Sekolah Alam Anak Pesisir Perkuat Pendidikan dan Ekonomi Warga Cendi Manik

oleh -402 Dilihat
oleh
Sekolah Alam Anak Pesisir Perkuat Pendidikan dan Ekonomi Warga Cendi Manik

Sumbawa | PT Pertamina Patra Niaga memperkuat pemberdayaan masyarakat pesisir melalui program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat. Inisiatif tersebut telah diresmikan sejak 2024 dan menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Perkembangan program itu ditinjau dalam agenda kunjungan media pada Selasa, 8 Oktober 2026, dengan melihat langsung kegiatan pendidikan, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi yang dijalankan bersama warga.

Sekolah Alam Anak Pesisir kini merangkul 135 penerima manfaat, terutama anak-anak dan masyarakat pesisir Desa Cendi Manik. Program ini dirancang untuk menghadirkan proses belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alam terbuka menjadi ruang belajar utama, bukan sekadar lokasi kegiatan tambahan. Di lingkungan tersebut, anak-anak dapat mengenali ekosistem pesisir, memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, serta mengamati berbagai potensi yang dimiliki daerah asalnya.

Pendekatan tersebut menghubungkan pendidikan dengan realitas sosial dan ekonomi setempat. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di dalam ruangan, tetapi juga diajak memahami hubungan laut, pesisir, sumber daya alam, dan mata pencaharian warga. Pada saat yang sama, keterlibatan masyarakat mendorong pengembangan potensi lokal agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas. Pemberdayaan ini mencakup penguatan kapasitas warga, kepedulian terhadap ekosistem, serta dukungan terhadap kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakter wilayah pesisir. Melalui perpaduan tersebut, program diharapkan membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, kepedulian lingkungan, dan kesadaran terhadap peluang pembangunan di daerahnya.

Pengembangan Sekolah Alam Anak Pesisir bertumpu pada pendekatan 3E, yaitu ekologi, edukasi, dan ekonomi. Ketiga unsur tersebut dirancang agar kegiatan belajar tidak berlangsung terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan terhubung langsung dengan lingkungan pesisir dan potensi lokal. Kawasan pantai, hutan bakau, serta area terbuka di Cendi Manik dimanfaatkan sebagai ruang belajar interaktif yang memungkinkan anak-anak memahami pengetahuan melalui pengalaman.

Pada aspek ekologi, peserta diajak menanam dan merawat mangrove. Kegiatan ini memperkenalkan fungsi hutan bakau sekaligus mendorong kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Anak-anak juga mempelajari ekosistem pesisir dengan mengamati hubungan tumbuhan, hewan, air, dan kondisi alam di sekitarnya. Dengan demikian, lingkungan tidak hanya menjadi latar kegiatan, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat dipelajari secara langsung.

Unsur edukasi dikembangkan melalui kegiatan yang mendorong keaktifan, kreativitas, dan interaksi. Permainan tradisional menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan nilai kebersamaan sekaligus menjaga pengetahuan budaya setempat. Di area terbuka, anak-anak dapat mengembangkan kreativitas melalui berbagai aktivitas yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan mereka. Proses tersebut membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih dekat, menyenangkan, dan kontekstual.

Sementara itu, aspek ekonomi diarahkan untuk membantu anak-anak mengenali peluang ekonomi lokal yang tumbuh di sekitar kawasan pesisir. Pemahaman tersebut diharapkan dapat memperkenalkan hubungan potensi lingkungan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat. VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menyampaikan bahwa ruang belajar ini dihadirkan untuk menumbuhkan pengetahuan, kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Pendekatan 3E menjadikan mangrove dan kawasan pesisir sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan pendidikan dengan pelestarian alam serta penguatan ekonomi warga.

Pengembangan Sekolah Alam Anak Pesisir dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan program dan kesiapan perangkat pendukungnya. Tahap awal dimulai pada 2024 melalui pembentukan kelompok sebagai dasar pengorganisasian kegiatan. Pada tahap ini, program juga mengembangkan rumah literasi sebagai ruang yang mendukung pelaksanaan aktivitas belajar. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari proses awal dalam menyiapkan lingkungan pembelajaran bagi kegiatan Sekolah Alam Anak Pesisir.

Masih pada 2024, pengembangan program diperkuat melalui benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran dan penyiapan program, terutama untuk memperoleh gambaran mengenai pengelolaan serta pelaksanaan pembelajaran berbasis alam. Dengan demikian, tahun pertama berfokus pada pembentukan kelompok, penyediaan rumah literasi, dan pengenalan terhadap praktik pembelajaran dari lembaga rujukan.

Pada 2025, proses pengembangan berlanjut melalui penyusunan kurikulum 3E. Kurikulum tersebut diselesaikan sebagai pedoman pembelajaran, sehingga kegiatan memiliki acuan yang lebih terstruktur dalam pelaksanaannya. Penyusunan pedoman ini menandai perkembangan perangkat program dari tahap pembentukan dan penyediaan ruang belajar menuju penataan materi serta arah pembelajaran.

Memasuki 2026, Sekolah Alam Anak Pesisir mengembangkan modul Pertakid sebagai media edukasi khusus bagi siswa. Pengembangan modul tersebut menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran terus disiapkan secara berkelanjutan sesuai tahapan program. Rangkaian proses sejak 2024 hingga 2026 memperlihatkan urutan pengembangan yang dimulai dari pembentukan kelompok dan rumah literasi, dilanjutkan dengan benchmarking serta penyusunan kurikulum, kemudian dilengkapi media edukasi khusus. Setiap tahap menambahkan unsur pendukung bagi penyelenggaraan pembelajaran secara bertahap.

Gerakan pendidikan anak di Desa Cendi Manik, Kabupaten Lombok Barat, berawal dari inisiatif Zahit Idris melalui Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang pada 2022. Keprihatinan terhadap banyaknya anak yang putus sekolah mendorong Zahit menghadirkan ruang belajar alternatif bagi anak-anak pesisir. Ia melihat keterbatasan ekonomi, jarak, serta akses terhadap fasilitas pendidikan sebagai persoalan yang perlu dijawab bersama melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pada tahap awal, kegiatan sanggar hanya diikuti delapan anak. Proses belajar berlangsung dengan menumpang di musala karena komunitas belum memiliki ruang kelas permanen. Sanggar tersebut juga belum mempunyai kurikulum resmi, sehingga materi pembelajaran disusun secara bertahap berdasarkan kebutuhan dan kondisi anak. Kendati sederhana, kegiatan rutin itu menjadi titik awal bagi terbentuknya lingkungan belajar yang lebih terbuka, akrab, dan mendorong anak untuk kembali percaya diri dalam menempuh pendidikan.

Zahit menjelaskan bahwa Sanggar Belajar Jalan Pulang bukan sekadar tempat menerima pelajaran, melainkan ruang belajar sekaligus tempat pulang bagi anak-anak pesisir yang memiliki keterbatasan akses pendidikan. Melalui program yang dijalankan, anak-anak diajak memahami kepedulian terhadap lingkungan, mengembangkan kreativitas, mengenali potensi diri, serta memperluas wawasan tentang alam di sekitar mereka. Pendekatan tersebut membuat proses belajar tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan pesisir.

Pengembangan sanggar kemudian dilakukan melalui sinergi sekolah alam, masyarakat, dan Pertamina Patra Niaga. Kolaborasi itu diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal, memperluas jangkauan pendidikan bagi anak-anak, serta menciptakan kegiatan yang sesuai dengan karakter kawasan pesisir. Dukungan berbagai pihak turut membuka peluang bagi penyediaan sarana belajar, penguatan kapasitas pendamping, dan pelaksanaan kegiatan berbasis lingkungan. Dengan keterlibatan masyarakat, pendidikan dapat tumbuh sebagai gerakan bersama sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan pesisir.