Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Massa Suarakan Lima Tuntutan

oleh -83 Dilihat
oleh
Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Massa Suarakan Lima Tuntutan

Jakarta | Demonstrasi untuk memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Jakarta Pusat. Massa berkumpul di sekitar Patung Pahlawan yang juga dikenal sebagai Tugu Tani. Lokasi tersebut menjadi titik berkumpul peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi terkait perjalanan pemerintahan sejak Prabowo dan Gibran mulai menjabat. Peringatan dua tahun itu menjadi latar bagi demonstrasi yang diikuti berbagai elemen masyarakat.

Sebelum berkumpul di sekitar patung, aliansi yang terdiri atas beragam kelompok menyampaikan orasi di pinggir jalan. Dalam kegiatan tersebut, peserta menyuarakan pandangan dan tuntutan mereka kepada pemerintah. Penyampaian aspirasi melalui orasi menjadi bagian dari rangkaian aksi sebelum massa berada di sekitar Tugu Tani. Keberadaan sejumlah elemen masyarakat dalam aliansi menunjukkan bahwa demonstrasi tersebut melibatkan kelompok dengan latar yang beragam, meskipun rincian identitas setiap kelompok tidak disebutkan.

Area sekitar Tugu Tani menjadi pusat perhatian selama aksi berlangsung. Peserta memanfaatkan ruang publik untuk berkumpul dan menyampaikan pesan, sementara lokasi di pinggir jalan menjadi tempat orasi sebelum mereka berkumpul di dekat patung. Aksi ini bertepatan dengan penanda dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan memberi ruang bagi massa untuk mengemukakan evaluasi serta harapan mereka. Dalam demonstrasi tersebut, massa menyuarakan lima tuntutan. Tuntutan-tuntutan itu menjadi pokok pesan yang dibawa dalam aksi, sekaligus mencerminkan aspirasi yang ingin disampaikan kepada pemerintah. Informasi mengenai demonstrasi ini menempatkan waktu, lokasi, dan rangkaian penyampaian orasi sebagai unsur utama kegiatan. Dengan berlangsungnya aksi di kawasan Tugu Tani, peringatan dua tahun pemerintahan tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga momentum bagi peserta untuk menyampaikan sikap secara terbuka di ruang publik Jakarta Pusat.

Setelah rangkaian orasi disampaikan, massa berkumpul di sekitar patung pahlawan untuk memasang spanduk berisi tuntutan kepada pemerintah. Spanduk tersebut dibentangkan dan menampilkan tulisan “Tuntutan Rakyat” sebagai penanda aspirasi yang ingin disampaikan para peserta aksi. Aksi pemasangan berlangsung di tengah kerumunan, sementara sejumlah orang membantu mengatur posisi kain agar pesannya dapat terlihat oleh orang-orang yang berada di sekitar lokasi. Langkah ini menjadi bagian dari penyampaian sikap massa setelah mereka menyuarakan tuntutan melalui orasi.

Dalam proses pemasangan, dua orang memanjat patung untuk mengikat tali yang digunakan menahan spanduk. Keduanya berupaya memastikan tali terpasang sehingga bentangan kain dapat berada pada posisi yang terbaca dengan jelas. Massa di bawah ikut memperhatikan proses tersebut, termasuk saat spanduk direntangkan dan disesuaikan. Tulisan “Tuntutan Rakyat” kemudian tampak sebagai pesan utama yang dibawa dalam aksi, sekaligus mengarahkan perhatian pada desakan yang ditujukan kepada pemerintah. Tidak ada rincian lain mengenai isi tuntutan yang tertulis pada spanduk dalam bagian peristiwa ini.

Saat pemasangan berlangsung, massa menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki. Nyanyian itu terdengar ketika spanduk sedang dipasang di sekitar patung, mengiringi upaya para peserta untuk membentangkan dan mengikatnya. Perpaduan penyampaian aspirasi melalui tulisan dan lagu kebangsaan menjadi bagian dari suasana aksi pada saat itu. Setelah tali diikat, spanduk dapat terpasang dan dibaca oleh orang-orang di sekitar patung. Adegan tersebut menutup rangkaian kegiatan setelah orasi, dengan massa tetap berkumpul di lokasi untuk menyuarakan desakan kepada pemerintah melalui pesan yang mereka tampilkan secara terbuka.

Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi menyaksikan proses pemasangan spanduk oleh massa. Perhatian warga tertuju pada kegiatan tersebut ketika beberapa orang berupaya menempatkan spanduk di area patung. Mereka mengamati dari sekitar lokasi, sementara proses pemasangan berlangsung di hadapan masyarakat yang berada di sana. Situasi itu membuat kegiatan massa disaksikan langsung oleh warga yang melintas atau berkumpul di sekitar tempat tersebut.

Ketika massa berupaya memasang spanduk, sejumlah warga memberikan tepuk tangan. Tepuk tangan terdengar di tengah proses tersebut, saat para peserta berusaha menempatkan spanduk agar dapat terpasang. Respons itu datang dari warga yang menyaksikan kegiatan di lokasi. Tidak ada keterangan mengenai identitas warga yang memberikan tepuk tangan maupun jumlah orang yang terlibat. Peristiwa tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya pemasangan spanduk oleh massa.

Di tengah kegiatan, aparat kepolisian sempat menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak memanjat patung. Imbauan itu ditujukan kepada warga yang berada di sekitar lokasi, menyusul adanya upaya untuk memasang spanduk di area tersebut. Polisi meminta masyarakat untuk tidak naik atau memanjat patung selama proses berlangsung. Setelah upaya pemasangan dilakukan, spanduk pada akhirnya berhasil dipasang. Keberhasilan pemasangan itu menandai berakhirnya proses yang disaksikan warga dan berlangsung dengan adanya imbauan dari aparat. Rangkaian peristiwa di sekitar lokasi mencakup warga yang memperhatikan, tepuk tangan ketika massa berupaya memasang spanduk, serta permintaan polisi agar masyarakat tidak memanjat patung. Spanduk kemudian terpasang, sementara warga dan aparat berada di sekitar area tersebut. Tidak terdapat keterangan tambahan mengenai isi imbauan, durasi proses pemasangan, ataupun tindakan lanjutan setelah spanduk berhasil dipasang. Karena itu, respons warga dan imbauan kepolisian dapat dijelaskan sebatas peristiwa yang terlihat selama pemasangan berlangsung. Warga menyaksikan kegiatan tersebut dari sekitar lokasi, dan sebagian memberikan tepuk tangan pada saat massa berusaha memasang spanduk. Aparat menyampaikan permintaan agar masyarakat tidak memanjat patung, lalu spanduk berhasil dipasang.Setelah spanduk terpasang, massa kembali menyuarakan lima tuntutan dalam aksi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Berbagai isu yang diangkat mencerminkan persoalan yang mereka nilai perlu mendapat perhatian pemerintah. Tuntutan tersebut mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan serta banjir, kondisi ekonomi, kebebasan berpendapat, pemberantasan korupsi, dan pemerataan layanan publik. Lima isu itu disampaikan sebagai bagian dari pesan utama aksi, setelah sebelumnya massa menyampaikan sikap melalui spanduk. Dengan menyuarakannya secara terbuka, peserta aksi membawa perhatian pada persoalan-persoalan yang mereka anggap penting dalam menilai jalannya pemerintahan selama dua tahun terakhir. Tidak ada rincian tuntutan tambahan yang disampaikan dalam pokok-pokok tersebut.

Dalam isu lingkungan dan kebencanaan, massa mendesak agar kebakaran hutan dan lahan serta banjir ditetapkan sebagai bencana nasional. Desakan ini menjadi salah satu dari lima pokok yang mereka suarakan. Selain itu, persoalan ekonomi juga masuk dalam daftar tuntutan, tanpa uraian lebih jauh mengenai aspek tertentu yang menjadi sorotan. Kebebasan berpendapat turut disebut sebagai isu yang perlu diperhatikan. Kehadiran tema tersebut menunjukkan bahwa ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat menjadi bagian dari perhatian para peserta aksi. Namun, tuntutan yang disampaikan tetap merujuk pada isu secara umum dan tidak memuat rincian langkah atau kebijakan khusus yang diminta kepada pemerintah.

Dua isu lainnya adalah pemberantasan korupsi dan pemerataan layanan publik. Keduanya disuarakan bersama tiga persoalan lain sebagai rangkaian tuntutan dalam aksi peringatan tersebut. Massa tidak hanya menyoroti satu bidang, melainkan menyampaikan sejumlah perhatian yang mencakup kebencanaan, ekonomi, kebebasan berpendapat, tata kelola, serta akses terhadap layanan publik. Seluruh pokok itu kembali disampaikan setelah pemasangan spanduk, sehingga menjadi inti pesan yang dibawa dalam aksi. Lima tuntutan tersebut menggambarkan agenda yang ingin disuarakan massa pada momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Penyampaian tuntutan juga menempatkan isu-isu itu sebagai perhatian publik, tanpa menambahkan rincian di luar pokok yang mereka nyatakan.

Baca juga: Aksi Airborne Lima Negara Warnai Latgabma SGS 2026