Indonesia dan Mozambik Jajaki Transfer Teknik Batik untuk Kain Kapulana

oleh -642 Dilihat
oleh
Indonesia dan Mozambik Jajaki Transfer Teknik Batik untuk Kain Kapulana

Jakarta | Indonesia dan Mozambik menjajaki peluang kerja sama ekonomi kreatif yang mencakup bidang kriya, film, dan fesyen. Pembahasan ini membuka ruang bagi kedua negara untuk saling mengenal potensi industri kreatif masing-masing, sekaligus mencari bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Salah satu perhatian dalam hubungan tersebut ialah kemungkinan menghubungkan kekayaan tradisi lokal dengan keterampilan serta pendekatan kreatif dari kedua pihak.

Peluang kerja sama itu dibicarakan dalam pertemuan bilateral Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dengan Wakil Menteri Seni dan Kebudayaan Mozambik, Matilde Martins Muocha Makara. Pertemuan berlangsung di sela-sela The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober. Forum internasional tersebut menjadi kesempatan bagi perwakilan kedua negara untuk membahas agenda ekonomi kreatif secara langsung, termasuk peluang memperkuat hubungan antarpelaku dan lembaga yang bergerak di sektor budaya.

Dalam pertemuan tersebut, pembicaraan tidak hanya berfokus pada potensi pertukaran produk, tetapi juga pada proses berbagi pengetahuan dan pengembangan kapasitas. Kedua negara dapat menjajaki pembelajaran mengenai teknik produksi, pengelolaan usaha kreatif, serta cara menjaga nilai budaya dalam pengembangan karya dan produk. Cakupan kriya, film, dan fesyen memberi dasar pembahasan yang luas, dengan peluang untuk mengenali kebutuhan dan keunggulan masing-masing sektor. Pendekatan ini dapat membantu kerja sama berkembang secara bertahap, sesuai dengan kepentingan para pemangku kepentingan di Indonesia maupun Mozambik.

Pertemuan di Jakarta tersebut menandai langkah awal untuk menggali hubungan ekonomi kreatif kedua negara secara lebih terarah. Pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas dapat menjadi landasan bagi dialog lanjutan, termasuk pembahasan mengenai kegiatan bersama yang relevan. Dengan mempertemukan unsur pemerintah dan pelaku kreatif, penjajakan ini berpotensi memperluas pemahaman tentang peluang kolaborasi lintas negara. Pembahasan mengenai kriya, film, dan fesyen juga menunjukkan bahwa kerja sama dapat mencakup beragam bentuk ekspresi budaya, serta membuka ruang bagi gagasan baru yang menghubungkan kreativitas dengan peluang ekonomi.

Ketertarikan Mozambik terhadap teknik batik Indonesia berangkat dari upaya mengembangkan produksi kain kapulana secara lokal. Kapulana memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Mozambik, baik sebagai busana maupun sebagai bagian dari ekspresi identitas dan tradisi. Dengan mempelajari teknik pewarnaan dan pembuatan motif batik, para perajin setempat diharapkan dapat memperluas kemampuan produksi tanpa menghilangkan ciri khas kapulana. Transfer pengetahuan ini bukan dimaksudkan untuk mengganti warisan tekstil lokal dengan produk atau motif Indonesia, melainkan untuk memperkaya keterampilan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks budaya setempat.

Kerja sama tersebut menghubungkan pengembangan ekonomi dengan pelestarian budaya. Peningkatan keterampilan produksi dapat membantu mendukung pembuatan kapulana di dalam negeri, sementara proses adaptasi teknik memberi ruang bagi perajin Mozambik untuk meneruskan tradisi tekstil kepada generasi berikutnya. Pelatihan dan pertukaran pengalaman dapat mencakup tahapan teknis, pengembangan motif, pengelolaan mutu, serta cara mengubah keterampilan kriya menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Pendekatan ini penting agar pengembangan produk tidak hanya mengejar volume, tetapi juga menghargai nilai budaya yang melekat pada kain dan pengetahuan para pembuatnya.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini juga membuka peluang timbal balik. Pertukaran keterampilan dan hubungan antarpelaku industri dapat menjadi pijakan untuk memperkenalkan kemampuan tekstil nasional kepada mitra serta pembeli di pasar internasional. Pemerintah Mozambik mengapresiasi keberhasilan Indonesia mengintegrasikan tata kelola budaya, komunikasi, dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari pengembangan sektor tersebut. Apresiasi itu turut mendorong komitmen Mozambik untuk mengadaptasi model yang relevan melalui pelatihan dan transfer pengetahuan, terutama pada subsektor kriya dan tekstil. Penyesuaian akan diperlukan agar praktik yang dipelajari sesuai dengan kapasitas, tradisi, dan prioritas pembangunan Mozambik. Dengan demikian, kerja sama berpotensi menghasilkan manfaat bagi kedua negara: memperkuat kapulana dan warisan budaya lokal, sekaligus memperluas jejaring serta peluang bagi industri tekstil Indonesia.

Selain menjajaki transfer teknik batik untuk kain kapulana, Indonesia dan Mozambik membahas peluang kerja sama yang lebih luas di bidang kebudayaan. Salah satu agenda yang dipertimbangkan ialah pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan warisan budaya, termasuk cara merawat, mendokumentasikan, dan memperkenalkan tradisi kepada masyarakat. Upaya ini dapat membuka ruang bagi kedua negara untuk saling memahami pendekatan pelestarian yang berkembang di masing-masing tempat, sekaligus memperkuat hubungan antarpelaku budaya.

Kedua pihak juga menjajaki penyelenggaraan pameran seni bersama sebagai sarana untuk memperkenalkan tradisi, karya, dan cerita sejarah Indonesia maupun Mozambik. Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan publik melihat persamaan dan kekhasan budaya kedua negara. Pembahasan lintas subsektor mencakup kriya, tekstil, film, dan fesyen, sehingga pertukaran tidak terbatas pada satu bentuk ekspresi. Kolaborasi antarsektor itu dapat mendorong lahirnya kegiatan kreatif yang melibatkan seniman, komunitas, lembaga kebudayaan, serta pelaku industri.

Untuk mendukung agenda tersebut, rencana penyusunan kerangka kerja sama teknis turut dibahas. Kerangka ini diarahkan pada peningkatan kapasitas pelaku seni, pengrajin, dan pengelola museum di daerah, agar manfaat kolaborasi dapat menjangkau lebih banyak komunitas. Pengembangan kapasitas dapat menjadi dasar bagi pertukaran keahlian dan pengalaman, serta membantu para pelaku mengelola karya dan koleksi dengan lebih berkelanjutan. Irene berharap penguatan ekonomi berbasis kebudayaan tidak hanya membuka peluang bagi kegiatan kreatif dan penghidupan masyarakat, tetapi juga merawat warisan sejarah serta ingatan kolektif. Dengan demikian, kebudayaan dapat berperan sebagai sumber nilai sekaligus penggerak ekonomi daerah yang inklusif, dengan kesempatan yang lebih luas bagi komunitas lokal untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat. Kerja sama ini juga menyediakan peluang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi melalui kegiatan seni, pembelajaran, dan perjumpaan lintas negara. Pendekatan tersebut menempatkan pelestarian dan pengembangan ekonomi sebagai tujuan yang saling mendukung, bukan pilihan yang harus dipisahkan.

Irene menjelaskan bahwa Indonesia menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Kebijakan ini bertumpu pada penguatan 21 subsektor, yang mencakup bidang digital maupun non-digital, serta mendorong pelaku dari berbagai bidang untuk bekerja bersama. Menurutnya, potensi ekonomi kreatif tidak hanya terletak pada pengembangan masing-masing subsektor, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi yang menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, kreativitas dan kekayaan budaya dapat membuka peluang ekonomi di tingkat lokal sekaligus memperluas jangkauan Indonesia di pasar global.

Dalam kerangka itu, budaya dipandang bukan semata-mata sebagai sesuatu yang perlu dipreservasi, melainkan juga sebagai penggerak kegiatan ekonomi. Irene menekankan bahwa pertukaran keterampilan dan pengetahuan dengan Mozambik dapat memperkaya kedua pihak, termasuk melalui penjajakan transfer teknik batik untuk kain kapulana. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang bagi para perajin dan pelaku kreatif untuk memahami karakter, teknik, serta nilai budaya masing-masing, lalu mengembangkannya menjadi peluang baru. Dengan demikian, nilai ekonomi budaya lokal dapat tumbuh tanpa melepaskan keterkaitannya dengan identitas dan komunitas asal.

Matilde menyambut baik peluang kerja sama tersebut dan menyampaikan komitmen Mozambik untuk membawa penjajakan ke tahap yang lebih konkret. Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Mozambik, Kartika Candra Negara, juga menyambut komunikasi intensif yang berlangsung kedua negara. Komunikasi ini dinilai penting untuk merumuskan bentuk kerja sama yang sesuai, mempertemukan pemangku kepentingan, serta menjaga kesinambungan pertukaran pengetahuan.

Baca juga: Catatan Politik Bamsoet; Penyesuaian Transfer Daerah Idealnya Tidak Menimbukan Ekses Bagi Daerah