Jakarta | Arena persaingan industri fesyen Indonesia mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya pelaku usaha berhadapan terutama di pasar tradisional, pusat grosir, dan toko pakaian, kini kompetisi juga berlangsung di layar ponsel melalui berbagai platform perdagangan elektronik. Perubahan ini membuat jarak produsen lokal, distributor, dan konsumen semakin pendek. Produk konveksi dalam negeri dapat ditawarkan secara langsung kepada pembeli di berbagai daerah, sementara barang impor juga hadir dengan mudah melalui toko daring, siaran langsung, serta fitur belanja di media sosial.
Di ruang digital, produk lokal dan impor berebut perhatian konsumen melalui harga, desain, kualitas, kecepatan pengiriman, promosi, dan ulasan pembeli. Algoritma platform turut menentukan produk yang lebih sering terlihat, sehingga kemampuan membuat konten, mengelola toko daring, dan merespons pelanggan menjadi bagian dari persaingan usaha. Konsumen memperoleh pilihan yang lebih luas, tetapi kondisi tersebut meningkatkan tekanan bagi pengusaha konveksi yang harus mempertahankan mutu sekaligus menawarkan harga kompetitif.
Tantangan semakin berat karena sebagian barang impor ditawarkan dengan harga murah, baik melalui saluran penjualan daring maupun konvensional. Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh produsen pakaian berskala kecil, tetapi juga oleh pelaku usaha yang sebelumnya memiliki pelanggan tetap di pasar lokal. Ketika biaya produksi dalam negeri meningkat, kemampuan untuk menandingi harga barang impor menjadi semakin terbatas. Akibatnya, sejumlah pengusaha mengalami penurunan penjualan dan kesulitan mempertahankan keberlangsungan bisnis.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya, Nandi Herdiaman, menyampaikan bahwa sejak 2022 banyak anggota organisasinya menghentikan usaha karena tidak sanggup bersaing. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaku usaha tidak menolak impor. Menurutnya, produk dalam negeri perlu memperoleh perhatian agar persaingan berlangsung secara sehat dan industri lokal dapat tumbuh. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kebijakan perdagangan yang adil, peningkatan akses promosi, serta kesempatan yang lebih besar bagi produk konveksi Indonesia untuk dikenal konsumen.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya arus impor pakaian dan aksesori pada Juli 2026. Dalam pencatatan tersebut, kelompok pakaian dan aksesori rajutan dengan kode Harmonized System (HS) 61 memiliki nilai impor sekitar US$38,49 juta. Sementara itu, kelompok pakaian dan aksesori bukan rajutan dengan kode HS 62 mencapai sekitar US$29,96 juta. Kedua kelompok ini mencakup produk pakaian jadi, sehingga nilai tersebut menggambarkan besarnya perdagangan produk sandang yang masuk ke pasar Indonesia pada periode tersebut.
Besarnya nilai impor pada dua kelompok pakaian dan aksesori tersebut berkaitan dengan persaingan harga yang dihadapi produsen lokal. Produk impor dapat hadir sebagai pilihan bagi konsumen di pasar yang sama dengan produk buatan dalam negeri. Kondisi ini membuat pelaku usaha konveksi dan produsen pakaian lokal perlu berhadapan dengan arus barang yang memiliki nilai perdagangan cukup besar. Persaingan tersebut terutama terasa pada aspek harga, karena konsumen dapat membandingkan berbagai produk pakaian jadi yang tersedia di pasar.
Tekanan itu lebih rentan dirasakan oleh industri kecil dan menengah (IKM). Dibandingkan pelaku usaha berskala lebih besar, IKM memiliki keterbatasan modal yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalankan dan mengembangkan kegiatan produksi. Kapasitas produksi IKM juga tidak sebesar perusahaan dengan skala usaha lebih luas, sehingga jumlah barang yang dapat dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar menjadi lebih terbatas. Selain itu, jangkauan pemasaran IKM belum sebesar pelaku usaha berskala besar. Keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan pemasaran tersebut menjadi faktor yang membuat IKM menghadapi tantangan lebih besar ketika bersaing dengan produk pakaian jadi yang masuk melalui perdagangan impor.
Menurut Nandi, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan keluar bagi pengusaha konveksi di tengah persaingan dengan pakaian impor. Namun, pemanfaatan teknologi tidak berhenti pada kehadiran sebuah toko di internet. Pelaku usaha perlu memperpendek jalur distribusi dan mendekatkan produsen dengan konsumen. Penjualan secara langsung melalui kanal digital berpotensi mengurangi jumlah perantara, sehingga biaya distribusi dapat ditekan. Dengan demikian, produk lokal tetap memiliki peluang untuk ditawarkan dengan harga terjangkau tanpa mengorbankan kualitas maupun keberlanjutan usaha.
Sejumlah pelaku usaha mulai mempelajari cara menjual produk secara online, termasuk melalui program seperti TikTok Academy. Pembelajaran tersebut mencakup cara membuat materi promosi, memahami perilaku audiens, memilih waktu penayangan, dan membangun komunikasi yang meyakinkan. Proses ini bukan sekadar memindahkan toko fisik ke ruang digital. Pengusaha juga perlu mengetahui cara menjangkau konsumen yang tepat, merespons pertanyaan, menjaga konsistensi pelayanan, serta membangun kepercayaan pembeli yang belum pernah melihat produk secara langsung.
Salah satu strategi yang semakin relevan ialah live streaming. Melalui siaran langsung, penjual dapat memperlihatkan bahan, detail jahitan, ukuran, warna, dan kualitas pakaian secara lebih nyata. Konsumen dapat menilai barang berdasarkan kondisi yang ditampilkan, bukan hanya dari foto atau angka harga pada halaman penjualan. Nandi menilai, siaran langsung memberi kesempatan kepada pengusaha untuk menjelaskan keunggulan produk, menjawab keberatan calon pembeli, dan menunjukkan proses secara terbuka. Persaingan pun dapat bergeser, tidak semata-mata ditentukan oleh harga termurah, tetapi juga oleh mutu, kepercayaan, pengalaman berbelanja, dan kemampuan produsen menjelaskan nilai produknya.
Sistem pre-order atau produksi berdasarkan pesanan dapat menjadi strategi penting bagi pengusaha konveksi dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen dan persaingan pakaian impor. Melalui cara ini, pelaku usaha memperkirakan permintaan terlebih dahulu sebelum membuat barang dalam jumlah besar. Pesanan yang terkumpul menjadi dasar untuk menentukan jenis produk, ukuran, warna, serta jumlah produksi. Dengan demikian, konveksi tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat stok yang belum tentu terserap pasar. Pola produksi semacam ini juga memungkinkan pelaku usaha menguji minat konsumen terhadap desain tertentu sebelum mengembangkannya secara lebih luas.
Manfaat lainnya terlihat pada pengelolaan modal dan arus kas. Risiko penumpukan stok dapat ditekan karena barang diproduksi sesuai kebutuhan yang telah teridentifikasi. Dana usaha pun tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk produk jadi yang menunggu pembeli. Bagi industri kecil dan menengah (IKM), kondisi tersebut sangat penting karena kemampuan finansialnya tidak sebesar perusahaan besar dalam menanggung barang yang tidak terjual. Modal yang lebih terjaga dapat segera digunakan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, meningkatkan kualitas, atau menjalankan promosi digital. Pre-order juga membantu pengusaha menyusun jadwal kerja dan kebutuhan produksi secara lebih terukur.
Pelaksanaan sistem ini perlu didukung komunikasi yang jelas melalui media sosial, marketplace, atau kanal digital lainnya. Pengusaha harus mencantumkan batas waktu pemesanan, estimasi pengerjaan, spesifikasi produk, serta kebijakan pembayaran secara terbuka. Ketepatan waktu dan kualitas menjadi kunci agar kepercayaan pelanggan tetap terpelihara. Data pesanan yang terkumpul juga dapat digunakan untuk membaca tren dan menyusun keputusan bisnis berikutnya.
Nandi menegaskan bahwa digitalisasi bukan pengganti perlindungan pasar dalam negeri. Pelaku usaha diharapkan semakin siap menghadapi perubahan pasar, sementara pemerintah memastikan persaingan berlangsung adil dan produk ilegal ditangani. Tujuannya adalah memberi peluang lebih besar bagi industri fesyen lokal untuk berkembang, membuka lapangan kerja, serta membuat produk buatan Indonesia semakin diminati masyarakatnya sendiri.
Baca juga: Dedy Luqman Hakim: Sisa Kuota Bukan Sekadar Angka Digital, Ada Hak Ekonomi Konsumen di Dalamnya | Ramalan Keuangan Zodiak Capricorn Jumat, 4 September 2026: Ubah Strategi Kelola Uang

