Rupiah dan Dolar Taiwan Menguat Saat Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan

oleh -103 Dilihat
oleh
Rupiah dan Dolar Taiwan Menguat Saat Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan

Jakarta | Perdagangan valuta asing Asia pada Rabu, 21 Oktober 2026, berlangsung dengan tekanan yang menjangkau sebagian besar mata uang kawasan. Kondisi ini terjadi meskipun dolar Amerika Serikat juga berada dalam tekanan, sehingga pelemahan mata uang Asia tidak bergerak searah dengan penguatan dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.23 WIB, tujuh dari 10 mata uang yang dipantau tercatat terkoreksi, sementara tiga mata uang lainnya berhasil menguat.

Di tengah pergerakan yang cenderung melemah tersebut, rupiah mencatat kenaikan tipis sebesar 0,02% ke posisi Rp17.977 per dolar AS. Perubahan ini membuat rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Meski apresiasinya terbatas, posisi tersebut menjadi perkembangan penting dalam perdagangan pagi karena rupiah mampu menguat ketika mayoritas mata uang Asia justru tertekan.

Penguatan rupiah juga terjadi saat kondisi pasar kawasan menunjukkan hasil yang beragam. Dari mata uang yang bergerak naik, dolar Taiwan mencatat kinerja paling kuat, dengan kenaikan 0,13%. Ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan sebesar 0,05%. Sementara itu, tujuh mata uang lain dalam kelompok pemantauan Refinitiv bergerak turun pada waktu pencatatan tersebut. Data ini menggambarkan bahwa pergerakan di pasar Asia tidak sepenuhnya seragam, walaupun tekanan masih lebih banyak terlihat.

Perlu dicatat, angka tersebut merupakan potret pergerakan pada pukul 09.23 WIB, bukan gambaran penutupan perdagangan. Nilai tukar dapat berubah seiring perkembangan transaksi dan respons pelaku pasar sepanjang hari. Untuk rupiah, kenaikan 0,02% menunjukkan apresiasi yang relatif kecil, tetapi cukup untuk membawa kurs ke bawah ambang Rp18.000. Dengan demikian, perhatian pasar tertuju pada kemampuan rupiah mempertahankan posisi itu, sekaligus pada arah pergerakan mata uang Asia lain setelah tekanan awal perdagangan. Perbandingan kinerja dalam kelompok mata uang yang dipantau juga menegaskan bahwa pelemahan regional tidak menghalangi beberapa mata uang untuk mencatat penguatan, termasuk rupiah dan dolar Taiwan.

Di tengah pergerakan yang beragam di pasar valuta asing Asia, sejumlah mata uang tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Peso Filipina mengalami penurunan paling besar dalam kelompok tersebut, yakni 0,25%. Pergerakan ini menempatkan peso sebagai mata uang dengan tekanan paling dalam pada pengamatan pasar kali ini. Pelemahan juga terjadi pada baht Thailand, yang turun 0,18%, serta won Korea Selatan, yang terkoreksi 0,10%. Besaran perubahan tersebut memperlihatkan bahwa penurunan tidak berlangsung seragam di seluruh mata uang regional.

Yen Jepang melemah 0,06%, sedangkan yuan China dan dolar Singapura masing-masing mencatat penurunan 0,04%. Di mata uang yang berada di zona merah, dong Vietnam mengalami koreksi paling tipis, sebesar 0,01%. Dengan demikian, rentang perubahan mata uang yang melemah pada daftar ini berkisar 0,01% hingga 0,25%. Data tersebut merangkum variasi pergerakan harian, mulai dari penurunan yang relatif kecil hingga pelemahan yang lebih besar pada peso Filipina.

Susunan angka ini memberikan gambaran mengenai perbedaan kinerja mata uang Asia dalam sesi perdagangan yang sama. Peso Filipina berada di posisi terlemah berdasarkan persentase penurunan, sementara dong Vietnam mencatat koreksi terkecil. Baht Thailand, won Korea Selatan, yen Jepang, yuan China, dan dolar Singapura berada di kedua posisi tersebut. Perubahan masing-masing mata uang disajikan sebagai catatan pergerakan pasar, tanpa mengaitkan penurunan tertentu dengan faktor khusus. Secara keseluruhan, mayoritas mata uang yang tercantum bergerak turun, meskipun tingkat koreksinya bervariasi. Rincian persentase membantu pembaca membandingkan tekanan yang terlihat pada tiap mata uang, sekaligus menunjukkan bahwa perubahan di kawasan tidak memiliki besaran yang sama. Angka-angka tersebut juga melengkapi gambaran pasar Asia saat rupiah dan dolar Taiwan bergerak menguat, sebagaimana tercermin dalam laporan pergerakan valuta asing hari itu.

Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) melemah 0,04% menjadi 101,745 pada perdagangan pagi dan bertahan di sekitar level terendah dalam tiga pekan. Pergerakan ini memperpanjang tekanan yang terlihat sehari sebelumnya, ketika DXY turun sekitar 0,20% ke 101,78 pada Selasa. Pelemahan indeks mencerminkan berkurangnya permintaan terhadap dolar di tengah perubahan kondisi pasar, termasuk penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketika imbal hasil turun, daya tarik aset berdenominasi dolar dapat berkurang, sehingga mata uang tersebut lebih mudah tertekan terhadap sejumlah mata uang lain.

Harga minyak juga bergerak turun setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan. Penurunan tersebut terjadi saat pelaku pasar menilai kemungkinan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Perhatian tertuju pada pertemuan presiden Iran dengan panglima militer Pakistan, yang disebut berperan sebagai salah satu perantara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan diplomatik itu mendorong sebagian pelaku pasar mempertimbangkan bahwa risiko gangguan pasokan energi mungkin mereda, sehingga premi risiko pada harga minyak berpotensi berkurang. Turunnya harga minyak, bersama pelemahan imbal hasil, turut membentuk lingkungan yang menekan dolar pada perdagangan tersebut.

Namun, harapan terhadap penurunan ketegangan belum menghapus risiko geopolitik. Serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi serta laporan mengenai serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk tetap menjadi perhatian investor. Insiden semacam ini dapat kembali meningkatkan kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran dan pasokan energi, sekaligus memicu perubahan sentimen secara cepat. Karena itu, pasar masih berhati-hati dalam menafsirkan sinyal diplomatik dan perkembangan keamanan regional. Pergerakan minyak maupun dolar dapat berbalik apabila risiko konflik meningkat atau muncul gangguan baru. Untuk saat ini, pelemahan DXY sejalan dengan turunnya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak, tetapi arah berikutnya tetap bergantung pada data ekonomi, kebijakan suku bunga, serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Investor akan mencermati apakah penurunan tekanan tersebut berlanjut atau hanya menjadi jeda sementara di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.

Penguatan pasar saham turut mengurangi sebagian permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman, ketika investor mulai kembali mengambil risiko. Wall Street ditutup menguat seiring dimulainya musim laporan keuangan perusahaan teknologi, yang akan menjadi salah satu perhatian utama pasar dalam beberapa pekan mendatang. Pada Rabu, indeks saham Jepang dan Korea Selatan juga naik, menambah tanda bahwa minat terhadap aset berisiko membaik di sejumlah pasar Asia. Pergerakan tersebut berlangsung ketika pelaku pasar menimbang prospek pertumbuhan global, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta dampaknya terhadap harga energi dan nilai tukar.

Carol Kong, ekonom dan ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, menilai laporan keuangan perusahaan teknologi besar berpotensi berpengaruh besar terhadap dolar AS. Menurutnya, sentimen pasar saham dan prospek pertumbuhan berkaitan erat dengan kinerja perusahaan-perusahaan tersebut. Hasil yang kuat dapat mendorong optimisme investor terhadap ekonomi dan mendukung permintaan atas aset berisiko, sedangkan hasil yang mengecewakan dapat memicu kehati-hatian. Karena itu, laporan dari perusahaan teknologi besar tidak hanya menjadi tolok ukur bagi saham, tetapi juga dapat membentuk pandangan pasar terhadap prospek ekonomi dan arah dolar.

Kong juga menegaskan bahwa dolar masih menjadi salah satu aset aman yang menonjol, terutama ketika ketidakpastian meningkat. Namun, kebutuhan investor terhadap mata uang tersebut dapat berkurang apabila konflik Timur Tengah mereda dan harga energi turun, sehingga kekhawatiran terhadap risiko pasokan dan inflasi ikut mereda.