Dampak Krisis Iklim pada Pangan dan Penghasilan Harian di Indonesia

oleh -72 Dilihat
oleh
Dampak Krisis Iklim pada Pangan dan Penghasilan Harian di Indonesia

Jakarta | Greenpeace Indonesia menilai krisis iklim telah berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, bukan hanya menghadirkan risiko yang mungkin dirasakan pada masa depan. Dampak itu lain tampak pada naiknya harga bahan pangan dan terganggunya penghasilan pekerja harian. Penilaian tersebut menempatkan krisis iklim sebagai persoalan yang sudah hadir dalam keseharian, dengan konsekuensi yang dapat dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan dan upaya menjaga penghasilan. Karena itu, pembahasan mengenai iklim tidak cukup dibatasi pada proyeksi jangka panjang atau perubahan lingkungan secara umum. Pengalaman masyarakat saat ini juga perlu diperhatikan ketika menilai luas dan urgensi dampaknya.

Kenaikan harga bahan pangan memberi gambaran tentang bagaimana krisis iklim berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ketika harga meningkat, masyarakat menghadapi perubahan pada biaya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pada saat yang sama, terganggunya penghasilan pekerja harian dapat membuat kemampuan untuk menghadapi perubahan tersebut semakin rentan. Kedua hal ini menunjukkan bahwa dampak iklim tidak berdiri sendiri sebagai isu lingkungan, melainkan bersinggungan dengan kondisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Penekanan pada hubungan tersebut penting agar dampaknya dipahami melalui pengalaman nyata, bukan semata-mata sebagai kemungkinan yang masih jauh.

Dengan demikian, krisis iklim patut dipandang sebagai persoalan yang telah memengaruhi masyarakat sekarang. Naiknya harga bahan pangan dan terganggunya penghasilan pekerja harian merupakan tanda bahwa perubahan iklim berkaitan dengan kebutuhan dasar serta kestabilan pendapatan. Pengakuan atas dampak yang telah berlangsung membantu mengarahkan perhatian pada masyarakat yang merasakannya, sekaligus mendorong pembahasan yang lebih peka terhadap konsekuensi sosial dan ekonomi. Pernyataan bahwa dampak ini bukan sekadar ancaman bagi masa depan juga mengingatkan bahwa respons tidak seharusnya menunggu hingga risiko semakin besar. Memahami kenyataan hari ini merupakan langkah penting untuk menilai urgensi krisis iklim di Indonesia.

Pada Selasa (20/10/2026), Greenpeace Indonesia menggelar aksi pembentangan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Peristiwa ini menjadi bagian dari upaya organisasi tersebut untuk mengangkat perhatian terhadap krisis iklim serta konsekuensinya bagi kehidupan masyarakat. Informasi mengenai aksi ini penting dicatat dalam pembahasan tentang pangan dan penghasilan harian, karena perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga dapat berhubungan dengan kebutuhan dasar dan sumber nafkah. Greenpeace Indonesia menyebut aksi itu sebagai salah satu alasan untuk menyoroti dampak tersebut.

Krisis iklim dapat memberi tekanan pada sistem pangan melalui gangguan terhadap kegiatan produksi, distribusi, dan akses masyarakat terhadap bahan pangan. Perubahan cuaca dan kejadian ekstrem berpotensi memengaruhi lahan serta aktivitas para pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor-sektor terkait pangan. Dampak yang dirasakan tidak selalu sama; tingkat kerentanan dapat berbeda menurut pekerjaan, lokasi, dan kemampuan rumah tangga untuk menghadapi perubahan. Ketika sumber penghasilan terganggu atau kebutuhan pangan menjadi lebih sulit dipenuhi, keluarga dengan pendapatan harian dapat menghadapi pilihan yang semakin terbatas. Karena itu, pembicaraan mengenai iklim juga perlu mempertimbangkan pengalaman sehari-hari masyarakat, bukan semata-mata perubahan kondisi alam.

Aksi di Bundaran HI tersebut memberi konteks bagi perhatian Greenpeace Indonesia terhadap hubungan krisis iklim, pangan, dan penghidupan. Namun, keterangan yang tersedia hanya menyebut lokasi dan waktu pelaksanaan serta alasan umum organisasi dalam menyoroti persoalan itu. Tidak ada informasi yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan isi spanduk, jumlah peserta, atau rincian lain mengenai jalannya aksi. Pembatasan ini penting agar pemberitaan tetap membedakan fakta yang diketahui dari penafsiran. Dengan menempatkan aksi tersebut sebagai salah satu pemicu perhatian pada dampak sosial krisis iklim, pembahasan dapat diarahkan pada persoalan yang lebih luas: bagaimana risiko iklim berkaitan dengan akses pangan dan kestabilan penghasilan bagi masyarakat Indonesia, terutama mereka yang bergantung pada pemasukan dari hari ke hari.

Temuan riset Greenpeace Indonesia menempatkan krisis iklim sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga bahan pangan. Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim organisasi tersebut, menjelaskan bahwa dampaknya terasa melalui perubahan kondisi produksi pangan, baik di darat maupun di laut. Tekanan terhadap hasil panen dan tangkapan dapat memengaruhi jumlah pangan yang tersedia di pasar. Namun, kenaikan harga tidak disebabkan oleh krisis iklim semata. Berbagai faktor lain, seperti biaya produksi, distribusi, dan kondisi pasar, juga dapat berperan. Karena itu, perubahan iklim perlu dipahami sebagai bagian dari rangkaian risiko yang memengaruhi ketahanan pasokan serta keterjangkauan pangan bagi masyarakat.

Bagi petani, pola cuaca yang berubah membuat waktu dan kondisi untuk menanam semakin sulit diperkirakan. Hujan yang datang terlambat, musim kering berkepanjangan, atau curah hujan berlebihan dapat mengganggu jadwal tanam dan pertumbuhan tanaman. Ketika kebutuhan air tidak terpenuhi, tanaman berisiko mengalami kekeringan; sebaliknya, hujan ekstrem dan banjir dapat merusak lahan maupun hasil yang siap dipanen. Situasi tersebut meningkatkan kemungkinan gagal tanam ataupun gagal panen, terutama ketika petani tidak memiliki akses memadai terhadap irigasi, informasi cuaca, benih yang sesuai, dan perlindungan finansial. Hasil produksi yang menurun atau tidak menentu dapat mengurangi pendapatan petani sekaligus membatasi jumlah komoditas yang masuk ke rantai pasok.

Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan nelayan. Kenaikan suhu permukaan laut dapat mengubah kondisi ekosistem dan sebaran ikan, sehingga lokasi maupun jumlah tangkapan menjadi lebih sulit dipastikan. Cuaca laut yang semakin tidak menentu turut memengaruhi keselamatan dan kesempatan melaut. Jika hasil tangkapan berkurang, pendapatan harian nelayan dapat tertekan, sementara pasokan ikan untuk konsumen dan pelaku usaha ikut menghadapi ketidakpastian. Ketika gangguan di sektor pertanian dan perikanan terjadi bersamaan, ketersediaan bahan pangan di berbagai wilayah berpotensi terganggu. Dampaknya terhadap harga bergantung pula pada kemampuan penyimpanan, kelancaran distribusi, serta respons pasar. Penjelasan ini menunjukkan pentingnya upaya adaptasi dan perlindungan bagi produsen pangan, agar risiko iklim tidak semakin memperbesar tekanan terhadap pasokan dan penghidupan masyarakat.Ketika krisis iklim mengganggu produksi pangan, pasokan yang tersedia di pasar berpotensi berkurang. Perubahan pola hujan, suhu yang meningkat, maupun cuaca ekstrem dapat memengaruhi kegiatan pertanian dan hasil panen. Dampaknya tidak selalu terlihat sekaligus, tetapi risiko terhadap ketersediaan bahan pangan dapat muncul sepanjang proses produksi dan distribusi. Dalam keadaan demikian, kebutuhan masyarakat yang tetap tinggi berhadapan dengan jumlah barang yang mungkin lebih terbatas.

Ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan dapat mendorong harga di pasar naik. Apabila barang yang tersedia menyusut sementara masyarakat tetap memerlukan pangan dalam jumlah besar, persaingan untuk memperoleh komoditas tersebut dapat meningkat. Perubahan harga kemudian dirasakan langsung oleh rumah tangga, terutama ketika pengeluaran untuk kebutuhan pokok mengambil porsi penting dari pendapatan harian. Bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas atau tidak menentu, kenaikan harga dapat membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari semakin berat.

Tekanan harga juga perlu dipahami sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas, bukan semata-mata perubahan angka jual di pasar. Selama faktor yang mengancam keberlanjutan produksi pangan masih ada, risiko gangguan pasokan dapat terus membayangi masyarakat. Karena itu, pembahasan mengenai harga penting ditempatkan bersama perhatian terhadap penyebab yang membuat pangan rentan tersedia dalam jumlah lebih sedikit. Penjelasan tersebut disampaikan Jeanny dalam program Siang di TV pada Kamis (22/10/2026). Jeanny berpandangan bahwa pemerintah perlu menangani akar persoalan melalui upaya penanggulangan krisis iklim, bukan hanya berfokus pada pengendalian harga.