Jakarta | Setelah pernah dikenal luas sebagai salah satu produsen telepon seluler terbesar di dunia, BlackBerry mengubah arah bisnisnya. Perusahaan asal Kanada ini tidak lagi berupaya menjadi pemain utama dalam persaingan smartphone, yang kini didominasi oleh ekosistem perangkat dan layanan dari perusahaan lain. Sebaliknya, BlackBerry memusatkan perhatian pada perangkat lunak dan layanan untuk pelanggan bisnis, pemerintah, serta industri yang membutuhkan sistem komunikasi dan keamanan yang andal. Perubahan tersebut menandai pergeseran dari penjualan perangkat konsumen menuju penyediaan teknologi yang bekerja di balik layar. Keahlian yang dahulu dikembangkan untuk ponsel—terutama keamanan, komunikasi, dan pengelolaan sistem—kemudian diterapkan pada kebutuhan organisasi dan sektor industri.
Salah satu bagian penting dari strategi itu adalah QNX, platform perangkat lunak yang digunakan dalam sistem tertanam. QNX dirancang untuk beroperasi secara stabil dan merespons dalam waktu yang dapat diprediksi, karakteristik yang penting bagi teknologi yang menjalankan fungsi penting. Dalam industri otomotif, perangkat lunak ini menjadi fondasi bagi berbagai sistem elektronik kendaraan. Penggunaannya dapat mencakup fungsi yang berkaitan dengan pengereman, pengelolaan instrumen dan hiburan, hingga teknologi bantuan pengemudi. Pada sistem kendaraan yang lebih canggih, QNX juga dapat mendukung komponen perangkat lunak untuk fitur kemudi semi-otonom. Penerapannya tidak berarti satu platform mengambil alih seluruh kendali kendaraan; produsen mengintegrasikannya sesuai rancangan, persyaratan keselamatan, dan kebutuhan masing-masing model.
Skala pemakaian QNX menunjukkan betapa jauh bisnis BlackBerry telah bergerak dari pasar telepon seluler. Perangkat lunak tersebut telah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu teknologi yang tersebar luas dalam ekosistem otomotif. Jumlah itu mencerminkan hubungan jangka panjang dengan produsen kendaraan dan pemasok, yang menanamkan perangkat lunak pada produk dengan siklus pengembangan panjang. Bagi BlackBerry, pasar ini menawarkan peran berbeda dari persaingan smartphone: perusahaan menyediakan fondasi teknologi yang membantu sistem kendaraan bekerja, bukan menjual ponsel kepada pengemudi. Transformasi tersebut memperlihatkan bagaimana merek yang pernah identik dengan papan ketik dan pesan seluler membangun bisnis baru melalui perangkat lunak, keamanan, dan sistem tertanam.
CEO BlackBerry, John Giamatteo, melihat robot berbasis kecerdasan buatan sebagai peluang yang dapat membuka mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan. Pandangan ini menandai perluasan arah bisnis BlackBerry: dari reputasi lama di perangkat ponsel menuju penyediaan teknologi dasar untuk sistem yang menjalankan berbagai mesin. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap AI, peluang tersebut tidak hanya bergantung pada aplikasi digital, tetapi juga pada kemampuan perangkat lunak menghubungkan kecerdasan dengan tindakan di dunia nyata.
Giamatteo membedakan physical AI dari AI generatif yang umum digunakan untuk menghasilkan teks, gambar, atau keluaran digital lainnya. Physical AI dirancang agar robot dan mesin dapat memahami lingkungan, menerima masukan dari sensor, lalu berinteraksi langsung dengan kondisi fisik di sekitarnya. Kemampuan itu dapat membantu mesin menjalankan tugas secara terarah, sekaligus menuntut pengoperasian yang aman dan dapat diandalkan. Karena itu, perangkat lunak yang mengendalikan sistem menjadi bagian penting, bukan sekadar pelengkap perangkat keras.
Robotika disebut sebagai salah satu lini bisnis QNX dengan pertumbuhan tercepat. QNX menyediakan perangkat lunak dasar yang digunakan untuk menjalankan sistem tertanam, termasuk pada mesin yang membutuhkan kinerja konsisten. BlackBerry mengandalkan pengalaman panjangnya di industri otomotif, tempat perangkat lunak harus mendukung fungsi kendaraan dengan tingkat keselamatan dan keandalan tinggi. Rekam jejak tersebut memberi perusahaan landasan untuk menawarkan teknologi serupa kepada pembuat robot dan mesin lain, meskipun kebutuhan tiap sektor tentu berbeda.
Giamatteo juga menggambarkan jangkauan teknologi BlackBerry yang melampaui kendaraan. Perangkat lunak perusahaan hadir dalam beragam konteks, mulai dari robot dan instansi pemerintah hingga instrumen medis serta rantai pasok. Keragaman ini menunjukkan bahwa peluangnya tersebar di berbagai lingkungan yang mengandalkan sistem digital untuk menjalankan operasi penting. Jika physical AI semakin diterapkan, kebutuhan akan fondasi perangkat lunak yang stabil dapat ikut meningkat. Bagi BlackBerry, tantangannya adalah menerjemahkan pengalaman di otomotif menjadi solusi yang relevan untuk robotika dan sektor lain, sekaligus menjaga standar keamanan dan keandalan yang menjadi inti pendekatannya.
Nilai royalty backlog QNX yang mencapai US$1,2 miliar, atau sekitar Rp21 triliun, memberi gambaran tentang besarnya potensi royalti dari bisnis perangkat lunak BlackBerry. Angka tersebut meningkat lebih dari US$250 juta dalam dua kuartal, menandakan bertambahnya nilai pesanan yang menjadi dasar pendapatan royalti pada masa mendatang. Backlog ini bukan berarti seluruh dana sudah diterima atau langsung tercatat sebagai pendapatan. Realisasi royalti bergantung pada produk yang menggunakan teknologi QNX diproduksi dan dikirimkan, sehingga nilai tersebut mencerminkan peluang bisnis yang masih akan berkembang seiring adopsi perangkat lunak perusahaan. Bagi BlackBerry, posisi ini menghubungkan peluang baru di otomotif dan sistem cerdas dengan aliran royalti jangka panjang.
CEO John Giamatteo menyebut tiga pendorong utama pertumbuhan peluang QNX. Pertama, produsen otomotif beralih menuju sistem komputasi yang lebih canggih, yang membutuhkan perangkat lunak untuk mengelola berbagai fungsi kendaraan. Kedua, BlackBerry memperluas portofolio perangkat lunaknya, sehingga cakupan solusi yang dapat ditawarkan kepada pelanggan menjadi lebih luas. Ketiga, permintaan untuk aplikasi physical AI meningkat. Istilah ini merujuk pada kecerdasan buatan yang beroperasi atau berinteraksi dengan lingkungan fisik, termasuk melalui perangkat dan sistem yang tertanam. Ketiga faktor tersebut membantu menjelaskan mengapa nilai backlog royalti bertambah, sekaligus menunjukkan bahwa kesempatan QNX tidak terbatas pada satu jenis penggunaan. Namun, nilai pesanan tetap perlu dibedakan dari pendapatan yang sudah terealisasi.
Perkembangan itu berlangsung bersamaan dengan penguatan saham BlackBerry. Sepanjang 2026, harga saham perusahaan tercatat naik 142%. Kenaikan tersebut merupakan respons investor terhadap perkembangan bisnis yang berlangsung pada periode tersebut; angka itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pertumbuhan backlog QNX menjadi satu-satunya penyebab pergerakan saham. Meski demikian, besarnya royalty backlog dan peningkatannya menyediakan konteks penting bagi penilaian pasar terhadap bisnis QNX. Investor dapat melihatnya sebagai indikator peluang royalti yang berpotensi menopang bisnis perangkat lunak, sementara tiga pendorong yang disampaikan Giamatteo memberi gambaran mengenai sumber permintaan. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada penerapan teknologi dalam produk, perluasan portofolio, dan realisasi penjualan terkait.
Perubahan arah BlackBerry dari produsen ponsel menjadi perusahaan teknologi yang berfokus pada perangkat lunak dan sistem tertanam mencerminkan perjalanan panjang industri komunikasi. Pada masa jayanya, ponsel BlackBerry dengan papan ketik fisik menjadi perangkat pilihan bagi kalangan profesional dan pengguna yang membutuhkan akses cepat ke surat elektronik. Kombinasi layanan pesan, keamanan, dan desain khas membantu perusahaan membangun posisi kuat di pasar smartphone global.
Namun, dominasi tersebut tidak bertahan ketika Apple memperkenalkan iPhone dan ponsel layar sentuh semakin luas digunakan. Perubahan preferensi konsumen, ditambah persaingan dari berbagai produsen perangkat, membuat keunggulan papan ketik fisik dan layanan lama BlackBerry berkurang. Perusahaan kemudian mengalihkan perhatian dari bisnis handset, lain menuju perangkat lunak keamanan siber serta teknologi untuk kendaraan dan sistem tertanam. Transformasi itu bukan sekadar perubahan produk, melainkan penyesuaian terhadap pasar yang berkembang.
Perbedaan skala perusahaan terlihat dari nilai pasarnya. Ketika masih bernama Research In Motion, kapitalisasi pasar BlackBerry mendekati rekor US$85 miliar pada 2008, saat perangkatnya berada di puncak popularitas. Kini, nilainya berada di kisaran US$5,4 miliar.
