Bentrok Saat Peringatan Maulid di Pidie, Satu Warga Meninggal dan 19 Orang Terluka

oleh
Bentrok Saat Peringatan Maulid di Pidie, Satu Warga Meninggal dan 19 Orang Terluka

Kabupaten Pidie | Bentrokan terjadi saat peringatan Maulid di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Rabu (4/11/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan 19 orang lainnya terluka. Dari jumlah korban luka itu, 13 orang merupakan warga, sedangkan enam lainnya adalah personel TNI. Informasi mengenai jumlah korban disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono melalui keterangan tertulis pada Kamis (5/11/2026).

Data tersebut menggambarkan dampak bentrokan yang berlangsung di lokasi kegiatan peringatan Maulid tersebut. Satu warga dilaporkan meninggal dunia, sementara belasan warga dan sejumlah personel TNI tercatat mengalami luka. Dengan demikian, keseluruhan korban dalam peristiwa itu berjumlah 20 orang, terdiri atas satu korban meninggal dan 19 korban luka. Rincian mengenai korban luka yang disampaikan dalam keterangan tersebut terbatas pada jumlah serta kelompoknya, yakni warga dan personel TNI.

Keterangan tertulis dari Kepala Dinas Penerangan TNI AD menjadi sumber informasi mengenai angka korban yang diketahui hingga Kamis (5/11/2026). Lokasi kejadian disebut berada di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Peristiwa berlangsung sehari sebelumnya, bertepatan dengan peringatan Maulid. Informasi yang disampaikan mencatat adanya bentrokan, satu warga meninggal dunia, serta 19 orang mengalami luka-luka. Jumlah itu mencakup 13 warga dan enam personel TNI, tanpa rincian tambahan mengenai kondisi para korban.

Warga yang meninggal dunia dalam bentrokan saat peringatan Maulid di Kabupaten Pidie bernama Abzalul Riza. Ia tercatat sebagai warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Informasi mengenai identitas tersebut sekaligus menjelaskan asal desa dan kecamatan korban yang meninggal dalam peristiwa yang juga menyebabkan sejumlah warga mengalami luka-luka.

Jenazah Abzalul Riza dimakamkan pada Kamis (5/11/2026) pukul 01.00 WIB. Pemakaman berlangsung di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Prosesi pemakaman dilakukan di wilayah kecamatan tempat korban berasal. Keterangan waktu dan lokasi tersebut menjadi bagian dari informasi mengenai penanganan korban setelah bentrokan terjadi.

TNI Angkatan Darat menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut serta belasungkawa kepada keluarga Abzalul Riza. Ungkapan itu disampaikan sebagai bentuk perhatian terhadap korban meninggal dunia dan keluarga yang ditinggalkan. TNI AD juga menyampaikan harapan agar para korban yang mengalami luka-luka dapat segera pulih. Harapan tersebut ditujukan kepada seluruh warga yang terluka dalam kejadian itu.

Peristiwa bentrokan tersebut mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan 19 orang lainnya terluka. Di tengah kabar duka, identitas dan pemakaman Abzalul Riza menjadi perhatian, sementara kondisi para korban luka juga perlu mendapat perhatian. Doa dan dukungan bagi keluarga korban meninggal serta warga yang masih menjalani pemulihan diharapkan dapat diberikan dengan tetap menghormati privasi mereka.

Informasi yang disampaikan mengenai korban mencakup nama, daerah asal, waktu pemakaman, dan lokasi pemakaman. Abzalul Riza dimakamkan pada dini hari di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro. TNI AD menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas kehilangan tersebut, sekaligus berharap para korban luka segera pulih. Keterangan ini menegaskan dampak kemanusiaan dari bentrokan yang terjadi saat peringatan Maulid di Pidie.

Bentrokan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sebuah meunasah di Pidie disebut bermula dari pengibaran bendera bulan bintang. Bendera tersebut menjadi pokok ketegangan panitia kegiatan dan prajurit TNI yang berada di lokasi. Dalam keterangan mengenai peristiwa itu, prajurit TNI berupaya menertibkan situasi dengan meminta agar bendera tidak dikibarkan dan menurunkannya. Upaya tersebut berlangsung ketika acara peringatan Maulid sedang diselenggarakan, sehingga persoalan pengibaran bendera berkembang menjadi ketegangan di tempat kegiatan.

Sebelum bentrokan terjadi, aparat TNI dan Polri disebut telah menempuh komunikasi dan mediasi dengan panitia. Pembicaraan tersebut diarahkan agar bendera bulan bintang tidak dikibarkan dalam peringatan di meunasah itu. Namun, komunikasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Panitia tetap bersikeras mempertahankan bendera, sementara prajurit TNI berupaya menertibkan dan menurunkannya. Informasi yang tersedia mengaitkan perbedaan sikap mengenai bendera itu dengan pemicu ketegangan. Tidak terdapat keterangan tambahan dalam uraian peristiwa mengenai isi rinci pembicaraan, urutan setiap tindakan, ataupun alasan lain yang mendasari sikap masing-masing pihak.

Dengan demikian, penyebab bentrokan dalam peristiwa ini dapat dijelaskan secara terbatas pada persoalan pengibaran bendera bulan bintang saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Aparat telah lebih dahulu berkomunikasi dan melakukan mediasi dengan panitia, tetapi kesepakatan agar bendera tidak dikibarkan belum tercapai. Setelah panitia tetap mempertahankannya, prajurit TNI berupaya menertibkan serta menurunkan bendera. Keterangan tersebut menjelaskan rangkaian pemicu sebagaimana disampaikan, tanpa menetapkan motif atau memberikan penilaian terhadap tindakan pihak tertentu. Bentrokan itu kemudian mengakibatkan satu warga meninggal dan 19 orang terluka, sebagaimana disebut dalam laporan peristiwa. Rincian tersebut memberi konteks mengenai dampak kejadian, sedangkan uraian pemicu tetap berpusat pada perbedaan sikap terkait bendera. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana ketegangan berkembang setelah upaya penurunan dilakukan. Karena itu, kronologi di luar komunikasi, belum tercapainya kesepakatan, dan upaya penertiban tidak dapat disimpulkan dari keterangan tersebut.

Menurut keterangan TNI Angkatan Darat (TNI AD), situasi di lokasi peringatan Maulid di Pidie meningkat saat personel melakukan penertiban. Dalam proses tersebut, sejumlah orang disebut melemparkan batu dan kayu ke arah personel. TNI AD juga menyatakan bahwa beberapa orang terlihat membawa senjata tajam. Perkembangan itu membuat suasana semakin tegang dan mendorong aparat mengambil langkah untuk mengendalikan keadaan.

TNI AD menyebut personel terlebih dahulu berupaya menenangkan massa dan membubarkan kerumunan dengan menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Upaya tersebut dilakukan untuk meredakan ketegangan tanpa memperluas bentrokan. Namun, menurut keterangan institusi itu, tindakan anarkis terus berlangsung dan keselamatan personel dinilai terancam. Pengamanan kemudian dilakukan secara bertahap. Langkah awal berupa tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, lalu dilanjutkan dengan munisi karet. Uraian mengenai tahapan tersebut merupakan keterangan TNI AD mengenai penanganan di lokasi.

Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera yang berada di lokasi. Peristiwa bentrokan di Pidie tersebut dilaporkan menyebabkan satu warga meninggal dan 19 orang terluka. Informasi mengenai langkah pengamanan ini perlu dibedakan dari kegiatan lain yang juga diantisipasi TNI AD di wilayah Pidie Jaya. Untuk mengantisipasi rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, personel melakukan patroli serta komunikasi sosial dengan masyarakat. Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh kemudian dipindahkan ke makam Abdullah Syafi’i di Desa Cubo. Keterangan mengenai rencana kegiatan dan pemindahan lokasi itu merupakan informasi terpisah; tidak ada dasar dalam uraian tersebut untuk menyatakan kegiatan di Pidie Jaya sebagai penyebab bentrokan di Pidie.

Baca juga: Prabowo Resmikan Enam Kodam Baru dalam Peringatan HUT Ke-81 TNI | Cemburu kepada Istri Diduga Jadi Pemicu Ayah Aniaya Balita hingga Meninggal | Peserta Audax Asal Sleman Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Kulon Progo

10 kunjungan