Banjarmasin | Upaya mendatangkan hujan ke wilayah yang dilanda kebakaran hutan dan lahan tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah. Dalam operasi modifikasi cuaca, kondisi atmosfer perlu mendukung pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Namun, asap pekat dari kebakaran dapat mengubah keadaan di lapisan udara setempat dan menjadi salah satu kendala bagi BMKG. Asap yang menumpuk bukan hanya mengurangi jarak pandang di permukaan, tetapi juga berhubungan dengan berkurangnya sinar matahari yang mencapai area tersebut. Akibatnya, proses alami yang membantu pembentukan awan hujan dapat terganggu.
BMKG menjelaskan bahwa asap tebal tertahan di bawah lapisan inversi pada ketinggian sekitar 7.000 kaki. Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika susunan suhu udara membatasi pergerakan vertikal udara, sehingga asap sulit terangkat dan menyebar ke lapisan yang lebih tinggi. Selama asap berkumpul di bawah lapisan tersebut, sinar matahari yang masuk ke permukaan menjadi terhalang. Keadaan ini menyulitkan operasi modifikasi cuaca karena penyemaian awan tetap bergantung pada tersedianya awan yang dapat berkembang, bukan sekadar pada upaya memasukkan bahan tertentu ke atmosfer.
Sinar matahari berperan dalam mendukung penguapan air dari permukaan. Uap air kemudian dapat naik, mengalami pendinginan, dan membantu pembentukan awan hujan ketika kondisi atmosfer memadai. Jika paparan matahari berkurang akibat selimut asap, penguapan serta proses pertumbuhan awan dapat melemah. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathoni, menerangkan bahwa tanpa masuknya sinar matahari, awan hujan sulit terbentuk. Karena itu, asap pekat dan lapisan inversi menjadi tantangan mendasar sebelum operasi modifikasi cuaca dapat memberikan hasil yang diharapkan. BMKG perlu mempertimbangkan keadaan atmosfer tersebut dalam menentukan langkah dan waktu pelaksanaan, sebab keberhasilan mendatangkan hujan juga ditentukan oleh proses pembentukan awan yang tersedia secara alami.
BMKG menggunakan dry ice atau es kering sebagai bagian dari upaya membuka lapisan inversi yang menahan asap kebakaran di dekat permukaan. Lapisan inversi terbentuk ketika kondisi atmosfer membuat udara di bagian atas lebih hangat daripada udara di bawahnya. Susunan ini menghambat gerakan udara ke atas, sehingga asap sulit menyebar dan terperangkap di wilayah terdampak. Dengan memasukkan dry ice ke atmosfer, BMKG berupaya mengubah kondisi pada lapisan tersebut agar penghalang bagi pergerakan udara dapat terbuka. Langkah ini ditujukan untuk membantu mengurangi penumpukan asap, bukan menggantikan pemadaman langsung di titik kebakaran.
Setelah lapisan inversi terbuka, asap diharapkan dapat bergerak naik dan tidak lagi tertahan di dekat permukaan. Pada saat yang sama, sinar matahari berpeluang menembus wilayah yang sebelumnya tertutup asap. Pemanasan permukaan kemudian dapat meningkatkan penguapan, menyediakan lebih banyak uap air di atmosfer, dan mendukung pertumbuhan awan hujan. Rangkaian proses tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi terbentuknya hujan. Namun, terbukanya lapisan inversi tidak dengan sendirinya memastikan hujan akan segera turun, karena perkembangan awan dan hujan dipengaruhi kondisi atmosfer yang lebih luas.
Faisal menjelaskan bahwa urutan penanganan dilakukan dengan membuka lapisan inversi terlebih dahulu. Setelah upaya tersebut, BMKG akan kembali menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu menurunkan hujan. Hujan diharapkan dapat mendukung pemadaman kebakaran, baik yang terjadi di lahan gambut maupun tanah mineral. Kedua jenis lahan tersebut dapat mengalami kebakaran yang sulit ditangani, sehingga dukungan hujan menjadi salah satu langkah yang diupayakan bersama penanganan kebakaran di lapangan. Proses membuka lapisan inversi dan rangkaian upaya lanjutan masih berlangsung. BMKG belum dapat memastikan berapa lama waktu yang diperlukan hingga langkah-langkah ini membuahkan hasil. Karena itu, perkembangan kondisi atmosfer dan pelaksanaan operasi akan terus menjadi bagian penting dalam menilai efektivitas upaya tersebut.
Perhatian BMKG terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan tidak mencakup seluruh Kalimantan secara seragam. Wilayah yang secara khusus menjadi sorotan dalam perkembangan ini adalah bagian selatan Kalimantan Barat serta bagian selatan Kalimantan Tengah. Pembedaan lokasi tersebut penting karena kondisi cuaca dan kebakaran dapat berbeda dari satu kawasan ke kawasan lain. Informasi mengenai hujan yang telah turun di sebagian wilayah, misalnya, tidak dengan sendirinya menggambarkan keadaan di setiap kabupaten atau bagian provinsi.
Di Kalimantan Barat, hujan mulai turun secara umum. Namun, wilayah selatan provinsi itu belum menerima hujan sebagaimana kawasan lainnya. Karena itu, keterangan bahwa hujan sudah mulai terjadi perlu disampaikan dengan batasan yang jelas: belum seluruh wilayah Kalimantan Barat mengalami kondisi yang sama, dan bagian selatan masih menjadi perhatian. Perbedaan sebaran hujan ini relevan dalam membaca perkembangan karhutla, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa semua lokasi di provinsi tersebut sedang mengalami tingkat kebakaran yang serupa.
Sementara itu, kebakaran di bagian selatan Kalimantan Tengah disebut masih sangat parah. Keterangan ini merujuk pada wilayah tersebut, bukan seluruh Kalimantan Tengah, sehingga tidak tepat memperluasnya menjadi gambaran umum tanpa informasi tambahan. Kedua wilayah yang menjadi perhatian itu juga perlu dibedakan: selatan Kalimantan Barat masih menanti hujan, sedangkan selatan Kalimantan Tengah menghadapi kebakaran yang dilaporkan sangat parah. Penyampaian secara spesifik membantu masyarakat memahami situasi setempat tanpa mengaburkan variasi kondisi. Perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada informasi cuaca dan pemantauan kebakaran terbaru dari pihak berwenang.BMKG mulai menjalankan operasi untuk membantu mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah terdampak. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya modifikasi cuaca, termasuk penggunaan dry ice untuk membuka lapisan inversi yang dapat menghambat pertumbuhan awan hujan. Pelaksanaan operasi disesuaikan dengan lokasi sasaran dan dukungan posko yang telah disiapkan, agar pemantauan kondisi atmosfer serta koordinasi kegiatan dapat dilakukan dari wilayah yang berdekatan.
Untuk penanganan karhutla di Sumatra Selatan, operasi didukung melalui posko yang berada di Lampung. Penempatan posko tersebut menjadi pusat koordinasi bagi pelaksanaan kegiatan di wilayah sasaran, termasuk pengamatan terhadap perkembangan cuaca yang relevan dengan peluang terbentuknya hujan. Langkah ini tidak berarti hujan dapat dipastikan turun di setiap lokasi, sebab hasil modifikasi cuaca tetap bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi atmosfer. Karena itu, pemantauan dilakukan selama operasi berlangsung.
Sementara itu, upaya penanganan di Kalimantan Tengah dilakukan melalui posko di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari posko tersebut, kegiatan diarahkan untuk mendukung wilayah yang masih menghadapi karhutla. Operasi modifikasi cuaca memanfaatkan kondisi yang tersedia untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujan. Penggunaan dry ice ditujukan untuk membantu mengatasi lapisan inversi, yakni kondisi atmosfer yang dapat membatasi perkembangan awan secara vertikal. Pendekatan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk meningkatkan peluang turunnya hujan, bukan pengganti penanganan langsung terhadap kebakaran.
BMKG memperkirakan hujan alami di wilayah yang masih menghadapi karhutla baru berpeluang datang sekitar awal November. Perkiraan tersebut membuat upaya bantuan melalui operasi modifikasi cuaca tetap penting, terutama selama kondisi kering masih berlangsung dan kebakaran belum tertangani sepenuhnya. BMKG terus menjalankan operasi, termasuk pemanfaatan dry ice untuk membantu membuka lapisan inversi, sambil memantau perubahan cuaca. Dengan demikian, kegiatan di Sumatra Selatan melalui posko Lampung dan di Kalimantan Tengah melalui posko Banjarmasin diharapkan dapat membantu mendatangkan hujan sebelum hujan alami diperkirakan tiba.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla

