DEN Soroti Ancaman El Nino dan La Nina terhadap Pasokan Pangan

oleh -93 Dilihat
oleh
DEN Soroti Ancaman El Nino dan La Nina terhadap Pasokan Pangan

Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyoroti potensi ancaman El Nino dan La Nina terhadap persediaan pangan. Perubahan kondisi iklim tersebut menjadi salah satu persoalan yang disampaikan Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pembahasan itu menempatkan risiko cuaca ekstrem sebagai perhatian yang berkaitan dengan kesiapan pasokan pangan.

Usai rapat, Luhut menyebut bahwa sejumlah persoalan yang mungkin timbul telah dibahas bersama Presiden. Ia juga menyampaikan bahwa solusi untuk menghadapi persoalan tersebut dinilai masih dapat dikelola. Pernyataan itu menunjukkan adanya pembahasan mengenai kemungkinan tantangan ke depan, tanpa merinci langkah tertentu ataupun perubahan yang telah terjadi pada persediaan pangan.

El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim yang berpotensi memengaruhi kondisi cuaca. Dalam konteks pasokan pangan, potensi dampaknya menjadi perhatian karena perubahan cuaca dapat menghadirkan risiko bagi ketersediaan hasil produksi dan distribusi. Namun, berdasarkan keterangan yang disampaikan setelah pertemuan, DEN hanya menyebut ancaman tersebut sebagai salah satu persoalan yang dibahas, disertai solusi yang dianggap masih bisa dikelola.

Informasi mengenai pertemuan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah mencermati kemungkinan pengaruh cuaca ekstrem terhadap ketahanan pasokan. Meski demikian, Luhut tidak memaparkan rincian tambahan tentang isi rapat, bentuk solusi yang dibicarakan, atau perkiraan dampak El Nino dan La Nina. Karena itu, perhatian utama dari keterangannya adalah adanya potensi risiko terhadap persediaan pangan serta penilaian bahwa persoalan yang mungkin muncul masih dapat ditangani. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan dengan Presiden di Istana Negara pada Selasa, 20 Oktober 2026, dan menjadi dasar laporan mengenai perhatian DEN terhadap ancaman iklim tersebut.

Luhut menyoroti bahwa El Nino dan La Nina diperkirakan datang dalam beberapa waktu ke depan dan perlu menjadi perhatian pemerintah. Kedua fenomena tersebut berkaitan dengan kondisi alam yang dapat memengaruhi ketersediaan pangan, sekaligus meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir. Karena itu, kesiapan tidak cukup hanya dilakukan setelah dampak terlihat. Pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan yang dapat muncul agar persiapan pangan dapat disusun lebih awal dan respons terhadap risiko banjir dapat dipertimbangkan secara terencana.

Dalam penjelasannya, Luhut menekankan bahwa fenomena alam seperti El Nino dan La Nina berada di luar kendali manusia. Pemerintah tidak dapat menentukan apakah atau kapan kondisi tersebut terjadi, sehingga upaya yang tepat adalah menyiapkan langkah kontingensi berdasarkan hal-hal yang masih dapat diperkirakan. Pendekatan ini menempatkan perencanaan sebagai bagian penting dalam menghadapi ketidakpastian. Dengan memperkirakan waktu dan kemungkinan kondisi yang akan dihadapi, pemerintah dapat menyiapkan pilihan tindakan tanpa menganggap bahwa keadaan alam bisa dikendalikan.

Salah satu contoh yang disampaikan Luhut adalah mempertimbangkan waktu untuk memulai penanaman. Penentuan waktu tanam dapat menjadi bagian dari persiapan pangan karena berkaitan dengan upaya menjaga ketersediaan pasokan ketika El Nino atau La Nina datang. Pertimbangan tersebut perlu disusun dengan melihat kondisi yang dapat diperkirakan, bukan dengan asumsi bahwa fenomena alam dapat dicegah. Dengan demikian, langkah kontingensi dapat membantu pemerintah mempersiapkan kebutuhan pangan sekaligus memberi perhatian pada kemungkinan banjir yang menyertai kondisi tersebut. Pesan utamanya adalah menyusun kesiapan lebih awal, termasuk dalam menentukan waktu penanaman, agar pemerintah memiliki langkah yang telah dipertimbangkan ketika menghadapi perubahan kondisi alam. Perencanaan semacam ini menjadi relevan karena ancaman terhadap pasokan pangan dan kemungkinan banjir perlu diperhatikan bersama dalam menghadapi kedatangan kedua fenomena itu. Pemerintah dapat menggunakan perkiraan yang tersedia sebagai dasar untuk menentukan persiapan yang sesuai, sambil tetap menyadari bahwa El Nino dan La Nina merupakan kondisi alam di luar kendali manusia. Karena itu, perhatian Luhut berpusat pada antisipasi dan kontingensi, bukan pada klaim bahwa dampaknya dapat dihilangkan.Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, mengingatkan bahwa perubahan pola iklim perlu menjadi perhatian dalam menjaga pasokan pangan. Menurut perkiraan yang disampaikan Mari, El Nino diperkirakan berlangsung hingga kuartal I 2027, sementara La Nina diprediksi terjadi pada pertengahan 2027. Pergantian kondisi tersebut dapat membawa dampak berbeda bagi wilayah dan periode tanam, sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi berdasarkan kondisi lapangan, bukan hanya mengandalkan perkiraan umum.

Mari menyarankan agar pemerintah memanfaatkan data untuk mengidentifikasi titik-titik yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemetaan tersebut dapat membantu menentukan daerah yang membutuhkan perhatian lebih awal serta memperjelas kapan dan di mana intervensi perlu dilakukan. Dengan mengenali risiko secara lebih terperinci, pemerintah dapat mengarahkan dukungan kepada wilayah yang paling rentan dan menyusun upaya pengelolaan air sesuai kebutuhan setempat. Mari menekankan pentingnya penggunaan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menghadapi kemungkinan kekeringan.

Dalam paparannya, Mari juga menyebut penggunaan pompa air secara tepat sebagai salah satu langkah antisipasi. Pompa dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di lokasi yang menghadapi kekeringan, tetapi penempatannya perlu mempertimbangkan titik rawan dan kondisi sumber air. Pendekatan berbasis pemetaan dinilai penting agar penggunaan sarana tersebut lebih terarah. Pemerintah juga perlu menyesuaikan jadwal tanam dengan keadaan cuaca dan ketersediaan air di masing-masing daerah, menurut Mari.

Jika kondisi benar-benar kering, Mari menyampaikan bahwa penanaman mungkin perlu ditunda. Penyesuaian waktu tanam dapat mengurangi risiko tanaman menghadapi kekurangan air pada fase pertumbuhan yang penting. Keputusan tersebut, menurut Mari, perlu merujuk pada data dan perkembangan kondisi di lapangan. Karena itu, pemantauan berkala dan koordinasi pemerintah serta pihak terkait diperlukan agar petani memperoleh arahan yang sesuai. Perkiraan El Nino hingga awal 2027 dan La Nina pada pertengahan tahun itu menjadi pengingat untuk menyiapkan respons secara dini. Mari menilai pemetaan risiko, penggunaan pompa yang tepat, dan penyesuaian jadwal tanam sebagai langkah yang dapat membantu mengantisipasi tekanan terhadap produksi pangan akibat kekeringan.

Mari Elka menekankan bahwa antisipasi pemerintah terhadap gangguan pasokan pangan tidak cukup hanya memperhatikan risiko El Niño dan La Niña. Upaya tersebut juga perlu memperhitungkan kemungkinan banjir serta dampak bencana lainnya. Dengan cakupan risiko yang lebih luas, perhatian terhadap pangan dapat disesuaikan dengan beragam kondisi yang mungkin memengaruhi ketersediaannya. Banjir dan bencana lain perlu masuk dalam pertimbangan, sehingga kesiapan tidak bertumpu pada satu jenis ancaman saja. Penekanan ini menempatkan prakiraan dan data yang tersedia sebagai landasan penting dalam memahami risiko, bukan sekadar mengandalkan perkiraan umum mengenai perubahan cuaca atau kondisi lingkungan.

Menurut Mari Elka, pemerintah perlu merujuk pada data dan prakiraan yang tersedia ketika mengantisipasi kemungkinan banjir maupun dampak bencana lainnya. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mengenali ancaman dan mempertimbangkan potensi pengaruhnya terhadap pasokan pangan. Penggunaan data juga membantu agar perhatian terhadap risiko dilakukan secara terarah, sesuai informasi yang ada. Dalam konteks ini, prakiraan bukan hanya berkaitan dengan perubahan fenomena iklim, tetapi juga dengan kemungkinan kejadian lain yang berpotensi mengganggu ketersediaan pangan. Karena itu, banjir dan dampak bencana lainnya menjadi bagian dari hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam upaya menjaga pasokan.

Tujuan yang disampaikan Mari Elka adalah menjaga ketersediaan pangan sekaligus kestabilan harga pangan. Kedua hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk mengantisipasi risiko yang dapat memengaruhi pasokan, termasuk bencana yang tidak terbatas pada El Niño dan La Niña.

Baca juga: DAF & Partners Akhiri Kuasa terhadap AD: Bukan Vonis, Melainkan Penegasan Batas Mandat Hukum | Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Ada kemungkinan Libra hanya sedang mengalami fase emosional yang membuat cara pandangnya terhadap hubungan menjadi berbeda