Rombongan Persib EPA U-18 Diserang di Batang, Manajemen Desak Pelaku Diproses

oleh -41 Dilihat
oleh
Rombongan Persib EPA U-18 Diserang di Batang, Manajemen Desak Pelaku Diproses

Bandung | Rombongan Persib EPA U-18 dilaporkan mengalami serangan ketika bus yang membawa para pemain dan ofisial berhenti di Rest Area 360 Batang, Jawa Tengah. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB. Kejadian ini menjadi perhatian karena berlangsung saat rombongan tengah melakukan perjalanan dan melibatkan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut tim.

Serangan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang mengenakan atribut yang mudah dikenali. Berdasarkan informasi yang tersedia, kelompok tersebut diduga merupakan bagian dari rombongan suporter klub tertentu. Namun, identitas klub yang dikaitkan dengan kelompok itu belum disebutkan. Rincian mengenai jumlah orang yang terlibat serta kronologi lengkap sebelum dan sesudah kejadian juga belum tersedia.

Dampak langsung dari insiden tersebut cukup serius bagi rombongan Persib EPA U-18. Kaca bus dilaporkan pecah, sementara 18 koper milik pemain hilang setelah kejadian. Selain kerusakan dan kehilangan barang, sejumlah ofisial Persib EPA juga mengalami luka-luka. Peristiwa ini menambah perhatian terhadap aspek keamanan perjalanan tim olahraga, terutama ketika rombongan harus berhenti di area publik. Manajemen Persib kemudian mendorong agar insiden tersebut ditangani melalui proses hukum dan para pelaku diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Dorongan itu diharapkan dapat membantu mengungkap kejadian secara jelas sekaligus memberikan kepastian bagi pemain dan ofisial yang terdampak.

Manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) menyampaikan kecaman keras atas penyerangan terhadap rombongan Persib EPA U-18 di wilayah Batang. Sikap tersebut disampaikan Deputy CEO PT PBB, Adhitia Putra Herawan, pada Senin, 12 Oktober 2026. Manajemen menilai peristiwa itu sebagai tindakan serius yang tidak dapat ditoleransi, terlebih karena menyangkut keselamatan pemain, ofisial, serta pihak lain yang berada dalam rombongan.

Adhitia menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan, baik terhadap individu maupun terhadap kendaraan yang digunakan rombongan. Penyerangan dan perusakan bukan bagian dari persaingan olahraga yang sehat. Menurut manajemen, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang berlaku, bukan dengan tindakan agresif yang berpotensi menimbulkan korban dan kerugian lebih besar.

PT PBB mendesak kepolisian mengusut kasus ini secara menyeluruh hingga tuntas. Penegakan hukum dinilai penting untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat, serta memastikan pertanggungjawaban berdasarkan bukti dan ketentuan hukum. Manajemen Persib juga mengingatkan agar informasi mengenai kelompok atau pihak tertentu tidak diperlakukan sebagai fakta sebelum adanya hasil penyelidikan resmi. Dengan demikian, proses hukum dapat berjalan objektif sekaligus memberikan kepastian bagi korban dan seluruh pihak terkait.

Manajemen Persib menyoroti pentingnya memberikan perlindungan kepada pemain dan ofisial berusia muda dalam setiap kegiatan sepak bola. Para pemain yang tergabung dalam Persib EPA U-18 sedang berada pada tahap pembinaan dan pengembangan kemampuan. Karena itu, mereka memerlukan lingkungan yang aman, dukungan moral, serta ruang untuk bertumbuh secara wajar sebagai atlet. Keamanan tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab klub, melainkan perhatian bersama seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem olahraga.

Dukungan terhadap pembibitan atlet dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sepak bola dan mempersiapkan pemain menuju tingkat nasional. Pemain usia muda perlu memperoleh kesempatan untuk belajar, berlatih, bertanding, dan membangun pengalaman tanpa menghadapi tindakan yang mengancam keselamatan mereka. Rasa aman dapat membantu memastikan bahwa proses pembinaan berlangsung sesuai tujuannya, yakni membentuk atlet yang memiliki kemampuan, karakter, dan sikap profesional.

Dalam pandangan manajemen, sikap sportif tidak hanya berlaku ketika pertandingan berlangsung di dalam lapangan. Nilai tersebut juga perlu diterapkan sebelum dan setelah pertandingan, termasuk ketika rombongan pemain dan ofisial melakukan perjalanan. Perbedaan dukungan, identitas klub, atau hasil pertandingan semestinya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan penghormatan terhadap pihak lain, terlebih ketika yang terlibat adalah pemain-pemain muda.

Manajemen menegaskan bahwa kekerasan fisik, perusakan kendaraan, serta dugaan pengambilan barang bukanlah bentuk rivalitas sepak bola. Tindakan-tindakan tersebut berada di luar batas persaingan yang sehat dan tidak dapat disamakan dengan dukungan terhadap klub. Karena itu, penanganan terhadap peristiwa yang dialami rombongan Persib EPA U-18 menjadi bagian dari upaya menegaskan pentingnya keamanan bagi pemain dan ofisial. Seluruh pihak diharapkan mendukung pembinaan atlet dengan menjaga ketertiban, memberikan dukungan moral, serta menciptakan ruang yang memungkinkan pemain muda berkembang menjadi atlet nasional.

Viking Persib Club (VPC) menyampaikan keprihatinan atas dugaan penyerangan terhadap rombongan Persib EPA U-18 di Batang. Ketua Umum VPC Tobias Ginanjar menilai pemain dan ofisial junior semestinya memperoleh rasa aman dalam setiap perjalanan maupun kegiatan pertandingan. Mereka bukan hanya bagian dari pembinaan klub, melainkan juga calon penerus sepak bola nasional yang suatu saat dapat berkarier dan membela klub mana pun. Karena itu, tindakan yang mengancam keselamatan mereka dinilai tidak sejalan dengan semangat pembinaan, sportivitas, dan penghormatan terhadap insan olahraga.

Menurut Tobias, rivalitas antarsuporter seharusnya memiliki batas yang jelas. Persaingan dapat berlangsung selama pertandingan, tetapi semestinya berakhir setelah wasit meniup peluit panjang. Ketegangan di lapangan tidak patut dibawa ke luar arena hingga berubah menjadi keributan, pengejaran, atau tindakan yang membahayakan rombongan tim. Sikap tersebut penting dijaga, terutama ketika yang terlibat merupakan pemain usia muda dan ofisial yang menjalankan tugas profesional. VPC berharap seluruh pihak menempatkan keselamatan sebagai prioritas, terlepas dari identitas klub yang didukung.

VPC juga berharap oknum suporter yang diduga menyerang bus dapat diproses sesuai ketentuan hukum apabila memenuhi unsur pelanggaran. Cuplikan video dan foto yang beredar di masyarakat diharapkan dapat membantu kepolisian bergerak cepat dalam mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat serta mengambil langkah penindakan berdasarkan bukti. Namun, materi yang tersebar tetap perlu diverifikasi secara menyeluruh agar proses berjalan objektif dan tidak menimbulkan kesimpulan sepihak. Penanganan yang transparan diharapkan memberi kepastian bagi korban sekaligus menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap klub tidak boleh diwujudkan melalui kekerasan.

Baca juga: Rombongan Bapang Diserang OTK, Negara Didesak Pastikan Petugas Aman Bertugas