Program Baduy Lestari Salurkan 70.000 Bibit dengan Mengikuti Aturan Adat

oleh -72 Dilihat
oleh
Program Baduy Lestari Salurkan 70.000 Bibit dengan Mengikuti Aturan Adat

Kabupaten Lebak | Gubernur Banten Andra Soni menyalurkan 70.000 bibit pohon di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Penyerahan tersebut merupakan bagian dari program Baduy Lestari, yang dirancang untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan sekaligus menghormati aturan adat masyarakat Baduy. Bantuan bibit itu direncanakan menjangkau 68 kampung adat di wilayah tersebut, sehingga manfaat program tidak hanya terpusat di satu lokasi.

Penyaluran bibit dilakukan dalam kunjungan kerja yang dihadiri tokoh adat dan masyarakat Baduy, jajaran Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran berbagai pihak mencerminkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program. Di wilayah adat, dukungan lingkungan perlu dijalankan dengan memperhatikan ketentuan dan kesepakatan yang berlaku, sehingga kegiatan penanaman dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat setempat.

Rencana menjangkau 68 kampung adat menjadi bagian penting dari skala program Baduy Lestari. Sebanyak 70.000 bibit yang disalurkan diharapkan dapat menjadi dukungan bagi upaya menjaga kawasan hijau, dengan pelaksanaan yang mengikuti aturan adat. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat Baduy dan tokoh adat sebagai unsur penting dalam proses di lapangan, bukan sekadar penerima bantuan. Dengan demikian, rencana distribusi dapat disesuaikan dengan kondisi serta tata cara di masing-masing kampung.

Kunjungan kerja di Desa Kanekes juga menjadi ruang koordinasi pemerintah daerah, unsur Forkopimda, dan masyarakat adat terkait penyaluran bantuan. Pemerintah provinsi dan kabupaten hadir bersama tokoh setempat untuk mendukung pelaksanaan program yang mencakup puluhan kampung. Keberlanjutan manfaatnya bergantung pada pengelolaan bibit dan kesesuaian kegiatan dengan aturan adat. Melalui Baduy Lestari, penyaluran 70.000 bibit diarahkan untuk memperluas dukungan pelestarian lingkungan di 68 kampung adat, dengan tetap menghormati tata kehidupan masyarakat Baduy.

Program Baduy Lestari tidak hanya berorientasi pada penyaluran bibit, tetapi juga pada upaya menjaga lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat. Andra Soni menyampaikan bahwa penanaman pohon diarahkan untuk mendukung kelestarian hutan, melindungi sumber mata air, serta mempertahankan keseimbangan ekosistem di sekitar permukiman masyarakat Baduy. Ketiga tujuan tersebut saling berkaitan: hutan yang terjaga membantu melindungi tanah dan daerah resapan, sementara kondisi alam yang baik menjadi dasar bagi ketersediaan air dan kenyamanan hidup warga.

Dalam pandangan Andra Soni, menanam pohon merupakan investasi ekologis jangka panjang. Manfaatnya tidak selalu terlihat segera setelah bibit ditanam, karena pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh dan membentuk tutupan yang lebih kuat. Namun, jika dirawat dan dipelihara secara konsisten, penanaman dapat mendukung fungsi hutan, menjaga tanah tetap stabil, dan membantu mempertahankan kawasan resapan air. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang disalurkan, tetapi juga oleh keberlanjutan perawatan setelah penanaman.

Upaya tersebut diharapkan turut membantu menjaga ketersediaan mata air yang dibutuhkan masyarakat dan lingkungan. Tutupan vegetasi yang terpelihara dapat mendukung penyerapan air hujan ke dalam tanah, sehingga air lebih mudah tersimpan dan mengalir secara alami. Pada saat yang sama, akar pohon membantu mengikat tanah dan mengurangi kerentanan terhadap erosi. Dengan demikian, penghijauan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko bencana alam, meskipun hasilnya bergantung pula pada kondisi setempat, pemeliharaan, dan perlindungan kawasan secara menyeluruh.

Tujuan ekologis itu selaras dengan filosofi Baduy, “gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak.” Pesan tersebut mengandung ajakan untuk tidak merusak kawasan pegunungan maupun lembah, melainkan menjaga keduanya sesuai fungsi alamnya. Pegunungan dan dataran rendah merupakan bagian dari bentang alam yang saling terhubung, termasuk dalam mengatur aliran air dan menopang kehidupan. Dengan menghormati pesan adat serta melaksanakan penanaman secara bertanggung jawab, program ini diharapkan memberi manfaat lintas generasi dan memperkuat kesadaran bersama untuk merawat hutan, mata air, serta lingkungan permukiman Baduy.

Tokoh adat Kanekes, Jaro Om, menjelaskan bahwa 70.000 bibit yang disiapkan dalam Program Baduy Lestari terdiri atas berbagai jenis tanaman. Penanaman tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan keadaan lahan di setiap wilayah. Masyarakat setempat akan menanam bibit secara kolektif, dengan mempertimbangkan jenis tanah, ketersediaan ruang, serta kesesuaian tanaman dengan lingkungan masing-masing. Cara ini memungkinkan kegiatan penghijauan berjalan sejalan dengan pengetahuan masyarakat mengenai kondisi alam di wilayahnya.

Seluruh bibit juga tidak akan ditanam di wilayah ulayat Baduy. Sebagian bibit direncanakan untuk ditanam di luar kawasan adat, sehingga lokasi penanaman dapat mencakup wilayah yang lebih luas. Pembagian lokasi tersebut tetap perlu memperhatikan aturan dan kesepakatan masyarakat Baduy. Dengan demikian, program ini tidak dimaknai sebagai penanaman tanpa batas, tetapi sebagai upaya yang pelaksanaannya mengikuti tata cara adat serta mempertimbangkan kondisi setempat.

Dalam ketentuan adat, terdapat batas mengenai lahan yang boleh diolah dan jenis tanaman yang dapat ditanam. Pemanfaatan lahan harus mengikuti aturan yang berlaku di masing-masing wilayah, termasuk ketentuan mengenai kawasan yang tidak boleh dibuka atau digarap. Penanaman di huma, yakni lahan pertanian yang dikelola masyarakat, diperbolehkan sesuai aturan adat. Sejumlah jenis pohon, seperti picung dan leungsir, juga disebut sebagai contoh tanaman yang dapat ditanam. Pemilihan jenis bibit dan lokasi tetap dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian lahan serta batas pemanfaatan yang ditetapkan masyarakat. Melalui pendekatan kolektif tersebut, warga dapat menentukan penempatan tanaman berdasarkan kebutuhan wilayahnya tanpa mengabaikan ketentuan adat. Pengetahuan lokal menjadi pertimbangan penting agar bibit yang disalurkan dapat dirawat dan tumbuh pada tempat yang sesuai, baik di dalam maupun di luar kawasan ulayat.

Dalam sambutannya, Jaro Om menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Banten melalui bantuan 70.000 bibit untuk Program Baduy Lestari. Bantuan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat upaya penghijauan dan menjaga lingkungan di wilayah masyarakat adat. Namun, menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang disalurkan atau ditanam. Bibit perlu dirawat secara berkelanjutan agar dapat tumbuh menjadi tanaman yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Jaro Om berharap kegiatan tidak berhenti setelah penanaman selesai. Pemeliharaan, termasuk memastikan tanaman tetap terjaga dan tumbuh dengan baik, merupakan bagian penting dari tujuan jangka panjang program. Tanpa perawatan, bibit berisiko tidak berkembang sehingga manfaat penghijauan yang diharapkan sulit tercapai. Karena itu, keterlibatan masyarakat dan perhatian dari pihak terkait diperlukan setelah kegiatan penyaluran berlangsung. Pendekatan berkelanjutan juga dapat membantu menjaga hasil program, bukan sekadar mencatat jumlah bibit yang telah dibagikan.

Pelaksanaan penghijauan di kawasan masyarakat adat, lanjutnya, perlu menghormati kearifan lokal serta aturan yang berlaku di tengah masyarakat. Kepatuhan terhadap tata cara dan ketentuan adat menjadi landasan agar kegiatan lingkungan berjalan selaras dengan nilai setempat. Dengan demikian, dukungan dari pemerintah dapat diterapkan tanpa mengabaikan kewenangan dan tradisi masyarakat adat. Perencanaan, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman perlu dilakukan dengan memperhatikan kesepakatan serta praktik lokal yang telah dijaga oleh masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur TNI-Polri, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta Ketua TP PKK Kabupaten Lebak Belia Hasbi Asyidiki Jayabaya. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan dukungan bersama terhadap upaya pelestarian lingkungan. Kolaborasi diharapkan dapat mendukung pemantauan dan perawatan bibit setelah ditanam, sekaligus memastikan setiap tahapan tetap menghormati aturan adat. Dengan komitmen yang berlanjut, bantuan bibit dapat menjadi awal dari upaya menjaga lingkungan yang lebih terarah dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Baca juga: Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen, Dorong Terjadi Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Pemisahan Pilpres dan Pileg | Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari | Peduli Kekeringan, Kodim Bojonegoro Salurkan 133 Ribu Liter Air Bersih ke 6 Kecamatan