Surabaya | Kisah Alena, bayi berusia 24 hari, menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai kondisi kesehatannya beredar luas di media sosial. Dalam unggahan yang ramai dibagikan, Alena disebut diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Kabar tersebut kemudian memicu kekhawatiran, terutama karena bayi yang masih sangat kecil itu dilaporkan mengalami kondisi kritis dan membutuhkan perawatan medis intensif.
Alena dirawat di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, sejak Jumat (9/10). Berdasarkan informasi yang beredar, ia sempat mendapatkan penanganan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu fasilitas khusus untuk merawat bayi baru lahir yang memerlukan pemantauan dan dukungan medis secara ketat. Perawatan di ruang tersebut menunjukkan bahwa kondisi Alena membutuhkan perhatian serius dari tim kesehatan, meskipun rincian medis mengenai diagnosis dan perkembangannya perlu merujuk pada keterangan resmi rumah sakit atau keluarga.
Peristiwa ini menjadi viral karena masyarakat mengaitkan urutan kejadian pemberian telur mentah dan memburuknya kondisi bayi. Namun, informasi yang tersedia masih menggunakan istilah dugaan dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa telur mentah secara pasti menyebabkan kondisi kesehatan Alena. Hubungan makanan yang diduga diberikan, waktu munculnya keluhan, dan keadaan klinis bayi harus dinilai melalui pemeriksaan dokter serta penjelasan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kasus tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pemberian makanan atau minuman kepada bayi baru lahir tidak boleh dilakukan sembarangan, terlebih di luar anjuran tenaga kesehatan. Pada usia 24 hari, bayi masih berada dalam tahap yang sangat rentan sehingga setiap keputusan terkait asupan perlu mempertimbangkan kondisi tubuh, kemampuan pencernaan, serta risiko infeksi. Karena itu, keluarga sebaiknya menunggu informasi yang terverifikasi dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil kesimpulan maupun mengikuti praktik serupa.
Informasi mengenai kondisi Alena beredar melalui unggahan di media sosial dan kemudian menjadi perhatian publik. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam unggahan tersebut, Alena disebut mengalami demam sebelum diberikan telur mentah. Pemberian telur itu dikaitkan dengan nenek dari pihak ayah. Tindakan tersebut disebut dilakukan dengan alasan untuk membantu menurunkan demam yang dialami bayi.
Setelah telur mentah diberikan, kondisi Alena dilaporkan memburuk. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa bayi tersebut kemudian membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Namun, rangkaian kejadian itu belum disertai penjelasan medis resmi yang memaparkan kondisi Alena secara terperinci, termasuk penyebab demam, hubungan pemberian telur dan memburuknya keadaan, serta diagnosis yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Kabar mengenai meninggalnya Alena diketahui melalui unggahan media sosial seseorang yang mengaku sebagai bibinya. Pengunggah tersebut juga menyatakan bahwa dirinya merupakan saudara kandung ibu bayi tersebut. Pernyataan itu menjadi sumber beredarnya kabar duka, tetapi informasi yang tersedia tidak menunjukkan adanya keterangan resmi lain dari rumah sakit, keluarga melalui saluran terverifikasi, atau instansi kesehatan yang dapat mengonfirmasi detail peristiwa.
Karena itu, kronologi tersebut perlu dipahami sebagai informasi yang bersumber dari unggahan pribadi, bukan sebagai laporan medis atau pernyataan resmi. Publik sebaiknya tidak menarik kesimpulan sebab-akibat hanya berdasarkan urutan kejadian yang beredar. Konfirmasi dari keluarga yang berwenang dan tenaga kesehatan diperlukan untuk menjelaskan kondisi Alena sebelum, selama, dan setelah mendapatkan perawatan. Sikap berhati-hati juga penting agar kabar mengenai bayi dan keluarganya tidak disebarkan tanpa kepastian, terutama ketika menyangkut kesehatan serta kabar meninggalnya seorang anak.
Spesialis anak, dr Denta Satria Kurniawan, SpA, menjelaskan bahwa bayi baru lahir belum memiliki kesiapan fisiologis untuk menerima makanan selain air susu ibu (ASI). Saluran cerna, ginjal, dan sistem kekebalan tubuh bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga belum mampu mengolah makanan dengan optimal. Kemampuan menelan dan mengoordinasikan gerakan mulut dengan saluran napas juga belum sempurna.
Menurut dr Denta saat dihubungi pada Senin (12/10/2026), pemberian pisang, bubur, telur, termasuk telur mentah, atau makanan lain kepada bayi baru lahir dapat meningkatkan risiko tersedak. Makanan dapat masuk ke saluran napas dan mengganggu pernapasan. Selain itu, sistem pencernaan yang belum matang dapat mengalami gangguan, seperti muntah, kembung, dan diare. Pemberian makanan terlalu dini juga berpotensi meningkatkan paparan terhadap kuman, sehingga risiko infeksi menjadi lebih besar. Telur dan bahan makanan lain dapat memicu reaksi alergi, terutama ketika diberikan tanpa pertimbangan kondisi serta kesiapan bayi.
Dr Denta juga mengingatkan bahwa makanan pengganti ASI belum tentu memenuhi kebutuhan bayi sebaik ASI. ASI mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi sekaligus antibodi yang membantu mendukung daya tahan tubuhnya. Jika makanan atau minuman pengganti diberikan secara tidak tepat, bayi dapat mengalami kekurangan gizi karena asupan yang diterima tidak mencukupi atau tidak sesuai untuk tahap perkembangannya. Pada bayi yang masih sangat kecil, muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara cepat. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dehidrasi dan mengancam nyawa, sehingga bayi perlu segera mendapat pertolongan medis apabila menunjukkan gejala tersebut.
Menurut penjelasan dr Denta, pemberian telur mentah kepada bayi baru lahir perlu dipandang sebagai tindakan yang berisiko karena telur dapat terkontaminasi bakteri Salmonella. Kontaminasi tersebut bisa berada di permukaan cangkang maupun di bagian dalam telur. Karena itu, telur yang tampak bersih secara kasatmata belum tentu bebas dari bakteri. Proses pengolahan hingga matang secara menyeluruh menjadi penting untuk membantu menurunkan risiko paparan kuman, terutama pada kelompok yang daya tahan tubuhnya belum berkembang sempurna.
Pada anak yang lebih besar, infeksi Salmonella umumnya dapat menimbulkan gangguan saluran cerna, seperti diare, muntah, nyeri perut, dan demam. Namun, kondisi pada bayi baru lahir dapat berkembang lebih serius. Sistem kekebalan tubuh bayi masih sangat rendah, sehingga bakteri yang masuk ke tubuh berpotensi menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan sepsis. Infeksi juga dapat berkembang menjadi radang selaput otak atau meningitis, yang merupakan kondisi berat dan membutuhkan penanganan medis segera.
Muntah dan diare pada bayi baru lahir juga dapat menyebabkan kehilangan cairan dalam waktu singkat. Ukuran tubuh bayi yang kecil membuat dehidrasi dapat terjadi lebih cepat dibandingkan pada anak yang lebih besar. Jika tidak segera ditangani, kekurangan cairan dan gangguan keseimbangan elektrolit dapat memengaruhi fungsi berbagai organ. Kombinasi infeksi berat dan dehidrasi berpotensi mengancam nyawa, sehingga paparan makanan berisiko pada usia ini perlu dihindari dan setiap gejala yang mengkhawatirkan harus segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Selain risiko bakteri, telur termasuk salah satu makanan yang cukup sering memicu alergi. Reaksi alergi dapat berbeda pada setiap anak, mulai dari keluhan ringan hingga reaksi yang lebih serius. Informasi mengenai risiko tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi itu terjadi pada Alena, tetapi menjadi pertimbangan penting dalam memahami bahaya pemberian telur mentah kepada bayi baru lahir.

