Bara di TPA Supit Urang Masih Ditangani pada Hari Kelima

oleh -52 Dilihat
oleh
Bara di TPA Supit Urang Masih Ditangani pada Hari Kelima

Malang | Pada Minggu, 25 Oktober 2026, kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, Jawa Timur, masih ditangani setelah berlangsung selama lima hari. Kondisi di lokasi menunjukkan kobaran api pada permukaan mulai berkurang dibandingkan saat kebakaran pertama kali terjadi. Meski demikian, berkurangnya nyala yang tampak dari luar belum menandakan bahwa seluruh titik api telah padam. Penanganan masih diperlukan karena area tersebut merupakan hamparan timbunan sampah yang tebal dan tidak selalu memperlihatkan kondisi di bagian dalam. Api yang terlihat lebih kecil dapat berjalan bersamaan dengan bara yang masih tertahan di lapisan sampah. Karena itu, status kebakaran pada hari kelima tetap memerlukan perhatian.

Perbedaan api permukaan dan bara di dalam timbunan penting untuk memahami situasi di TPA. Sampah yang menumpuk dalam lapisan tebal dapat menyimpan panas, sementara bagian yang membara mungkin tidak terlihat jelas dari permukaan. Dengan demikian, penurunan kobaran yang terlihat tidak serta-merta menunjukkan bahwa sumber panas telah hilang. Bara dapat bertahan di sela-sela material dan berpotensi memunculkan kembali nyala apabila kondisinya mendukung. Hal ini membuat pemeriksaan dan penanganan perlu terus dilakukan, meskipun intensitas api yang tampak telah menurun. Kondisi permukaan saja belum cukup untuk memastikan seluruh area bebas dari risiko.

Selama api belum sepenuhnya padam, lokasi kebakaran belum dapat dianggap aman. Penanganan pada hari kelima perlu memperhitungkan kemungkinan masih adanya titik panas tersembunyi di dalam tumpukan sampah. Pemantauan berkelanjutan membantu memastikan perubahan kondisi diketahui dan bara yang tersisa dapat ditangani. Warga juga sebaiknya tidak menyamakan berkurangnya kobaran dengan berakhirnya kebakaran, sebab bagian dalam timbunan dapat tetap menyimpan panas meski permukaannya tampak lebih tenang. Gambaran yang tersedia menunjukkan adanya kemajuan pada api permukaan, tetapi belum memastikan bahwa seluruh area telah bebas dari bara. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan sampai api benar-benar padam dan kondisi lokasi dipastikan aman.

Penanganan bara di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang masih berlanjut pada hari kelima. Tim gabungan melakukan penyemprotan air bertekanan tinggi untuk membasahi tumpukan sampah, termasuk bagian yang berada jauh di dalam. Langkah ini diperlukan karena bara dapat tersisa di lapisan yang tidak terlihat dari permukaan. Dengan mengarahkan semprotan ke area terdampak, petugas berupaya menjangkau titik-titik panas yang berpotensi memicu bara kembali muncul.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo PS menjelaskan bahwa pembasahan tidak cukup dilakukan hanya pada bagian luar tumpukan. Air perlu menjangkau dan membasahi sampah secara menyeluruh agar bara tersembunyi benar-benar padam. Proses penyemprotan pun dilakukan dengan memperhatikan kedalaman tumpukan, sehingga air dapat masuk ke bagian yang masih berpotensi menyimpan panas. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan penanganan tidak berhenti pada meredanya kondisi di permukaan.

Menurut Danang, pemeriksaan dan pembasahan perlu terus diperhatikan selama bara masih berpotensi bertahan di dalam tumpukan. Karena itu, petugas melanjutkan penyiraman pada area yang memerlukan penanganan dan memantau perubahan kondisinya. Penyemprotan bertekanan tinggi membantu mengarahkan air menuju bagian yang lebih dalam, sementara pembasahan menyeluruh ditujukan untuk mengurangi kemungkinan titik bara luput dari penanganan. Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengendalikan bara yang masih ditemukan di lokasi.

Danang kembali meninjau lokasi bersama kepala BPBD Kota Malang untuk memantau perkembangan penanganan pada hari kelima. Peninjauan itu menjadi kesempatan untuk melihat langsung proses penyemprotan dan kondisi tumpukan sampah yang masih ditangani. Pemantauan bersama juga membantu memastikan upaya pembasahan berlanjut sesuai kebutuhan di lapangan. Tim gabungan tetap berupaya menjangkau bagian dalam tumpukan, sebab bara yang tersisa di sana dapat sulit terlihat dan memerlukan perhatian khusus. Hingga peninjauan dilakukan, penanganan masih berfokus pada penyiraman menyeluruh dan pemantauan perkembangan bara di area TPA Supit Urang.

Dalam penanganan bara di TPA Supit Urang, tim gabungan tidak hanya mengandalkan penyemprotan air. Alat berat, termasuk ekskavator, turut dikerahkan untuk menjangkau dan mengeruk bagian timbunan sampah yang masih menyimpan titik panas. Langkah ini dilakukan agar area yang berpotensi mempertahankan bara dapat dibuka dan ditangani secara lebih menyeluruh. Pengerukan juga membantu petugas mengidentifikasi bagian material yang masih panas di balik lapisan sampah.

Setelah titik panas ditemukan, tanah ditimbunkan pada bagian tersebut. Penutupan dengan tanah dimaksudkan untuk membatasi pasokan oksigen yang dapat membantu bara tetap menyala atau kembali membesar. Dengan mengurangi kontak bara dan udara, petugas berupaya menekan peluang munculnya kembali panas pada lokasi yang telah ditangani. Penimbunan dilakukan pada titik-titik yang memerlukan penutupan, berdasarkan kondisi lapangan yang dipantau selama proses penanganan.

Pengerukan, penyemprotan, dan penimbunan menjadi rangkaian tindakan yang saling melengkapi. Ekskavator membantu membuka serta memindahkan material, sementara air digunakan untuk mendinginkan bagian yang panas. Tanah kemudian ditempatkan untuk menutup area tertentu dan menghambat masuknya udara. Pelaksanaan langkah-langkah tersebut memerlukan pengaturan agar petugas dapat bekerja dengan aman, sekaligus memastikan titik panas yang terjangkau tidak terlewat dari penanganan.

Upaya pengendalian dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sekali pada setiap lokasi. Petugas kembali memantau area yang telah disemprot atau ditimbun untuk melihat apakah masih terdapat panas yang perlu ditangani. Jika bara masih terdeteksi, pengerukan, penyiraman, dan penutupan dengan tanah dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan. Pola kerja berulang ini ditujukan untuk mengendalikan seluruh titik panas secara bertahap, termasuk bagian yang berada di dalam timbunan dan tidak terlihat dari permukaan. Karena itu, pengerahan alat berat dan penggunaan tanah menjadi bagian penting dari penanganan hingga kondisi di lapangan dapat dipastikan terkendali.

Hasil evaluasi lapangan pada hari kelima penanganan kebakaran di TPA Supit Urang menunjukkan bahwa angin bertiup ke arah barat dan utara Kota Malang. Kondisi ini menjadi perhatian karena arah pergerakan angin dapat memengaruhi persebaran asap dari area yang masih terbakar. Petugas terus mencermati perubahan arah dan kondisi angin selama penanganan, sehingga langkah di lapangan dapat disesuaikan dengan situasi terbaru. Pemantauan tersebut juga membantu memperkirakan wilayah yang berpotensi terdampak, khususnya kawasan di sekitar lokasi kejadian. Informasi mengenai angin menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menentukan prioritas pengendalian dan menjaga agar upaya pemadaman berlangsung dengan mempertimbangkan keselamatan warga serta petugas.

Selain memantau angin, petugas memeriksa persebaran titik panas di beberapa bagian TPA. Sejumlah titik panas masih terdeteksi, sehingga kondisi lokasi belum dapat dianggap sepenuhnya terkendali. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui bagian yang masih memerlukan penanganan dan mengamati kemungkinan munculnya kembali bara. Data lapangan mengenai lokasi titik panas dan arah angin menjadi dasar penting dalam mengatur langkah lanjutan. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, petugas dapat mengarahkan penanganan pada area yang membutuhkan perhatian, sekaligus menilai apakah titik panas menyebar atau menunjukkan perkembangan. Situasi ini menuntut koordinasi yang cermat agar informasi dari lapangan dapat segera ditindaklanjuti.

Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait diperkuat untuk mendukung pemantauan serta penanganan di lokasi. Pertukaran informasi tentang kondisi angin, sebaran asap, dan titik panas membantu seluruh pihak menyelaraskan langkah sesuai perkembangan. Kerja bersama tersebut juga diperlukan agar evaluasi lapangan dan upaya pengendalian berjalan terarah. Penanganan tetap dilakukan sampai titik panas dapat dikendalikan dan kondisi di area terdampak dinilai aman.