Jakarta | Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Dewa Gede Ida Bagus Inding Pardi, menegaskan bahwa saham-saham yang masuk daftar high shareholding concentration (HSC) hanya dikecualikan dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pengecualian tersebut tidak berarti saham terkait dihapus dari keseluruhan data pasar ataupun tidak lagi diperhitungkan dalam kapitalisasi pasar bursa.
Menurut Inding Pardi, perbedaan utama terletak pada metode penghitungan indeks dan pencatatan nilai kapitalisasi pasar. Dalam penghitungan IHSG, saham HSC tidak dimasukkan ke dalam komposisi indeks. Namun, nilai pasar seluruh saham yang tercatat tetap menjadi bagian dari total kapitalisasi pasar BEI, termasuk saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi tersebut.
Ia menyampaikan penegasan itu kepada wartawan pada Selasa, 27 Oktober 2026. Inding Pardi menyatakan bahwa perubahan komposisi indeks tidak menurunkan kapitalisasi pasar secara keseluruhan. Dengan demikian, investor perlu membedakan penyesuaian pada indikator IHSG dari perubahan nilai agregat pasar saham. Keluarnya suatu saham dari penghitungan indeks tidak serta-merta menghapus nilai kapitalisasinya dari statistik bursa.
Saham-saham dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18% dalam IHSG, sedangkan kapitalisasi pasarnya diperkirakan mencapai sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar bursa. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa dampak pengecualian terhadap komposisi indeks tidak sama dengan dampak terhadap keseluruhan nilai pasar. Meski tidak lagi berkontribusi dalam penghitungan IHSG, saham-saham itu tetap tercatat dan nilainya tetap dihitung dalam kapitalisasi pasar.
Penjelasan ini penting agar perubahan indeks tidak disalahartikan sebagai penyusutan ukuran pasar saham Indonesia. IHSG berfungsi sebagai indikator pergerakan harga berdasarkan komponen yang memenuhi ketentuan penghitungan, sementara kapitalisasi pasar mencerminkan nilai seluruh saham tercatat. Karena itu, pengecualian saham HSC merupakan penyesuaian pada cakupan indeks, bukan pengurangan kapitalisasi pasar BEI. Investor dapat melihat kedua ukuran tersebut secara terpisah untuk memahami perubahan komposisi IHSG dan gambaran nilai pasar bursa secara lebih tepat.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp9.475,57 triliun pada Senin, 26 Oktober 2026. Angka tersebut menggambarkan nilai pasar gabungan saham yang tercatat pada tanggal itu. Data ini menjadi salah satu ukuran untuk melihat besarnya pasar saham domestik, tetapi perlu dibaca sebagai potret pada satu waktu, bukan sebagai penjelasan mengenai penyebab perubahan nilai pasar.
Sebagai pembanding, posisi tertinggi sepanjang masa kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp16.351 triliun. Dengan demikian, nilai pada 26 Oktober 2026 berada di bawah rekor tersebut. Selisih nominalnya mencapai Rp6.875,43 triliun. Jika dihitung terhadap angka tertinggi itu, kapitalisasi pasar pada tanggal yang disebutkan sekitar 42% lebih rendah. Perbandingan ini menunjukkan jarak nilai pasar saat itu dan puncak historis, tanpa dengan sendirinya menjelaskan bagaimana atau kapan seluruh selisih tersebut terbentuk.
Angka Rp9.475,57 triliun dapat memberikan konteks dalam pembahasan kondisi pasar, termasuk ketika BEI mengumumkan kebijakan atau penyesuaian terkait saham tertentu. Namun, data kapitalisasi pada 26 Oktober perlu dipisahkan dari penjelasan mengenai kebijakan pengecualian saham HSC. Informasi yang tersedia menyebutkan nilai kapitalisasi dan rekor tertinggi, tetapi tidak menyatakan bahwa kebijakan HSC menyebabkan nilai pasar turun dari rekor tersebut. Karena itu, kedua hal tersebut tidak tepat dihubungkan sebagai sebab dan akibat tanpa dukungan data.
Pembaca juga perlu memperhatikan bahwa nilai kapitalisasi dapat berubah seiring pergerakan harga saham dan perubahan jumlah saham yang tercatat atau diperhitungkan. Untuk menilai perkembangan dari waktu ke waktu, angka pada satu tanggal dapat dibandingkan dengan data pada tanggal lain menggunakan dasar pengukuran yang konsisten. Dalam konteks ini, data 26 Oktober 2026 menegaskan bahwa kapitalisasi pasar berada di bawah puncak Rp16.351 triliun, sementara alasan di balik jarak tersebut memerlukan informasi tambahan dan tidak dapat disimpulkan hanya dari perbandingan dua angka.
Mulai 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana tidak lagi memasukkan saham-saham HSC dalam penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian metodologi indeks dan melanjutkan langkah yang lebih dahulu diterapkan pada sejumlah indeks unggulan. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa saham HSC sebelumnya telah dikecualikan dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Karena itu, penerapan pengecualian serupa pada IHSG merupakan kelanjutan dari pendekatan yang telah berjalan, bukan perubahan yang berdiri sendiri.
Dalam implementasi awal, bobot saham HSC yang dikeluarkan dari penghitungan IHSG akan didistribusikan kepada saham-saham lain yang tetap menjadi konstituen indeks. Dengan mekanisme ini, porsi yang sebelumnya melekat pada saham HSC tidak sekadar dihapus dari keseluruhan bobot indeks, melainkan dialihkan secara proporsional kepada saham lain sesuai pengaturan yang berlaku. Langkah tersebut penting untuk dipahami karena pengecualian suatu saham dari perhitungan indeks tidak serta-merta berarti kapitalisasi pasar IHSG berkurang dalam jumlah yang sama.
Jeffrey menyampaikan penjelasan itu dalam konferensi pers di gedung BEI pada Senin, 26 Oktober 2026. Ia mengatakan mekanisme distribusi bobot tersebut tidak diperkirakan memicu penurunan drastis pada IHSG. Dengan demikian, perubahan komposisi penghitungan terutama mengatur bagaimana kontribusi masing-masing saham tercermin dalam indeks, bukan secara otomatis menekan level indeks secara tajam. Dampak akhirnya tetap bergantung pada pergerakan harga saham-saham yang menjadi konstituen setelah penyesuaian diterapkan.
Bagi investor, tanggal penerapan dan cara pengalihan bobot menjadi informasi penting dalam membaca perubahan indeks. IHSG tetap dihitung berdasarkan saham-saham yang memenuhi ketentuan sebagai konstituen, sementara bobot yang ditinggalkan saham HSC akan dibagikan kepada saham lain di dalamnya. Penjelasan BEI membantu membedakan penyesuaian teknis tersebut dari perubahan nilai pasar secara langsung. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati pengumuman resmi bursa mengenai rincian pelaksanaan, termasuk komposisi konstituen dan dampak pembobotan, sebelum menarik kesimpulan mengenai respons pasar.Setelah kebijakan pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholder concentration/HSC) berlaku, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap ditentukan oleh perubahan harga saham-saham yang masih tercatat sebagai konstituen indeks. Dengan demikian, perubahan metodologi ini tidak serta-merta mengubah arah pasar secara keseluruhan. IHSG dapat bergerak naik ketika harga saham konstituennya menguat, atau melemah apabila tekanan jual mendorong harga saham-saham tersebut turun. Pengaruh setiap saham juga bergantung pada bobotnya dalam indeks, sehingga pergerakan sejumlah saham besar dapat memberi dampak berbeda dibanding perubahan harga saham dengan bobot lebih kecil.
Pengecualian HSC karena itu tidak otomatis membuat IHSG melonjak ataupun turun tajam. Kebijakan tersebut mengubah saham yang memenuhi kriteria untuk masuk dalam perhitungan, tetapi bukan mekanisme yang secara langsung menaikkan atau menurunkan harga saham di pasar. Dampak aktual pada indeks akan mengikuti dinamika perdagangan dan nilai saham yang tetap menjadi konstituen. Investor perlu membedakan penyesuaian komposisi atau metodologi indeks dari pergerakan harga yang terjadi akibat sentimen, kondisi perusahaan, maupun faktor ekonomi. Pemisahan ini membantu menghindari anggapan bahwa perubahan aturan dengan sendirinya menjadi sinyal arah pasar.
BEI telah melakukan pengujian historis atau back test untuk menilai dampak penerapan kebijakan tersebut terhadap IHSG. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengecualian saham HSC tidak menyebabkan lonjakan indeks. Temuan ini menjadi gambaran bahwa penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruhnya terhadap perhitungan indeks, bukan untuk menciptakan perubahan nilai secara mendadak.
Baca juga: Cara tersebut dapat membantu mengurangi konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi
