Jakarta | Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di angka 31 persen. Capaian tersebut menjadi yang terendah sepanjang dua masa jabatannya di Gedung Putih. Dibandingkan hasil survei yang dilakukan dua pekan sebelumnya, angka persetujuan itu turun satu poin persentase. Meski perubahannya relatif kecil, hasil ini menandai kemerosotan lebih lanjut dalam penilaian publik terhadap kepemimpinan Trump menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.
Pengumpulan data survei ditutup pada Senin, 19 Oktober 2026, ketika pemungutan suara untuk pemilu paruh waktu dijadwalkan berlangsung kurang dari tiga pekan kemudian, yakni pada 3 November. Pemilu tersebut merupakan bagian dari proses politik Amerika Serikat, bukan pemilihan di Indonesia. Hasil survei memberi gambaran mengenai pandangan warga AS terhadap presiden pada masa menjelang pemungutan suara, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana pemilih akan menentukan pilihan mereka.
Angka 31 persen juga perlu dibaca dalam konteks perubahan dukungan yang dapat memengaruhi suasana politik menjelang pemilu. Survei opini mengukur respons masyarakat pada periode tertentu dan hasilnya dapat berubah seiring perkembangan isu maupun kampanye. Karena itu, penurunan satu poin dari survei sebelumnya menjadi petunjuk arah dukungan, bukan ukuran pasti hasil pemilu. Namun, posisi persetujuan yang berada pada titik terendah selama dua masa jabatan Trump tetap menjadi temuan utama dari jajak pendapat Reuters/Ipsos ini. Menjelang 3 November, angka tersebut menambah perhatian terhadap tingkat penerimaan publik atas kinerja presiden ketika para pemilih Amerika Serikat bersiap memilih dalam pemilu paruh waktu.
Dalam pertanyaan generic ballot, pemilih terdaftar diminta menyebutkan partai yang akan mereka pilih jika pemilihan Kongres digelar pada saat survei dilakukan. Hasil terbaru menunjukkan 47% responden memilih kandidat Demokrat, sementara 35% memilih kandidat Republik. Dengan demikian, Demokrat unggul 12 poin persentase. Angka ini menggambarkan pilihan umum pemilih, bukan dukungan terhadap kandidat tertentu di setiap daerah pemilihan. Meski begitu, ukuran tersebut kerap digunakan untuk melihat arah preferensi pemilih secara nasional menjelang pemilu legislatif.
Keunggulan terbaru itu lebih besar dibandingkan hasil survei yang sama dua pekan sebelumnya. Saat itu, kandidat Demokrat dipilih oleh 44% responden, sedangkan kandidat Republik memperoleh 37%, sehingga jarak kedua partai mencapai tujuh poin persentase. Dalam periode singkat, dukungan Demokrat naik tiga poin, sementara dukungan Republik turun dua poin. Perubahan tersebut membuat selisih pada survei terbaru melebar lima poin. Berdasarkan rangkaian survei dalam siklus pemilihan kali ini, jarak 12 poin merupakan keunggulan terbesar yang tercatat sejauh ini bagi Demokrat.
Hasil generic ballot tersebut juga menjadi konteks penting bagi Partai Republik yang berupaya mempertahankan kendali atas Kongres. Jika partai itu kehilangan mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat atau Senat, kemampuan Presiden Donald Trump untuk mendorong agenda pemerintahannya dapat menghadapi hambatan lebih besar. Penguasaan salah satu kamar saja dapat memengaruhi pembahasan rancangan undang-undang, pengawasan terhadap pemerintahan, serta proses politik lain yang membutuhkan dukungan Kongres. Dampaknya berpotensi terasa terutama selama dua tahun terakhir masa jabatan Trump, ketika peluang untuk meloloskan kebijakan dapat bergantung pada komposisi kedua kamar legislatif. Namun, hasil survei nasional tidak dengan sendirinya memastikan hasil pemilu. Persaingan di tiap daerah, tingkat partisipasi, dan perubahan preferensi pemilih hingga hari pemungutan suara juga menentukan apakah keunggulan tersebut akan berujung pada perolehan kursi.
Perbedaan pilihan pemilih berdasarkan gender menjadi salah satu gambaran penting dalam survei pemilu Kongres. Di perempuan yang disurvei, sekitar 50% menyatakan akan memilih kandidat Demokrat, sedangkan 32% memilih Republik. Hasil ini menunjukkan keunggulan Demokrat yang cukup jelas di kalangan pemilih perempuan. Meski demikian, angka tersebut menggambarkan preferensi pada saat survei dilakukan dan tidak dengan sendirinya memastikan hasil pemilu mendatang, yang dapat dipengaruhi oleh perkembangan isu, kandidat, serta tingkat partisipasi pemilih.
Pemilih laki-laki juga cenderung mendukung Demokrat, tetapi jarak dukungannya terhadap Republik lebih tipis dibandingkan selisih yang terlihat pada perempuan. Sumber survei tidak merinci persentase pilihan untuk kelompok laki-laki, sehingga besarnya keunggulan tidak dapat dipastikan dari data yang tersedia. Gambaran ini memperlihatkan bahwa kecenderungan dukungan terhadap Demokrat melintasi kelompok gender, sementara perempuan menjadi kelompok dengan perbedaan pilihan yang lebih menonjol. Angka-angka tersebut memberi konteks bagi persaingan politik, tetapi tidak menjelaskan alasan setiap responden memilih partai tertentu secara individual.
Penilaian terhadap ekonomi turut membebani posisi Presiden Donald Trump. Sumber mengaitkan kenaikan harga bensin dengan serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, terhadap Iran pada Februari. Biaya bahan bakar yang meningkat disebut menambah tekanan pada keuangan rumah tangga Amerika, karena pengeluaran untuk transportasi dan kebutuhan terkait menjadi lebih berat. Sebanyak 68% warga AS menyatakan tidak menyetujui cara Trump menangani perekonomian. Ketidakpuasan itu juga muncul di kalangan pendukung Republik: 37% responden yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung partai tersebut tidak menyetujui penanganan ekonomi oleh presiden. Dalam hal pihak yang lebih dipercaya untuk mengelola perekonomian, Demokrat memperoleh 40%, dibandingkan 33% bagi Republik. Selisih ini menunjukkan Demokrat memiliki keunggulan dalam persepsi publik mengenai pengelolaan ekonomi, meskipun kedua partai belum memperoleh dukungan mayoritas pada ukuran kepercayaan tersebut. Kombinasi pilihan pemilih perempuan, kecenderungan laki-laki, dan penilaian ekonomi ini memberi latar bagi keunggulan Demokrat dalam survei pemilu Kongres, sementara kenaikan biaya hidup menjadi perhatian yang dapat memengaruhi sikap pemilih.Survei yang menjadi dasar angka dukungan tersebut dilakukan secara daring terhadap 1.679 orang dewasa di Amerika Serikat. Dari jumlah itu, 1.279 responden tercatat sebagai pemilih terdaftar. Perbedaan cakupan ini penting ketika membaca temuan: hasil untuk seluruh orang dewasa menggambarkan pandangan kelompok yang lebih luas, sedangkan angka khusus pemilih terdaftar merujuk pada kelompok yang lebih langsung terkait dengan pemilu. Karena itu, angka dari kedua kelompok tidak sebaiknya dipertukarkan atau dianggap mewakili populasi yang sama.
Margin kesalahan yang dilaporkan adalah dua poin persentase untuk seluruh responden dan tiga poin persentase untuk pemilih terdaftar. Margin ini menunjukkan tingkat ketidakpastian statistik yang perlu dipertimbangkan saat menafsirkan hasil, bukan jaminan bahwa angka sebenarnya selalu berada tepat dalam rentang tersebut. Temuan survei merupakan gambaran opini pada saat pengumpulan data; dukungan politik dapat berubah seiring perkembangan berita, kampanye, kebijakan, dan peristiwa lainnya. Hasil juga bergantung pada metode pengumpulan serta karakteristik sampel, sehingga satu angka tidak dapat diperlakukan sebagai pengukuran pasti atas pilihan setiap pemilih.
Lebih jauh, perubahan sentimen nasional yang tampak dalam survei belum tentu mencerminkan keadaan persaingan di setiap negara bagian maupun distrik kongres. Penguasaan Kongres ditentukan melalui kontestasi di berbagai daerah pemilihan, dengan kandidat, isu lokal, tingkat partisipasi, dan komposisi pemilih yang dapat berbeda secara signifikan. Oleh sebab itu, gambaran nasional dapat memberi konteks mengenai suasana politik, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan hasil di setiap perlombaan. Data yang disebutkan di sini tidak cukup untuk memastikan bagaimana persaingan lokal akan berkembang atau siapa yang akan menang. Pembacaan yang hati-hati perlu memisahkan ukuran opini nasional dari dinamika pemilu pada tingkat daerah. Survei ini sebaiknya dipahami sebagai potret opini pada waktu tertentu, dengan cakupan dan margin kesalahan yang telah dijelaskan, bukan sebagai kepastian mengenai hasil pemilu ataupun prediksi tentang penguasaan Kongres.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah
