Dari Bijih Nikel ke Baterai, Hilirisasi Dinilai Mengubah Arah Ekonomi Indonesia

oleh -61 Dilihat
oleh
Dari Bijih Nikel ke Baterai, Hilirisasi Dinilai Mengubah Arah Ekonomi Indonesia

Jakarta | Hilirisasi pertambangan Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang dinilai berjalan baik oleh Komisi XII DPR. Perubahan ini terlihat dari arah pengolahan mineral yang tidak lagi berhenti pada penjualan bahan mentah. Sejumlah komoditas kini diproses lebih lanjut di dalam negeri, menghasilkan produk setengah jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan menjadi bahan bagi kegiatan industri berikutnya.

Perjalanan tersebut mencerminkan upaya membangun rantai produksi yang lebih lengkap, khususnya pada sektor nikel. Dari bijih yang ditambang, pengolahan berkembang menuju produk yang dibutuhkan industri, sebelum memasuki tahap produksi komponen dan baterai kendaraan listrik. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya menyangkut pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga keterhubungan pertambangan, manufaktur, dan kebutuhan energi masa depan.

Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi Golkar, Bambang Patijaya, menyebut perkembangan itu sebagai pengubah peta permainan bagi perekonomian dan kemandirian energi Indonesia. Pandangan tersebut menempatkan pengolahan lanjutan sebagai peluang untuk memperkuat nilai ekonomi yang tinggal di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas dalam bentuk mentah. Produksi baterai juga membuka kemungkinan bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam industri kendaraan listrik.

Bambang menyampaikan pandangannya dalam acara coffee morning bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?” pada Kamis, 29 Oktober 2026. Forum itu mengangkat perkembangan industri tambang dan kemajuan hilirisasi sebagai bagian dari pembahasan mengenai penguatan sektor tersebut. Penilaian bahwa prosesnya mulai berjalan baik menunjukkan adanya kemajuan, meskipun keberlanjutan hasilnya tetap bergantung pada kemampuan menjaga kesinambungan investasi dan memperluas tahapan produksi di dalam negeri.

Pergeseran dari bijih nikel menuju bahan setengah jadi hingga baterai memperlihatkan perubahan orientasi ekonomi: sumber daya mineral diharapkan menjadi dasar bagi kegiatan industri dengan nilai tambah lebih besar. Arah ini juga berkaitan dengan agenda kemandirian energi, karena baterai merupakan unsur penting dalam ekosistem kendaraan listrik. Sejauh mana peluang itu dapat diwujudkan akan ditentukan oleh kemampuan mengembangkan rantai pasok, kapasitas pengolahan, serta keterhubungan antarpelaku industri. Karena itu, capaian hilirisasi perlu dinilai tidak hanya dari bertambahnya fasilitas, tetapi juga dari manfaat ekonomi dan industri yang tercipta secara berkelanjutan.Contoh perubahan nilai pasar yang disampaikan Bambang terlihat pada nikel limonit, jenis bijih nikel berkadar rendah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai. Sekitar sepuluh tahun lalu, material ini belum banyak diminati dan kerap dipandang kurang bernilai dibandingkan bijih dengan kadar lebih tinggi. Namun, perkembangan teknologi pengolahan dan meningkatnya kebutuhan bahan untuk baterai telah mengubah posisi limonit. Kini, bahan yang sebelumnya kurang dilirik tersebut dicari karena dapat masuk ke rantai pasok produk yang dibutuhkan pasar. Perubahan ini menunjukkan bahwa nilai suatu sumber daya tidak selalu tetap, melainkan dapat meningkat ketika teknologi dan permintaan berkembang.

Menurut Bambang, perubahan tersebut berkaitan dengan tumbuhnya pasar baterai dan terbukanya cara untuk mengolah bijih berkadar rendah. Limonit tidak lagi hanya dipahami sebagai material yang sulit bersaing dalam pemanfaatan konvensional. Dengan proses pengolahan yang sesuai, bahan itu dapat menjadi bagian dari produksi material untuk baterai. Artinya, peluang ekonomi tidak semata-mata ditentukan oleh kadar bijih saat ditambang, tetapi juga oleh kemampuan industri mengubahnya menjadi bahan yang memiliki fungsi dan nilai lebih tinggi. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana perubahan kebutuhan industri dapat menciptakan permintaan baru atas sumber daya yang sebelumnya kurang diperhitungkan.

Karena itu, hilirisasi nikel tidak terbatas pada pembangunan fasilitas peleburan atau smelting. Pengolahan dapat diteruskan ke tahapan berikutnya, termasuk pengembangan produk turunan seperti bahan baterai hingga baterai itu sendiri. Perluasan rantai produksi tersebut membuka ruang bagi nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri, sekaligus menghubungkan sektor pertambangan dengan industri manufaktur dan pasar teknologi. Bambang menilai perluasan pengolahan inilah yang dapat menjadi game changer: bukan hanya mengolah bijih menjadi logam, melainkan memperluas ragam produk dan pemanfaatannya. Pengalaman nikel limonit menjadi ilustrasi bahwa hilirisasi dapat mengubah bahan yang dahulu kurang diminati menjadi komoditas yang dicari, seiring berkembangnya pasar dan kapasitas industri nasional.

Perkembangan teknologi baterai dinilai dapat mengubah pertimbangan masyarakat ketika memilih kendaraan. Bambang memandang bahwa kemajuan tersebut berpotensi mendorong pergeseran dari kendaraan bermesin pembakaran yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) menuju kendaraan listrik berbasis baterai. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi kendaraan, tetapi juga dengan sumber energi yang digunakan dalam kegiatan transportasi. Jika pilihan kendaraan listrik semakin luas dan sesuai kebutuhan, masyarakat memiliki alternatif selain kendaraan yang bergantung pada BBM.

Pergeseran itu juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM, yang pasokannya masih didominasi impor. Kendaraan listrik menggunakan energi listrik, sehingga sumber energinya dapat berasal dari dalam negeri, bergantung pada kapasitas pembangkitan dan sistem penyediaannya. Dalam pandangan ini, pengembangan baterai dan kendaraan listrik dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi, sekaligus menghubungkan pemanfaatan sumber daya domestik dengan kebutuhan mobilitas. Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis. Ketersediaan infrastruktur pengisian, pasokan listrik, harga kendaraan, dan kesiapan rantai pasok tetap berpengaruh terhadap seberapa cepat masyarakat beralih.

Indonesia telah memiliki baterai berbasis nikel, sejalan dengan pengembangan industri yang memanfaatkan sumber daya mineral dalam negeri. Keberadaan kemampuan tersebut merupakan modal penting bagi penguatan ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Meski demikian, Bambang menilai pengembangan baterai berbasis litium juga perlu didorong. Pasokan litium untuk kebutuhan tersebut masih melalui impor, sehingga pengembangan teknologi dan rantai pasoknya menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Kedua jenis baterai itu dapat dipandang sebagai bagian dari pilihan teknologi yang perlu dikembangkan secara proporsional, bukan sebagai jalan yang saling meniadakan. Dengan memperluas kemampuan pada baterai nikel maupun litium, Indonesia berpeluang membangun kapasitas industri yang lebih beragam. Pada akhirnya, dampak hilirisasi akan bergantung pada kemampuan mengolah sumber daya, mengembangkan teknologi, dan memastikan produk baterai dapat mendukung pilihan kendaraan yang terjangkau serta pasokan energi yang andal bagi masyarakat.

Bambang menyampaikan bahwa pengembangan baterai berbasis litium di Indonesia terus berlangsung seiring meningkatnya permintaan terhadap kendaraan listrik. Perkembangan kebutuhan tersebut menjadi konteks penting bagi upaya membangun kegiatan industri yang tidak berhenti pada pengolahan bahan tambang, tetapi juga bergerak menuju produk yang berkaitan dengan penggunaan energi dan mobilitas. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa proses pengembangan itu sudah memasuki tahap produksi. Dengan demikian, pembahasan mengenai baterai tidak hanya berkisar pada rencana atau potensi, melainkan juga mencakup kegiatan produksi yang mulai berjalan di dalam negeri.

Kapasitas produksi yang disebut Bambang setara dengan kebutuhan baterai untuk 100.000 mobil listrik per tahun. Angka tersebut memberi gambaran mengenai skala kapasitas yang telah berjalan, tanpa perlu ditafsirkan sebagai ukuran seluruh kebutuhan pasar atau keseluruhan kemampuan industri nasional. Ia tidak menguraikan rincian tambahan mengenai fasilitas, tahapan produksi, maupun komponen yang digunakan. Karena itu, keterangan yang tersedia menjadi penanda bahwa pengembangan baterai litium telah bergerak ke tahap operasional, sementara informasi mengenai aspek teknis dan perkembangan berikutnya tidak dapat disimpulkan dari pernyataan tersebut. Yang ditekankan adalah berlangsungnya produksi dengan kapasitas setara itu, di tengah permintaan kendaraan listrik yang terus meningkat.

Bambang juga melihat hilirisasi sebagai proses yang berkembang di berbagai bidang, baik pertambangan maupun industri lainnya. Namun, kemajuan setiap sektor tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama.

Baca juga: Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko | Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni