DEN Dorong Antisipasi El Nino dan La Nina Berbasis Data

oleh -61 Dilihat
oleh
DEN Dorong Antisipasi El Nino dan La Nina Berbasis Data

Jakarta | Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan perlunya pemerintah menyiapkan rencana kontingensi berbasis data untuk menghadapi perubahan kondisi iklim. Langkah tersebut dinilai penting karena fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, sementara potensi La Nina juga perlu diperhitungkan. Dengan menyiapkan skenario sejak dini, pemerintah dapat mengantisipasi kemungkinan dampak secara lebih terarah, alih-alih baru merespons ketika gangguan sudah terjadi. Perencanaan berbasis data dapat membantu menentukan wilayah yang berisiko, kebutuhan yang harus diprioritaskan, serta bentuk tindakan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Luhut menyampaikan usulan mengenai rencana kontingensi itu kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa malam. Ia mengatakan bahwa usulan tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Penyampaian laporan kepada presiden menjadi bagian dari upaya mendorong koordinasi pemerintah dalam menghadapi kemungkinan dampak kedua fenomena iklim tersebut. Informasi dan analisis yang akurat diperlukan agar keputusan yang diambil dapat disesuaikan dengan perkembangan keadaan. Persiapan juga perlu mempertimbangkan bahwa dampak El Nino dan La Nina dapat berbeda antarwilayah dan berubah mengikuti intensitas serta durasi fenomena.

Alasan utama persiapan diperlukan ialah jangkauan dampaknya yang dapat meluas ke berbagai sektor. Perubahan pola hujan, misalnya, dapat memengaruhi ketersediaan pangan, baik melalui gangguan terhadap produksi maupun distribusi. Pada saat yang sama, kondisi cuaca ekstrem berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan, banjir, dan tanah longsor, bergantung pada situasi setempat. Karena itu, rencana kontingensi diharapkan memuat langkah yang dapat dijalankan sesuai risiko, bukan sekadar perkiraan umum. Pendekatan tersebut dapat mendukung kesiapan lembaga terkait, membantu pengelolaan sumber daya, serta mengurangi kerentanan masyarakat ketika dampak iklim mulai dirasakan. Ketersediaan data yang diperbarui dan koordinasi antarpihak menjadi unsur penting dalam menindaklanjuti usulan tersebut.

Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pemerintah menjadikan data sebagai dasar untuk mengantisipasi dampak El Nino dan La Nina terhadap sektor pertanian. Informasi mengenai kondisi iklim perlu digunakan untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, sehingga pemerintah dapat memahami kebutuhan tiap wilayah sebelum dampak cuaca mengganggu kegiatan pertanian. Pemetaan berbasis data juga membantu mengarahkan tindakan agar sesuai dengan kondisi yang diperkirakan, bukan sekadar mengandalkan langkah yang sama untuk semua tempat. Dengan demikian, informasi iklim dapat menjadi bagian penting dalam persiapan dan pengambilan keputusan. Antisipasi yang direncanakan lebih awal memberi ruang bagi pemerintah dan pelaku pertanian untuk menyesuaikan langkah berdasarkan risiko kekeringan yang teridentifikasi.

Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu mencontohkan bahwa kesiapan dapat mencakup penyiapan pompa dan pemanfaatannya secara tepat. Keberadaan pompa saja tidak cukup apabila penggunaannya tidak disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan di lapangan. Karena itu, data mengenai potensi kekeringan dapat menjadi acuan untuk menentukan kapan serta bagaimana sarana tersebut digunakan. Contoh lain berkaitan dengan waktu tanam. Pemerintah dan pihak terkait perlu mempertimbangkan kondisi yang diperkirakan ketika menentukan waktu tanam, atau menundanya apabila keadaan diperkirakan kering. Keputusan tersebut penting agar kegiatan pertanian tidak ditetapkan tanpa mempertimbangkan informasi iklim. Penyesuaian waktu tanam bukan keputusan yang dapat dilepaskan dari pemetaan risiko, melainkan salah satu bentuk respons terhadap kondisi yang mungkin terjadi.

Rencana antisipasi juga perlu memperhitungkan perkiraan bahwa El Nino dapat berlanjut hingga kuartal pertama 2027, sebelum kemudian muncul potensi La Nina. Urutan dan rentang kemungkinan perubahan kondisi tersebut membuat penggunaan data penting dalam menyusun persiapan yang relevan. Pemerintah perlu mempertimbangkan prediksi tersebut ketika menilai wilayah yang berisiko, menyiapkan pompa, menentukan penggunaan sarana, serta memutuskan apakah waktu tanam perlu disesuaikan atau ditunda. Pertimbangan terhadap kemungkinan La Nina setelah El Nino juga menjadi bagian dari perencanaan, tanpa mengabaikan ketidakpastian yang melekat pada prediksi iklim. Dorongan DEN menekankan bahwa langkah di sektor pertanian sebaiknya mengikuti informasi yang tersedia dan diperbarui, agar respons terhadap risiko kekeringan dapat ditentukan secara lebih terarah.

Selain mendorong penggunaan data untuk mengantisipasi El Nino dan La Nina, Dewan Energi Nasional (DEN) turut menaruh perhatian pada dampak bencana serta kemungkinan gangguan terhadap pasokan pangan. Antisipasi diperlukan agar perubahan kondisi iklim tidak hanya dipahami sebagai persoalan cuaca, tetapi juga dipertimbangkan dalam upaya menjaga kebutuhan masyarakat. Ketersediaan pangan, pergerakan harga, dan stok cadangan menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam menghadapi risiko tersebut.

Mari Elka menyebut tiga hal yang perlu menjadi perhatian, yaitu menjaga ketersediaan pangan, memastikan harga tidak melonjak, serta mempertahankan stok cadangan pangan. Ketiga aspek itu saling berkaitan dalam menjaga ketahanan pangan ketika terjadi gangguan. Ketersediaan yang terjaga membantu memenuhi kebutuhan, sementara perhatian terhadap harga dan cadangan dapat mendukung kesiapan menghadapi perubahan situasi. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya mengantisipasi risiko, bukan memastikan bahwa dampak tertentu pasti terjadi.

Menurut Mari Elka, kenaikan harga pangan kerap menyertai kejadian El Nino. Karena itu, kemungkinan perubahan harga perlu diperhitungkan sebagai salah satu dampak yang patut diwaspadai. Pandangan tersebut menjadi alasan agar persiapan dilakukan sebelum gangguan berkembang, termasuk dengan memperhatikan kondisi pangan dan cadangan yang tersedia. Namun, hubungan yang disampaikan itu merupakan perhatian narasumber mengenai kecenderungan yang kerap terjadi, bukan kepastian bahwa setiap kejadian El Nino akan selalu diikuti lonjakan harga.

Dalam kerangka antisipasi, pemantauan berbasis data dapat membantu pihak terkait mengenali perubahan kondisi dan mempertimbangkan langkah yang sesuai. Informasi yang tersedia dapat menjadi bahan untuk melihat potensi risiko terhadap pangan, sekaligus mendukung perhatian pada tiga hal yang disampaikan Mari Elka. Dengan demikian, upaya menjaga ketersediaan, mencegah lonjakan harga, dan mempertahankan stok cadangan dapat ditempatkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak bencana maupun gangguan pasokan. Pendekatan ini penting agar kewaspadaan dapat dibangun tanpa menganggap dampak yang mungkin terjadi sebagai sesuatu yang sudah pasti.Prakiraan BMKG menjadi dasar penting untuk membaca perbedaan risiko yang mungkin dihadapi Indonesia. El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat diperkirakan bertahan sampai awal 2027. Kondisi ini berpotensi mengurangi ketersediaan hujan di sejumlah wilayah dan meningkatkan ancaman kekeringan. Dampaknya dapat merambat pada pasokan air untuk rumah tangga, pertanian, serta kebutuhan lainnya, terutama apabila periode kering berlangsung cukup lama. Karena itu, informasi prakiraan perlu dipahami sebagai masukan bagi langkah antisipasi, bukan sekadar gambaran kondisi cuaca dalam waktu dekat.

Risiko terkait El Nino juga mencakup krisis air dan kebakaran hutan dan lahan. Ketika hujan berkurang, sumber air dapat menyusut sementara vegetasi dan lahan menjadi lebih rentan terbakar. Perhatian tersebut perlu disandingkan dengan prakiraan awal musim hujan: di sebagian besar wilayah Indonesia, musim hujan diperkirakan datang lebih lambat. Puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Perbedaan waktu dan kondisi antardaerah membuat pemantauan data secara berkala penting, agar kesiapan menghadapi kekeringan tidak mengabaikan perubahan menuju periode hujan.

La Nina menghadirkan profil risiko yang berbeda. Fenomena ini dapat meningkatkan curah hujan dan, dengan demikian, memperbesar kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor termasuk risiko yang perlu diperhatikan ketika hujan meningkat, khususnya pada wilayah yang rentan terhadap dampak tersebut. Dengan membedakan potensi pengurangan hujan akibat El Nino dari peningkatan curah hujan yang dapat menyertai La Nina, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menyesuaikan langkah kesiapsiagaan.