentuk tutur sebagai peninggalan masa lalu.

Indah memandang pelestarian bahasa sebagai bagian dari upaya merawat identitas. Bahasa membantu masyarakat mengenali akar budayanya sekaligus memperkuat rasa keterhubungan antargenerasi. Ia juga menekankan bahwa masyarakat yang menghargai budayanya merupakan bangsa yang besar. Warga Sasak telah melahirkan tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi bagi pembangunan, baik di daerah maupun pada tingkat nasional. Pengakuan terhadap capaian tersebut dapat berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap bahasa dan tradisi yang menjadi bagian dari jati diri mereka.

Namun, menjaga warisan tidak berarti menolak perubahan. Bagi Indah, penguatan bahasa dan budaya perlu berjalan seiring dengan kemajuan masyarakat. Anak-anak dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan baru, sambil tetap mengenal bahasa Sasak serta memahami nilai lokal yang diwariskan keluarga. Rumah menjadi ruang penting untuk memulai proses itu melalui percakapan, cerita, dan kebiasaan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, bahasa Sasak tetap relevan, identitas budaya terpelihara, dan kemajuan dapat dibangun tanpa memutus hubungan dengan akar masyarakat.

Majelis Adat Sasak (MAS) berpandangan bahwa upaya menjaga bahasa Sasak tidak cukup dilakukan melalui imbauan sesaat atau kegiatan seremonial. Pelestarian membutuhkan perubahan mendasar dalam tata kehidupan masyarakat, terutama cara keluarga dan lingkungan sosial menggunakan bahasa dalam keseharian. Bahasa akan terus hidup apabila dipakai secara alami oleh orang tua, anak, dan generasi muda di rumah maupun ruang publik. Karena itu, MAS mendorong masyarakat menempatkan bahasa Sasak sebagai bagian penting dari kebiasaan bersama, bukan sekadar penanda identitas yang dikenang pada acara adat. Perubahan itu menuntut keteladanan, kesempatan berbicara, serta penghargaan terhadap penggunaan bahasa daerah di berbagai situasi sosial. Dengan dasar tersebut, pelestarian dapat menjadi praktik berkelanjutan.

Tujuan yang ingin dicapai bukan hanya mempertahankan bahasa Sasak sebagai alat komunikasi sehari-hari, melainkan juga mengembangkannya sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Artinya, bahasa ini perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, menjelaskan konsep, serta digunakan dalam kegiatan belajar dan penciptaan pengetahuan. Pengembangan tersebut dapat berjalan seiring dengan pemakaian bahasa Sasak di rumah, sehingga generasi muda mengenal bahasa itu sebagai sesuatu yang hidup dan mampu mengikuti kebutuhan zaman. Keluarga berperan penting dalam membangun kebiasaan berbahasa, sementara masyarakat dan lembaga adat dapat memperluas dukungan melalui kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Dengan demikian, bahasa Sasak tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap berfungsi dan berkembang.

Ketua MAS, Lalu Sajim Sastrawan, menyampaikan kekhawatiran bahwa berkurangnya penggunaan bahasa Sasak dalam keseharian dapat mengikis kekayaan kosakatanya. Ketika kata-kata jarang digunakan atau tidak lagi diwariskan, sebagian makna dan ungkapan khas berisiko terlupakan. Kondisi ini penting diperhatikan meskipun jumlah penutur bahasa Sasak diperkirakan mencapai sekitar 2,2 juta jiwa, sebagaimana disampaikan dalam sumber. Besarnya jumlah penutur tidak dengan sendirinya menjamin bahasa tetap kaya dan berkembang; pemakaian antargenerasi tetap menjadi kunci. Mendorong percakapan di rumah, termasuk mengenalkan kosakata kepada anak, merupakan langkah nyata untuk menjaga kekayaan tersebut. Upaya ini sekaligus mendukung cita-cita agar bahasa Sasak terus digunakan, dipelajari, dan dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Menjaga bahasa Sasak memerlukan kesinambungan, bukan hanya kegiatan sesaat atau tanggung jawab satu pihak. Rumah menjadi ruang awal karena anak dapat mendengar dan menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari. Ketika bahasa Sasak hadir secara wajar dalam komunikasi keluarga, anak memperoleh pengalaman langsung bahwa bahasa warisan ini tetap hidup dan berguna. Kebiasaan itu juga membantu menghubungkan generasi: orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua dapat mewariskan kosakata, ungkapan, serta cara berkomunikasi kepada anak-anak.

Namun, upaya di rumah perlu berjalan bersama pembelajaran di lembaga pendidikan dan penggunaan bahasa di lingkungan masyarakat. Sekolah dapat memberi ruang bagi anak untuk mempelajari bahasa Sasak secara lebih terarah, sedangkan lingkungan sosial menyediakan kesempatan untuk mempraktikkannya di luar kelas. Hubungan ketiga ruang tersebut penting agar bahasa tidak hanya dikenal sebagai materi pelajaran, tetapi juga tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pelestarian tidak berhenti pada pengenalan, melainkan mendukung penggunaan dan pemahaman yang berkelanjutan.

Sajim menyampaikan cita-cita agar bahasa Sasak dapat diajarkan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi.

Baca juga: Bamsoet Terima Lamaran Putra Melly Goeslaw, Beda Partai Tak Menghalangi Dua Keluarga Bersatu | Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai | Beri Kuliah Pascasarjana Universitas Pertahanan, Bamsoet Ingatkan Kekuatan Negara Ditentukan Kemampuan Mengelola Konflik dan Menjaga Kepercayaan Publik