Kabupaten Kotawaringin Barat | Seekor orang utan terekam kamera sedang mencari makanan di sekitar Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada Selasa (13/10). Kehadiran satwa tersebut menjadi perhatian karena lokasinya berada di tepi jalan yang umumnya digunakan kendaraan dan bukan merupakan tempat hidup orang utan.
Dalam rekaman dan pengamatan warga, orang utan itu terlihat mondar-mandir di sekitar ruas jalan sambil mencari makanan. Pergerakannya menarik perhatian pengendara serta masyarakat yang melintas. Warga kemudian mengamati satwa tersebut dari sekitar lokasi tanpa mengganggu aktivitasnya.
Orang utan itu diduga keluar dari habitatnya setelah kawasan hutan terbakar. Kondisi tersebut membuat satwa liar terlihat memasuki area yang biasanya tidak menjadi wilayah jelajahnya. Kemunculannya di jalan memperlihatkan bagaimana gangguan terhadap habitat dapat mendorong satwa mencari sumber makanan di tempat yang lebih terbuka dan berdekatan dengan aktivitas manusia.
Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama menjadi lokasi warga melihat orang utan tersebut bergerak di sisi jalan. Satwa itu tampak berupaya menemukan makanan di lingkungan yang berbeda dari habitat alaminya. Peristiwa ini pun segera menjadi perhatian karena orang utan merupakan satwa yang umumnya hidup di kawasan hutan.
Warga di sekitar lokasi diharapkan tetap berhati-hati ketika melihat orang utan maupun satwa liar lainnya. Menjaga jarak dan tidak mengusik pergerakannya penting dilakukan agar satwa tersebut tidak merasa terancam. Pengamatan terhadap kemunculan orang utan di ruas jalan juga menjadi informasi penting bagi pihak terkait untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Menurut kesaksian Sano, warga yang berada di sekitar lokasi, seorang perempuan sempat menghentikan kendaraannya setelah melihat orang utan berada di ruas jalan di wilayah Kotawaringin Barat. Perempuan tersebut merasa iba melihat satwa itu berada di area yang tidak biasa bagi orang utan, sehingga ia berusaha memberikan bantuan secara sederhana. Ia kemudian meletakkan sejumlah buah-buahan di sekitar lokasi, tidak jauh dari tempat orang utan terlihat.
Orang utan itu tidak langsung mendekati buah yang ditinggalkan. Satwa tersebut sempat menghindar dan menjauh dari lokasi, sementara perempuan itu tidak memaksanya untuk mengambil makanan. Situasi kemudian berlangsung beberapa saat. Setelah orang-orang di sekitar menjaga jarak dan keadaan kembali lebih tenang, orang utan tersebut kembali ke tempat buah-buahan tadi diletakkan.
Sano menuturkan bahwa orang utan itu akhirnya mengambil buah-buahan tersebut sebelum meninggalkan lokasi. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa satwa itu berhati-hati terhadap kehadiran manusia, meskipun kemudian bersedia mendekati makanan yang tersedia. Tindakan perempuan tersebut dipandang sebagai bentuk kepedulian spontan setelah melihat orang utan berada di dekat jalan.
Kemunculan orang utan di ruas jalan itu diduga berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan pakan di habitat aslinya, terutama dalam kondisi lingkungan yang terdampak kebakaran. Namun, dugaan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa satwa itu pasti kelaparan. Peristiwa tersebut lebih tepat dipahami sebagai indikasi bahwa perubahan kondisi habitat dapat mendorong orang utan bergerak lebih jauh untuk mencari sumber makanan. Kehadiran satwa di area publik juga menjadi pengingat pentingnya menjaga jarak, mengurangi kerumunan, serta melaporkan temuan kepada pihak berwenang agar penanganannya tetap aman bagi manusia dan satwa.
Niat warga untuk membantu orang utan yang terlihat di tepi jalan perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Kemunculan satwa liar di ruas jalan Kotawaringin Barat tidak hanya menunjukkan kondisi yang memerlukan perhatian, tetapi juga dapat menimbulkan risiko bagi orang utan dan pengguna jalan. Kendaraan yang melintas bisa terganggu oleh kerumunan atau pergerakan satwa secara tiba-tiba, sementara orang utan dapat merasa terancam ketika berada di dekat banyak manusia.
Masyarakat diimbau tidak mendekat, mengerumuni, menangkap, apalagi menyentuh orang utan. Jarak yang terlalu dekat dapat memicu perilaku defensif dan meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi yang membahayakan. Selain itu, kerumunan warga berpotensi membuat satwa semakin sulit menemukan jalur untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman. Pengguna jalan juga perlu mengurangi kecepatan dan tetap memperhatikan kondisi sekitar tanpa menghentikan kendaraan secara sembarangan.
Handi Nasoka menyampaikan bahwa kedekatan dengan manusia dapat membuat orang utan mengalami stres. Satwa yang terus-menerus didekati, direkam, atau dikelilingi dapat kehilangan kesempatan untuk beristirahat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tekanan tersebut berisiko memengaruhi perilaku serta memperburuk kondisi satwa yang kemungkinan sedang mencari sumber makanan atau tempat berlindung.
Pemberian makanan secara langsung juga sebaiknya tidak dilakukan berulang kali tanpa arahan petugas. Bantuan spontan memang berangkat dari kepedulian, tetapi pemberian pakan yang tidak terukur dapat membuat orang utan terbiasa mendatangi area manusia, termasuk jalan raya dan permukiman. Pola tersebut dapat memperbesar risiko kecelakaan, konflik, serta ketergantungan pada makanan dari warga.
Jika menemukan orang utan di sekitar jalan, masyarakat sebaiknya melaporkan lokasi dan kondisi satwa kepada petugas berwenang. Warga dapat membantu dengan menjaga jarak, mengurangi kerumunan, mengingatkan pengguna jalan lain, serta memberikan informasi yang akurat. Penanganan yang terkoordinasi akan membantu melindungi satwa sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di sekitar lokasi.
Handi Nasoka selaku Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pangkalan Bun, Balai KSDA Kalimantan Tengah, meminta masyarakat segera menyampaikan laporan apabila menemukan orang utan yang diduga terdampak kebakaran hutan. Laporan dari warga diperlukan agar petugas dapat memperoleh informasi awal mengenai keberadaan satwa, kemudian menentukan langkah penanganan yang sesuai berdasarkan kondisi di lapangan.
Menurut keterangan tersebut, keputusan untuk melakukan penyelamatan atau rescue tidak dapat ditentukan hanya dari dugaan atau pengamatan singkat. Petugas perlu mengetahui lokasi penemuan, keadaan orang utan, serta situasi di sekitarnya sebelum menentukan tindakan yang diperlukan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mengambil keputusan sendiri terhadap satwa, termasuk melakukan pemindahan, dan segera menghubungi Balai KSDA Kalimantan Tengah untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Warga yang menemukan orang utan di sekitar jalan raya dapat menghubungi BKSDA melalui nomor 08115218500. Informasi mengenai lokasi dan kondisi satwa akan membantu petugas melakukan pemeriksaan serta menentukan respons sesuai keadaan di lapangan. Keterangan yang disampaikan masyarakat, seperti titik penemuan dan kondisi umum orang utan, dapat menjadi dasar bagi petugas untuk menilai apakah diperlukan tindakan penyelamatan atau rescue. Dengan laporan yang cepat dan jelas, petugas memiliki kesempatan untuk merespons secara tepat tanpa membuat kesimpulan di luar kondisi yang ditemukan.
Baca juga: 6 Ciri Orang Tanpa Empati yang Terlihat dari Keluhan Sehari-hari Seseorang Menurut Psikologi | Melalui Komsos Bersama Staf Desa, Babinsa Imbau Warga Tidak Membakar Sampah Cegah Kebakaran | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran
