Doddy Katamsi Meninggal Setelah 45 Hari Dirawat akibat Komplikasi Jantung dan Ginjal

oleh -83 Dilihat
oleh
Doddy Katamsi Meninggal Setelah 45 Hari Dirawat akibat Komplikasi Jantung dan Ginjal

Jakarta | Musisi senior Doddy Katamsi meninggal dunia pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 13.15 WIB. Ia wafat setelah menjalani perawatan intensif selama 45 hari di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Selama masa perawatan tersebut, Doddy tengah berjuang menghadapi komplikasi penyakit jantung dan ginjal.

Kabar ini menandai berakhirnya perjuangan Doddy selama lebih dari enam pekan menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mendapatkan penanganan intensif di RSUI sebelum mengembuskan napas terakhir pada siang hari. Informasi yang disampaikan menyebutkan masa perawatan, waktu wafat, serta komplikasi jantung dan ginjal yang dihadapinya.

Doddy dikenal sebagai musisi senior. Kepergiannya menjadi kabar duka bagi dunia musik dan orang-orang yang mengenalnya. Namun, informasi mengenai detail perjalanan pengobatan, kondisi kesehatannya dari hari ke hari, maupun keadaan menjelang wafat belum disampaikan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, penyebab kematian secara spesifik tidak dapat ditambahkan di luar informasi bahwa ia sedang berjuang menghadapi komplikasi penyakit jantung dan ginjal.

Dengan demikian, fakta utama yang dapat dipastikan adalah Doddy Katamsi meninggal pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 13.15 WIB, setelah dirawat intensif selama 45 hari di RSUI. Perawatan itu berlangsung ketika ia menghadapi komplikasi yang melibatkan jantung dan ginjal. Penyebutan waktu dan lama perawatan tersebut memberikan gambaran mengenai periode yang dijalaninya di rumah sakit, tanpa menguraikan rincian medis lain yang belum dikonfirmasi.

Kabar wafatnya Doddy menjadi perhatian karena ia merupakan sosok senior di bidang musik. Untuk saat ini, informasi yang tersedia berfokus pada kabar meninggal dunia dan masa perawatannya. Tidak ada keterangan tambahan yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab lain atau menjelaskan secara lebih rinci kondisi medisnya. Fakta tersebut tetap menjadi inti pemberitaan mengenai kepergian Doddy Katamsi.

Aning Katamsi, adik Doddy, menyampaikan bahwa kakaknya mulai menjalani perawatan di rumah sakit pada 1 September 2026. Keterangan mengenai awal masa rawat itu disampaikan saat Aning ditemui di TPU Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Dengan demikian, Doddy telah dirawat selama sekitar 45 hari sebelum meninggal dunia. Masa perawatan yang berlangsung lebih dari sebulan tersebut berkaitan dengan komplikasi kesehatan yang dialaminya, termasuk masalah pada jantung dan ginjal.

Menurut Aning, kondisi ginjal Doddy membuatnya harus menjalani cuci darah secara rutin. Prosedur tersebut menjadi bagian dari perawatan untuk menangani gangguan ginjal yang dideritanya, selama ia berada dalam pengawasan tenaga medis. Aning menyebut kebutuhan menjalani cuci darah muncul seiring masalah kesehatan yang dialami kakaknya. Informasi ini memberi gambaran mengenai intensitas penanganan yang dibutuhkan Doddy selama masa rawat, meskipun keterangan yang disampaikan di lokasi pemakaman tidak merinci jadwal, frekuensi, ataupun jenis tindakan medis lainnya.

Aning juga menjelaskan bahwa gangguan jantung dan ginjal bukan persoalan yang baru muncul ketika Doddy dirawat pada September. Riwayat masalah pada kedua organ itu telah berlangsung cukup lama. Kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya tersebut menjadi latar penting untuk memahami perawatan yang dijalani Doddy pada masa-masa terakhirnya. Namun, keterangan keluarga yang disampaikan kepada wartawan tidak menguraikan secara terperinci kapan gangguan itu pertama kali diketahui, bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu, atau hubungan pasti kedua masalah kesehatan tersebut.

Pernyataan Aning di TPU Pangkalan Jati pada 16 Oktober 2026 menjadi sumber keterangan mengenai awal perawatan dan cuci darah rutin Doddy. Ia menyampaikan informasi itu setelah kakaknya meninggal, dalam suasana keluarga berduka. Rangkaian fakta yang disampaikan menunjukkan bahwa Doddy menjalani perawatan sejak 1 September, dengan kebutuhan cuci darah karena gangguan ginjal, sementara riwayat masalah jantung dan ginjal telah berlangsung lama. Keterangan tersebut membantu menjelaskan kondisi medis yang diketahui keluarga, tanpa menambahkan rincian diagnosis atau tindakan yang tidak disampaikan Aning.

Selama menjalani perawatan, Doddy Katamsi sempat mengalami delirium atau gangguan kesadaran. Informasi tersebut disampaikan Aning ketika menjelaskan perkembangan kondisi Doddy selama dirawat. Delirium dapat membuat seseorang mengalami perubahan pada kesadaran dan kemampuan memahami keadaan di sekitarnya. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci bentuk gejala yang dialami Doddy, berapa lama gangguan itu berlangsung, ataupun seberapa sering kondisinya muncul.

Menurut Aning, gangguan kesadaran itu terjadi setelah Doddy menjalani tindakan pemasangan stent, yang juga kerap disebut ring, pada jantung. Urutan tersebut memberi konteks mengenai perjalanan perawatan Doddy, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa prosedur pemasangan stent menjadi penyebab delirium. Informasi yang disampaikan hanya mengaitkan kemunculan gangguan itu dengan masa setelah tindakan, sehingga hubungan sebab-akibat perlu dijelaskan secara hati-hati.

Dalam perawatan pasien dengan persoalan kesehatan yang kompleks, perubahan kesadaran dapat berkaitan dengan berbagai faktor. Akan tetapi, tanpa penjelasan medis yang lebih terperinci, tidak tepat untuk memastikan faktor tertentu sebagai pemicu kondisi Doddy. Keterangan Aning mengenai waktu kemunculan delirium sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kronologi perawatan, bukan sebagai diagnosis tentang penyebabnya. Tidak tersedia pula rincian yang dapat memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan komplikasi jantung, gangguan ginjal, tindakan medis, atau faktor lain.

Dengan demikian, informasi yang dapat dipastikan dari penuturan Aning adalah Doddy sempat mengalami delirium setelah menjalani pemasangan stent jantung. Penjelasan tersebut membantu menggambarkan bahwa masa perawatannya mencakup perubahan pada kesadaran, selain persoalan kesehatan yang telah disebutkan. Namun, untuk mengetahui alasan medis di balik gangguan tersebut, diperlukan keterangan tenaga kesehatan atau catatan medis yang menjelaskan evaluasi dan penanganannya. Sampai ada informasi lebih lanjut, penyebab delirium tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan urutan waktu yang diceritakan.

Aning menjelaskan bahwa pemasangan ring yang dijalani Doddy dilakukan melalui prosedur kateterisasi. Dalam prosedur tersebut digunakan zat kontras untuk membantu proses tindakan. Penggunaan zat itu menjadi perhatian karena kondisi fungsi ginjal Doddy saat itu disebut kurang baik. Menurut penjelasan Aning, keadaan tersebut membuat tubuh Doddy tidak dapat mengeluarkan zat kontras secara optimal setelah prosedur dilakukan.

Akibatnya, zat kontras yang digunakan dalam kateterisasi itu masih beredar di dalam tubuh Doddy. Aning mengaitkan keadaan tersebut dengan kondisi ginjalnya yang tidak berfungsi dengan baik. Penjelasan ini memberi gambaran mengenai hal yang menjadi perhatian keluarga selama Doddy menjalani perawatan, tanpa menyatakan bahwa zat tersebut merupakan satu-satunya penyebab dari perubahan kondisi yang dialaminya. Poin utamanya adalah bahwa proses pembuangan zat kontras tidak berlangsung optimal, sehingga zat itu belum sepenuhnya keluar dari tubuh.

Dalam keterangannya, Aning juga menyebut bahwa keadaan tersebut diduga berkontribusi terhadap gangguan kesadaran yang dialami Doddy selama masa perawatan. Dengan demikian, penjelasan mengenai prosedur pemasangan ring, penggunaan zat kontras, dan fungsi ginjal yang kurang baik disampaikan sebagai rangkaian informasi untuk memahami kondisi Doddy. Aning menggunakan istilah dugaan ketika menghubungkan zat kontras yang masih beredar dengan gangguan kesadaran tersebut. Keterangan itu tidak memastikan hubungan sebab-akibat secara mutlak, tetapi menjelaskan salah satu hal yang dipertimbangkan dalam memahami perubahan kesadaran Doddy selama dirawat. Selama 45 hari perawatan, kondisi ginjal yang kurang baik disebut berpengaruh pada kemampuan tubuh mengeluarkan zat kontras dari prosedur kateterisasi. Karena itu, zat tersebut masih beredar di dalam tubuhnya, dan keadaan ini diduga ikut berkontribusi terhadap gangguan kesadaran yang dialami. Penjelasan Aning berfokus pada keterkaitan kondisi ginjal, zat kontras, dan perubahan kesadaran tersebut.

Baca juga: Asieh Moulaeinejad meninggal dunia karena luka parah