Arus Medan Selatan Pulih Setelah Aksi Mahasiswa Trisakti

oleh -91 Dilihat
oleh
Arus Medan Selatan Pulih Setelah Aksi Mahasiswa Trisakti

Medan | Arus lalu lintas di kedua sisi Jalan Medan Selatan, Jakarta Pusat, kembali normal pada Kamis malam, 29 Oktober 2026. Kondisi tersebut berangsur pulih setelah demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya berakhir. Kendaraan yang sebelumnya terdampak pengaturan lalu lintas dapat kembali melintas di ruas jalan tersebut.

Massa meninggalkan titik aksi di depan BSI Tower sekitar pukul 18.53 WIB. Setelah para peserta membubarkan diri, situasi di sekitar lokasi demonstrasi mulai terkendali. Berakhirnya kegiatan membuat petugas dapat membuka barikade yang sebelumnya dipasang untuk mengatur pergerakan massa dan menjaga area aksi.

Pembukaan barikade menjadi salah satu tahapan yang memungkinkan arus kendaraan bergerak kembali dengan lebih leluasa. Sebelumnya, pembatas tersebut digunakan selama demonstrasi berlangsung di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya. Dengan massa yang sudah meninggalkan lokasi, ruas di kedua arah Jalan Medan Selatan tidak lagi mengalami penutupan seperti saat aksi berlangsung.

Pemulihan lalu lintas di kawasan ini penting bagi pengguna jalan yang melintasi pusat Jakarta, terutama setelah aktivitas demonstrasi memengaruhi akses di sekitar titik aksi. Pengendara dapat kembali menggunakan kedua sisi jalan, sementara petugas melakukan penyesuaian pengamanan setelah barikade dibuka. Kondisi normal menandai berakhirnya pengaturan khusus yang diterapkan selama demonstrasi mahasiswa berlangsung.

Perubahan situasi berlangsung setelah peserta aksi meninggalkan area depan BSI Tower pada petang hari. Usai pembubaran massa, polisi membuka pembatas yang sebelumnya menghalangi atau membatasi pergerakan kendaraan di sekitar lokasi. Langkah itu memungkinkan lalu lintas kembali mengalir di kedua sisi Jalan Medan Selatan. Pada Kamis malam tersebut, arus kendaraan di ruas itu dinyatakan normal kembali setelah rangkaian demonstrasi di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya selesai.

Selama aksi mahasiswa Trisakti berlangsung, arus kendaraan di sekitar Medan Selatan diatur untuk membatasi akses menuju kawasan istana dan menjaga kelancaran pergerakan di ruas jalan yang masih dapat digunakan. Polisi menutup sejumlah akses di sekitar Patung Kuda, termasuk jalur dari depan BSI Tower atau Menara Danareksa ke arah Istana Negara. Akses menuju Jalan Jenderal Sudirman dari titik tersebut juga ditutup sementara. Pengaturan ini membuat pengendara perlu mengikuti arahan petugas dan menggunakan jalur alternatif, terutama jika perjalanan semula melewati kawasan pusat aksi.

Penutupan dilakukan dengan memasang water barrier di titik-titik akses yang dibatasi. Petugas berjaga di sekitar pembatas untuk mengarahkan kendaraan dan mencegah pengendara memasuki ruas yang ditutup. Meski beberapa lajur masih disisakan agar lalu lintas di sekitar lokasi tetap bergerak, akses utama menuju kawasan istana diblokade. Karena itu, keberadaan lajur yang terbuka tidak berarti seluruh rute dapat dilalui seperti biasa. Pengendara tetap perlu memperhatikan posisi pembatas, mengikuti instruksi di lapangan, dan mengantisipasi perubahan arus di sekitar Patung Kuda serta Medan Selatan.

Kendaraan yang bergerak dari Jalan Medan Selatan menuju Jalan Jenderal Sudirman sempat dialihkan melalui Jalan Kebon Sirih. Rute pengalihan ini menjadi pilihan bagi pengendara yang perlu melanjutkan perjalanan ke arah Sudirman ketika akses langsung tidak dapat digunakan. Pengalihan dapat menambah waktu tempuh, khususnya saat volume kendaraan meningkat atau arus dari beberapa ruas bertemu di jalan alternatif. Pengendara disarankan mengurangi kecepatan saat mendekati titik penjagaan, memberi ruang bagi kendaraan lain, dan tidak menerobos water barrier. Dengan mengikuti pengaturan petugas, kendaraan dapat melewati jalur yang tersedia tanpa mengganggu pembatasan akses di sekitar lokasi aksi. Situasi lalu lintas dapat berubah mengikuti kondisi lapangan, sehingga pengguna jalan sebaiknya memeriksa informasi terbaru sebelum melintas di kawasan tersebut.

Dalam aksi di kawasan Medan Selatan, mahasiswa Universitas Trisakti menyampaikan tiga tuntutan rakyat atau Tritura. Tuntutan tersebut menjadi pokok pesan yang dibawa dalam demonstrasi, sekaligus menggambarkan perhatian mahasiswa terhadap kondisi nasional. Isu yang disoroti tidak terbatas pada satu bidang, melainkan mencakup kebutuhan masyarakat dan tata kelola pemerintahan. Melalui orasi dan penyampaian aspirasi, mahasiswa meminta agar tuntutan itu mendapat perhatian dari para penguasa serta ditindaklanjuti secara nyata.

Tuntutan pertama berfokus pada pemulihan berbagai sektor nasional, meliputi ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan. Mahasiswa menempatkan pemulihan tersebut sebagai agenda yang saling berkaitan. Kondisi ekonomi berpengaruh pada kehidupan masyarakat, sementara persoalan lingkungan, politik, pendidikan, dan kesehatan juga memerlukan perhatian serta kebijakan yang tepat. Karena itu, seruan pemulihan yang disampaikan dalam aksi mencakup berbagai aspek kehidupan, bukan hanya perbaikan pada satu sektor. Tuntutan ini menekankan perlunya langkah yang dapat menjawab persoalan masyarakat secara luas dan memperkuat kesejahteraan publik.

Tuntutan kedua disampaikan dalam orasi oleh Arief Rizquna, Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti periode 2025/2026 Kabinet Karya Bersama. Ia meminta para penguasa menghapus dan memberantas pejabat yang dinilai tidak kompeten di bidangnya. Seruan tersebut menyoroti pentingnya kecakapan dan tanggung jawab dalam menjalankan jabatan publik. Dalam pandangan yang disuarakan mahasiswa, pejabat perlu memiliki kemampuan yang sesuai dengan tugasnya agar kebijakan dapat disusun dan dijalankan secara efektif. Tuntutan ini juga mencerminkan dorongan agar penyelenggaraan pemerintahan dijalankan oleh orang-orang yang mampu memenuhi tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Tuntutan ketiga menekankan penegakan supremasi sipil. Pokok tuntutan ini menempatkan prinsip sipil sebagai dasar dalam kehidupan bernegara dan penyelenggaraan pemerintahan. Mahasiswa menyuarakannya sebagai bagian dari rangkaian aspirasi yang mereka bawa, bersama agenda pemulihan nasional serta desakan terhadap kompetensi pejabat. Ketiga poin tersebut menjadi satu kesatuan pesan dalam aksi: pemulihan sektor-sektor penting, pembenahan kualitas pejabat, dan penguatan supremasi sipil. Dengan menyampaikan Tritura, mahasiswa Universitas Trisakti menyatakan harapan agar aspirasi rakyat ditanggapi melalui langkah yang jelas dan bertanggung jawab.

Seluruh tuntutan mahasiswa Trisakti dituliskan dan ditampilkan melalui spanduk serta berbagai atribut demonstrasi yang mereka bawa. Dengan cara itu, pesan aksi hadir secara terbuka di tengah kegiatan unjuk rasa. Isi tuntutan tidak hanya disampaikan lewat orasi, tetapi juga tampak pada perlengkapan yang menyertai para mahasiswa. Spanduk dan atribut tersebut menjadi media untuk memperlihatkan apa yang ingin disuarakan peserta aksi, sekaligus membuat tuntutan mereka dapat dibaca oleh masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Penyampaian melalui tulisan dan tampilan itu menjadi bagian dari rangkaian demonstrasi yang berlangsung di Medan Selatan.

Keberadaan atribut tersebut berkaitan dengan pesan yang dibawa mahasiswa sepanjang aksi. Setiap tuntutan dicantumkan dan diperlihatkan, sehingga keseluruhan pesan tidak terbatas pada ucapan dari pengeras suara atau orasi di lokasi. Bentuk visual itu memberi ruang bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa peserta aksi membawa sejumlah tuntutan. Tidak diperlukan penafsiran tambahan untuk memahami peran atribut tersebut: seluruh tuntutan memang dituliskan dan ditampilkan melalui spanduk serta perlengkapan demonstrasi yang dibawa mahasiswa Trisakti. Dengan demikian, pesan tertulis dan penyampaian lisan sama-sama menjadi bagian dari cara mahasiswa menghadirkan aspirasi mereka.

Menjelang penutup aksi, Arief menyampaikan pesan yang menggambarkan makna simbolik demonstrasi tersebut. Ia mengatakan ingin menunjukkan kepada masyarakat sipil bahwa mahasiswa Trisakti membawa simbol kekecewaan dan kemirisan. Pernyataan itu menegaskan tujuan yang disampaikan Arief sendiri, yakni memperlihatkan simbol-simbol tersebut kepada masyarakat sipil. Pesan penutup itu sejalan dengan penggunaan spanduk dan atribut yang memuat tuntutan, tanpa perlu menambahkan makna lain di luar pernyataan yang disampaikan. Melalui ungkapan Arief, atribut aksi diposisikan sebagai simbol yang dibawa mahasiswa untuk memperlihatkan kekecewaan dan kemirisan.

Baca juga: Krida Nusantara: Mahasiswa PPG UHAMKA Kenalkan Budaya melalui Bermain dan Berkarya | Atlet Taekwondo TNI Raih Medali Perak Kategori Poomsae Tingkat Dunia di Korea Selatan | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan