Jakarta | PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPoP) sebesar Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut tumbuh 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Besarnya laba operasional ini menjadi gambaran awal kinerja perseroan selama sembilan bulan pertama tahun berjalan, sebelum memperhitungkan biaya pencadangan atas risiko kredit.
Nilai Rp27,5 triliun itu sekaligus merupakan PPoP tertinggi yang pernah dibukukan BNI untuk periode kuartal III. Dengan demikian, pencapaian tersebut tidak hanya menunjukkan pertumbuhan tahunan, tetapi juga menandai rekor baru untuk rentang pelaporan yang sama. Perbandingan antarperiode ini memberi konteks penting dalam membaca perkembangan kinerja: angka yang diraih pada 2026 melampaui capaian kuartal III sebelumnya, sementara laju pertumbuhannya tercatat sebesar 11,6%.
PPoP mengukur kemampuan operasional bank menghasilkan laba sebelum beban pencadangan diperhitungkan. Karena itu, angka ini dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat hasil kegiatan inti perseroan, tanpa mencampurkannya dengan perubahan kebutuhan pencadangan pada periode berjalan. Dalam laporan BNI, capaian tersebut menjadi sorotan pembuka karena nilainya besar, tumbuh secara tahunan, dan memecahkan rekor untuk periode kuartal III.
Namun, angka PPoP perlu ditempatkan dalam kerangka kinerja yang lebih luas. Pembacaan menyeluruh tetap memerlukan perhatian pada indikator lain, termasuk laba bersih, perkembangan kredit, kualitas aset, serta komposisi pendanaan. Informasi tersebut membantu menjelaskan faktor yang menopang hasil operasional dan bagaimana kinerja bank terbentuk. Meski demikian, pencapaian Rp27,5 triliun dengan pertumbuhan 11,6% memberikan penanda awal yang kuat atas perkembangan BNI hingga akhir September 2026. Rekor pada periode ini juga menyediakan titik pembanding untuk menilai konsistensi hasil operasional perseroan pada periode-periode selanjutnya, tanpa mengabaikan indikator keuangan lainnya.
Pendapatan BNI hingga kuartal III 2026 menunjukkan pertumbuhan pada dua komponen utama, yakni pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tercatat sebesar Rp33,2 triliun, meningkat 13,6% secara tahunan. Kenaikan ini menandai kontribusi yang lebih besar dari kegiatan intermediasi terhadap pendapatan bank selama periode tersebut. Perkembangan NII menjadi salah satu bagian penting dalam membaca kinerja keuangan BNI, bersama dengan perubahan pada sumber pendapatan lainnya. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai capaian pendapatan sampai dengan akhir September 2026, dibandingkan dengan periode yang sama setahun sebelumnya.
Selain NII, fee-based income BNI juga bertumbuh. Pendapatan berbasis komisi ini mencapai Rp13,9 triliun, naik 8,3% secara tahunan. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendapatan tidak hanya tercatat pada pendapatan bunga bersih, tetapi juga pada komponen yang berasal dari layanan dan aktivitas berbasis biaya. Kedua angka itu menjadi bagian dari gambaran pendapatan BNI pada kuartal III 2026. NII tetap merupakan komponen yang lebih besar secara nominal, sedangkan fee-based income turut menambah perolehan pendapatan selama periode pelaporan. Pertumbuhan pada masing-masing komponen memberikan konteks untuk memahami hasil laba bersih yang dicapai bank.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih BNI tercatat sebesar Rp16,1 triliun hingga kuartal III 2026. Nilai ini meningkat 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, kinerja laba bersih tetap tumbuh secara tahunan, bersamaan dengan kenaikan NII dan fee-based income. Perbandingan angka-angka ini menunjukkan bahwa hasil keuangan BNI memuat pertumbuhan pada sisi pendapatan maupun laba. NII meningkat 13,6% menjadi Rp33,2 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi naik 8,3% menjadi Rp13,9 triliun. Pada saat yang sama, laba bersih bertambah 6,6% dan mencapai Rp16,1 triliun. Capaian tersebut merangkum perkembangan pendapatan dan profitabilitas BNI dalam sembilan bulan pertama 2026, tanpa mengubahnya menjadi klaim mengenai faktor lain yang tidak tercantum dalam data ini.
Hingga kuartal III 2026, kredit BNI tercatat tumbuh 22,2% secara tahunan menjadi Rp992,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan peningkatan penyaluran kredit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi salah satu perkembangan utama dalam kinerja perseroan selama sembilan bulan pertama 2026, di samping pergerakan laba dan penghimpunan dana. Besaran kredit yang mendekati Rp1.000 triliun juga memberikan gambaran mengenai skala portofolio pembiayaan BNI pada periode pelaporan tersebut.
Di tengah kenaikan kredit, kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9%. Rasio ini mencerminkan porsi kredit bermasalah terhadap keseluruhan kredit berdasarkan pengukuran gross, sebelum memperhitungkan pencadangan. Dengan demikian, laporan kinerja kuartal III memperlihatkan dua indikator yang dapat dibaca berdampingan: kredit yang tumbuh secara tahunan dan rasio NPL gross yang berada pada tingkat 1,9%.
Perkembangan tersebut penting untuk dicermati karena pertumbuhan portofolio kredit dan kualitas kredit merupakan ukuran yang berbeda. Nilai kredit menunjukkan besarnya pembiayaan yang disalurkan, sedangkan NPL gross memberikan informasi mengenai bagian portofolio yang masuk kategori bermasalah. Data yang tersedia menyatakan bahwa pertumbuhan kredit BNI mencapai 22,2% dan kualitas kredit tetap terjaga, dengan rasio NPL gross membaik menjadi 1,9%. Angka-angka itu dapat menjadi bagian dari penilaian terhadap kondisi bisnis bank pada periode tersebut.
Namun, angka pertumbuhan dan rasio kualitas kredit perlu dipahami sesuai cakupan informasinya. Data ini tidak dengan sendirinya menjelaskan faktor yang mendorong kenaikan kredit ataupun perubahan NPL gross, sehingga pembahasan keduanya sebaiknya dibatasi pada hasil yang dilaporkan. Secara keseluruhan, hingga kuartal III 2026 BNI membukukan kredit Rp992,5 triliun, tumbuh 22,2% dibandingkan setahun sebelumnya. Pada saat yang sama, rasio NPL gross tercatat membaik menjadi 1,9%, menandai kualitas kredit yang tetap terjaga menurut indikator tersebut.
Penguatan dana murah menjadi salah satu penopang kinerja pendanaan BNI hingga September 2026. Current account savings account (CASA) tumbuh 19,6% secara tahunan dan mencapai Rp733,7 triliun. Capaian ini menunjukkan peningkatan penghimpunan dana berbasis giro dan tabungan, sekaligus memperkuat komposisi pendanaan perseroan. Pertumbuhan tersebut tersebar merata di seluruh segmen, sehingga kenaikan CASA tidak hanya bergantung pada satu kelompok nasabah atau sumber dana. Sebaran yang luas juga mencerminkan kemampuan BNI menjaga relevansi layanan bagi beragam kebutuhan transaksi dan penyimpanan dana.
Giro mencatat pertumbuhan tahunan 25,9% hingga September 2026. Angka itu melampaui pertumbuhan giro industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Sejalan dengan kinerja tersebut, pangsa pasar giro BNI bertambah 120 basis poin menjadi 13,2%. Perolehan ini menandakan posisi BNI dalam penghimpunan giro semakin kuat, di tengah persaingan industri perbankan untuk mendapatkan dana transaksi nasabah. Pertumbuhan giro yang tinggi turut mendukung perluasan basis dana murah dan memberi ruang bagi bank untuk mengelola struktur pendanaan secara lebih seimbang.
Di sisi tabungan, dana nasabah tumbuh 11,6% secara tahunan. Pangsa pasar tabungan BNI juga meningkat 10 basis poin menjadi 9,2%. Kenaikan pada kedua komponen CASA tersebut memperlihatkan kontribusi giro dan tabungan dalam mendorong pertumbuhan dana murah secara keseluruhan. Bagi bank, penguatan sumber dana yang lebih efisien dapat mendukung aktivitas intermediasi, selama disertai pengelolaan likuiditas dan risiko yang terukur. BNI menyampaikan bahwa upaya memperluas dana murah tetap diarahkan untuk menopang pertumbuhan bisnis dengan kualitas yang terjaga.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan pada Selasa 27.
