BNPB Siagakan Wilayah Pesisir Hadapi Ancaman Rob dan Bencana Hidrometeorologi

oleh -41 Dilihat
BNPB Siagakan Wilayah Pesisir Hadapi Ancaman Rob dan Bencana Hidrometeorologi

Kabupaten Deli Serdang | BNPB mengimbau masyarakat di wilayah pesisir meningkatkan kesiapsiagaan memasuki musim hujan, khususnya terhadap potensi banjir pesisir atau rob. Kewaspadaan diperlukan karena genangan air laut dapat mengganggu aktivitas warga, merendam permukiman, dan berdampak pada akses transportasi maupun layanan dasar. Masyarakat diminta memperhatikan informasi resmi mengenai cuaca, kondisi laut, serta peringatan dini dari pemerintah dan lembaga terkait. Warga yang tinggal di kawasan rawan juga perlu mengetahui jalur evakuasi dan menyiapkan langkah yang dapat dilakukan apabila kondisi memburuk.

Arahan kesiapsiagaan dan peringatan dini tersebut tercantum dalam surat Direktur Peringatan Dini BNPB bernomor B-79/BNPB/PDIN/BP.03.02/10/2026, tertanggal 22 Oktober 2026. Surat itu menyebut sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, yakni fase bulan purnama pada 26 Oktober 2026 dan fase perigee pada 29 Oktober 2026, disertai dinamika oseanografi. Kombinasi faktor tersebut dapat memengaruhi kondisi pasang air laut dan meningkatkan risiko banjir pesisir di sejumlah lokasi. Karena keadaan setempat dapat berbeda, pemantauan informasi terbaru tetap penting, terutama bagi masyarakat yang bermukim dekat pantai atau kawasan rendah.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa potensi ancaman mencakup wilayah pesisir di 15 provinsi. Daerah yang disebutkan meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku. Sebaran tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan lintas daerah, tanpa menganggap semua lokasi akan mengalami dampak dengan tingkat yang sama.

BNPB mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk saling menyebarkan informasi resmi, memperhatikan perkembangan pasang laut, serta menindaklanjuti peringatan sesuai arahan setempat. Warga sebaiknya mengamankan barang penting, menjaga saluran air di sekitar rumah tetap berfungsi, dan menghindari aktivitas di kawasan pesisir apabila dinilai berbahaya. Apabila air mulai menggenangi lingkungan, keselamatan jiwa perlu diutamakan dengan mengikuti petunjuk petugas dan berpindah ke tempat yang lebih aman bila diperlukan. Kesiapsiagaan sejak dini membantu mengurangi risiko dan mendukung respons yang tertib ketika ancaman rob terjadi.

BNPB mengimbau warga di kawasan pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan ketika pasang maksimum berpotensi memicu banjir rob. Masyarakat sebaiknya membatasi kegiatan di pantai pada periode tersebut, terutama aktivitas yang menempatkan mereka dekat garis air atau kawasan yang mudah tergenang. Warga juga perlu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan resmi sebelum beraktivitas. Jika gelombang tinggi dapat membahayakan keselamatan, nelayan dianjurkan menunda melaut dan tidak memaksakan perjalanan. Keputusan untuk tetap berada di darat dapat mencegah kecelakaan serta mengurangi risiko kehilangan peralatan maupun korban jiwa.

Selain menjaga keselamatan diri, warga perlu mengamankan perahu, alat tangkap, kendaraan, dan barang berharga lain dari jangkauan air. Perahu dapat dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi atau ditambatkan dengan kuat sesuai kondisi setempat. Dokumen penting dan kebutuhan dasar sebaiknya disimpan di lokasi yang mudah dibawa apabila evakuasi diperlukan. Warga yang tinggal di area rawan juga perlu mengetahui jalur menuju tempat aman, mengikuti arahan petugas, serta membantu anggota keluarga yang membutuhkan dukungan, termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Pemerintah daerah diminta mengoptimalkan pemantauan informasi dan prakiraan dari BMKG agar perkembangan pasang, gelombang, hujan, serta potensi cuaca ekstrem dapat diantisipasi. Pemeriksaan kesiapan tempat pengungsian perlu dilakukan, termasuk memastikan akses, kebersihan, ketersediaan air, dan kebutuhan dasar. Upaya pencegahan juga mencakup pembersihan drainase pesisir dari sampah atau endapan yang menghambat aliran air, serta pemeriksaan dan pengamanan tanggul pantai. Langkah tersebut membantu menjaga fungsi infrastruktur dan mengurangi kemungkinan genangan meluas ketika air laut pasang bersamaan dengan hujan.

Daerah juga perlu menyiapkan personel, peralatan, transportasi, dan logistik untuk mendukung evakuasi apabila situasi memburuk. BNPB menekankan pentingnya koordinasi yang berkelanjutan pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat. Pembagian tugas serta penyampaian informasi yang jelas dapat mempercepat respons, menghindari kebingungan, dan memastikan bantuan mencapai warga yang membutuhkan. Karena bencana hidrometeorologi dapat terjadi sewaktu-waktu, kesiapsiagaan harus dipelihara sebelum ancaman muncul, bukan hanya saat dampak mulai dirasakan. Kerja sama semua pihak menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko dan membatasi dampak bencana di wilayah pesisir.

Data BNPB per Jumat, 30 Oktober 2026, mencatat total kejadian bencana di Indonesia mencapai 2.247. Kenaikan jumlah tersebut didominasi bencana hidrometeorologi, yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan air. Dalam laporan terbaru, terdapat tambahan enam kejadian banjir di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ancaman bencana masih tersebar di berbagai wilayah dan memerlukan pemantauan serta kesiapsiagaan berkelanjutan.

Di Sumatra Utara, banjir berdampak pada warga di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan. Berton menyebut bahwa di Kabupaten Deli Serdang, sebanyak 7.615 kepala keluarga terdampak, sementara 7.327 rumah terendam. Dampak di wilayah perkotaan juga tercatat di Kota Medan, dengan 2.405 kepala keluarga terdampak. Angka tersebut menggambarkan skala gangguan yang dialami masyarakat, termasuk rumah yang kemasukan air dan kebutuhan untuk memperhatikan keselamatan serta kondisi lingkungan sekitar.

Selain Sumatra Utara, Aceh menghadapi potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan status siaga. Peringatan ini penting menjadi perhatian warga, terutama di daerah yang rentan terhadap banjir, genangan, maupun dampak cuaca lainnya. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dan arahan pemerintah setempat, serta meningkatkan kewaspadaan apabila hujan berlangsung terus-menerus. Kondisi setempat dapat berubah, sehingga perkembangan cuaca perlu dipantau secara berkala melalui kanal informasi yang dapat dipercaya.

Ancaman cuaca juga berpotensi dirasakan sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Potensi tersebut dipengaruhi dampak tidak langsung bibit siklon tropis 91B yang berada di Laut Andaman. Meski dampaknya tidak langsung, sistem ini dapat memengaruhi kondisi atmosfer dan meningkatkan risiko cuaca buruk di sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat perlu memperhatikan peringatan dini, menyiapkan langkah pengurangan risiko, serta menghindari aktivitas di lokasi yang rawan terdampak ketika cuaca memburuk. Kesiapsiagaan menjadi penting seiring meningkatnya kejadian hidrometeorologi, termasuk banjir dan cuaca ekstrem, di berbagai daerah di Indonesia.

BNPB mengimbau masyarakat untuk menyiapkan langkah pencegahan banjir sebelum hujan deras dan genangan terjadi. Warga dapat bergotong royong membersihkan saluran air, selokan, dan lingkungan sekitar agar aliran air tidak tersumbat sampah atau endapan. Kegiatan susur sungai juga dapat membantu mengenali kondisi aliran dan titik rawan, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan petugas BPBD serta memperhatikan keselamatan peserta. Setiap keluarga perlu mengetahui jalur evakuasi yang aman, lokasi pengungsian, dan cara mencapai tempat tersebut. Pemeriksaan infrastruktur bendungan serta sarana pengendali air perlu dilakukan oleh pihak berwenang secara berkala, sementara warga sebaiknya melaporkan kerusakan atau kondisi yang mencurigakan. Selain itu, siapkan tas siaga berisi kebutuhan darurat untuk sekurang-kurangnya tiga hari, termasuk air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, pakaian, dokumen penting, senter, baterai, dan perlengkapan komunikasi. Simpan tas di tempat yang mudah dijangkau dan pastikan anggota keluarga memahami penggunaannya.

Untuk mengurangi risiko akibat angin kencang atau puting beliung, masyarakat dianjurkan memperkuat struktur atap dan memeriksa bagian rumah yang mudah terlepas. Ranting pohon yang rimbun atau rapuh sebaiknya dipangkas secara aman sebelum cuaca memburuk.

Baca juga: Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api | Ciptakan Wilayah Aman, Babinsa Pererat Komsos dengan Warga | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla