Banjir dan Longsor Aceh Tenggara Ganggu Jalan Nasional, Pertanian, dan Layanan Air

oleh -93 Dilihat
oleh
Banjir dan Longsor Aceh Tenggara Ganggu Jalan Nasional, Pertanian, dan Layanan Air

Kabupaten Aceh Tenggara | Hujan deras dengan curah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama memicu banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tenggara sejak Jumat, 9 Oktober 2026. Hujan yang terus turun meningkatkan aliran air dan menyebabkan genangan di sejumlah wilayah, sementara kondisi tanah yang jenuh turut memicu longsor. Dampak bencana tersebar di beberapa desa dan kecamatan, sehingga warga di wilayah terdampak menghadapi gangguan akibat banjir maupun material longsor. Peristiwa ini kembali memperlihatkan dampak hujan berkepanjangan terhadap permukiman dan kawasan sekitarnya di kabupaten tersebut.

Wilayah yang terdampak mencakup Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe, Desa Pulonas Baru di Kecamatan Lawe Bulan, serta Desa Pulo Latong di Kecamatan Babussalam. Banjir juga melanda sembilan desa di Kecamatan Bambel. Sebaran lokasi ini menunjukkan bahwa dampak tidak terbatas pada satu desa, tetapi terjadi di sejumlah kecamatan yang disebutkan. Meski bentuk dampak dapat berbeda di tiap lokasi, banjir dan longsor sama-sama menjadi perhatian bagi masyarakat setempat. Penanganan dan pemantauan di wilayah terdampak perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing desa serta perubahan cuaca yang berlangsung.

Banjir kembali berdampak pada lahan pertanian, sehingga kejadian ini juga menyentuh kegiatan warga yang bergantung pada sektor tersebut. Genangan dapat mengganggu lahan dan pekerjaan pertanian, sementara longsor menambah risiko bagi area yang terdampak hujan deras. Dampak terhadap pertanian menjadi bagian penting dari gambaran bencana, selain gangguan yang dirasakan di permukiman. Dengan hujan berintensitas tinggi yang berlangsung lama sebagai pemicu, perkembangan kondisi di desa-desa terdampak perlu terus diperhatikan. Informasi mengenai lokasi yang terkena banjir dan longsor membantu menggambarkan cakupan kejadian di Kabupaten Aceh Tenggara tanpa mengabaikan dampaknya terhadap lahan pertanian setempat.

Banjir di Aceh Tenggara berdampak langsung pada lahan pertanian di Kecamatan Bambel dan Kecamatan Lawe Sumur. Di Bambel, genangan merendam 74,5 hektare tanaman padi serta 43,24 hektare tanaman jagung. Sementara itu, di Lawe Sumur, lahan padi seluas 36 hektare dilaporkan terdampak. Rincian ini menunjukkan bahwa gangguan tidak hanya mengenai satu jenis tanaman, tetapi mencakup padi dan jagung yang ditanam warga di beberapa wilayah kecamatan.

Luas lahan terdampak yang dicantumkan dalam uraian laporan mencapai 154,74 hektare. Namun, angka berbeda muncul dalam kutipan Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, yang menyebut total 153,74 hektare. Kedua angka tersebut perlu disampaikan sesuai sumber masing-masing: 154,74 hektare sebagai angka dalam uraian, dan 153,74 hektare sebagai angka yang dinyatakan Bahron. Perbedaan itu tidak dapat diselaraskan berdasarkan rincian yang tersedia, sehingga tidak tepat memilih salah satu angka sebagai angka pasti atau menganggapnya sebagai hasil perhitungan ulang.

Dampak pada tanaman menjadi bagian penting dari gambaran kerugian banjir, meskipun informasi yang tersedia belum merinci tingkat kerusakan pada setiap petak, kondisi tanaman setelah air surut, ataupun hasil panen yang mungkin hilang. Data per kecamatan tetap memberi gambaran lokasi dan komoditas yang disebut terdampak: padi dan jagung di Bambel, serta padi di Lawe Sumur. Dengan mempertahankan rincian tersebut bersama perbedaan angka total, pembaca dapat memahami cakupan gangguan tanpa mengabaikan ketidakpastian dalam pelaporan. Informasi lanjutan mengenai verifikasi luas, kondisi sawah dan ladang, serta kebutuhan pemulihan petani akan membantu menjelaskan dampak secara lebih lengkap. Hingga rincian itu tersedia, luas terdampak sebaiknya dirujuk dengan atribusi yang jelas dan tidak diperlakukan sebagai satu angka yang telah disepakati.

Banjir dan longsor di Aceh Tenggara berdampak pada ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren. Di sekitar jalur tersebut, tanggul jebol dan longsor terjadi sehingga mengganggu akses yang menghubungkan kedua wilayah. Material longsor menutupi badan jalan dan membuat kendaraan tidak dapat melintas dengan lancar. Kondisi ini menjadi hambatan langsung bagi pengguna jalan, terutama karena jalur tersebut terganggu pada kedua arah. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan di area yang terdampak banjir, tetapi juga pada akses transportasi nasional yang berada di sekitarnya. Informasi yang tersedia menyebutkan gangguan jalan serta sejumlah fasilitas yang ikut terdampak.

Material longsor yang menutup badan jalan menghambat arus kendaraan dari Kutacane menuju Blangkejeren maupun dari arah sebaliknya. Akibatnya, lalu lintas tersendat dan kemacetan panjang terjadi di ruas tersebut. Pengendara dari kedua arah harus menghadapi kondisi jalan yang tertutup material, sementara jalur tidak dapat digunakan secara normal. Hambatan ini membuat perjalanan melintasi ruas Kutacane–Blangkejeren terganggu. Kejadian tanggul jebol dan longsor di sekitar jalan nasional itu menjadi persoalan penting karena dampaknya dirasakan oleh arus kendaraan di kedua arah, bukan hanya satu sisi perjalanan. Rincian mengenai durasi kemacetan atau penanganan jalan tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia.

Selain mengganggu lalu lintas, bencana tersebut berdampak pada fasilitas layanan air dan sejumlah bangunan. Intake sumber air bersih SPAM Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara tergerus hingga hanyut. Kondisi ini menjadi gangguan pada salah satu fasilitas yang terkait dengan penyediaan air bersih. Sementara itu, gudang logistik BPBD dan fasilitas SMPIT Al Khansa dilaporkan tergenang. Keterangan yang tersedia menyebutkan jenis gangguan tersebut, tanpa merinci tingkat kerusakan atau dampak lanjutan pada masing-masing fasilitas. Dengan demikian, dampak yang dilaporkan mencakup tertutupnya jalan oleh material longsor, kemacetan kendaraan dari dua arah, intake air bersih yang hanyut, serta genangan pada gudang logistik dan fasilitas sekolah. Tidak ada rincian tambahan mengenai kerusakan bangunan atau peralatan yang dapat dipastikan dari informasi tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat banjir dan longsor di Aceh Tenggara berdampak pada 783 kepala keluarga atau 2.787 jiwa. Meski jumlah warga terdampak cukup besar, laporan yang disampaikan tidak mencatat adanya pengungsian maupun korban jiwa. Data tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk memetakan kebutuhan penanganan dan menentukan lokasi yang perlu segera ditangani. Dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh keluarga di kawasan terdampak, tetapi juga terlihat pada terganggunya akses jalan, aliran air, dan sejumlah fasilitas yang menopang aktivitas warga. Penanganan darurat diarahkan untuk mengurangi risiko lanjutan sekaligus memulihkan akses dan kondisi lingkungan secara bertahap.

Tim reaksi cepat diterjunkan ke lokasi untuk mendata kondisi serta menghimpun informasi mengenai dampak bencana. Pendataan lapangan membantu petugas mengetahui titik yang memerlukan penanganan segera dan menyesuaikan pekerjaan dengan keadaan setempat. Untuk membuka kembali akses, satu unit ekskavator digunakan membersihkan material longsor yang menutup jalan. Petugas juga mengeruk dan membersihkan kayu gelondongan dari aliran air di sekitar jembatan Bailey Pulo Latong. Sementara itu, endapan lumpur dibersihkan pada ruas Pulonas Baru–Lawe Rutung agar jalur tersebut dapat kembali dilalui. Pembersihan material di jalan dan aliran air menjadi bagian penting dari upaya mengurangi hambatan terhadap mobilitas warga serta mendukung kelancaran kegiatan penanganan di lapangan.

Selain pekerjaan pembersihan, alat berat dikerahkan untuk menangani kerusakan pada tanggul dan sungai. Upaya yang dilaporkan meliputi menutup tanggul yang jebol, mengeruk sungai, serta melakukan normalisasi alur. Petugas juga memperkuat tanggul di sejumlah titik untuk membantu mengurangi kerentanan terhadap dampak aliran air berikutnya. Pekerjaan tersebut dilakukan bersamaan dengan penanganan akses dan pembersihan material, sehingga sumber gangguan dapat ditangani di beberapa lokasi. Kondisi di lapangan tetap perlu dipantau, terutama pada bagian tanggul dan aliran sungai yang telah dikerjakan.

Baca juga: Uji Hasil Penelitian Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Tegaskan Kepastian Hukum Harus Jadi Fondasi Utama Pelaksanaan Program Strategis Nasional | Rapat Pleno Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan KADIN Indonesia, Bamsoet Tegaskan Kenyamanan Berusaha Adalah Bagian dari Keamanan Nasional | Rekomendasi Layanan Top Up E-Wallet Murah dan Cepat, Bebas Ribet