Jakarta | Kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan pedagang dan pelanggan di Pasar Senen, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Cabai dan berbagai jenis sayuran menjadi komoditas yang mengalami peningkatan harga, sehingga aktivitas jual beli berlangsung dengan tekanan lebih besar. Perubahan harga tersebut langsung terlihat dari keputusan pelanggan yang datang ke pasar. Mereka tetap berbelanja, tetapi jumlah barang yang dibeli cenderung dikurangi agar pengeluaran tidak bertambah terlalu jauh.
Bagi pembeli, kenaikan harga membuat kebutuhan harian harus disusun kembali. Sebagian pelanggan memilih membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit, sementara pembelian sayuran juga disesuaikan dengan uang yang tersedia. Pola belanja seperti ini menunjukkan bahwa harga pangan yang lebih tinggi tidak hanya memengaruhi satu jenis komoditas, tetapi turut mengubah prioritas rumah tangga ketika memenuhi kebutuhan dapur.
Di sisi lain, pedagang menghadapi situasi penjualan yang semakin berat. Berkurangnya jumlah belanja pelanggan berarti barang yang biasanya dibeli dalam kuantitas tertentu kini harus ditawarkan dalam porsi lebih kecil. Pedagang tetap membuka lapak dan melayani pembeli, namun transaksi menjadi lebih terbatas dibandingkan ketika harga bahan pangan masih lebih rendah. Kondisi tersebut membuat persaingan untuk menarik pelanggan semakin terasa, sementara ruang untuk meningkatkan penjualan ikut menyempit.
Situasi di Pasar Senen pada hari itu menggambarkan dampak langsung perubahan harga terhadap kegiatan pasar tradisional. Kenaikan cabai dan sayuran dirasakan oleh kedua pihak: pelanggan perlu mengurangi belanja, sedangkan pedagang harus menghadapi transaksi yang lebih sulit. Tanpa mengubah kebutuhan pokok yang tetap harus dipenuhi, masyarakat menyesuaikan jumlah pembelian sesuai kemampuan masing-masing. Perkembangan ini menjadikan aktivitas perdagangan di pasar berlangsung lebih hati-hati, dengan pembeli mempertimbangkan setiap barang dan pedagang berusaha mempertahankan penjualan di tengah daya beli yang menurun. Setiap transaksi pun menjadi lebih selektif, karena pelanggan harus membandingkan kebutuhan utama dengan anggaran yang tersedia sebelum memilih barang. Keadaan ini juga membuat proses tawar-menawar dan penentuan jumlah belanja menjadi perhatian utama setiap pelanggan.
Catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Senin, 12 Oktober mencatat adanya perbedaan harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting di tingkat nasional. Berdasarkan data tersebut, cabai rawit merah berada pada harga Rp132.850 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting tercatat sebesar Rp112.450 per kilogram. Kedua angka itu menjadi gambaran harga pangan strategis secara nasional pada tanggal pencatatan.
Di Pasar Senen, harga yang tercantum pada lapak Iwan, pedagang sayur, berada pada tingkat yang berbeda. Iwan menjual cabai rawit merah dengan harga Rp95.000 per kilogram. Untuk cabai merah keriting, harga jualnya tercatat Rp85.000 per kilogram. Dengan demikian, kedua jenis cabai tersebut tersedia di lapak itu dengan harga yang lebih rendah dibandingkan angka yang dicatat secara nasional oleh PIHPS.
Perbandingan data menunjukkan selisih Rp37.850 per kilogram untuk cabai rawit merah catatan nasional dan harga di lapak Iwan. Pada cabai merah keriting, selisihnya mencapai Rp27.450 per kilogram. Data nasional menempatkan cabai rawit merah pada harga yang lebih tinggi daripada cabai merah keriting, dengan perbedaan Rp20.400 per kilogram. Pola yang sama terlihat pada harga di lapak Pasar Senen, ketika cabai rawit merah lebih mahal Rp10.000 per kilogram daripada cabai merah keriting.
Angka-angka tersebut memperlihatkan posisi harga dua komoditas cabai berdasarkan dua rujukan, yaitu catatan PIHPS Nasional dan harga jual pada lapak Iwan di Pasar Senen. Harga nasional dicatat dalam satuan per kilogram pada Senin, 12 Oktober, sedangkan harga lapak menunjukkan nilai yang ditawarkan kepada pembeli di lokasi pasar tersebut.
Kenaikan harga di Pasar Senen tidak hanya terjadi pada komoditas cabai. Menurut Iwan, pedagang sayuran di pasar tersebut, sejumlah bahan pangan lain juga mengalami perubahan harga dalam beberapa waktu terakhir. Timun, caisim, daun bawang, tomat, dan buncis termasuk sayuran yang disebut mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat pembeli perlu menyesuaikan pilihan belanja karena kenaikan berlangsung pada beberapa jenis kebutuhan dapur sekaligus.
Buncis menjadi salah satu komoditas dengan perubahan harga yang cukup terasa. Sebelumnya, harga buncis berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Kini, harganya meningkat menjadi sekitar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, tergantung pada kualitas barang yang ditawarkan. Buncis dengan kondisi lebih segar dan ukuran yang dianggap baik cenderung dijual pada harga lebih tinggi. Perbedaan kualitas tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan harga di lapak pedagang.
Selain buncis, harga tomat di lapak Iwan juga telah berada di atas Rp20.000 per kilogram. Kenaikan serupa terlihat pada timun, caisim, dan daun bawang, meskipun besarnya perubahan dapat berbeda satu pedagang dan pedagang lainnya. Menurut Iwan, kenaikan tidak hanya dirasakan pada cabai, tetapi juga merambah berbagai sayuran yang biasa dibeli masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kenaikan tersebut, bawang disebut masih relatif stabil dan cenderung lebih murah dibandingkan beberapa sayuran lainnya. Perbedaan ini membuat sebagian pembeli memilih mempertahankan pembelian bawang, sambil mengurangi jumlah komoditas yang harganya meningkat. Iwan menjelaskan bahwa harga cabai dan sayuran sama-sama mengalami kenaikan, sehingga pedagang maupun pembeli harus menyesuaikan diri dengan perubahan harga di pasar.
Kenaikan harga sayuran mulai mengubah kebiasaan belanja pelanggan di Pasar Senen. Pembeli yang sebelumnya terbiasa membeli satu kilogram untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kini lebih sering meminta setengah kilogram. Pengurangan tersebut dilakukan agar pengeluaran tetap sesuai dengan kemampuan, terutama ketika harga sejumlah komoditas naik dalam waktu berdekatan.
Perubahan serupa terlihat pada pelanggan yang biasanya membeli dalam jumlah lebih besar. Pembelian sebanyak dua kilogram kini berkurang menjadi satu kilogram. Sebagian pelanggan memilih membeli sedikit demi sedikit dan kembali ke pasar ketika persediaan di rumah benar-benar habis. Cara ini membantu mereka mengendalikan anggaran harian, meskipun kebutuhan konsumsi keluarga tidak ikut berkurang.
Bagi pedagang, perubahan kuantitas pembelian menjadi tantangan tersendiri. Transaksi tetap berlangsung, tetapi jumlah sayuran yang terjual dalam setiap pembelian menurun. Pedagang harus lebih cermat mengatur persediaan karena perputaran barang tidak lagi sama seperti ketika harga masih lebih rendah. Mereka juga perlu menyesuaikan cara menawarkan dagangan, sebab pelanggan cenderung lebih banyak membandingkan harga dan mempertimbangkan jenis sayuran yang paling diperlukan.
Situasi tersebut membuat pedagang menghadapi tekanan dari dua sisi. Di satu sisi, harga komoditas yang dibeli dari pemasok meningkat. Di sisi lain, pelanggan mengurangi jumlah belanja sehingga nilai transaksi ikut menurun. Ruang untuk mempertahankan keuntungan menjadi semakin terbatas, sementara biaya operasional dan risiko sayuran tidak terjual tetap harus ditanggung.
Iwan, salah seorang pedagang, mengakui bahwa kondisi berjualan saat ini terasa pahit. Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh pembeli, tetapi juga langsung memengaruhi pedagang yang harus mempertahankan usaha dengan penjualan yang lebih kecil. Ia menyebut keadaan berjualan sekarang semakin berat karena pelanggan mengurangi pembelian, sementara harga komoditas terus menjadi beban dalam kegiatan sehari-hari.
Baca juga: Harga Emas Antam, Galeri24, dan UBS Hari Ini Melonjak Naik: Cek Daftar Lengkapnya! | Kepala BGN Bantah Belanja LED Rp 535 Miliar, Sebut Anggarannya Tidak Ada

