Jakarta | Saut Situmorang, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015–2019, menyatakan dukungan agar pakar ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy mendapat tempat di kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dukungan itu bukan semata usulan mengenai susunan personel pemerintahan. Saut menilai gagasan Noorsy perlu memperoleh kesempatan untuk didengar secara langsung oleh presiden, terutama pemikiran yang berkaitan dengan nilai-nilai dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa.
Bagi Saut, pandangan seorang pakar dapat menjadi bahan pertimbangan penting ketika pemerintah merumuskan arah kebijakan. Ia memandang Noorsy memiliki gagasan yang layak disampaikan kepada Prabowo, sehingga komunikasi langsung dapat membuka ruang bagi pemahaman yang lebih utuh. Dengan demikian, dukungan tersebut menempatkan dialog sebagai unsur penting: gagasan tidak hanya beredar di ruang publik, tetapi juga dapat dipertimbangkan oleh pemimpin yang bertanggung jawab menentukan langkah pemerintahan.
Pokok perhatian Saut adalah nilai dan nasionalisme yang terkandung dalam pemikiran Noorsy. Dalam konteks pemerintahan baru, kedua hal itu dapat menjadi sudut pandang untuk membahas kepentingan nasional dan orientasi kebijakan. Saut mendorong agar Prabowo mendengar gagasan tersebut, tanpa berarti bahwa pandangan itu otomatis menjadi keputusan pemerintah. Kesempatan untuk menyampaikan pemikiran secara langsung justru dapat membantu presiden menilai relevansi, dasar, serta kemungkinan penerapannya.
Dukungan ini juga memperlihatkan bahwa pembentukan kabinet dapat dipandang sebagai ruang untuk mempertemukan pemerintah dengan beragam pemikiran. Usulan Saut agar Noorsy masuk kabinet sekaligus menegaskan harapannya agar keahlian dan gagasan sang pakar mendapat perhatian pada tingkat pengambilan keputusan. Namun, inti pesan Saut tetap pada perlunya pemikiran Noorsy didengar oleh Prabowo. Dari sana, presiden dapat mempertimbangkan sendiri kontribusi yang mungkin diberikan, baik melalui peran di kabinet maupun melalui bentuk komunikasi dan keterlibatan lainnya dalam pembahasan arah kebijakan nasional.
Dukungan Saut Situmorang terhadap gagasan Ichsanuddin Noorsy disampaikan dalam talk show Rakyat Bersuara bertajuk “730 Hari Pemerintahan, Suara dan Harapan”. Program tersebut ditayangkan TV pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dalam forum itu, Saut mendorong agar gagasan yang disampaikan Ichsanuddin dapat didengar oleh Prabowo. Pernyataan tersebut menjadi pokok sikap Saut sebagaimana disampaikan dalam acara itu, dengan perhatian tertuju pada pentingnya gagasan tersebut memperoleh perhatian dari Prabowo. Penyampaian itu berlangsung sebagai bagian dari talk show, bukan dalam kesempatan lain yang disebutkan secara terpisah.
Acara dipandu oleh Pemimpin Redaksi , Aiman Witjaksono. Informasi mengenai waktu penayangan dan pemandu acara membantu menempatkan pernyataan Saut dalam konteks yang jelas: dukungan itu disampaikan di hadapan pemirsa melalui program Rakyat Bersuara pada tanggal tersebut. Judul “730 Hari Pemerintahan, Suara dan Harapan” menjadi tajuk siaran yang menaungi talk show, sementara inti pernyataan yang relevan di sini adalah dorongan agar gagasan Ichsanuddin Noorsy sampai kepada Prabowo. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan pesan yang disampaikan Saut dari konteks penyiarannya tanpa perlu menambahkan rincian lain yang tidak tercantum.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Saut memandang gagasan Ichsanuddin layak untuk didengar oleh Prabowo. Fokusnya bukan pada rincian yang tidak disampaikan dalam informasi acara, melainkan pada dukungan Saut terhadap penyampaian gagasan tersebut kepada Prabowo. Rakyat Bersuara menjadi ruang bagi pernyataan itu untuk disiarkan kepada publik, dengan Aiman Witjaksono sebagai pemandu dan TV sebagai saluran penayang. Penyebutan tanggal Selasa, 20 Oktober 2026, serta judul “730 Hari Pemerintahan, Suara dan Harapan” memberi konteks bagi pembaca untuk mengenali kapan dan dalam program apa dukungan tersebut disampaikan. Pokok pesannya tetap jelas: Saut mendorong gagasan Ichsanuddin Noorsy didengar Prabowo.
Saut Situmorang secara terbuka mempertanyakan alasan Ichsanuddin Noorsy tidak dibawa masuk ke lingkungan istana. Pertanyaan itu menyoroti kemungkinan agar Noorsy dapat menyampaikan gagasannya secara langsung kepada Prabowo. Saut menyatakannya dengan kalimat, “Apa susahnya bawa dia masuk ke dalam. Apa susahnya bawa Noorsy masuk ke dalam istana coba?” Ucapan tersebut disampaikan sebagai pertanyaan mengenai akses Noorsy ke istana, bukan sebagai uraian tentang langkah yang telah dilakukan atau keputusan yang sudah diambil.
Pokok yang disampaikan Saut adalah mengapa Noorsy tidak dihadirkan di lingkungan istana untuk berbicara langsung. Dengan demikian, sorotannya berada pada kesempatan menyampaikan gagasan secara tatap muka kepada Prabowo. Pertanyaan itu mengulang persoalan yang sama dengan menyebut Noorsy secara langsung, sehingga maksudnya tetap berpusat pada akses ke istana. Pernyataan tersebut tidak merinci gagasan apa yang hendak disampaikan, kapan pertemuan seharusnya berlangsung, ataupun pihak yang bertanggung jawab mengatur kehadiran Noorsy.
Kalimat Saut juga tidak menjelaskan apakah Noorsy pernah diundang, apakah permintaan untuk bertemu telah diajukan, atau apa alasan tertentu di balik tidak dibawanya Noorsy ke dalam istana. Karena itu, inti pernyataan dapat disampaikan secara terbatas: Saut mempertanyakan mengapa Noorsy tidak dibawa masuk agar dapat mengutarakan gagasannya secara langsung kepada Prabowo. Kutipan tersebut mempertahankan bentuk pertanyaan yang diajukan Saut, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan mengenai sikap istana, hubungan para tokoh, maupun isi gagasan Noorsy. Dengan fokus demikian, perhatian tetap pada hal yang secara eksplisit ditanyakan Saut, yakni alasan Noorsy tidak memperoleh akses untuk berbicara langsung di lingkungan istana.
Menurut Saut Situmorang, gagasan yang disampaikan Ichsanuddin Noorsy berpeluang lebih besar memengaruhi keputusan apabila dapat didengar langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Penyampaian secara langsung membuka ruang bagi pemegang kekuasaan untuk memahami pokok pemikiran, alasan yang mendasarinya, serta kemungkinan penerapannya dalam kebijakan. Dengan begitu, gagasan tidak hanya beredar sebagai wacana di ruang publik, tetapi dapat dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Pandangan tersebut menempatkan akses komunikasi sebagai faktor penting, tanpa menjamin bahwa setiap usulan akan diterima atau dijalankan. Pemerintah tentu perlu menilai gagasan berdasarkan kebutuhan, prioritas, dan pertimbangan kebijakan yang berlaku. Namun, menurut Saut, kesempatan untuk menjelaskan pemikiran secara langsung dapat membantu mengurangi risiko gagasan dipahami secara tidak utuh. Dialog juga memungkinkan adanya pertanyaan, tanggapan, maupun penjelasan lanjutan dari pihak yang menyampaikan usulan.
Dukungan Saut kepada Noorsy karena itu dapat dipahami sebagai dorongan agar pemikiran yang dinilai relevan mendapat perhatian di tingkat pengambil keputusan. Ia menilai pemikiran tersebut layak didengar, tetapi hal itu berbeda dari pernyataan bahwa pemerintah telah menerima usulannya. Belum ada dasar dalam pandangan yang disampaikan untuk menyebut Noorsy telah ditawari jabatan ataupun menjadi bagian dari kabinet. Fokusnya adalah peluang agar gagasan bertemu dengan pihak yang memiliki kewenangan untuk mempertimbangkannya.
Jika kesempatan komunikasi itu tersedia, nilai gagasan tetap akan bergantung pada isi dan kesesuaiannya dengan persoalan yang hendak diatasi. Penyampaian langsung bukan jaminan perubahan kebijakan, melainkan jalur yang dinilai dapat membuat pertimbangan lebih terbuka dan substansial. Pada akhirnya, Saut memandang peluang gagasan Noorsy untuk memengaruhi keputusan akan lebih besar apabila ia dapat menyampaikannya langsung kepada Prabowo sebagai pemegang kekuasaan, tanpa berarti bahwa suatu posisi pemerintahan telah ditawarkan atau diberikan kepadanya.
