Kronologi Penyerangan Rombongan Persib U-18 di Rest Area Batang

oleh -73 Dilihat
oleh
Kronologi Penyerangan Rombongan Persib U-18 di Rest Area Batang

Kota Bandung | Rombongan Persib U-18 diserang oleh oknum suporter berinisial J di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi ketika rombongan tim sedang menempuh perjalanan dan memutuskan berhenti untuk beristirahat. Bus yang membawa pemain, pelatih, serta staf tim berada di area tersebut sebelum insiden penyerangan berlangsung.

Pada waktu yang sama, terdapat kelompok suporter J di lokasi rest area. Kelompok tersebut diketahui berada dalam perjalanan setelah menyaksikan tim yang mereka dukung bertanding di Yogyakarta. Keberadaan dua rombongan di tempat yang sama kemudian berujung pada insiden yang melibatkan rombongan Persib U-18. Informasi mengenai penyerangan itu menjadi perhatian karena terjadi di tempat umum yang semestinya digunakan para pengguna jalan untuk beristirahat.

Pelatih Persib U-18, Tito Agung Setiawan, menjelaskan bahwa rombongan tim tidak menyadari keberadaan kelompok suporter tersebut sebelum kejadian. Menurut dia, tim biasanya menentukan lokasi istirahat secara acak ketika melakukan perjalanan jauh. Keputusan itu dibuat berdasarkan kebutuhan perjalanan dan kondisi rombongan, bukan karena adanya rencana untuk bertemu kelompok tertentu.

Pola perjalanan tersebut membuat lokasi pemberhentian rombongan tidak selalu dapat dipastikan sejak awal. Rest area dipilih sebagai tempat beristirahat agar pemain dan staf dapat memulihkan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan. Karena itu, rombongan tidak mengetahui bahwa kelompok suporter J juga berada di Rest Area Batang KM 360 pada malam tersebut.

Penyerangan terjadi setelah kedua kelompok berada di lokasi yang sama. Kronologi awal ini menjadi dasar untuk menelusuri rangkaian peristiwa secara lebih lanjut, termasuk situasi sebelum kejadian, tindakan yang dilakukan oknum suporter, serta kondisi rombongan Persib U-18 setelah meninggalkan rest area. Keterangan dari pihak tim dan pihak terkait diperlukan untuk memperjelas insiden tersebut.

Menurut kesaksian ofisial tim, Pandu Persada, rangkaian kejadian bermula ketika ia turun dari bus bersama rekannya, Ridwan. Keduanya berada di sekitar area istirahat untuk sementara waktu. Pada saat itu, Ridwan sempat mengingatkan Pandu agar lebih berhati-hati terhadap situasi di sekitar mereka. Namun, Pandu mengaku tidak terlalu menghiraukan peringatan tersebut karena merasa mereka tidak melakukan tindakan yang mengganggu kelompok suporter yang berada di lokasi.

Ketika hendak kembali ke bus, Pandu melihat kendaraan rombongan telah dikerumuni sejumlah suporter J. Dalam situasi tersebut, ia menyaksikan Ridwan ditarik oleh salah seorang dari kelompok itu. Pandu kemudian berusaha melerai dan meminta Ridwan segera masuk kembali ke dalam bus. Setelah Ridwan berhasil naik, Pandu justru tertinggal seorang diri di luar kendaraan, sementara situasi di sekitar bus semakin menegangkan.

Pandu menuturkan bahwa dirinya kemudian diminta melepas jersey Persib yang dikenakannya. Ia mengaku mengalami pengeroyokan dan diminta meninggalkan lokasi. Kesaksian tersebut menggambarkan bahwa Pandu terpisah dari rombongan ketika berupaya membantu rekannya. Karena merasa keselamatannya terancam, ia berusaha menjauh dari kerumunan dan mencari tempat yang lebih aman di area rest area Batang.

Dalam pelariannya, Pandu terjatuh sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tempat tambal ban. Di lokasi tersebut, ia memperoleh bantuan dari petugas rest area. Pertolongan itu membuat Pandu dapat berlindung dan menenangkan diri hingga merasa situasinya cukup aman. Kesaksiannya menjadi bagian dari kronologi insiden yang dialami rombongan Persib U-18, khususnya mengenai momen ketika seorang ofisial terpisah dari bus dan menghadapi kekerasan setelah mencoba mengamankan rekannya.

Menurut keterangan Tito, eskalasi penyerangan bermula ketika beberapa suporter J masuk ke dalam bus rombongan Persib U-18. Mereka disebut datang untuk mengonfrontasi, mengintimidasi, dan memprovokasi ofisial serta pemain agar turun dari kendaraan. Dalam situasi tersebut, para suporter juga melontarkan kata-kata kasar kepada anggota rombongan. Tito menjelaskan bahwa ofisial dan pemain memilih tidak terpancing oleh tindakan maupun ucapan tersebut. Mereka tetap berada di dalam bus dan berusaha menjaga situasi agar tidak berkembang menjadi bentrokan secara langsung.

Setelah upaya konfrontasi itu, serangan berlanjut dengan pelemparan batu ke arah bus. Lemparan tersebut membuat sejumlah kaca kendaraan pecah. Pecahan kaca kemudian mengenai beberapa pemain dan ofisial yang berada di dalam bus. Kondisi itu menimbulkan kepanikan sekaligus meningkatkan risiko cedera bagi rombongan. Kerusakan pada kendaraan dan ancaman serangan yang masih berlangsung membuat bus tidak dapat tetap berada di Rest Area Batang. Rombongan akhirnya mengambil keputusan untuk segera meninggalkan lokasi demi menghindari dampak yang lebih serius.

Dalam keadaan tersebut, bus dipaksa melaju keluar dari rest area untuk mencari tempat yang lebih aman dan memperoleh pertolongan. Setelah menjauh dari lokasi, rombongan mendatangi Polresta Batang guna melaporkan penyerangan serta kerusakan yang dialami. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjemput Pandu, yang diketahui masih tertinggal di Rest Area Batang KM 360. Penjemputan tersebut menjadi bagian dari upaya polisi memastikan keselamatan seluruh anggota rombongan sekaligus mengumpulkan keterangan mengenai rangkaian kejadian yang dilaporkan.

Setelah insiden penyerangan di rest area Batang, perhatian tim kini tertuju pada proses hukum dan kondisi para pemain. Pandu berharap kepolisian mengusut perkara tersebut secara menyeluruh hingga seluruh rangkaian kejadian menjadi jelas. Menurutnya, langkah penegakan hukum penting bukan hanya untuk memberikan kepastian bagi korban, tetapi juga mencegah kejadian serupa terulang terhadap rombongan olahraga lainnya yang melakukan perjalanan antarkota.

Pandu juga menerima informasi bahwa salah seorang yang diduga terlibat dalam penyerangan telah ditangkap. Namun, proses identifikasi para pelaku disebut tidak mudah karena sebagian dari mereka menutup wajah ketika melakukan aksinya. Oleh sebab itu, pengumpulan keterangan saksi, pemeriksaan rekaman kamera pengawas, serta penelusuran bukti lain dinilai penting untuk membantu aparat memastikan identitas dan peran setiap orang dalam kasus tersebut.

Di sisi lain, Tito menyampaikan bahwa kejadian itu meninggalkan trauma bagi para pemain. Situasi tersebut menjadi perhatian khusus karena Persib U-18 masih harus mengikuti kompetisi di luar kota. Para pemain tidak hanya dituntut menjaga fokus dan kondisi fisik, tetapi juga membutuhkan rasa aman selama perjalanan, saat berada di lokasi pertandingan, maupun ketika menjalani agenda pembinaan bersama tim.

Karena itu, Tito berharap terdapat pendampingan yang memadai untuk rombongan Persib U-18 pada perjalanan dan kegiatan berikutnya. Kehadiran perwakilan TNI dan Polri diharapkan dapat dipertimbangkan untuk membantu pengamanan, terutama ketika tim harus melintas atau beraktivitas di wilayah yang jauh dari markas. Dukungan tersebut diharapkan membuat pemain dan ofisial merasa lebih terlindungi, sehingga pembinaan serta kompetisi sepak bola dapat tetap berjalan tanpa dibayangi kekhawatiran.

Baca juga: Rombongan Bapang Diserang OTK, Negara Didesak Pastikan Petugas Aman Bertugas | Kronologi Tewasnya Mozza Axillia: Hilang Misterius, Jejak DM Instagram Bawa Polisi ke Pelaku