Rupiah Melemah 7,9%, BI Soroti Tekanan Global dan Ketahanan Ekonomi

oleh -593 Dilihat
oleh
Rupiah Melemah 7,9%, BI Soroti Tekanan Global dan Ketahanan Ekonomi

Jakarta | Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,9% ketika kondisi global memburuk dan ketidakpastian pasar meningkat. Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan yang dihadapi mata uang domestik di tengah perubahan sentimen investor dan dinamika ekonomi internasional. Angka itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam paparan pada Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026, Kamis (29/10/2026). Ia menempatkan pergerakan rupiah dalam konteks gejolak global yang lebih luas, bukan sebagai fenomena yang berdiri sendiri.

Menurut Destry, rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang sama-sama berada di bawah tekanan dalam situasi tersebut. Namun, volatilitas rupiah dinilai relatif lebih baik dibandingkan pergerakan beberapa mata uang negara lain. Penilaian ini menunjukkan bahwa meskipun depresiasi telah mendekati 8%, dinamika rupiah tidak sepenuhnya seburuk sejumlah mata uang pembanding. Perbandingan volatilitas memberi gambaran mengenai besar dan cepatnya perubahan nilai tukar, sementara angka depresiasi mencerminkan penurunan nilai rupiah dalam periode yang dibahas BI. Keduanya membantu menjelaskan kondisi pasar yang sedang dihadapi.

Destry mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan pasar global yang semakin tidak menentu. Ketidakpastian tersebut dapat memengaruhi arus modal, permintaan terhadap aset berisiko, serta pergerakan mata uang di berbagai negara, termasuk negara berkembang. Dalam keadaan seperti ini, perubahan sentimen dapat berlangsung cepat dan mendorong fluktuasi nilai tukar. Karena itu, pelemahan rupiah perlu dibaca bersama perkembangan eksternal dan tekanan yang dialami mata uang lain. Paparan BI di forum Kadin menegaskan bahwa tekanan yang terjadi merupakan bagian dari tantangan pasar internasional, sementara volatilitas relatif rupiah tetap menjadi salah satu aspek yang dicermati. Pernyataan tersebut memberi konteks bagi angka depresiasi 7,9%: rupiah melemah, tetapi pergerakannya menurut BI masih relatif lebih terkendali daripada sebagian mata uang lain di tengah gejolak global.Rupiah mengakhiri perdagangan Kamis (29/10/2026) dengan penguatan setelah berada di bawah tekanan selama beberapa hari. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup pada level Rp18.125 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 0,28% dibandingkan posisi penutupan Rabu (28/10/2026) sebesar Rp18.175 per dolar AS. Perubahan tersebut menandai perbaikan pada perdagangan harian, setelah rupiah pada hari sebelumnya mencatat penutupan terlemah sepanjang masa. Dengan demikian, sesi Kamis memberi jeda dari rangkaian pelemahan yang terjadi, tetapi belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar telah berakhir.

Selisih penutupan sebesar Rp50 per dolar AS menggambarkan penguatan rupiah dalam satu sesi. Namun, pergerakan harian perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas, termasuk kecenderungan depresiasi yang sebelumnya disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. Destry menyebut rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,9%. Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang telah terakumulasi, sehingga kenaikan pada Kamis tidak menghapus penurunan yang terjadi sebelumnya. Perbandingan perubahan harian dan depresiasi dalam periode yang lebih panjang penting agar penguatan sesaat tidak ditafsirkan sebagai pemulihan menyeluruh.

Pergerakan pada penutupan Kamis juga memperlihatkan bahwa nilai tukar dapat berubah dari satu sesi ke sesi berikutnya, sementara level penutupan tetap dipengaruhi perkembangan pasar dan sentimen yang lebih luas. Rupiah memang bergerak menjauh dari rekor penutupan terlemah sehari sebelumnya, tetapi masih berada pada level yang mencerminkan tekanan signifikan. Karena itu, penguatan 0,28% lebih tepat dipahami sebagai koreksi atau perbaikan harian, bukan bukti bahwa risiko pelemahan telah hilang. Pembacaan yang berimbang perlu mencermati kesinambungan pergerakan pada sesi-sesi berikutnya serta membandingkannya dengan tren depresiasi yang telah dicatat.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang tidak hanya bersumber dari kondisi domestik. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa perubahan prospek suku bunga Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta lonjakan harga minyak turut membentuk sentimen pasar global. Kombinasi faktor tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana dan dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah.

Prospek suku bunga tinggi untuk waktu lebih lama, atau higher for longer, masih membayangi pasar. Inflasi AS berada di atas 3,5 persen, jauh dari sasaran Federal Reserve (The Fed) sebesar 2 persen. Selama tekanan inflasi belum terkendali, peluang kenaikan suku bunga kembali pada Desember mendatang tetap terbuka. Ekspektasi tersebut mendorong investor memperhitungkan imbal hasil aset berdenominasi dolar yang lebih menarik, sekaligus mengurangi minat terhadap aset di negara berkembang.

Tekanan juga tercermin pada pasar obligasi. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mencapai 5,3 persen, level yang meningkatkan daya tarik instrumen tersebut bagi investor global. Ketika imbal hasil di AS naik, arus modal dapat beralih dari pasar negara berkembang menuju aset yang dipandang memberi keuntungan lebih tinggi dengan risiko relatif terkendali. Perubahan aliran dana itu berpotensi menambah permintaan terhadap dolar dan menekan nilai tukar mata uang lain.

Kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik menambah ketidakpastian. Energi yang lebih mahal dapat memperbesar kekhawatiran mengenai inflasi dan prospek pertumbuhan, sehingga pelaku pasar cenderung mengurangi paparan terhadap aset berisiko. Dalam situasi seperti ini, investor melakukan flight to quality, yakni memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Dolar AS tetap menjadi tujuan penting karena digunakan secara luas dalam transaksi internasional dan memiliki likuiditas tinggi.

Destry menekankan bahwa meskipun sumber persoalan berada di AS, investor tetap memilih memegang dolar. Akibatnya, indeks dolar AS atau DXY terus meningkat. Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana ketidakpastian di satu negara dapat berdampak lintas pasar: permintaan terhadap dolar menguat, sementara mata uang negara berkembang menghadapi tekanan, termasuk rupiah.

Di tengah tekanan eksternal yang turut membebani nilai tukar, Destry menilai kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Penilaian tersebut tercermin dari sejumlah indikator domestik yang tetap terjaga. Pada semester I-2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,45%. Capaian ini menjadi salah satu gambaran bahwa aktivitas ekonomi masih bertahan di tengah situasi global yang menantang. Karena itu, pelemahan rupiah perlu dibaca bersama dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan, bukan sebagai satu-satunya ukuran ketahanan nasional.

Perkembangan harga juga menjadi bagian dari gambaran tersebut. Inflasi tercatat sebesar 3,28%, sementara inflasi inti berada di level 2,8%. Menurut Destry, angka-angka itu memperlihatkan bahwa tekanan terhadap perekonomian tidak menghapus daya tahan domestik. Inflasi inti, yang mencerminkan perkembangan harga yang lebih mendasar, tetap menjadi salah satu indikator penting dalam membaca situasi. Namun, penilaian atas kondisi ekonomi tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk tantangan eksternal yang menekan rupiah.

Dari sisi fiskal, Destry menyebut defisit anggaran masih terjaga. Rasio utang juga berada di sekitar 41%. Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa kondisi fiskal dan tingkat utang tetap menjadi bagian dari penilaian atas kemampuan ekonomi menghadapi tekanan. Dalam pandangannya, pertumbuhan semester pertama, inflasi, serta kondisi fiskal memberikan konteks mengenai ketahanan perekonomian Indonesia. Meski demikian, indikator-indikator itu tidak menghilangkan tantangan yang muncul dari pergerakan nilai tukar di tengah tekanan global.

Destry menggarisbawahi bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi pekerjaan rumah. Menjaganya merupakan hal yang perlu ditangani bersama, terutama ketika tekanan eksternal terus memengaruhi pasar dan nilai tukar. Catatan tersebut menempatkan stabilitas rupiah sebagai perhatian yang berjalan seiring dengan upaya mempertahankan ketahanan ekonomi domestik.

Baca juga: Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas | Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan