Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumsel

oleh -73 Dilihat
oleh
Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumsel

Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam satuan tugas udara penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum dapat diterbangkan untuk membantu pemadaman. Armada bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut saat ini berada dalam kondisi siaga di Palembang. Namun, operasi udara tertunda karena asap tebal kembali menurunkan jarak pandang di wilayah yang terdampak karhutla.

Kelima helikopter itu sebelumnya telah dijadwalkan melaksanakan misi pemadaman di sejumlah titik kebakaran di Sumsel. Pesawat akan membawa air untuk menjatuhkannya langsung ke area yang terbakar, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat. Dukungan udara diperlukan untuk mempercepat penanganan api, sekaligus mencegah titik-titik panas meluas ke lahan di sekitarnya.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan persiapan penerbangan sempat dilakukan pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026. Menurut dia, seluruh unsur terkait telah bersiap agar helikopter dapat segera menuju lokasi sasaran. Akan tetapi, rencana tersebut dibatalkan setelah kondisi jarak pandang kembali rendah akibat kepulan asap.

Ferdian menjelaskan, faktor keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu keberangkatan. Jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan pilot saat lepas landas, menuju titik operasi, maupun kembali ke pangkalan. Karena itu, penerbangan harus menunggu sampai kondisi atmosfer dinilai cukup aman oleh petugas dan kru penerbangan.

Setelah pembatalan sementara itu, persiapan penerbangan dilakukan ulang sambil memantau perkembangan jarak pandang serta pergerakan asap. Helikopter tetap disiagakan di Palembang sehingga dapat segera dikerahkan apabila cuaca dan visibilitas membaik. Tim gabungan juga terus memperbarui informasi mengenai lokasi kebakaran dan tingkat kebutuhan dukungan udara di berbagai wilayah Sumatera Selatan.

Keputusan menunda operasi udara di Sumatera Selatan terutama dipengaruhi oleh kondisi asap yang sangat tebal. Ferdian menjelaskan bahwa jarak pandang di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan berada pada tingkat yang sangat rendah, sehingga penerbangan menjadi berisiko bagi keselamatan awak serta helikopter. Dalam situasi tersebut, helikopter tidak dapat dipaksakan untuk beroperasi hanya demi mengejar target pemadaman. Keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama, terutama ketika pilot kesulitan melihat permukaan, rintangan, maupun jalur penerbangan secara jelas.

Pemadaman melalui udara sebenarnya memiliki peran penting dalam penanganan karhutla. Helikopter dapat membantu menjatuhkan air ke titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat, termasuk kawasan dengan medan berat, akses terbatas, atau lokasi yang terpisah oleh vegetasi dan lahan basah. Dukungan dari udara juga dapat membantu memperlambat penyebaran api sebelum menjalar lebih luas. Namun, manfaat tersebut harus berjalan seiring dengan kondisi penerbangan yang aman. Ketika asap menghalangi pandangan, pelaksanaan misi dapat ditunda agar tidak menimbulkan risiko tambahan.

Ferdian menyampaikan bahwa permintaan pelaksanaan water bombing telah diajukan sebagai bagian dari upaya membantu menjinakkan api. Meski demikian, penerbangan belum dapat segera dilakukan karena pelaksana masih menunggu perkembangan jarak pandang di lapangan. Jika kondisi membaik dan penerbangan dinilai aman, helikopter dapat kembali dikerahkan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, tertundanya operasi bukan berarti upaya pemadaman dihentikan atau gagal total, melainkan langkah kehati-hatian untuk memastikan misi dapat dilaksanakan secara efektif tanpa mengabaikan keselamatan penerbangan.

Operasi penerbangan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mengalami hambatan akibat jarak pandang yang rendah. Ferdian menjelaskan, gangguan tersebut telah dirasakan sejak Kamis, 8 Oktober, ketika asap tebal mulai membatasi kemampuan pilot untuk melihat kondisi di sekitar jalur penerbangan dan titik api. Situasi ini membuat pengerahan lima helikopter pemadam tidak dapat berlangsung secara optimal.

Kondisi jarak pandang di wilayah terdampak tidak berlangsung dengan pola yang tetap. Visibility dapat berubah-ubah dalam waktu singkat, bergantung pada arah angin, kepadatan asap, serta aktivitas kebakaran di lapangan. Pada beberapa hari, jarak pandang masih memungkinkan helikopter beroperasi dengan penyesuaian tertentu. Namun, terdapat pula hari ketika seluruh helikopter sama sekali tidak dapat mengudara karena kondisi dianggap tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.

Upaya penerbangan water bombing juga pernah dilakukan dari Bangka Belitung untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Sumsel. Meskipun demikian, hasilnya belum optimal. Langit di atas lokasi kebakaran tertutup asap tebal sehingga pilot mengalami keterbatasan dalam mengenali titik sasaran dan memperkirakan posisi jatuhnya air. Hambatan tersebut meningkatkan risiko kesalahan manuver maupun pelepasan air yang tidak tepat sasaran.

Naik-turunnya jarak pandang menjadi pertimbangan utama sebelum setiap penerbangan dilakukan. Selain memantau kondisi atmosfer, petugas perlu menilai situasi aktual di lokasi kejadian, termasuk ketebalan asap, arah pergerakannya, serta perubahan cuaca. Keputusan untuk menerbangkan helikopter tidak hanya didasarkan pada keberadaan titik api, tetapi juga pada jaminan bahwa awak pesawat dapat menjalankan misi dengan aman. Karena itu, operasi dapat ditunda atau dihentikan sementara ketika visibilitas menurun, lalu dilanjutkan kembali setelah kondisi di lapangan dinilai lebih mendukung.

Meskipun lima helikopter pengebom air sementara tidak beroperasi, Ferdian memastikan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan tetap dilakukan oleh satuan tugas darat. Penanganan di lapangan terus berjalan dengan mengandalkan personel yang berada di lokasi titik karhutla. Satgas darat tetap diarahkan untuk menangani area yang membutuhkan penanganan, sehingga kegiatan pemadaman tidak sepenuhnya terhenti akibat kendala pada operasi udara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian kebakaran yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Wilayah yang menjadi fokus penanganan satgas darat meliputi Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Di daerah-daerah tersebut, personel terus melakukan pemadaman pada titik karhutla yang ditangani. Penanganan dilakukan sesuai kondisi di lapangan dengan mengerahkan kemampuan tim darat untuk mengendalikan api. Ferdian menegaskan bahwa keberadaan satgas darat tetap menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran, terutama ketika helikopter pengebom air belum dapat menjalankan operasi.

Namun, tim darat menghadapi kendala berupa medan pemadaman yang berat. Kondisi tersebut membuat proses penanganan di lokasi menjadi lebih sulit dan membutuhkan upaya yang lebih besar dari personel. Selain medan, sumber air untuk mendukung pemadaman juga semakin sulit diperoleh. Sungai serta kanal mulai mengering, sehingga ketersediaan air di lapangan semakin terbatas.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat