Jakarta | Dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional Kadin Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyampaikan bahwa produk dan komponen dari Indonesia telah dibeli oleh 77 merek dunia. Pernyataan itu menyoroti keterhubungan pelaku usaha nasional dengan rantai pasok internasional, yang kerap tidak terlihat langsung oleh konsumen ketika mereka menggunakan produk bermerek global.
Anindya menyebut sejumlah nama sebagai contoh, di antaranya Airbus dan Tesla, serta merek konsumen seperti Kopiko, On, dan Nike. Nama-nama tersebut menggambarkan ragam perusahaan dan produk yang terkait dengan pembelian dari Indonesia. Namun, daftar itu tidak berarti semua merek membeli barang yang sama. Jenis produk, komponen, maupun bentuk hubungan pemasok dapat berbeda di setiap perusahaan, sehingga contoh tersebut perlu dipahami sebagai ilustrasi beragam kontribusi Indonesia.
Untuk mendokumentasikan pengalaman para pembeli, Kadin akan menghimpun testimoni mereka dalam sebuah buku berjudul We Buy from Indonesia. Rencana tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan secara lebih nyata bahwa barang, bahan, atau komponen buatan Indonesia digunakan dalam kegiatan usaha berbagai perusahaan dunia. Kesaksian pembeli diharapkan dapat melengkapi gambaran mengenai posisi pemasok Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana produk nasional masuk ke dalam proses produksi dan distribusi lintas negara.
Pengumpulan testimoni juga memberi ruang bagi perusahaan internasional untuk menjelaskan hubungan mereka dengan pemasok di Indonesia berdasarkan pengalaman masing-masing. Dengan demikian, buku itu dapat menjadi dokumentasi yang menghubungkan nama merek global dengan perusahaan dan kapasitas produksi di dalam negeri, tanpa menyamaratakan bentuk kerja sama. Bagi pelaku usaha lokal, pengakuan semacam ini dapat membantu memperkenalkan kemampuan industri Indonesia kepada calon mitra, selama informasi yang disajikan tetap spesifik dan dapat ditelusuri.
Pemaparan mengenai 77 merek tersebut menempatkan keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok dunia sebagai salah satu isu yang diangkat di Rapimnas Kadin 2026. Inisiatif buku itu berfokus pada bukti dan testimoni pembeli, bukan semata-mata pada popularitas merek. Dengan menyajikan ragam contoh, Kadin ingin mengangkat kontribusi pemasok nasional dan memperlihatkan bahwa keterlibatan tersebut dapat mencakup berbagai sektor serta jenis kebutuhan bisnis.
Menurut Anindya Bakrie, kehadiran pembeli global memberi sinyal penting bagi pelaku usaha Indonesia bahwa produk lokal memiliki ruang lebih besar dalam rantai pasok internasional. Minat dari pasar dunia dapat menjadi pintu masuk bagi perusahaan nasional untuk memasok komponen, memperluas hubungan dagang, serta membangun posisi yang lebih kuat di pemasok lintas negara. Peluang tersebut tidak hanya berbentuk transaksi jangka pendek, tetapi juga dapat mendorong kemitraan dan peningkatan keterlibatan industri dalam jaringan produksi global. Karena itu, pembeli global perlu dipandang sebagai kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan memperbesar kontribusi Indonesia, bukan sekadar sebagai tujuan penjualan tambahan bagi produk yang telah tersedia di pasar.
Tantangan berikutnya, sebagaimana disampaikan Anindya, adalah memastikan perusahaan mampu memenuhi kebutuhan pembeli dalam skala yang lebih besar. Pelaku usaha perlu meningkatkan kapasitas produksi komponen dan volume penjualan agar dapat merespons permintaan secara konsisten. Mempertahankan pasar yang sudah ada tetap penting, tetapi langkah itu saja belum cukup untuk memperbesar peran Indonesia dalam jaringan pasok internasional. Peningkatan kemampuan produksi dapat membantu perusahaan memenuhi pesanan dengan lebih andal, sementara pertumbuhan penjualan menunjukkan bahwa produk mampu menjangkau pasar lebih luas. Kedua hal tersebut menjadi bagian dari upaya agar peluang yang muncul dari minat pembeli global dapat berkembang menjadi kontribusi yang nyata dan berkelanjutan.
Dalam membahas peluang tersebut, Anindya menggunakan nilai ekspor Indonesia sekitar US$300 miliar per tahun sebagai konteks. Angka itu menggambarkan besarnya kegiatan ekspor nasional, sekaligus menjadi latar untuk melihat ruang pengembangan yang masih dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Nilai tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan kapasitas setiap sektor atau jenis produk, tetapi menegaskan pentingnya mendorong keterlibatan perusahaan Indonesia dalam perdagangan lintas negara. Dengan memperkuat kemampuan memasok komponen dan meningkatkan volume penjualan, perusahaan dapat berupaya mengambil bagian yang lebih besar dari kesempatan yang terbuka. Fokusnya bukan hanya menjaga capaian yang telah dimiliki, melainkan mengembangkan kapasitas agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dunia yang terus bergerak.
Anindya Bakrie menilai perluasan pasar ekspor produk Indonesia perlu berjalan seiring dengan peningkatan investasi. Akses ke pasar internasional dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha, tetapi kemampuan untuk memenuhi permintaan juga bergantung pada dukungan modal dan kapasitas produksi. Karena itu, upaya memperluas perdagangan tidak cukup hanya berfokus pada penjualan ke lebih banyak negara. Investasi diperlukan agar perusahaan dapat mengembangkan usaha, memperkuat kegiatan produksi, dan meningkatkan kesiapan untuk berpartisipasi dalam rantai pasok dunia. Menurut pandangan yang ia sampaikan, penguatan hubungan perdagangan dan investasi menjadi bagian penting dari strategi untuk memperbesar peluang produk nasional di pasar global.
Investasi tersebut, menurut Anindya, dapat berasal dari berbagai jalur, termasuk pasar modal dan penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Kedua sumber pendanaan itu dapat mendukung pengembangan kapasitas bisnis, meskipun bentuk dan perannya berbeda. Pasar modal menyediakan salah satu pilihan bagi perusahaan untuk memperoleh pembiayaan, sementara FDI dapat membawa investasi langsung ke kegiatan usaha. Dalam konteks perluasan ekspor, peningkatan investasi dapat membantu pelaku industri merespons peluang pasar dengan lebih baik. Dengan demikian, kebijakan dan upaya yang mendorong arus investasi menjadi pelengkap bagi pembukaan akses perdagangan, bukan agenda yang berdiri sendiri.
Anindya juga menyoroti peran diplomasi ekonomi dalam membantu membuka akses perdagangan dan memperbesar peluang produk Indonesia memasuki pasar internasional. Ia menyampaikan bahwa 25 perjanjian perdagangan telah berlaku, sedangkan 15 perjanjian lainnya masih berada dalam tahap negosiasi, termasuk dengan Uni Eropa. Angka dan status tersebut merupakan keterangan yang ia sampaikan dalam acara. Informasi itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai akses pasar terus berlangsung, bersamaan dengan pelaksanaan perjanjian yang sudah berlaku. Diplomasi ekonomi, dalam pandangan tersebut, dapat menjadi sarana untuk membangun peluang perdagangan, sementara peningkatan investasi mendukung kesiapan dunia usaha memanfaatkannya. Kombinasi keduanya diharapkan memperkuat posisi produk Indonesia dalam persaingan internasional tanpa mengabaikan kebutuhan untuk membangun kapasitas produksi dan usaha di dalam negeri.
Anindya Bakrie menekankan bahwa peluang dari ekspor dan investasi perlu dapat diakses oleh usaha rakyat, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Agar tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan ekonomi berskala besar, pelaku usaha lokal perlu naik kelas dan memiliki ruang untuk terlibat dalam proses produksi maupun pemenuhan kebutuhan industri. Dengan keterlibatan tersebut, UMKM berpeluang memperoleh bagian dari nilai tambah yang tercipta ketika investasi berkembang dan produk Indonesia memasuki pasar dunia. Upaya ini juga sejalan dengan dorongan untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, dengan lebih banyak pelaku usaha ikut ambil bagian.
Untuk membuka ruang keterlibatan itu, Kadin mendorong kemitraan yang menghubungkan pelaku usaha desa dengan industri dan pasar internasional. Hubungan tersebut dapat dibangun melalui beberapa bentuk kerja sama, sesuai kebutuhan dan kemampuan para pihak. Kemitraan produksi memberi kesempatan bagi usaha lokal untuk terlibat dalam pembuatan barang. Pengembangan pemasok industri dapat membantu pelaku usaha desa masuk ke jaringan pemasok yang dibutuhkan perusahaan. Selain itu, pembelian dalam rantai pasok dapat menghubungkan produk dan layanan UMKM dengan kebutuhan pengadaan industri.
