Jakarta | Hasil survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukkan Dedi Mulyadi memimpin simulasi elektabilitas calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2029, dengan perolehan sebesar 21 persen. Angka ini menempatkan politikus tersebut pada urutan teratas dalam skenario yang diuji lembaga itu. Temuan itu dipaparkan Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno saat peluncuran survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta pada Minggu. Survei tersebut memberikan gambaran awal mengenai preferensi responden terhadap sejumlah nama yang berpotensi dipertimbangkan sebagai pendamping presiden pada kontestasi mendatang, meski pemilihan masih berjarak beberapa tahun.
Dalam simulasi yang sama, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh elektabilitas 14,2 persen. Dengan demikian, angka Dedi terpaut 6,8 poin persentase dari Gibran. Perbedaan itu menempatkan Dedi di atas petahana wakil presiden dalam daftar kandidat yang disimulasikan PPI. Hasil tersebut menunjukkan bahwa, pada saat survei dilakukan, nama Dedi mendapat dukungan lebih besar dari responden untuk posisi calon wakil presiden dibandingkan nama Gibran. Namun, angka itu menggambarkan pilihan dalam suatu simulasi survei, bukan kepastian mengenai pasangan calon yang akan maju atau hasil pemilihan pada 2029.
Peluncuran survei nasional tersebut menyoroti evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran sekaligus memuat simulasi mengenai dinamika kandidat untuk pemilu berikutnya. Posisi Dedi dalam simulasi cawapres menjadi salah satu temuan yang menarik perhatian karena ia unggul atas Gibran dalam perolehan yang disampaikan PPI. Meski demikian, elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan politik, pembentukan koalisi, serta pengenalan publik terhadap para tokoh. Karena itu, angka 21 persen sebaiknya dibaca sebagai potret preferensi responden pada periode survei, bukan sebagai proyeksi tetap. Informasi yang dipaparkan Adi Prayitno menyediakan titik awal untuk mengamati bagaimana dukungan terhadap nama-nama potensial berkembang menjelang Pilpres 2029.
Selain nama yang memperoleh angka tertinggi dalam simulasi elektabilitas calon wakil presiden 2029, survei PPI juga mencatat sejumlah tokoh dengan persentase pilihan yang beragam. Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 7,1 persen, sementara Anies Baswedan tercatat sebesar 7 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperoleh 4,8 persen dan Mahfud MD meraih 4,4 persen.
Dalam hasil yang sama, Sherly Tjoanda tercatat memperoleh 3,2 persen dan Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, sebesar 3,1 persen. Ganjar Pranowo memperoleh 2,6 persen. Adapun Teddy Indra Wijaya tercatat sebesar 1,4 persen. Muhaimin Iskandar dan Kaesang Pangarep masing-masing memperoleh 0,9 persen.
Nama lain yang tercantum dalam hasil survei meliputi Susi Pudjiastuti dengan 0,8 persen. Anis Matta dan Zulkifli Hasan masing-masing memperoleh 0,7 persen, sedangkan Bahlil Lahadalia mendapat 0,5 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan persentase responden yang memilih tiap nama dalam simulasi, sesuai pencatatan survei PPI.
Sejumlah tokoh lainnya memperoleh persentase yang sama, yakni 0,1 persen. Mereka adalah Andi Amran Sulaiman, Raffi Ahmad, Sudaryono, Erick Thohir, Emil Dardak, dan Rieke Diah Pitaloka. Hasil untuk setiap nama ini disampaikan secara terpisah, dengan masing-masing tercatat pada tingkat pilihan responden sebesar 0,1 persen.
Di luar pilihan terhadap nama-nama yang disebutkan, survei juga mencatat responden yang memilih tokoh lain dan mereka yang tidak memberikan jawaban. Sebanyak 3,5 persen responden memilih nama lain, sementara 20,8 persen tidak menjawab. Kedua angka tersebut merupakan bagian dari hasil simulasi elektabilitas yang perlu dibaca bersama perolehan setiap tokoh, sehingga keseluruhan gambaran pilihan responden dapat dipahami tanpa mengabaikan jawaban di luar daftar nama utama.
Survei PPI mencatat tingkat pengenalan publik yang tinggi terhadap sejumlah tokoh politik nasional. Prabowo Subianto berada di posisi teratas, dengan 96,8 persen responden menyatakan mengenalnya. Gibran Rakabuming Raka menyusul dengan 93,8 persen, kemudian Anies Baswedan sebesar 90,9 persen. Ganjar Pranowo memperoleh angka 85,8 persen, sementara Dedi Mulyadi tercatat dikenal oleh 84,3 persen responden. Data ini menggambarkan seberapa luas nama-nama tersebut dikenali oleh peserta survei, bukan pilihan mereka dalam pemilihan wakil presiden.
Perbedaan pengenalan dan elektabilitas penting untuk diperhatikan ketika membaca hasil survei. Tingkat pengenalan menunjukkan bahwa responden mengetahui atau mengenal seorang tokoh, sedangkan simulasi elektabilitas mengukur dukungan terhadap tokoh dalam skenario pilihan tertentu. Karena itu, posisi teratas dalam daftar pengenalan tidak dengan sendirinya berarti tokoh tersebut juga menempati posisi teratas dalam simulasi elektabilitas cawapres. Kedua ukuran tersebut menjawab pertanyaan yang berbeda dan perlu dibaca sesuai konteksnya.
Dalam simulasi cawapres yang menjadi perhatian survei ini, Dedi Mulyadi disebut memimpin, meskipun tingkat pengenalannya berada di bawah beberapa tokoh lain dalam daftar. Perbandingan terbatas ini memperlihatkan bahwa urutan pengenalan publik dan urutan dukungan dalam simulasi tidak selalu sama. Namun, angka pengenalan saja tidak menjelaskan alasan seorang tokoh memperoleh dukungan lebih tinggi atau lebih rendah. Survei yang tersedia di sini tidak memberikan dasar untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat kedua hasil tersebut. Pembaca sebaiknya memisahkan persentase pengenalan dari hasil simulasi, serta tidak menganggap salah satunya sebagai pengganti ukuran yang lain. Dengan demikian, posisi Prabowo, Gibran, Anies, Ganjar, dan Dedi pada daftar pengenalan memberi konteks tentang jangkauan nama mereka, sementara hasil simulasi cawapres mencerminkan ukuran dukungan dalam pertanyaan survei yang berbeda. Keduanya melengkapi gambaran, tetapi tidak dapat disamakan begitu saja.
Hasil survei elektabilitas perlu dibaca sebagai potret preferensi responden pada saat data dikumpulkan. Angka yang muncul menggambarkan pilihan atau kecenderungan yang tercatat dalam konteks tersebut, bukan ukuran tetap yang menjamin posisi seorang tokoh akan bertahan hingga pemilihan presiden mendatang. Karena itu, simulasi elektabilitas cawapres 2029 yang menempatkan sejumlah nama dalam perbandingan memberi gambaran mengenai respons saat survei berlangsung, tetapi tidak menetapkan siapa yang kelak akan menjadi calon ataupun memperoleh dukungan terbesar.
Pandangan publik dapat bergerak seiring perubahan situasi politik. Perkembangan isu, rekam jejak dan aktivitas para tokoh, respons terhadap kebijakan, serta dinamika hubungan antarkekuatan politik dapat memengaruhi penilaian masyarakat. Selain itu, proses pencalonan masih dapat menghadirkan perubahan: tokoh yang kini diperbincangkan belum tentu maju, sementara nama lain mungkin mendapat perhatian lebih besar pada tahap berikutnya. Dengan demikian, posisi dalam survei saat ini sebaiknya dipahami secara proporsional dan tidak disamakan dengan hasil akhir kontestasi.
Dalam membaca temuan tersebut, penting untuk membedakan preferensi yang tercatat dan kepastian politik di masa depan. Survei dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat bagaimana responden menilai pilihan yang tersedia pada saat pengumpulan data, tetapi hasilnya tidak dapat memastikan komposisi pasangan calon maupun hasil Pilpres 2029. Elektabilitas para tokoh masih mungkin berubah mengikuti perkembangan politik dan dinamika pencalonan menjelang pemilu. Oleh sebab itu, angka yang disampaikan lebih tepat diperlakukan sebagai gambaran sementara, bukan prediksi pasti mengenai siapa yang akan terpilih atau seberapa besar dukungan yang akan diperoleh ketika pemungutan suara berlangsung.
