Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat pembangunan Embung Kebagusan di Jakarta Selatan. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026. Target penyelesaian itu menjadi keterangan utama dalam pelaksanaan pembangunan embung yang berlokasi di wilayah Jakarta Selatan.
Embung Kebagusan dibangun di atas lahan seluas dua hektare. Lahan tersebut berada di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dengan demikian, lokasi proyek secara administratif berada di Kelurahan Kebagusan, dalam wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Percepatan pembangunan Embung Kebagusan disampaikan bersamaan dengan peninjauan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Gubernur meninjau pembangunan tersebut pada Selasa, 13 Oktober 2026. Peninjauan itu berlangsung di lokasi embung yang berada di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan.
Proyek ini disebut sebagai pembangunan Embung Kebagusan karena berada di kawasan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu. Luas lahan yang digunakan untuk pembangunan mencapai dua hektare. Lokasi tersebut tercatat berada di Jakarta Selatan, salah satu wilayah administratif Provinsi DKI Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Desember 2026 sebagai batas target rampungnya pembangunan. Artinya, Embung Kebagusan ditargetkan selesai pada bulan tersebut. Pembangunan yang dipercepat itu tetap merujuk pada lokasi dan luas lahan yang telah ditetapkan, yakni Jalan Baung dengan luas dua hektare.
Peninjauan oleh Pramono Anung pada 13 Oktober 2026 menegaskan perhatian pemerintah provinsi terhadap proyek Embung Kebagusan. Kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta Selatan, tepatnya di Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu. Hingga target yang ditetapkan, pembangunan embung diarahkan untuk rampung pada Desember 2026.
Pembangunan Embung Kebagusan menjadi salah satu proyek yang disiapkan untuk memperkuat fungsi penampungan air di kawasan tersebut. Proyek ini memiliki nilai anggaran sekitar Rp62 miliar, sehingga pelaksanaannya menunjukkan adanya dukungan pembiayaan yang cukup besar untuk menghadirkan fasilitas penampungan air yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Anggaran tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menyediakan sarana pengelolaan air yang sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Embung Kebagusan dirancang memiliki kapasitas tampung sekitar 30.000 meter kubik air. Kapasitas itu menggambarkan skala fasilitas yang sedang dibangun sekaligus memperlihatkan perannya dalam menampung air dalam jumlah besar. Dengan daya tampung tersebut, embung diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas yang mendukung pengelolaan air secara lebih teratur, terutama ketika volume air yang tersedia perlu disimpan untuk pemanfaatan dan pengendalian yang lebih baik.
Fungsi utama Embung Kebagusan tetap berada pada perannya sebagai tempat penampungan air. Keberadaan fasilitas ini ditujukan untuk menampung air sesuai kapasitas yang telah direncanakan, sehingga air dapat dikelola sebagai sumber daya yang memiliki nilai penting bagi kawasan. Penekanan pada fungsi tersebut menjadi dasar dalam melihat manfaat proyek, terlepas dari rencana pengembangan ruang publik yang juga disiapkan di sekitar embung.
Besaran anggaran dan kapasitas tampung menjadi dua informasi utama untuk memahami skala pembangunan Embung Kebagusan. Nilai sekitar Rp62 miliar menunjukkan besarnya investasi yang dialokasikan, sedangkan kemampuan menampung sekitar 30.000 meter kubik air menunjukkan target kapasitas fasilitas. Keduanya mempertegas bahwa proyek ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sarana fisik, tetapi juga dengan penyediaan fasilitas penampungan air yang diharapkan mampu mendukung kebutuhan pengelolaan air di kawasan Kebagusan.
Embung Kebagusan diharapkan menjadi salah satu infrastruktur pengendali banjir di wilayah Kebagusan. Kehadiran tampungan air ini dirancang untuk membantu mengelola limpasan hujan, terutama ketika intensitas curah hujan meningkat dan kapasitas saluran drainase menerima tekanan besar. Dengan menahan sebagian volume air untuk sementara waktu, embung dapat berperan dalam mengurangi aliran yang langsung masuk ke jaringan saluran di kawasan sekitarnya.
Proyek tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 30.000 meter kubik air. Kapasitas ini memberikan ruang bagi penampungan limpasan sebelum air dialirkan secara bertahap. Mekanisme itu penting untuk membantu menjaga beban saluran tetap lebih terkendali, sehingga potensi peningkatan muka air secara cepat dapat ditekan. Pengelolaan embung tetap perlu berjalan bersama pemeliharaan saluran, pengendalian sampah, serta kesiapan sistem drainase di kawasan Kebagusan.
Berdasarkan perencanaan proyek, Embung Kebagusan diproyeksikan membantu mereduksi debit banjir pada aliran saluran penghubung (PHB) Joe, Kali Mampang, dan Kali Krukut sekitar 2,3 persen. Angka tersebut menunjukkan kontribusi embung terhadap pengurangan debit pada beberapa aliran yang berkaitan dengan kawasan tersebut. Penyebutan nama aliran dan besaran reduksi menjadi penting agar manfaat proyek dipahami secara proporsional, sesuai cakupan teknis yang telah ditetapkan.
Peran Embung Kebagusan dengan demikian berada pada fungsi pengendalian dan penampungan air di tingkat kawasan. Infrastruktur ini dapat mendukung upaya mengurangi risiko genangan, tetapi tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya penyelesaian untuk seluruh persoalan banjir Jakarta. Efektivitasnya akan dipengaruhi oleh kondisi jaringan saluran, kapasitas aliran hilir, pola hujan, tata ruang, serta pelaksanaan pemeliharaan secara berkelanjutan. Selain fungsi teknis, area embung juga disiapkan sebagai ruang publik, sehingga manfaatnya dapat mencakup peningkatan kualitas lingkungan dan ruang aktivitas warga tanpa mengabaikan fungsi utamanya sebagai prasarana pengendali air.
Pengembangan Embung Kebagusan tidak hanya diarahkan untuk memperkuat fungsi penampungan air, tetapi juga untuk membentuk ruang publik yang dapat digunakan masyarakat. Dengan kapasitas tampung sekitar 30.000 meter kubik air, kawasan ini dirancang menjadi bagian dari lingkungan yang lebih tertata, terbuka, dan memiliki manfaat langsung bagi warga di sekitarnya. Perencanaan tersebut menempatkan embung sebagai fasilitas pengendalian air sekaligus ruang untuk beraktivitas.
Sejumlah fasilitas publik disiapkan untuk melengkapi kawasan embung. Rencana pembangunan ruang terbuka hijau akan menyediakan area yang lebih nyaman bagi warga untuk bersantai, berkumpul, atau menikmati suasana lingkungan. Kehadiran ruang hijau juga diharapkan mempercantik kawasan dan menciptakan kesan yang lebih asri. Selain itu, amfiteater direncanakan sebagai ruang terbuka yang dapat mendukung berbagai kegiatan warga, baik kegiatan komunitas maupun aktivitas lain yang sesuai dengan kebutuhan kawasan.
Untuk mendorong gaya hidup aktif, kawasan tersebut juga akan dilengkapi jogging track. Jalur ini dapat dimanfaatkan untuk berjalan kaki maupun berlari dengan suasana yang lebih nyaman dan teratur. Rencana penyediaan sarana olahraga turut mencakup lapangan futsal atau mini soccer. Fasilitas itu diharapkan memberi pilihan aktivitas olahraga bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat umum tanpa harus mencari lokasi yang jauh dari tempat tinggal.
Dengan perpaduan ruang terbuka hijau, amfiteater, jalur lari, serta lapangan olahraga, Embung Kebagusan diharapkan menambah ruang aktivitas warga di Jakarta Selatan. Kawasan ini dapat menjadi tempat untuk berolahraga, berekreasi, dan berinteraksi, sekaligus memperbaiki kualitas visual lingkungan. Pada saat yang sama, fungsi utamanya sebagai penampung air tetap berperan dalam mendukung pengendalian banjir, sehingga pengembangan embung memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara bersamaan.
Baca juga: Lahan Dikuasai Sejak 1958 Diklaim Diamankan Pemkot, Warga Gubeng Siapkan Posko Perlawanan | Siapkan Zero ODOL 2027, Polri Perintahkan Jajarannya Petakan Persoalan di Lapangan | Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI

