Asap Karhutla Menyelimuti Palembang Saat Suhu Sumsel Mencapai 37 Derajat Celsius

oleh -31 Dilihat
oleh
Asap Karhutla Menyelimuti Palembang Saat Suhu Sumsel Mencapai 37 Derajat Celsius

Palembang | Udara di Palembang, Sumatera Selatan, masih tercemar asap kebakaran hutan dan lahan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kondisi tersebut terlihat dari hasil pemantauan kualitas udara di Stasiun Talang Betutu. Sepanjang periode pukul 00.00 hingga 09.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat berada pada kisaran 185,3 hingga 453,5 mikrogram per meter kubik.

Angka itu menunjukkan bahwa kualitas udara berada pada level yang sangat tidak sehat hingga berbahaya. Berdasarkan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Palembang juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas warga.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa tingginya konsentrasi PM2.5 berkaitan dengan masih banyaknya kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Kebakaran terutama dilaporkan terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, yang menjadi sumber emisi asap di Sumatera Selatan.

Arah angin turut berperan dalam membawa dampak kebakaran dari wilayah lain menuju Palembang. Partikel asap yang terbawa arus udara kemudian terakumulasi dan menyebabkan penurunan kualitas udara di kawasan perkotaan. Situasi ini membuat masyarakat perlu mewaspadai paparan asap, membatasi kegiatan di luar ruangan, serta menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di lingkungan dengan udara tercemar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Sumatera Selatan memasuki periode puncak suhu maksimum utama pada Oktober 2026. Pada fase ini, suhu udara di sejumlah wilayah diperkirakan meningkat hingga kisaran 35–37 derajat Celsius. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena cuaca panas dan kering dapat mempercepat pengeringan vegetasi serta meningkatkan potensi munculnya titik panas.

Suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Banyuasin, dengan rentang maksimum sekitar 35–37 derajat Celsius. Kedua wilayah tersebut juga dikenal sebagai kawasan yang rawan kebakaran hutan dan lahan. Kombinasi suhu tinggi, berkurangnya kelembapan permukaan, serta kondisi lahan yang mudah terbakar dapat memperbesar risiko kebakaran apabila terdapat pemicu, baik dari aktivitas manusia maupun faktor lainnya. Asap dari kebakaran lahan kemudian berpotensi menyelimuti wilayah sekitar dan menurunkan kualitas udara.

Di wilayah lain, variasi suhu dipengaruhi oleh kondisi geografis, tutupan lahan, dan ketinggian tempat. Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang diperkirakan mengalami suhu dalam kisaran 25–35 derajat Celsius. Sementara itu, kawasan dataran tinggi Pagaralam memiliki rentang yang lebih beragam, yakni sekitar 15–36 derajat Celsius. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa suhu tidak seragam di seluruh Sumatera Selatan, meskipun kecenderungan panas tetap perlu diperhatikan.

Pencatatan suhu tertinggi hingga 37 derajat Celsius berlangsung seiring masuknya periode puncak suhu maksimum utama pada Oktober. BMKG mengimbau masyarakat untuk mencermati informasi cuaca, mengurangi aktivitas pembakaran terbuka, dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. Kewaspadaan diperlukan terutama di wilayah dengan riwayat karhutla, agar peningkatan suhu tidak berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas.

Menurut Wandayantolis, peningkatan suhu di Sumatera Selatan tidak dapat dijelaskan hanya oleh kondisi asap atau perubahan cuaca harian. Salah satu faktor ilmiahnya berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari. Dalam siklus tahunannya, posisi Matahari tampak bergerak dari satu belahan bumi ke belahan bumi lainnya akibat revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Setelah melewati garis ekuator, posisi penyinaran Matahari berangsur-angsur bergeser menuju belahan bumi selatan. Kondisi tersebut membuat wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan, menerima paparan energi surya yang semakin besar.

Ketika sudut datang sinar Matahari lebih tegak, energi yang diterima permukaan Bumi cenderung lebih terkonsentrasi. Durasi penyinaran dan intensitas radiasi yang tinggi kemudian berkontribusi terhadap kenaikan suhu udara maupun suhu permukaan. Palembang dan wilayah lain di Sumsel dapat mengalami pemanasan yang lebih kuat, terutama ketika langit relatif cerah, tutupan awan terbatas, serta kelembapan dan angin tidak cukup untuk mengurangi akumulasi panas.

Meski demikian, suhu maksimum tidak serta-merta tercapai tepat ketika posisi penyinaran Matahari berada pada kondisi paling menguntungkan. Permukaan Bumi membutuhkan waktu untuk menyerap, menyimpan, dan melepaskan energi yang diterimanya. Daratan, perairan, atmosfer, dan berbagai unsur lingkungan memiliki kemampuan serta kecepatan respons yang berbeda terhadap perubahan radiasi. Karena itu, peningkatan energi Matahari dapat terus mendorong pemanasan meskipun Matahari telah melewati titik tertentu dalam pergerakan semunya.

Jeda saat energi Matahari diterima dan saat suhu tertinggi tercapai dikenal sebagai thermal lag atau jeda termal. Fenomena ini menjelaskan mengapa puncak panas dapat muncul beberapa minggu setelah periode penyinaran maksimum. Dengan demikian, suhu 37 derajat Celsius di Sumsel merupakan hasil interaksi pergeseran penyinaran Matahari, respons bertahap permukaan Bumi, dan kondisi atmosfer setempat. Pemahaman mengenai jeda termal penting agar kenaikan suhu tidak disalahartikan sebagai perubahan mendadak tanpa proses, melainkan sebagai bagian dari respons sistem Bumi terhadap pola energi Matahari.

Suhu udara yang mencapai 37 derajat Celsius dapat memperbesar risiko kebakaran, terutama ketika musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kondisi panas membuat kandungan air di dalam tanah berkurang, sementara kelembapan permukaan lahan menurun. Rumput, semak, daun kering, dan sisa tanaman pun lebih mudah terbakar apabila terkena api, bara, atau sumber panas lainnya.

Lahan yang kering juga memungkinkan api berkembang lebih cepat dan menyebar ke area yang lebih luas. Angin dapat membawa bara serta asap menuju permukiman, termasuk wilayah Palembang. Asap kebakaran lahan berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu jarak pandang. Selain itu, paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki masalah pernapasan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah, meskipun dalam jumlah kecil. Pembakaran yang semula dianggap terkendali dapat sulit dipadamkan ketika tanah dan vegetasi berada dalam kondisi sangat kering. Warga juga perlu menghindari penggunaan api, puntung rokok, kembang api, atau sumber pembakaran lain di kawasan yang dipenuhi rumput dan semak kering. Setiap orang dapat turut mencegah kebakaran dengan segera melaporkan kepulan asap atau titik api kepada petugas dan aparat setempat.

Cuaca panas juga perlu dihadapi dengan menjaga kondisi tubuh. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi, terutama pada siang hari ketika suhu berada pada tingkat tertinggi. Masyarakat dianjurkan menggunakan pelindung dari paparan matahari, beristirahat secara berkala, dan mencukupi kebutuhan air minum agar tidak mengalami dehidrasi. Kewaspadaan bersama, kepatuhan terhadap larangan pembakaran, dan tindakan cepat diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran serta menekan dampak asap di Palembang.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla