Demokrat Jatim Dinilai Berpeluang Bangkit, Inklusivitas Jadi Sorotan

oleh -881 Dilihat
oleh
Demokrat Jatim Dinilai Berpeluang Bangkit, Inklusivitas Jadi Sorotan

Jakarta | Pengamat politik Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI), Baihaki Sirajt, menilai Partai Demokrat masih memiliki peluang untuk bangkit di Jawa Timur pada Pemilu 2029. Penilaian tersebut menempatkan provinsi ini sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius dalam persiapan partai menuju kontestasi mendatang. Peluang itu, menurut Baihaki, bukan sesuatu yang dapat diwujudkan hanya dengan mengandalkan nama besar partai atau capaian pada masa lalu. Demokrat perlu membangun kembali kekuatan politiknya melalui langkah organisasi yang terarah, konsisten, dan dekat dengan dinamika masyarakat Jawa Timur.

Salah satu faktor penting yang disoroti adalah kepengurusan DPD Demokrat Jawa Timur periode 2026–2031. Baihaki berpandangan, susunan pengurus di tingkat provinsi perlu bersifat inklusif serta diisi kader yang memiliki kualitas dan kapasitas untuk menjalankan tugas organisasi. Inklusivitas dapat membuka ruang bagi beragam latar belakang dan gagasan, sementara kader yang kompeten dibutuhkan agar rencana partai dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata. Perpaduan keduanya dinilai penting untuk memperkuat konsolidasi internal, menjaga komunikasi dengan struktur di daerah, serta merespons kebutuhan pemilih secara lebih baik. Dengan demikian, pembentukan kepengurusan menjadi bagian dari upaya menyiapkan fondasi, bukan sekadar memenuhi struktur formal.

Hingga Jumat (30/10), susunan lengkap kepengurusan DPD Demokrat Jawa Timur periode tersebut belum diumumkan. Karena itu, komposisi akhir pengurus dan sejauh mana unsur inklusivitas serta kualitas kader akan terakomodasi masih belum dapat dipastikan. Pengumuman resmi nantinya akan menjadi perhatian untuk melihat arah pembenahan organisasi yang dipilih partai. Selain memperhatikan siapa saja yang mendapat posisi, publik juga dapat menilai bagaimana pembagian tanggung jawab dan prioritas kerja disusun untuk menghadapi Pemilu 2029. Tantangan berikutnya ialah memastikan kepengurusan yang terbentuk mampu bekerja secara kolektif, memperkuat jaringan di tingkat kabupaten dan kota, serta menjaga kesinambungan program. Peluang kebangkitan yang disebut Baihaki, dengan demikian, akan bergantung pada kemampuan Demokrat membangun organisasi yang terbuka, berkualitas, dan aktif menjawab persoalan warga di seluruh Jawa Timur.

Baihaki berharap kepengurusan DPD Partai Demokrat Jawa Timur di bawah kepemimpinan Emil Elestianto Dardak dapat membuka ruang yang luas bagi seluruh kader untuk berkontribusi. Menurutnya, susunan kepengurusan dan arah kerja partai perlu memberi kesempatan kepada anggota dengan latar belakang serta pengalaman yang beragam. Dengan demikian, kemampuan kader dapat dimanfaatkan secara lebih merata, sekaligus memperkuat kerja organisasi di berbagai daerah.

Ia menilai keterbukaan bukan sekadar soal pembagian jabatan, melainkan juga tentang tersedianya ruang bagi kader untuk menyampaikan gagasan, terlibat dalam kegiatan, dan mengabdi sesuai kapasitas masing-masing. Partai yang memberi kesempatan secara adil dinilai lebih mampu menjaga semangat kader serta membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat. Karena itu, proses pengambilan keputusan dan pola pembinaan perlu dirasakan terbuka, bukan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Baihaki juga mengingatkan Demokrat agar menghindari kesan sebagai partai keluarga, yakni organisasi yang dianggap hanya menyediakan peluang bagi orang-orang dari lingkaran tertentu. Citra semacam itu, menurut pandangannya, dapat menimbulkan jarak dengan masyarakat dan membuat kader lain merasa tidak memiliki kesempatan yang setara. Ia mengaitkan perhatian tersebut dengan hasil tren survei ARCI yang menunjukkan bahwa 47,5 persen warga Jawa Timur sangat anti terhadap partai keluarga. Angka itu, katanya, patut menjadi bahan pertimbangan dalam membangun organisasi yang dipercaya publik.

Dalam pandangan Baihaki, Demokrat perlu menampilkan diri sebagai partai inklusif yang membuka peluang pengabdian bagi semua kader. Kesempatan berkontribusi semestinya bertumpu pada komitmen, kapasitas, dan kerja, bukan kedekatan dengan pusat kekuasaan atau hubungan keluarga. Sikap terbuka juga dapat membantu partai menghimpun lebih banyak aspirasi dan energi dari para anggotanya. Dengan pendekatan tersebut, kepengurusan di bawah Emil diharapkan mampu merangkul kader di berbagai tingkatan, memperkuat kebersamaan, serta menunjukkan bahwa Demokrat memberi ruang yang nyata bagi siapa pun yang ingin bekerja untuk organisasi dan masyarakat Jawa Timur.

Menurut Baihaki, upaya membesarkan Partai Demokrat di Jawa Timur membutuhkan pengurus yang memiliki komitmen kuat, bersedia berkorban, dan mau bekerja keras. Kriteria tersebut penting karena perkembangan organisasi tidak cukup ditopang oleh nama besar atau posisi formal dalam kepengurusan. Partai memerlukan orang-orang yang aktif menjalankan tugas, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menggerakkan kader hingga tingkat bawah. Tanpa keterlibatan nyata dan kerja yang konsisten, susunan pengurus yang terlihat kuat di atas kertas belum tentu menghasilkan kemajuan. Karena itu, kualitas kontribusi menjadi ukuran penting untuk menilai apakah struktur partai benar-benar mampu menjawab kebutuhan organisasi dan memperluas dukungan publik.

Baihaki juga menyoroti risiko ketika keluarga pendiri partai mendominasi posisi-posisi inti. Menurut penilaiannya, dominasi semacam itu dapat membatasi ruang bagi kader lain untuk berperan dan membuat organisasi sulit berkembang secara lebih terbuka. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kontribusi yang dinilai masih sangat minim. Jika anggota keluarga yang berada dalam struktur penting belum menunjukkan sumbangan kerja yang berarti, keberadaan mereka tidak otomatis memperkuat partai. Sebaliknya, susunan yang terlalu terkonsentrasi pada keluarga dapat menghambat regenerasi, mengurangi kesempatan munculnya kepemimpinan baru, dan menyulitkan partai menghimpun tenaga serta gagasan dari kalangan yang lebih luas.

Penilaian itu sejalan dengan pengamatan ARCI mengenai kecenderungan pemilih di Jawa Timur yang tidak menyukai politik dinasti. Sikap pemilih tersebut menjadi pertimbangan tersendiri bagi partai yang ingin memulihkan kepercayaan dan memperluas basis dukungan. Struktur yang tampak dikuasai keluarga dapat menimbulkan kesan bahwa akses terhadap jabatan dan pengambilan keputusan tidak terbuka bagi kader lain, sekalipun partai memiliki banyak anggota yang berpotensi. Dalam konteks ini, persoalannya bukan semata-mata hubungan keluarga, melainkan apakah orang-orang yang menempati posisi inti memberikan kontribusi yang jelas dan bekerja untuk kepentingan organisasi. Jika sumbangan mereka dipandang minim, dominasi keluarga berisiko semakin sulit diterima publik. Sebaliknya, pengurus yang berkomitmen, rela berkorban, dan bekerja keras dapat memperlihatkan bahwa partai memberi ruang pada kapasitas serta pengabdian, bukan hanya kedekatan. Keterbukaan semacam itu berpotensi membantu Demokrat Jawa Timur membangun kembali organisasi dan merespons keinginan pemilih secara lebih meyakinkan.

Baihaki menilai kehadiran Emil Dardak sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur dapat menjadi modal elektoral bagi partai. Posisi tersebut dinilai memberi Demokrat peluang untuk memperkuat daya tarik politiknya di tingkat daerah, terutama karena Emil memiliki pengalaman dalam pemerintahan dan dikenal oleh masyarakat Jawa Timur. Namun, potensi itu tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan dukungan ataupun kebangkitan partai.

Menurut Baihaki, figur pemimpin merupakan salah satu unsur penting dalam membangun kepercayaan publik, tetapi efektivitasnya bergantung pada kemampuan organisasi menerjemahkan kepemimpinan menjadi kerja nyata. Dukungan terhadap Emil perlu diikuti konsolidasi yang melibatkan struktur partai, komunikasi yang terbuka, serta kegiatan yang menjangkau kebutuhan warga. Dengan demikian, modal elektoral yang melekat pada ketua tidak berhenti sebagai kekuatan personal, melainkan dapat memperkuat partai secara lebih luas.

Ia juga menekankan pentingnya kader dan pengurus yang militan serta memiliki komitmen kuat. Mereka dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan kerja organisasi, menyampaikan program partai, dan membangun hubungan dengan masyarakat di berbagai wilayah. Keterlibatan kader yang konsisten dapat membantu menghubungkan popularitas atau pengalaman seorang pemimpin dengan kehadiran partai di tingkat akar rumput. Tanpa dukungan tersebut, potensi yang dimiliki seorang ketua dapat sulit berkembang menjadi kekuatan organisasi yang berkelanjutan.

Penilaian Baihaki menempatkan kepemimpinan Emil.

Baca juga: BRI Pare Perkuat UMKM KUB Putra Harinjing Bangkit melalui Program BRI Peduli | Revit Sekolah Nganjuk Diwarnai Sorotan, Ketidaksesuaian Pekerjaan hingga Pengawasan Dipertanyakan