Apple Pangkas Produksi iPhone 18 Pro di Tengah Tekanan Harga Chip dan Lesunya Permintaan

oleh -41 Dilihat
oleh
Apple Pangkas Produksi iPhone 18 Pro di Tengah Tekanan Harga Chip dan Lesunya Permintaan

Jakarta | Apple dilaporkan mengurangi produksi iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max hanya sekitar satu bulan setelah kedua perangkat tersebut diluncurkan. Pemangkasan itu dilakukan melalui pengurangan pesanan komponen yang ditujukan untuk kebutuhan produksi pada Oktober 2026. Besarnya pengurangan dilaporkan mencapai hingga 15 persen.

Informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh Nikkei Asia dan dikutip oleh Reuters pada Selasa, 13 Oktober 2026. Laporan itu menyebutkan bahwa penyesuaian pesanan komponen berlaku untuk dua model dalam lini iPhone 18 Pro, yakni iPhone 18 Pro serta iPhone 18 Pro Max. Perubahan tersebut menjadi perkembangan terbaru yang berkaitan dengan rencana produksi perangkat premium Apple setelah peluncuran resminya.

Pengurangan pesanan komponen untuk Oktober 2026 tidak secara otomatis memberikan gambaran menyeluruh mengenai kinerja penjualan kedua model tersebut. Laporan yang tersedia hanya menyampaikan adanya penyesuaian dalam jumlah komponen yang dipesan Apple, dengan skala hingga 15 persen. Tidak terdapat keterangan tambahan dalam informasi tersebut yang dapat digunakan untuk memastikan penyebab lain di balik perubahan produksi.

Hingga berita ini diberitakan, Apple belum memberikan komentar terkait laporan mengenai pengurangan produksi iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Perusahaan juga belum menyampaikan penjelasan resmi mengenai besaran penyesuaian pesanan komponen untuk Oktober 2026. Karena itu, informasi mengenai pemangkasan produksi tersebut masih bersumber dari laporan Nikkei Asia sebagaimana dikutip Reuters, sementara tanggapan langsung dari Apple belum tersedia.

Keputusan Apple untuk memangkas produksi iPhone 18 Pro tidak terlepas dari tekanan biaya komponen yang meningkat, terutama chip memori. Harga komponen tersebut mengalami kenaikan setelah pasokan global menyusut, sementara kebutuhan dari berbagai industri terus bertambah. Bagi produsen ponsel, perubahan ini langsung memengaruhi biaya produksi karena memori merupakan bagian penting dalam menjaga kinerja, kapasitas penyimpanan, dan kemampuan perangkat menjalankan berbagai aplikasi.

Kelangkaan chip telah berlangsung sepanjang tahun dan berkaitan erat dengan ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan. Pengelola pusat data meningkatkan pembelian komponen berperforma tinggi untuk mendukung pelatihan serta pengoperasian model AI dalam skala besar. Akibatnya, sebagian kapasitas produksi chip dialihkan untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut. Prioritas ini membuat pasokan bagi industri lain menjadi lebih terbatas dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan komponen yang sama.

Dampak kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh produsen smartphone. Industri komputer pribadi juga menghadapi tekanan serupa karena membutuhkan chip memori dalam jumlah besar. Ketika permintaan dari pusat data, komputer, dan ponsel meningkat secara bersamaan, keseimbangan pasokan dan kebutuhan semakin terganggu. Produsen harus menyesuaikan rencana pembelian, meninjau spesifikasi, atau menerima biaya komponen yang lebih tinggi agar produksi tetap berjalan.

Untuk mengimbangi kenaikan biaya, sejumlah perusahaan, termasuk Apple, menaikkan harga perangkat atau menyesuaikan strategi produknya. Namun, harga jual yang lebih tinggi dapat mengurangi minat konsumen, terutama ketika penggantian ponsel tidak dianggap mendesak. Konsumen cenderung menunda pembelian, memilih model yang lebih terjangkau, atau mempertahankan perangkat lama. Kombinasi komponen yang mahal dan permintaan yang melemah akhirnya mendorong Apple meninjau kembali volume produksi iPhone 18 Pro, guna mengurangi risiko penumpukan persediaan di tengah pasar yang lebih sensitif terhadap harga.

Apple merespons kenaikan biaya komponen dengan mengalihkan sebagian tekanan tersebut kepada konsumen. Pada Juni, perusahaan menaikkan harga sejumlah model iPad dan MacBook, menyusul meningkatnya biaya chip memori serta penyimpanan. Apple juga menyampaikan bahwa perusahaan tidak lagi mampu sepenuhnya menanggung kenaikan biaya tersebut atau melindungi pelanggan dari dampaknya. Pernyataan ini menunjukkan perubahan pendekatan dibandingkan upaya sebelumnya untuk menahan harga ketika biaya produksi meningkat.

Tekanan biaya kemudian menjangkau lini iPhone generasi terbaru. Harga iPhone 18 Pro disebut naik hingga US$100 dibandingkan model sebelumnya. iPhone 18 Pro kini mulai dari US$1.199, atau sekitar Rp21,4 juta, sedangkan iPhone 18 Pro Max dibanderol mulai US$1.299, setara sekitar Rp23,2 juta. Penyesuaian tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi Apple dalam mempertahankan margin ketika harga chip memori dan komponen penyimpanan mengalami lonjakan.

Kenaikan harga pada beberapa kategori produk berpotensi memperberat keputusan pembelian, terutama bagi konsumen yang memiliki anggaran terbatas. Perangkat premium seperti iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max akan membutuhkan pengeluaran awal yang lebih besar, sementara peningkatan harga iPad dan MacBook memperluas dampak tekanan biaya ke ekosistem perangkat Apple. Dalam kondisi daya beli yang tertekan, konsumen dapat menjadi lebih selektif, menunda penggantian perangkat, atau memilih model dengan spesifikasi dan harga lebih rendah. Karena itu, langkah Apple untuk meneruskan sebagian biaya komponen kepada pelanggan berkaitan langsung dengan tantangan menjaga permintaan, meskipun dampak akhirnya terhadap penjualan belum dapat disimpulkan dari informasi yang tersedia.

Selain tekanan harga chip, perubahan jadwal peluncuran produk disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan penurunan permintaan iPhone 18 Pro. Pada tahun ini, Apple tidak langsung memperkenalkan seluruh lini ponsel premiumnya dalam satu waktu. Perusahaan lebih dahulu merilis seri iPhone 18 Pro bersama iPhone Duo pada bulan sebelumnya. iPhone Duo disebut sebagai ponsel lipat pertama Apple, sehingga peluncuran tersebut membuat susunan produk premium Apple tampil berbeda dibandingkan pola pengenalan lini iPhone secara bersamaan.

Sementara itu, model iPhone 18 reguler dan iPhone Air baru dijadwalkan meluncur pada tahun berikutnya. Jarak waktu tersebut berarti konsumen belum menerima seluruh pilihan dari keluarga iPhone 18 dalam satu periode peluncuran. Keadaan ini disebut mungkin memengaruhi cara konsumen menilai pilihan yang tersedia, termasuk keputusan untuk membeli iPhone 18 Pro lebih awal atau menunggu kehadiran model lain. Dengan demikian, waktu peluncuran dapat menjadi unsur yang perlu diperhatikan ketika membaca perkembangan permintaan terhadap perangkat tersebut.

Pola rilis yang berbeda itu tidak secara otomatis membuktikan bahwa perubahan jadwal menjadi penyebab penurunan permintaan. Namun, urutan pengenalan produk dapat memengaruhi momentum penjualan dan perhatian pasar pada setiap model. Ketika seri Pro dan ponsel lipat diperkenalkan lebih dahulu, sedangkan model reguler serta iPhone Air menyusul pada tahun berikutnya, respons konsumen terhadap masing-masing perangkat berlangsung dalam tahapan yang berbeda. Faktor tersebut karenanya disebut sebagai salah satu kemungkinan yang turut memengaruhi permintaan iPhone 18 Pro, tanpa dapat dipastikan sebagai satu-satunya penjelasan.

Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik